Senin, 23 Februari 2026

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya.

Johannes de Britto, Nia, Warsito dan Elly keluar dari tempat menginapnya: Hotel Horison Arcadia Heritage Surabaya yang berdiri tegak di tengah kota Pahlawan seakan ingin menunjukkan eksistensinya yang tak pernah lekang dalam sejarah.

Mereka sepakat ingin mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengisi perut mereka sebagai makan malam.

“Kita mencari makan di dekat-dekat sini saja ya ? “ ujar Johannes.

“Oke,” Warsito menimpali.


Johannes de Britto adalah seorang pelukis dari Jakarta. Nia adalah asistennya. Sedangkan Warsito dari Gresik dan Elly dari Kediri adalah seorang yang membantu untuk suksesnya kegiatan  live show dan pameran lukisan di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya.


Meski hujan sore itu tak lebat, namun di jalan raya depan hotel tercipta genangan-genangan air kecil yang mengalir pelan.

“Pak, boleh pinjam payung?” tanya Elly pada security yang berdiri berjaga di pos hotel.

“Oh, boleh, sebentar ya!”

Security itu segera bergegas masuk ke dalam hotel lalu lima menit kemudian kembali dengan  membawa dua buah payung. 

Di tengah rintik hujan, dengan  sepayung berdua mereka melangkahkan kaki menuju kawasan Kya Kya yang berada di sisi kanan Hotel Horison.


Kya Kya  merupakan reborn dari pecinan kota lama yang dikembangkan oleh pemerintah kota Surabaya menjadi ikon wisata sejarah dan kuliner. Nama-nama perkantoran, tempat kuliner maupun tempat-tempat usaha lainnya yang ada di kawasan ini ditulis dalam tulisan Tionghoa. Gapura masuk kawasannya dihias dengan sepasang patung naga berwarna merah. Lampion merah bergantung di beberapa tempat. Kya-kya  merupakan usaha dari pemerintah kota Surabaya dalam rangka melestarikan budaya Tionghoa di kota ini.


"Yuk kita makan di sini saja, " ucap Elly setelah mereka berjalan menyusuri Kya Kya dan melihat Cafe Pasar Terang di sudut jalan.

Mereka setuju lalu masuk. Ada banyak orang yang makan di sini  namun masih tersedia bangku-bangku kosong.

“Kita duduk di bangku pojok itu,” ajak  Johannes sambil menunjuk sebuah meja dengan empat kursi yang kosong.

Di beberapa meja terlihat beberapa orang sedang menikmati makan malamnya, di meja yang lain orang-orang sedang bercengkerama selepas selesai makan .

Buku daftar menu disajikan oleh pramusaji dan setelah memilih menu, mereka makan. Udara dingin yang dibawa tetesan air hujan di luar sesekali menyapa tubuh mereka.

“Live show dan pameran di Gereja Kepanjen tadi pagi cukup mendapat antusias umat. Banyak orang yang bertanya dan kelihatan berminat. “ kata Elly di sela-sela makan.

“Nanti mereka kita follow up lagi, “ tandas Johannes.

“Kegiatan live show atau pameran-pameran yang kita adakan menurut saya bagai kita menabur benih. Hasil bisa saja tidak langsung, namun pasti ada dan butuh proses melalui follow-follow up yang kita lakukan,” Warsito nenambahkan.

“Ya, benar, karena kalau di pameran, waktu untuk mengobrol atau bertanya tentang lukisan terlalu singkat. Kita perlu follow up sesudahnya. Semoga ke depan ada hasil-hasil yang baik yang bisa kita petik  bersama di sini, “ kata Nia.

“Kita akan coba tetap kontak Bapa Uskup Surabaya sebagai bentuk ijin kehadiran kita di Keuskupan Surabaya dan kerjasama selanjutnya.” Elly mengusulkan.

“Benar, dengan restu Bapa Uskup kita bisa lebih leluasa pameran di Gereja-gereja Keuskupan Surabaya. Besok jam tujuh pagi kita harus sudah siap dengan pameran kita selanjutnya di Gereja Kepanjen. Foto-foto lukisan harus sudah kita pasang di depan gereja sebelum umat datang menghadiri misa.  Minta tolong Mas Warsito siapkan ya.” pinta Johannes.

“Baik Mas, besok aku siapkan.”

 Pengunjung di cafe Pasar Terang sudah tidak seramai tadi.


“Aku ingin merokok sebentar di teras depan,” kata Nia.

Café ini memiliki teras depan dengan beberapa meja dan kursi khusus untuk area smoking.

“Aku temeni, “ Warsito menimpali.

Nia mengeluarkan sebungkus rokok Dunhill dari dalam tasnya. Sebentar kemudian satu batang rokok itu segera mengeluarkan asap. Nia menghembuskan nafas lega dan seperti menikmatinya.

Warsito juga mengeluarkan rokok Djarum Black dari dalam saku celananya, mengambil sebatang lalu menyulutnya. Kepulan asap putih membumbung ke udara.

Di sana mereka berbicara tentang kebebasan untuk menjadi diri sendiri lepas dari apa pendapat orang lain. Memilih sikap yang menurutnya benar. Berbicara tentang bisnis dan tantangannya juga pembersihan diri, mencoba hidup selaras dengan semesta, karena jika diri baik, semesta juga akan memantulkan hal baik pada diri sendiri.

Di luar cafe, pijar lampion-lampion yang digantung di sepanjang jalan Kya Kya seakan menjadi hiasan  malam.


"Ayo kita pulang, masih banyak yang perlu kita persiapkan untuk live show dan pameran lukisan besok” ajak Johannes.

Mereka keluar. Hari sudah tidak hujan lagi. 

Mereka berjalan menuju Hotel Horison. Menyusuri Jembatan Merah lalu sampai di Taman Sejarah Kota Lama Surabaya yang berada di dekat Hotel Horison. Taman kota ini ramai dengan orang yang sedang menikmati suasana. Di antara  mereka juga tampak juru foto keliling.

Seorang fotografer jalanan itu mendatangi mereka ketika mereka hampir sampai di tengah-tengah Taman Kota. 

“Mas, mau foto bersama?" 

"Boleh, harga berapa ?' tanya Warsito

“Tiga ribu satu foto, minimal sepuluh foto,.”

“Oke”

 Mereka segera larut dalam foto bersama di beberapa backgroud Taman Kota itu.

 "Sudah, ayo kita pulang,' ajak Johannes.


Hari sudah larut.  Langit hitam di atas serupa lembaran malam penutup cerita di hari itu. 

Namun ada satu yang tercatat: Johannes, Warsito, Nia dan Elly telah satu dalam persaudaraan. Juga sehati meraih masa depan bersama untuk kehidupan  bersama yang lebih baik.




Sabtu, 06 Desember 2025

QUO VADIS, LEGIO MARIA? Sebuah Refleksi

Kemana kamu akan pergi, Legio Maria? 

Sabtu pagi 6 Desember 2025, bus Kalisari itu melaju membawa rombongan legioner Legio Maria Paroki Santa Perawan Maria Gresik menuju Domus Mariae Sarangan Magetan untuk melakukan rekoleksi. 

Bagaikan seorang yang berjalan, ia sejenak berhenti untuk melihat perjalanan yang telah ia lalui, menggali kekuatan diri kemudian berjalan lagi, demikian para Legioner Legio Maria Paroki Santa Perawan Maria Gresik setelah sekian lama bergelut dalam karya kerasulan ingin mencari tempat yang hening di Domus Mariae Sarangan Magetan untuk sejenak ingin merenungkan diri, mengevaluasi diri lalu menggali kekuatan baru dalam karya kerasulan. 

Romo Manuel Edi Prasetyo, CM menjadi pembimbing rekoleksi. "Ouo Vadis, Legio Maria?" Kemana kamu akan pergi, Legio Maria? adalah tema dari rekoleksi ini sekaligus menjadi sebuah pertanyaan reflektif yang ditujukan kepada jiwa para legioner: kamu ingin mengarah kemana, kamu ingin menuju kemana ? apa yang kamu cari dengan menjadi seorang Legioner ?

Dalam paparannya, Romo Edi Prasetyo CM banyak mensharingkan pergulatan imannya sebagai seorang manusia biasa, sikapnya untuk kembali pada panggilan hidupnya yang dikehendaki Tuhan serta kepercayaanya yang total kepada Tuhan. Ia juga menggugah sikap kita selama ini sebagai seorang Legioner.  Apakah kita benar-benar telah meneladan Bunda Maria sebagai ratu, ibu dan pemimpin para legioner ?

Maria memberikan sikap yang patut diteladani oleh para legioner. Imannya yang kuat kepada Tuhan, kemurnian dirinya dengan tetap menjaga kekudusan diri serta pembawa harapan bagi semua orang yang memerlukan pertolongannya.

Maka "Ouo Vadis, Legio Maria?" Kemana kamu akan pergi, para legioner? mengajak kita para legioner dalam jatuh dan bangun kita sebagai seorang manusia biasa untuk tetap berusaha melangkah, menuju menjadi seorang legioner yang bertumbuh dalam iman, semakin menjadi kudus dan mampu menguduskan orang lain serta seorang yang memiliki harapan kuat dan pembawa harapan bagi orang lain yang kita layani dalam karya kerasulan.

Minggu, 7 Desember 2025 siang setelah sejenak pada pagi hari para legioner menikmati alam yang indah karya keangungan Tuhan di Telaga Saragan serta menerima sesi terakhir, bus Kalisari kembali  membawa para legioner pulang. Satu harapan, kita diutus untuk menjadi seorang Leginer yang berhati baru: meneladan totalitas Bunda Maria sebagai ratu, ibu dan sang Bunda Harapan dan pemimpin kita.

Ave Maria, Maria Ave 

Senin, 11 Agustus 2025

ZIARAH PORTA SANCTA


Tahun Yubileum yang diperingati setiap 25 tahun sekali menggerakkan Legio Maria Presidium Maria Bunda Penebus Paroki Santa Perawan Maria Gresik untuk melakukan ziarah Porta Sancta.

Dengan didampingi Pemimpin Rohani, Rm. Silas Wayan Eka Suyasa, SVD, Legio Maria Presidium Maria Bunda Penebus pada hari Minggu 10 Agustus 2025 melakukan ziarah Porta Sancta ke  Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya dan Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya. 
Ziarah ini bukan hanya merupakan ziarah fisik berupa perjalanan dari Gresik ke tempat ziarah di Surabaya namun juga simbol ziarah rohani: suatu perjalanan iman. 
Ziarah dimulai dengan berdoa lalu memasuki Porta Sancta (Porta Sancta merupakan bahasa Latin: porta = pintu dan Sancta = suci).

Dengan melewati Porta Sancta, kita dapat memperoleh indulgensi penuh asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu seperti berdoa, menerima sakramen tobat dan Ekaristi. 
Porta Sancta adalah lambang Kristus sebagai pintu keselamatan sebagaimana dikatakanNya: "Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat." (Yohanes 10:9). Sehingga memasuki Porta Sancta menjadi perayaan iman bahwa apa yang kita lakukan dengan menjadi pengikut Kristus adalah pilihan yang tepat untuk memperoleh keselamatan.

Di tempat ziarah Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, kami bertemu dengan puluhan peziarah lain dari kota Malang. Dalam suasana kebersamaan, kami berziarah bersama. Bertemu dengan mereka seakan menyadarkan kami bahwa kami punya banyak saudara seiman, sama-sama peziarah dalam hidup ini yang perlu saling mendoakan satu sama lain dan saling menjadi berkat bagi orang lain seperti yang dipesankan Rm. Sabas, CM ketika menyambut kami.

Kiranya Bunda Maria yang senantiasa mendampingi PuteraNya juga senantiasa mendampingi kita dalam peziarahan hidup ini.



Sabtu, 05 Juli 2025

Apa Yang Pokok Dalam Hidup Ini

Apa yang pokok dalam kehidupan ini? 
Hari baru saja hujan. Tanah masih basah. 
Aku berhenti sejenak di alun alun Mojoagung. Ingin menikmati semangkok mie ayam sambil menghisap rokok Djarum Blackkicau. 
Aku baru saja pulang untuk ikut memakamkan Bek Rub yang meninggal. 
Muncul kemudian permenungan apa yang pokok dalam hidup ini?
Yang pokok dalam hidup ini adalah
1. Membahagiakan ibu, itu satu- satunya orangtua yang masih kupunya
2. Rukun dengan saudara. Kita ini adalah sama-sama peziarah hidup. Suatu saat kita akan meninggalkan dunia ini. Apa yang kamu banggakan jikalau kamu bertengkar. Lebih baik kita hidup sebagai saudara yang saling meneguhkan. 

Selasa, 13 Mei 2025

ACIES 2025, Sebuah Refleksi

 


   ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama mewarnai acara ramah tamah dan menyatukan para legioner dari semua presidium, dewan Kuria dan Komisium yang hadir. Semua tergabung dalam balatentara Maria yang baru saja mengucapkan janji kesetiaan kepada Bunda Maria.

"Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku dan segala milikmu adalah kepunyaanmu."

    Janji ini merupakan janji penyerahan diri kepada Bunda Maria dan pernyataan bahwa segala yang ada dalam diri Legioner baik kemampuan, tenaga maupun pikiran diserahkan kepada Bunda Maria untuk suatu karya kerasulan yang ditugaskan Maria, pemimpinnya.

    Warna warni seragam dari presidium-presidium yang hadir serupa warna-warni setangkai bunga mawar yang mengharumkan. Presidium-presidium adalah pijar-pijar cahaya yang menerangi sesama berkat karya kerasulannya. Mengunjungi orang-orang sakit untuk memberi peneguhan dan harapan, mendampingi mereka yang menderita dan memerlukan bantuan, mendoakan orang lain yang membutuhkan doa-doa ataupun perbuatan-perbuatan cinta kasih lainnya adalah terang bagi sesama 

    Bahu-membahu dari semua Legioner baik panitia maupun anggota dengan caranya masing-masing bagai ikatan yang mampu menghantar perayaan ACIES berjalan dengan baik 

    Dan akhirnya melihat kebersamaan dan persaudaraan semua presidium dalam ACIES ini menggemalah doa dan harapan yang membumbung di hadapan Tuhan : "semoga Legio kami setelah  perjuangan hidup ini tanpa kehilangan seorangpun, kelak berkumpul kembali dalam kerajaan dan keluhuranMu." Amin


Rabu, 08 Januari 2025

TAK APA

Serupa angin yang berhembus segar. 
Meski hanya sebentar, tak apa. 
Padamu kuucap terimakasih 🙏
Thanks telah mampir sejenak 🙏
Semoga tercapai segala angan dan harapanmu.

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...