Sabtu, 12 Agustus 2017

Rohani : Diperas

     

       Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpikir keras mencari penghasilan tambahan sepulang kerja. Sudah aku lakukan dengan berjualan tas, es wawan, buku dan lain sebagainya. Tetapi kadang pemasukan tak cukup karena hasil penjualan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mungkin karena waktu yang kurang lama. Berjualan sepulang kerja dengan tempat kerja di luar kota,  praktis aku hanya punya waktu dua jam untuk berjualan, dari jam 19.00 - 21.00 Wib. Tentu hanya akan mendapatkan sedikit pengunjung. Maka kalau ada orang beli, tentu itu rejeki dari Tuhan.
       Dalam keadaan seperti ini aku terus berpikir bagaimana aku masih mendapat penghasilan. Di facebook kutemukan undangan untuk masuk dalam group penulis. Di tunjukkan nomor WhatsApp yang perlu dihubungi. Aku kontak WhatsApp itu akhirnya aku bergabung dengan kelompok penulis TravelWriting. Dan dengan bergabung aku akhirnya bisa membuat blog ini,  yang kupelajari secara otodidak. Pertemuan para anggota TravelWritings di Rumah Air Surabaya menghasilkan tulisanku mengenai Rumah Air Surabaya yang aku posting di blog ini. Kini kelompok memacu para anggotanya untuk terus belajar menulis. Bulan Agustus ini membuat tulisan antologi. Aku mau menulis tentang Taman Flora Surabaya dan Air Mancur Kenjeran Surabaya. Selain itu aku juga telah menulis cerpen yang aku kirim ke sebuah majalah. Informasi dari para anggota perihal adanya lomba-lomba menulis artikel, cerpen, puisi di berbagai tempat memacuku untuk ikut mengikutinya.
Selain menulis aku juga mengembangkan fotografi. Masih tahap belajar, tapi aku bersyukur walau masih dalam tahap belajar, aku diminta temanku sendiri untuk memotret pre-weddingnya.
       Apa yang bisa aku renungkan dari semua ini ? Tuhan memerasku, memeras potensiku. Dalam keadaan serba kekurangan, Tuhan meminta aku untuk menggali semua potensiku. Menulis dan memotret itu memang impianku. Tetapi ketika dahulu dalam keadaan aku berkecukupan, keinginan itu tidak cukup kuat. Sekedar ingin tapi minim karya. Kini dalam keadaan aku serba berkekurangan, aku memaksa diri untuk lebih produktif.
       Pikiranku melantur. Sekarang ini banyak orang berjualan es tebu di pinggir jalan. Aku membayangkan diriku seperti tebu juga. Tebu itu harus diperas untuk menghasilkan sarinya. Demikian juga aku. Sebuah balon tidak mengetahui kekuatan dirinya seberapa kalau ia tidak di tiup. Demikian juga aku seperti diperas. Dalam keadaan kekurangan, ternyata Tuhan hadir dan memintaku untuk memeras diri, dan dengan demikian keluar semua potensiku yang selama ini masih banyak tersembunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...