Hari panas terik ketika aku kembali ke kota Malang. Angkot yang aku naiki dari dusunku lambat sekali berjalan, karena sering berhenti mencari penumpang lain. Setelah satu setengah jam perjalanan sampailah aku di terminal kotaku Pare. Dari terminal aku akan naik bus Puspa Indah menuju kota Malang. Kota Malang, kota yang dingin dan ramah, itu yang kurasakan yang membuat aku kerasan tinggal di kota ini. Kuanggap Malang seperti rumah keduaku. Bahkan aku ingin bisa hidup tua di kota ini
Aku berdiri persis di dekat bus menurunkan penumpang. Bersandar pada tiang bangunan terminal sambil menunggu bus datang dari Kediri. Kukeluarkan rokok Djarum Black dari dalam saku bajuku, kuambil sebatang lalu kusulut dengan korek api dan kuhisap. Ah...ada kenikmatan terasa.
Samar-samar terlihat jauh di depan, di ruang tunggu penumpang seorang gadis yang sepertinya aku kenal. Aku coba mengingatnya. Ya...dia adalah Sri Rahayu. Gadis beda desa yang dahulu sering mengujungiku ke rumah bersama adik dan temannya. Memberi aku boneka sepasang kucing yang lucu. Pernah juga mengunjungi ku saat aku tugas pastoral di Kediri. Aku sangat dekat dengannya karena kerahamannya. Lama tak bertemu membuat aku sedikit lupa dengannya.
Aku mendekatinya
"Hai Sri, bagaimana khabarmu ? " sapaku
Dia sedikit kaget juga melihat kedatanganku
Dia sedikit kaget juga melihat kedatanganku
"Baik mas," jawabnya.
"Kok kamu ada di sini, kamu mau ke mana ?" tanyaku karena penasaran
"Mau ke Bandung mas," jawabnya singkat
"O.. ke Bandung, tujuannya mau ke mana?" tanyaku lagi penuh penasaran
"Mau ke susteran mas, aku sekarang mau masuk suster"
"Oo.." aku tak menyangka dengan niat dan keputusannya
"Bagus Sri" jawabku lagi mengagumi.
"Mas mau kemana ? ganti Sri Rahayu bertanya
"Aku mau ke Malang. Aku tinggal di sana untuk bekerja. Kemarin aku pulang ke rumah hanya sekedar melihat bagaimana keadaan orangtua. Sekarang mau balik lagi.
"Mau ke Bandung mas," jawabnya singkat
"O.. ke Bandung, tujuannya mau ke mana?" tanyaku lagi penuh penasaran
"Mau ke susteran mas, aku sekarang mau masuk suster"
"Oo.." aku tak menyangka dengan niat dan keputusannya
"Bagus Sri" jawabku lagi mengagumi.
"Mas mau kemana ? ganti Sri Rahayu bertanya
"Aku mau ke Malang. Aku tinggal di sana untuk bekerja. Kemarin aku pulang ke rumah hanya sekedar melihat bagaimana keadaan orangtua. Sekarang mau balik lagi.
"Bagaimana keadaan orangtua, mas," Sri balik bertanya
"Baik," kataku
"Salam untuk bapak ibu ya mas !"
"Terimakasih, nanti aku sampaikan"
Malang, kota yang aku cintai. Enam tahun aku berada di sana untuk menempuh pendidikan sebagai seorang calon imam. Namun langkahku terhenti karena faktor nilai yang kurang dan tak bisa kuulang. Kini sudah dua tahun aku bekerja di sebuah perusahaan distributor kertas rokok, juga di kota Malang. Dengan Sri, aku bertemu terakhir tiga tahun yang lalu ketika ia mengunjungiku saat aku sedang menjalankan tugas pastoral di sebuah paroki di Kediri
"Mas, aku berangkat dahulu ya, " katanya mengagetkan lamunanku.
"O..iya, hati-hati ya Sri, jaga diri baik-baik," kataku
"Terimakasih mas," jawabnya.
"O..iya, hati-hati ya Sri, jaga diri baik-baik," kataku
"Terimakasih mas," jawabnya.
Bus itupun membawa Sri Rahayu pergi.
Tak kusangka Tuhan memanggilnya untuk menjadi pelayanNya dah Sri menanggapi. Aku kagum, merasa salut padanya.
Bus Puspa Indah jurusan Malang datang. Aku segera bergegas masuk ke dalamnya. Selamat bekerja di ladang Tuhan suster, batinku. Tuhan, terimakasih tlah pertemukan aku dan dengannya di sini. Aku hanya merasa pertemuanku dengan Sri Rahayu bagai pertemuan di persimpangan jalan. Aku dari kaum biarawan menjadi kaum awam dan Sri dari kaum awam menjadi kaum biarawan.
Bus Puspa Indah terus melaju menuju Malang meninggalkan semakin jauh terminal Pare, kotaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar