"Keluar dari rumah ini!"
Kata-Kata Frada membuat lelaki itu harus pergi. Waktu menunjukkan
pukul sembilan malam. Wardana memasukkan pakaian seperlunya ke dalam
tasnya. Sebelum beranjak pergi, ia berpamitan kepada dua anaknya yang berada di
dalam kamar.
"Nak, mamimu meminta papi pergi. Papi pergi ya?"
"Papi mau kemana?"
"Papi belum tahu, tapi papi harus pergi."
Terdengar tangisan dari anaknya yang kedua yang masih berusia
tujuh tahun.
Wardana segera menuju pintu rumah untuk keluar. Setelah sampai
teras, Frada segera menutup pintu itu keras-keras dari dalam dan menguncinya.
Kemana aku harus pergi? Satu pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Wardana.
Ia kemudian mengarahkan sepeda motornya ke Cafe Gagak Sakti, cafe yang
kadangkala ia datangi untuk sekedar melepas penat sepulang kerja. Setelah
sampai, Wardana memesan secangkir kopi.
Udara malam berhembus, membawa hawa dingin.
Wardana menyandarkan punggungnya ke dinding. Pikirannya
menerawang. Hari ini tanggal 14 Februari, orang di belahan dunia menjadikannya sebagai
hari Valentine, hari kasih sayang. namun tepat di hari ini pula ia diusir oleh
Frada, istrinya. Dan yang mengherankan pula mengapa ia diusir pada tanggal yang
sama, tanggal 14 Februari, tanggal dimana pada tiga belas tahun yang lalu ia
melamar Frada. Apakah ada arti dari semua ini?
"Kamu dimana?" suara dari dalam telpon dari Ani, seorang yang dikenalnya dua bulan lalu.
"Aku di Cafe Gagak Sakti, aku diusir oleh istriku.”
"Apa? kok bisa? gara-garanya bagaimana?"
Wardana menceritakan kejadiannya yang sebenarnya hanya persoalan
sepele. Persoalan mengisi air galon yang kosong. Frada mengingatkan agar jangan
lupa mengisi air galon yang kosong. Wardana yang ketika melihat air galon habis
selalu selalu membawanya ke tempat isian galon itu merasa tersinggug dan mengatakan tidak perlu diingatkan karena sudah
tahu kewajibannya. Frada mengatakan hanya mengingatkan saja. Ia bilang tidak
perlu. Rupanya soal mengingatkan dan tidak perlu diingatkan ini memicu kemarahan
besar sampai terjadilah pengusiran.
"Sekarang kamu tidur dimana?"
"Aku tidak tidur, aku akan menghabiskan malam sampai Cafe ini
tutup. Bila tutup, aku akan mencari lagi warung kopi atau cafe yang buka 24 jam."
"Ya sudah aku temani, aku juga tak akan tidur."
"Gak usah, Tidurlah!"
"Tidak, bagaimana aku akan tidur sedang kondisimu seperti
ini?"
“Tidurlah, kamu akan capek bila tidak tidur!"
"Tidak!"
Wardana menghabiskan malam
di Cafe Gagak Sakti sampai pukul 24.00. Ia mencari tempat lagi karena Cafe Gagak
Sakti tutup pada pukul 24.00. Ia menemukan warung kopi di pinggir jalan yang
buka sampai pagi. Ia menghabiskan waktu di sana. Ketika langit mulai terang, ia
menuju pom bensin untuk mandi di kamar
mandi sana. Setelah badan terasa segar lalu ia mencari tempat kost.
***
Hampir tiga jam Wardana mengendarai sepeda motornya menuju ke arah
barat, ke kota dimana Ani tinggal. Ia menghentikan laju sepeda motornya ketika
ia melewati deretan rombong penjual es di jalanan yang sejuk. Ia ingin
merasakan es degdur yang terkenal itu. Es degdur, nama gaul dari perpaduan es
degan dengan es durian, menjadi es yang terkenal di kota ini.
“Esnya Pak ya?” katanya pada bapak penjual.
Setelah dibuatkan, Wardana meminumnya. Rasanya nikmat, haus
sedikit terobati. Angin sepoi dari ujung barat menerpa kulitnya. Segar, menyejukkan.
Rasanya sama seperti kehadiran Ani selama ini.
Sudah enam bulan Wardana tinggal di kost. Praktis ia berusaha hidup
sendiri. Mulai memasak, mencuci pakaian juga sakit ia rasakan dan obati sendiri. Sejujurrnya
ia tak pernah berpikir kehidupan rumah tangganya akan seperti ini. Tapi itulah
yang terjadi. Kadang ia rindu pada anak-anak. Sedihya adalah ia tak bisa
bercengkerama dan menemani anak-anak tumbuh dewasa tapi ia tak bisa banyak
berbuat.
Ani lah yang selama ini memperhatikannya meski lewat whatsapp,
telpon, video call atau pertemuan. Ia rajin membangunkan Wardana pada pagi
hari, mengingatkan untuk makan, mengkhawatirkan dan memastikan Wardana
baik-baik saja, membawakan makanan ketika bertemu. Ani pula yang membantunya
kala Wardana mengalami kesulitan ekonomi. Kehadiran Ani membawa kesejukan dan
kesegaran.
Nada dering terdengar dari ponselnya. Ia mengambilnya.
“Sudah sampai mana?” suara
Ani dari dalam ponsel
“Aku sudah berada di tengah kota.”
“Kalau sudah sampai khabari ya?”
“Oke.”
Wardana menutup telpon. Setelah membayar, Wardana melanjutkan
perjalanan.
“Aku sudah sampai,” kata Wardana
setelah sampai di sebuah hotel.
Sore hari Ani datang.
Wardana dan Ani saling bercerita.
Rumah tangga Ani sekarang juga tidak harmonis. Ia sering kecewa
ketika ada masalah dengan keluarga suami, suami tidak membelanya padahal apa
yang dilakukannya benar, perkataan suami sering menyakitkan hati dan ia tak
lagi diberi nafkah batin. Beberapa kali ia ingin pergi dari rumah tetapi ia
mengurungkan niat karena teringat anak-anak dan kasihan dengan suami bila ia
tinggal. Ia bertahan demi anak-anak.
“Meski suamiku sering menyakitiku, aku ingin hanya maut yang memisahkan.”
“Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati perkataan suamimu yang
menyakitkan. Anggap saja angin lalu. Ada aku yang akan selalu menyayangimu.
Anggap saja aku melengkapi apa yang kurang dari suamimu.” Wardana menasehati.
“Beberapa mantanku siap menerimaku bila aku cerai dari suamiku.
Mereka masih mengejarku sampai sekarang dan menungguku. Kalau kamu sayang dan
cinta aku, ikatlah aku karena aku cinta dan sayang padamu.
“Baiklah,” kata Wardana.
Sebelum pulang Wardana mencium kedua pipi dan kening Ani.
***
Siang yang cerah. Beberapa penggalan awan putih menghiasi langit
biru. Wardana dan Ani bertemu. Mereka bertemu di toko perhiasan.
“Aku ingin mengikatmu. Kubelikan kamu cincin dan gelang sebagai
tanda sayang dan cintaku padamu serta mengikat hatimu. Pilihlah mana yang kamu
suka.”
Ani memilih.
Keadaan tidak memungkinkan mereka untuk bertemu di tempat yang
nyaman.
“Makasih sayang,” kata Ani setelah ia memilih cincin dan gelang
sebagai tanda pengikat
Ada kebanggaan dan kedamaian dalam hati
Wardana ketika ia bisa mengikat hati Ani.
***
“Selamat ulang tahun ya Jo” kata Wardana pada Ani.
Hari ini mereka bertemu. Wardana ingin mengucapkan selamat ulang
tahun pada Ani yang hari ini 24 Oktober merayakan ulang tahun kelahirannya.
“Makasih ya Jo”
Mereka sekarang sepakat memanggil “Jo” singkatan dari kata “Bojo”
“Kubelikan kamu kalung ini
juga sebagai tanda ikatan hati kita.”
Wardana memakaikan kalung berbandul hati itu ke leher kekasihnya.
“Makasih ya Jo.”
“Kau memberikan itu pula?” kata Ani sambil menunjuk sebuket bunga
warna putih tergeletak di tempat tidur.
“Iya, aku teringat kamu pernah cerita suamimu
yang pertama yang sudah berpulang itu pernah memberi kamu sebuket bunga, semua
mawar putih, kamu suka sekali. Dan kamu bilang padaku kamu ingin aku menjadi
orang terakhir yang memberi bunga mawar putih itu kepadamu. Ini aku bawakan
untukmu sebagai tanda cinta dan sayangku padamu dan aku ingin seperti katamu
menjadi orang terakhir yang memberi bunga mawar putih kesukaanmu ini kepadamu.”
Wardana mengambil bunga mawar putih itu lalu memberikannya pada
Ani.
“Makasih sayang.”
Mereka lalu berciuman dengan mesra lalu rebah dalam rindu dan
cinta yang membara. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui celah-celah jendela
kamar hotel menambah kesyanduan malam itu.
***
“Ayo makanlah.” Kata Wardana ketika mereka bertemu untuk makan
bersama.
“Jo, aku cemburu.” Kata Wardana menambahkan
karena banyak lelaki yang masih mendekati kekasihnya.
“Jo,
kamu telah mengikat aku. Kamu telah mengikat tanganku dengan gelang, jemariku
dengan cincin dan leherku dengan kalung. Aku tak mungkin memberikan cintaku
pada orang. Hanya kamu dan suamiku yang aku cintai dan sayangi.” Ani
menjelaskan.
Selama ini Ani telah memberi rasa cinta dan
sayang. Rasa cinta dan sayang yang belum
pernah ia dapatkan dari istrinya.
“Makasih Jo,” Wardana mencium pipi Ani.
“Ayo kita makan.”
Mereka makan nasi ayam lalapan dengan lauk
ayam goreng.
Hubungan Wardana dan Ani semakin dekat. Dari
hubungan itu Ani sempat hamil dua kali namun mungkin faktor usia Ani anak itu
gugur.
Ani sangat sedih.
“Jo, keguguran itu bukan kehendak kita. Anggap
saja mungkin itu yang terbaik bagi kita. Yang penting selama dalam kandungan
kita telah berusaha menjaga dan merawat anak kita.” Wardana meneguhkan.
Waktu berjalan
“Jo, aku bermimpi.” Kata Ani.
“Bagaimana mimpimu, Jo?”
“Aku mimpi didatangi dua anak kecil menangis
minta susu, akhirnya aku beri mereka susu.”
“Mereka butuh doa kita Jo, mungkin selama ini kita melupakan,”
kata Wardana.
“Iya, aku akan ke orang pintar juga untuk menanyakan arti mimpi
itu.”
“Jo, beri nama untuk anak
kita,” katanya setelah Ani mendatangi orang pintar. Mereka perlu diberi nama
agar kita bisa menyebut namanya dalam doa-doa kita.”
“Benar Jo.”
Wardana berpikir. Ia ingin dua anaknya merupakan gabungan dari dua
nama ayah dan ibunya. Setelah berunding mereka sepakat memberi nama anak pertama mereka laki-laki: Putra
Kusuma Wardana dan anak kedua mereka perempuan: Putri Kusuma Wardani.
Mereka berdoa untuk dua anak mereka. Ani menamburkan bunga di
pusara Putra Kusuma Wardana dan Putri Kusuma Wardani yang berada di belakang
rumah.
***
Mereka bertemu untuk yang kesekian kalinya.
“Jo, pulanglah ke keluargamu. Anak-anak membutuhkanmu. Aku tidak apa-apa
asal kamu tetap sayang dan cinta sama aku.” Ani menjelaskan.
“Aku tidak tahu. Bagaimana aku akan pulang ke rumah sedangkan
istriku sampai sepuluh bulan ini tidak memintaku pulang. Bahkan satu kunci
rumah yang aku bawa dimintanya.“
Wardana mengenggam kedua tangan Ani.
“Jo, terimakasih untuk perhatianmu, untuk cinta tulusmu, untuk kesetiaanmu
di tengah banyak orang yang mendamba
cintamu. Terimakasih untuk pengorbananmu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam hidup kita di depan tapi
kamu adalah bagian dari hidupku. Rahimmu telah menjadi tempat bagi kedua anakku
meski anak kita telah berpulang. Secara fisik kamu telah menjadi ibu dari dua anakku.
Jadi sampai kapanpun kamu adalah istriku. Kamu bagai angin sepoi yang
menyejukkan di tengah kehidupanku yang tak bermakna. Aku cinta dan sayang kamu
dan sampai kapanpun akan tetap cinta dan sayang kamu. Akan kuggenggam tanganmu
menyusuri waktu. Aku ingin membuatmu berkata “aku bahagia bersamamu.”
“Terimakasih
Jo.”
Rembulan
dari jendela kamar hotel nampak bersinar terang.
Mereka
berpagutan bibir lalu rebah dalam asmara yang menggebu.
***