Selasa, 29 Oktober 2019

PERTEMUAN

    Dadaku terasa nyeri. Ah, perih dalam hati ini masih terasa sampai pagi. Merelakanmu mencintai orang lain terasa perih rasanya. Menasehatimu untuk menyanyangi dia kulakukan dalam kepedihanku. Kau tahu itu ?
Setyaningrum, mengapa aku tak bisa melupakanmu ? Hingga aku rela mencintaimu dalam deritaku.

    Pramudya menghiruf nafas dalam-dalam di pinggir pantai. Matanya terpejam. Ia mencoba menenangkan hatinya. Suara deburan ombak ia resapi. Ia membiarkan dirinya larut dalam alam untuk menggapai ketenangan.

    Sejenak ia membiarkan dirinya terlena dalam kedamaian alam, lalu tersadar terasa ada tangan menepuk punggungnya. Ia membuka mata dan menoleh.

" Kumalasari ?"

Pramudya terkejut. Perempuan cantik itu tersenyum manis padanya.

"Bagaimana kamu bisa ada disini?"

Pramudya masih nampak keheranan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Saya tahu, ini pasti Kakang Pramudya. Walau pun mata kakang terpejam, hatiku bisa mengenali kakang. Bukankah kakang dahulu pernah berjanji akan mengunjungi pantai Losari lagi ?"

    Iya, Pramudya memang pernah berjanji pada Kumalasari dua tahun silam bahwa ia akan mengunjungi lagi pantai Losari tempat dirinya dan Kumalasari bertemu.

"Apa yang kakang ucapkan waktu itu terus aku ingat. Aku memutuskan untuk pindah di dekat pantai ini dan menunggu kedatangan kakang. Aku tahu suasana hati kakang sekarang. Tenangkah kakang aku akan menjadi teman kakang."

    Pramudya menatap Kumalasari dalam-dalam. Kumalasari tersenyum kembali. Pramudya membalasnya. Dengan hati penuh bahagia Pramudya memeluk Kumalasari erat-erat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...