Rabu, 02 Agustus 2017

Kunang kunang


Hari sudah sore ketika aku sampai di dusun Bambang. Tujuanku adalah menuju ke stasi St Maria di dusun Brintik. Masih empat kilometer jauhnya. Rumah umat di stasi ini tersebar di tiga dusun : dusun Bambang, Badran dan kemudian terakhir di ujung, di dusun Brintik dimana stasi St. Maria didirikan.Sampai di dusun Bambang kuputuskan untuk berjalan kaki. Selain angkot ke arah stasi ini tidak ada, adanya ojek, aku memang berniat mau berkunjung ke rumah-rumah umat yang kebetulan rumah mereka berada di sepanjang jalan yang kulalui.Sesudah aku mengunjungi rumah umat di dusun Bambang, Badran, sekarang tinggal menuju ke stasi di dusun Brintik.Aku harus melewati jalan desa, jalan tanah yang belum di aspal sepanjang dua kilometer yang kanan dan kirinya terbentang area persawahan tanaman padi yang luas. Hari sudah mulai gelap, tidak ada lampu penerangan di sepanjang jalan itu, ketika sekonyong-konyong kulihat di depanku sebelah kanan di area persawahan itu setitik cahaya berdiam di situ. Kuperhatikan dengan seksama. Kutoleh sebelah kiriku juga ada cahaya-cahaya yang beterbangan. Baru aku menyadari ternyata itu adalah cahaya yang keluar dari tubuh kunang-kunang.
Aku sempat takut melihat kunang-kunang itu karena menurut cerita para orangtua di desaku ketika aku masih kecil, kunang-kunang itu adalah jelmaan dari kuku-kuku orang yang sudah meninggal. Namun aku terus berjalan dan semakin aku berjalan semakin banyak kujumpai kunang-kunang hinggap di hamparan tanaman padi yang luas itu. Ratusan jumlahnya. Yang lain beterbangan kesana kemari, di atasku, di sampingku, di depan dan belakangku.
Mungkin ini musim kunang-kunang, begitu pikirku. Sungguh, aku takjub, belum pernah aku melihat kunang-kunang sebanyak itu dalam hidupku. Aku menjadi tidak takut lagi. Jalanan yang tadinya gelap menjadi tidak lagi karena ada cahaya kunang-kunang yang menerangi jalanku.
Melihat ratusan kunang-kunang itu, aku jadi teringat akan perintah Tuhan yang tertuang dalam Kitab Suci : "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga."
Kunang-kunang itu telah memberi contoh kepadaku. Sekarang tinggal aku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...