Rabu, 02 Agustus 2017

Rohani : Mukjizat Seorang Penjual Koran

     

      "Koran, koran...," Wirya berteriak menawarkan koran  dagangannya kepada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan, yang lagi nongkrong-nongkrong di warung, sedang menunggu bus, dan siapa saja yang ia lewati. Ia berjalan kemana saja sesuai kehendak hatinya.
       "Koran Pak, koran bu, ada pembunuhan di perumahan Chandra Kirana. Pelakunya 6 orang. Mereka merampok, mengambil uang dan perhiasan di dalam rumah. Saat mau kabur, pemilik rumah terbangun lalu meriaki mereka maling. Karena takut kedengaran warga, kawanan perampok itu membunuh pemilik rumah. Sekarang perampok dalam pengejaran polisi setelah melihat wajah pelaku yang terekam dalam rekaman CCTV di dalam rumah itu. Ini beritanya pak, bu, ada di dalam koran ini." demikian Wirya menjelaskan isi berita utama koran itu kepada siapa saja yang ia temui. Mereka yang tertarik dengan berita itu, ingin membaca beritanya lebih lanjut akhirnya membeli koran itu.
"Berapa pak ?" tanya seorang ibu pemilik warung di pojok jalan.
"duaribu rupiah. bu," dia menjawab
Ibu itu berjalan menuju kotak uangnya.
Dalam hati sebenarnya dia protes dengan panggilan ibu itu, dia baru saja lulus kuliah, belum menikah, sudah dipanggil bapak. Mencari pekerjaan ternyata sulit juga. Dahulu dia berpikir setelah lulus kuliah dengan titel sarjana akan mudah mendapatkan pekerjaan, ternyata tidak. Sudah 4 bulan dia memasukkan surat lamaran ke perusahaan-perusahaan tetapi hasilnya nihil. Lamarannya bagai uap, seperti hilang karena tak pernah ada panggilan dari perusahaan yang dilamarnya. Kadang ada panggilan wawancara, namun berhenti cukup di situ. Personalia perusahaan yang mewawancarai bilang nanti akan dihubungi bila layak masuk seleksi, ternyata dia menunggu berminggu-minggu tak ada khabar juga. Beberapa teman seangkatan di kampusnya sudah mendapatkan pekerjaan di tempat yang bagus, namun rata-rata bisa masuk karena ada koneksi dengan orang dalam, entah saudaranya sudah bekerja di situ atau ada teman yang memasukkan. Dia tak punya koneksi susah untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Hidup itu sulit. Batinnya berkata demikian. Akhirnya dia berjualan koran untuk sementara sambil mencari pekerjaan yang lebih baik. Dari berjualan koran ini dia bisa membayar kosnya sendiri, yang sebelumnya di bantu orangtuanya dan bisa makan ala kadarnya. Ia bersyukur untuk itu.
"Pak, " suara ibu pemilik warung itu mengagetkan dia dan seketika itu juga lamunannya terhenti.
"Oh iya bu " jawabnya
"Ini uangnya" kata ibu itu sambil memberikan uang kertas duaribu rupiah kepadanya
"trimakasih bu," jawabnya
Wirya terus berjalan menawarkan korannya.
Terkadang capek menyerang kakinya, tetapi ia tetap berjalan.
Kali ini dia merasa sangat capek. Dia berhenti di dekat pagar lalu duduk. Dia melihat korannya, menghitungnya, sisa 18 koran. Tadi dia membawa 50 koran. Saat berangkat dia membawa setumpuk koran di tangan, kini hanya tinggal beberapa koran di tangannya. Dia berpikir dan merasakan ada mukjizat di situ. Dari ada menjadi tidak ada. Tiga puluh dua korannya tidak ada. Memang orang membelinya tapi bila Tuhan tidak menggerakkan hati orang untuk membeli korannya, walau orang itu punya uang, orang itu tidak akan membeli.
      Baginya lakunya koran-korannya adalah sebuah mukjizat. Mukjizat bagi dia bukan merupakan suatu peristiwa besar yang akan terjadi padanya, tapi cukup hal kecil. Hal kecil yang mana bila tanpa campur tangan Tuhan semua bisa saja tidak terjadi, itulah mukjizat, seperti lakunya koran-korannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...