Rabu, 04 Januari 2023

Buket Mawar Putih

 

Hari panas terik ketika Wardhana  mengendarai sepeda motor tuanya. Sudah tiga jam ia berada di atas sepada motornya dari kotanya menuju kota yang diberi julukan orang sebagai  Kota Beriman. Ia menghentikan laju sepeda  motornya ketika dia mendapati tempat yang sejuk dan di sepanjang jalan berderet rombong-rombong penjual.

Takat memarkir sepada motornya dan mendatangi salah satu rombong itu..

“Pak, beli es ya? rasa durian, leci, degan, bisa dijadikan satu, Pak?”

“Bisa, Nak,” kata lelaki penjual es itu.

“Duduk, Nak!” katanya menambahkan

Cahaya matahari begitu menyengat kulit. Beberapa daun kering berjatuhan, sama seperti impiannya tentang sebuah keluarga yang jatuh berguguran.

Sudah empat bulan ini ia tinggal di kost setelah diusir keluar rumah oleh Frada, istrinya, hanya gara-gara hal yang sepele dan selama tinggal di kost, ia banyak dibantu dan diteguhkan oleh Ani Setyawati, temannya. Dan ini kedua kalinya Takat ingin menjumpai temannya itu.

“Ini, Nak?” penjual itu memberikan segelas es yang ia pesan.

“Terimakasih, Pak.”

Segera Takat meminumnya. Rasa haus terobati. Angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya. Terasa segar.

“Sudah sampai mana Mas?”

“Sudah sampai Jombang kota.”

“Kita ketemu di Taman Kota saja ya Mas?”

“Baik.”

 

***

Malam itu cahaya lampu-lampu kota berpendar indah.

Takat Dewandara dan Ani duduk berdekatan menikmati malam di taman kota.

 “Dahulu suamiku memberikan aku sebuket bunga, isinya bunga mawar berwarna putih semua. Aku senang sekali,” Ani membuka pembicaraan

“Sebentar lagi kamu ulang tahun, kam ingin hadiah apa ?”

“Bawakan aku sebuket bunga mawar putih, aku ingin engkau menjadi orang terakhir yang memberikan bunga mawar putih kepadaku.”

 

 “Cintai aku seperti kamu mencintai ibumu.” Ani menggenggam kedua tangan Takat sambil memohon. Takat memandang Ani sejenak, kemudian mencium kening kekasih hatinya itu.

“Pasti An.”

 

aku ingin engkau mengikatku, karena banyak lelaki yang mendekatiku.

 

“Jo. selamat ulang tahun ya. Kuberikan padamu kalung, cincin dan gelang ini kuberikan padamu sebegai tabnda ikatan kita bahwa aku mencintaimu

 

Jo, menggenggam kedua tangan Joani, memandangnya dengan penuh kesunggugan:

“Jo, kamu telah banyak menemaniku, membantuku di saat aku mengalami kesulitan ekonomi, setia padaku walau banyak lelaki mendekatimu. “sampai kapanpun aku akan sayang kamu.”

 

Mereka kemudian menikah walau dalam kesederhaan. Dengan kerja keras Takat berhasil membeli tanah, kemudian membangun rumah walau sederhana. Di samping rumah masih ada tanah kosong. Joani menanaminya dengan aneka buah-buahan, dan bunga. Takat menanam bunga mawar putih di depan rumah.

“Jo, bunga mawar putih ini adalah lambang cinta kita.

Berkat cinta mereka dikaruniai 2 anak kembar. Yang laki diberi nama Putra Kusuma Wardhana dan yang perempuan diberi nama Putri Kusuma Wardhani. Anak-anak itu tumbuh dalam kegembiraan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...