Jumat, 08 Oktober 2021

Untuk dirimu

"Tenang saja, aku hanya sekedar menyayangimu. Tak menuntut balas juga jangan kau perhitungkan agar tak menyita hatimu. Kau tahu hujan? Langit menurunkannya dan ia tak meminta balasan. Kau umpamakan saja aku seperti itu. Memandang wajahmu dan mengenalmu dan kau menerima apa yang kuberi, itu sudah cukup."
Wirya menatap Kenya dalam-dalam. Perempuan di depannya itu tak berkata apa-apa. Mungkin sedang menyelami perkataan pemuda itu.

Langit mendung. Bulan Desember memang identik dengan musim penghujan. Semilir hawa dingin mulai menyentuh kulit padahal hari masih siang.

"Ayo, lekas pulang, sebelum keburu hujan dan kau dimarahi ibumu!" ajak lelaki itu
Tangan Kenya segera di raihnya. Ada debar hangat menyusuri tangan lelaki itu.
Setelah membayar minuman dan makanan, mereka meninggalkan cafe Pring Sewu itu.

Rintik hujan mulai menyentuh tangan mereka saat Kenya berada di boncengan Wirya.  Wirya mempercepat laju sepeda motornya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...