Rabu, 02 Agustus 2017

Cerpen : Ketika Menyusuri Jalan Berbatu


      "Theettt..."Bel istirahat berbunyi. Para mahasiswa-mahasiswi  itu keluar meninggalkan ruang makan. Aku pun juga. Aku duduk di kursi teras kamar.
"Ayo kak, kita jalan jalan" pinta Sianawati.
"Iya kak, ayo" pinta Astrid juga.
"Baiklah" kataku. "Gantilah pakaian dahulu dengan pakaian yang santai." pintaku
"Iya kak".
Mereka ke kamar untuk berganti pakaian.  Para mahasiswa-mahasiswi sebuah kampus di Probolinggo ini datang ke Rumah Retret Sawiran untuk melakukan outbond guna menumbuhkan, memupuk dan mengembangkan sikap kepercayaan diri, kemandirian, kebersamaan, dan kekompakan di antara mereka. Aku merupakan salah satu dari pembina Rumah Retret Sawiran yang membina mereka. Umumnya para pembina mereka panggil "kakak".
Aku tetap menunggu di teras. Kuperhatikan bunga-bunga di taman depan kamar bermekaran.
"Ayo kak" kuperhatikan mereka sudah ganti pakaian.
"Ayo siapa mau ikut ? " kataku menawarkan kepada yang lain
Ada Cici, Richard, Lisa ikut bergabung
"Ayo ," kataku
Lalu aku mengajak mereka jalan-jalan, kuajak mereka melihat tempat pembibitan bunga krisan. Nampak hamparan bunga krisan yang masih kecil,  belum berbunga, sebagian mulai berkuncup, sebagian lagi sudah berbunga dengan beraneka warna. "Bunga-bunga ini sebagian besar dikirim ke pemesan di Bali", kataku menjelasakan
Selepas dari melihat pembibitan bunga krisan, aku mengajak mereka ke perpustakaan untuk melihat buku-buku koleksi perpustakaan di Rumah Retret Sawiran. Lalu kuajak juga melihat toko yang menyediakan aneka souvenir. 
"Ayo kak kita jalan-jalan menyusuri sungai" pinta Sianawati
Rupanya Sianawati sudah tahu kalau di samping Rumah Retret ada sungai. 
"Ayo," kataku
Akhirnya kami pergi ke sungai.
Kulihat air sungai nampak bersih. Air di sini memang belum banyak tercemar. Mungkin karena Rumah Retret Sawiran berada di daerah pegunungan dengan jumlah penduduk yang masih sedikit. 
Aku menuruni sungai di susul yang lain. Terasa dingin air sungai mengenai kaki. Ada kesegaran mengalir melalui kakiku.
"Awas banyak batu", kataku.
"Lebih baik bergandengan" kataku.
Mereka pun bergandengan.
Aku dan mereka terus berjalan. Air mengalir agak deras. Batu-batu yang dipijak kadang licin. 
Sianawati mendekatiku. 
"Gandeng kak, " pintanya
"Ayo sini"
Sianawati mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Terasa hangat.
Aku dan Sianawati terus berjalan. Kulihat burung berkicau dan pohon-pohon di pinggir sungai tumbuh dengan rindang. Susahnya berjalan menyusuri sungai karena air yang mengalir cukup deras, banyaknya batu di sepanjang jalan membuat aku dan Sianawati semakin mempererat genggaman. Ada desiran di hati manakala gengamannya semakin kuat. Aku merasakan hatiku tertuju padanya. Aku menikmati saja rasa ini. Tak kusangka hatiku akan seperti ini.
"Kak kita hampir sampai," katanya
"Ayo kita keluar"
"Ayo teman-teman kita keluar," kataku meminta semuanya untuk keluar dari sungai
"Bagaimana rasanya menyusuri sungai? " kataku meminta kesan
"Menyenangkan kak " kata Cici.
"Oke, baiklah, sekarang semuanya karena sudah kedinginan pergi kamar mandi masing-masing untuk mandi dan berganti dengan pakaian yang hangat
"Oke kak" kata Astrid
"Makasih ya Kak", kata Sianawati kepadaku dengan senyum manisnya.
"Sama-sama Siana," kataku.
Kulihat mereka semuanya pergi untuk mandi, tetapi ada yang tertinggal di hatiku. Rasa yang tadi tumbuh di hati terhadap Sianawati.
,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...