Selasa, 22 Agustus 2017

Kesetiaan


Pak Martoyo terlihat sedang serius melakukan pembudidayaan bunga krisan di laboratorium.  Ia bekerja di bantu seorang staff dan beberapa pekerjanya. Dari tangannya sudah ribuan bunga krisan dikirim keluar kota dan luar pulau.  Ia mengambil kacamatanya,  mengusap peluh yang membasahi mukanya lalu memakainya lagi. Pak Martoyo adalah seorang pekerja keras. Itu penilaianku.

Hari sudah siang,  matahari sudah berada di ubun-ubun kepala.  Aku menyapa Pak Martoyo:
"Pak Martoyo, istirahat dahulu,  waktunya makan siang,"  kataku.
"Iya Mas, " balasnya.
Aku berjalan duluan menuju ruang makan.  Pak Martoyo terlihat masih konsentrasi bekerja.

Pak Martoyo,  dia dahulu seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Entah mengapa dia meninggalkan pekerjaan dosennya dan memilih bekerja di sini,  di tempat sepi,  di rumah retret yang letaknya berada di pegunungan jauh dari keramaian.  Sesuai pengetahuannya,  ia bekerja di bagian laboratorium untuk melakukan budi daya bunga krisan. Hasil penjualan bunga krisan ini masuk sebagai penyumbang dana terbesar kedua bagi rumah retret ini.

Pak Martoyo masuk ke rumah retret ini saat usianya sudah senja dan sampai sekarang belum menikah.  Katanya suatu waktu kepadaku:
"Saya dahulu menjalin asmara dengan seorang wanita,  Mas!  Namanya Winarti. Kami saling menyayangi.  Rasanya kami tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena itu kami berjanji akan selalu menjaga cinta kami ini dan tidak memberikannya kepada orang lain.  Hingga suatu saat Winarti jatuh sakit. Setelah satu tahun berjuang,  dia meninggal.  Saya sangat kehilangan dia, sampai sekarang pun saya masih merasakan hal itu.  Karena saya sangat menyayanginya dan kami sudah berkomitmen untuk saling setia satu sama lain,  maka saya memutuskan untuk tidak menikah.   Saya ingin menunjukkan kepada Winarti bahwa saya tetap setia padanya, hanya dia yang saya sayangi dalam hidup ini.  Sebenarnya banyak mahasiswi dan wanita lain yang menyukai dan mengharapkan cinta saya,  tetapi saya menolaknya dengan halus.  Saya tidak bisa menerima cinta mereka,  cinta saya hanya untuk Winarti.  Itu janji saya padanya. "

Mendengar penuturan Pak Martoyo,  aku hanya bisa kagum, salut, hebat dan entah pujian apa lagi yang bisa aku katakan tentang kesetiaan Pak Martoyo kepada kekasihnya.  Semoga nanti di alam keabadian Tuhan persatukan Pak Martoyo dengan Winarti lagi.

Kulihat Pak Martoyo tengah berjalan ke ruang makan.
"Mari Pak, " kataku saat Pak Martoyo sampai di depan pintu ruang makan,  sambil aku mengatur kursi makan untuk tempat duduknya.
Pak Martoyo duduk,  aku mendekatkan nasi, sayur dan lauk di depannya.
"Makan yang banyak Pak, " kataku.
"Iya Mas, " sahutnya.
Kulihat Pak Martoyo makan dengan lahapnya.












































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...