Sabtu, 26 Agustus 2017

Cerpen : Di Bawah Jembatan Penyeberangan Itu

   
       Sudah lama aku menunggu jawaban atas surat cintaku tapi tak ada balasan. Maka kuberanikan diri untuk mengunjunginya di tempatnya bekerja.
Perjalanan Jakarta ke Cilegon dengan naik bus butuh waktu sekitar 4 jam kata temanku. Hari pagi ketika kuputuskan untuk berangkat. Di sepanjang jalan kulihat banyak pabrik-pabrik berdiri. Aku hanya memperhatikannya sekilas karena hati dan pikiranku tertuju pada gadis yang ingin aku temui. Kirana, ya Kirana nama gadis itu. Gadis yang membuat aku jatuh hati karena kelembutan dan keanggunannya. Namun aku tidak tahu apakah ia menerima cintaku. Sudah aku utarakan perasaanku kepadanya melalui sepucuk surat. Namun aku masih menunggu balasannya. Empat bulan berlalu belum juga ada balasan, hari ini kuputuskan menemuinya langsung untuk mendengarkan jawabannya.
       Hari siang ketika aku sampai di terminal Cilegon. Aku bertanya kepada orang-orang yang kutemui arah ke rumah sakit itu sebab aku belum pergi ke rumah sakit ini. Dengan naik angkot akhirnya sampai juga aku di rumah sakit itu. Aku mendatangi reseptionis dan bertanya apakah aku bisa bertemu dengan Kirana. Reseptionis itu kemudian mengangkat telpon dan berbicara dengan Kirana. Setelah itu ia berkata:
"Tunggu mas ya!" katanya.
"Iya, makasih," jawabku.
Kuperhatikan rumah sakit ini bersih dan megah. Para perawat rumah sakit pada hilir mudik, sebagian sedang memindahkan pasien.
"Mas," suara lembut itu menyentuh telingaku. Teduh rasanya.
Aku menoleh ke arah suara itu.
"Hey Kirana," kataku
Kirana menjabat tanganku. Tangannya lembut selembut kepribadian orangnya.
"Sini mas kita bicara di ruang tamu, gak enak di sini, banyak orang," pintanya.
Aku menuruti permintaannya.
"Mas," katanya setelah aku dan dia duduk di ruang tamu.
"Aku itu hanya menganggap mas sebagai teman, tak lebih. Aku menghormati mas, tapi aku tidak bisa menerima cinta mas,"
Aku masih merenungkan kata-katanya.
"Aku sangat menyayangimu Kirana," kataku.
"Iya mas, makasih, tetapi aku tidak bisa menerima cinta mas,"
Aku menenangkan hatiku.
"Jadi aku sudah tidak punya harapan ya ?"
"Maaf mas"
"Baiklah kirana kalau begitu, terimakasih, aku mohon pamit, sampai kapanpun kamu akan slalu ada di dalam hatiku, Kirana."
Aku mohon pamit pada Kirana. Kucium tangannya saat bersalaman, sebagai pelampiasan rasa sayangku dan perpisahanku, ciuman pertama dan terakhir.
"Aku pulang ya," kataku saat sesampai di pintu luar rumah sakit
"Hati-hati mas," katanya
Kirana masuk rumah sakit.
Aku berjalan menuju ke depan, berhenti dibawah jembatan penyeberangan di dekat rumah sakit itu. Aku tak kuasa menahan rasa kehilangan. Di bawah jembatan penyebarangan itu aku menangis tersedu-sedu. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...