Rabu, 02 Agustus 2017

Cendana Di Bulan Maret

"Thett....." bunyi bel tamu itu memekakkan telinga. Kulihat dari teras kamarku di lantai dua, Greg sedang menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Rupanya hari ini Greg bertugas untuk menerima tamu-tamu yang masuk.  Aku masuk kamar lalu kuambil pada rak almariku novel Lemah Tanjung, karya Ratna Indraswari Ibrahim, novelis yang lukagumi. Aku masih membaca sampai halaman dua, dimana Gita ingin mengantarkan Bonet, anaknya untuk melihat kunang-kunang di Lemah Tanjung.  Aku penasaran ingin mengetahui  bagaimana cerita selanjutnga. Baru lima menit membaca, kudengar suara Greg memanggilku dengan keras :
"Rendra..." dicari fansmu."
Aku setengah kaget ketika mendengar bahwa tamu yang tadi dibukakan pintu oleh Greg adalah tamuku.
"Oke. Suruh tunggu dulu," aku menjawab dengan lantang dengan pesan.

Kubuka pintu ruang tanu, dan kulihat tamuku adalah "gerombolan si berat, " begitu aku memanggilnya. Ada Siska, Joko, Sugik, Budi, Debbie, Maryati, Didin, Sandra, Nanin dan Miranti.
"Hey... " sapaku.
"Hey mas," jawab Miranti,
"Ayuk kita keluar ?"
"Keluar kemana ?" tanyaku
"ikut saja," Budi menimpali
"Oke deh,"kataku

Hari sudah mulai malam ketika angkot lyn MM yang aku naiki bersama "gerombolan si berat" ini menyusuri jalanan. Kuperhatikan lampu lampu jalan sebagai penerangan jalan indah sekali. Di depan berdiri Dieng Plaza yang megah. Lalu angkot belok kanan menuju jalan kawi lalu berhenti di Resto dan Cafe Cendana. Di depan Cafe Miranti berkata kepadaku : "Happy Birthday mas", di susul yang lain. Mereka semua menyalamiku. Hari ini di bulan Maret aku memang merayakan hari ulang tahunku, Tetapi aku tidak mengira mereka akan mengajakku ke sini.
"Terima kasih teman-teman" kataku
Miranti berkata : "kita semua mengajak mas ke sini untuk merayakan ulang tahun mas"
"Terima kasih banyak ya Miranti dan teman-teman semua atas perhatiannya kepadaku."
"Sama-sama" jawab mereka semua. Lalu aku dan yang lainnya masuk.
Ada banyak tempat di situ. Tempat duduk dengan diterangi lampu hias dan dipayungi canopy. Indah dan romantis kesannya tempat ini. Aku memilih tempat duduk agak di ujung, sendirian. Aku lihat Budi dan Didin mengambil tempat duduk di paling ujung. Duduk berhadap-hadapan. Lalu bercakap-cakap sambil memilih menu makanan yang diletakkan di setiap meja. Terlihat mereka begitu romantis.
Miranti datang ke mejaku sambil membawa es juice alpokatnya
"Mas, aku duduk sini ya ? "
"Oke" kataku
Miranti, terlihat paling perhatian di antara teman temanku ini.
Cantik wajahnya, lurus rambutnya. Keramahannya menambah pesona padanya.
"Sudah habis makanmu ? " tanyaku
"Sudah Mas," jawabnya.
"Tinggal es juice yang kubawa ini," lanjutnya sambil senyum manisnya mengembang. Teduh rasanya hati ini melihat senyumannya.
"Makanan Mas sudah habis ?" dia balik bertanya
"Sama, nih tinggal kopi coklat di depanku yang tinggal setengah," jawabku.
Lalu kita sama-sama tertawa.
Kurasakan hatiku menjadi dekat.
Lalu dia mulai bercerita banyak hal: soal kegiatannya di kampus, kebiasaannya di rumah dan kenakalan adiknya, dan apapun itu.
Melihat dia bisa leluasa bercerita, sikap dan tatapan matanya, aku merasakan dia ingin perhatianku dan ada rasa sayang mengalir dari hatinya untukku.
"Teman-teman sudah jam 21.00, ayo kita pulang," Joko memberitahu.
Tak terasa dua jam kita telah berada di cafe Cendana.
     Joko ke kasir di temani Miranti, aku pun juga turut ke kasir. Joko bilang : "sudah mas, Mas gak usah bayar, kita yang traktir."
"Aku ada uang kok" balasku
"Sudah mas, kita yang bayar, " kata Miranti.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya ?"
"Sama-sama mas, " Miranti berkata.
Setelah membayar aku dan yang lain meninggalkan cafe Cendana, menuju ke jalan raya lagi menunggu angkot lyn MM untuk pulang.
"Terimakasih teman teman untuk perhatian kalian di hari ulang tahunku" begitu batinku berucap, dan terutama padamu Miranti, ucapku dalam hatiku.
Cendana di bulan Maret menjadi kenanganku yang selalu kuingat terutama gadis cantik bernama Miranti.



     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...