Selasa, 08 Agustus 2017

Rohani : Ketika Kapal Berangkat

     

       Sore itu langit mendung. Suara halilintar sesekali bergemuruh. Aku harus berangkat, batinku. Ada ketakutan menyelinap. Berangkat ke Makassar kali ini menakutkan. Aku membayangkan kapal akan di goyang-goyangkan oleh badai karena sekarang musim penghujan dan suara halilintar seperti membawa pertanda kapal akan diombang-ambingkan oleh ombak yang besar. Seperti peristiwa Nabi Nuh saat Tuhan mengirimkan air bah kepada bumi. Pikiranku sampai membayangkan ke situ.
       Aku menyiapkan perbekalan. Kumasukkan pakaian seperlunya ke dalam koper, polpen, buku dan arsip-arsip pekerjaan kantor yang harus aku urusi di Makassar.
Langit semakin gelap ketika Pak Karjo, orang yang ditugaskan kantorku untuk mengantarkan aku ke Pelabuhan Tanjung Perak datang.
"Sudah siap pak ?" katanya kepadaku.
"Sudah pak," balasku.
Lalu aku di bonceng Pak Karjo dengan sepeda motornya menuju ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai di Pelabuhan Tanjung Perak.
"Saya antar sampai sini pak ya?" katanya, saat sampai di pintu masuk pelabuhan.
"Baik pak, terimakasih," jawabku.
Pak Karjo pun pamit pulang, aku menuju pintu masuk pelabuhan. Ada penjagaan di sana oleh petugas jaga. Setelah memeriksa tiketku, petugas jaga mempersilahkan aku masuk. Aku menuju ruang tunggu. Ada banyak penumpang di sana. Berdesak desakan suasanya karena penuh sesak. Semua tempat duduk sudah terisi. Kuletakkan koperku. Aku duduk di lantai sama seperti kebanyakan orang yang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Lainnya berdiri, tapi suasana penuh sesak. 
Kulihat jam pada arlojiku. Jam 15.00 Wib. Kapalku brangkat jam 17 00. Berarti masih dua jam lagi aku menunggu.
      Kulihat ada kapal datang. Tapi bukan kapal yang kutumpangi. Setelah bersandar, puluhan penumpang turun melalui tangga. Setelahnya puluhan penumpang naik ke kapal tadi melalui tangga itu. Lalu kulihat ada petugas memukul beberapa kali satu penumpang yang sedang naik dan memaksa turun. Aku tidak tahu masalahnya apa. Aku hanya melihat dari kejauhan, dari ruang tunggu penumpang. Mengerikan naik kapal, dunianya kasar, pikirku. Memang baru pertama ini aku ke Makassar naik kapal. Ini adalah perjalanan ke Makassar kedua. Kalau yang pertama kemarin aku berangkat naik pesawat. Naik pesawat pertama kali, dan ke Makassar pertama kali. Belum pernah pergi ke Makassar tapi dengan keberanian dan modal bertanya kepada orang-orang di situ, aku sampai juga ke tempat yang kutuju.
Kini diperjalanan kedua, aku harus naik kapal. Perusahaan tidak mempunyai cukup uang, katanya. Akhirnya aku diberangkatkan naik kapal. Belum pernah aku ke Makassar naik kapal. Ini juga pertama kalinya aku ke Makassar naik kapal. Hanya modal keberanian dan percaya kepada perlindungan Tuhan saja aku berangkat.
       Kapal yang akan aku naiki tiba. Setelah menurunkan semua penumpang, aku dan penumpang yang lain naik kapal. Banyak orang berebut naik kapal melalui tangga. Aku santai saja. Mungkin mereka penumpang kelas 1 yang harus berebut tempat. Siapa cepat, dia akan dapat tempat untuk beristirahat. Aku naik kapal pada kelas 2, pasti dapat tempat istirahat. Sesampai di kapal, aku mencari tempat tidur sesuai nomorku. Akhirnya kutemukan dan kujumpai ada empat bed di kamarku. Setelah aku saling sapa dengan teman satu kamar, aku pergi ke luar. Aku ingin berjalan-jalan di dek. Kuperhatikan langit sudah gelap, tapi entah kenapa sekarang tidak terdengar lagi suara halilintar menggelegar yang menakutkan. Suasana laut tenang. Samudra seakan dijinakkan oleh Tuhan.
'Tenanglah', seperti dilakukan Yesus ketika masih bersama para rasul yang kewalahan menjinakkan ombak samudera, sementara Yesus tidur pada waktu itu. Para murid membangunkanNya lalu Yesus bangun dan berkata kepada laut : "hai laut, tenanglah." Seketika itu juga laut menjadi tenang. 
       Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu kepadaku dan ketenangan laut ini, begitu batinku bersyukur. Di atas dek 3, aku memandang Makassar masih jauh di depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...