Hari panas terik ketika Wardhana mengendarai sepeda motor tuanya. Sudah tiga
jam ia berada di atas sepada motornya dari kotanya menuju kota yang diberi
julukan orang sebagai Kota Beriman. Ia
menghentikan laju sepeda motornya ketika
dia mendapati tempat yang sejuk dan di sepanjang jalan berderet rombong-rombong
penjual.
Takat memarkir sepada motornya dan mendatangi
salah satu rombong itu..
“Pak, beli es ya? rasa durian, leci, degan, bisa
dijadikan satu, Pak?”
“Bisa, Nak,” kata lelaki penjual es itu.
“Duduk, Nak!” katanya menambahkan
Cahaya matahari begitu menyengat kulit.
Beberapa daun kering berjatuhan, sama seperti impiannya tentang sebuah keluarga
yang jatuh berguguran.
Sudah empat bulan ini ia tinggal di kost
setelah diusir keluar rumah oleh Frada, istrinya, hanya gara-gara hal yang
sepele dan selama tinggal di kost, ia banyak dibantu dan diteguhkan oleh Ani
Setyawati, temannya. Dan ini kedua kalinya Takat ingin menjumpai temannya itu.
“Ini, Nak?” penjual itu memberikan segelas es
yang ia pesan.
“Terimakasih, Pak.”
Segera Takat meminumnya. Rasa haus terobati. Angin
sepoi-sepoi menerpa kulitnya. Terasa segar.
“Sudah sampai mana Mas?”
“Sudah sampai Jombang kota.”
“Kita ketemu di Taman Kota saja ya Mas?”
“Baik.”
***
Malam itu cahaya lampu-lampu kota berpendar
indah.
Takat Dewandara dan Ani duduk berdekatan menikmati
malam di taman kota.
“Dahulu
suamiku memberikan aku sebuket bunga, isinya bunga mawar berwarna putih semua.
Aku senang sekali,” Ani membuka pembicaraan
“Sebentar lagi kamu ulang tahun, kam ingin
hadiah apa ?”
“Bawakan aku sebuket bunga mawar putih, aku
ingin engkau menjadi orang terakhir yang memberikan bunga mawar putih kepadaku.”
“Cintai
aku seperti kamu mencintai ibumu.” Ani menggenggam kedua tangan Takat sambil
memohon. Takat memandang Ani sejenak, kemudian mencium kening kekasih hatinya
itu.
“Pasti An.”
aku ingin engkau mengikatku, karena banyak
lelaki yang mendekatiku.
“Jo. selamat ulang tahun ya. Kuberikan padamu
kalung, cincin dan gelang ini kuberikan padamu sebegai tabnda ikatan kita bahwa
aku mencintaimu
Jo, menggenggam kedua tangan Joani,
memandangnya dengan penuh kesunggugan:
“Jo, kamu telah banyak menemaniku, membantuku
di saat aku mengalami kesulitan ekonomi, setia padaku walau banyak lelaki
mendekatimu. “sampai kapanpun aku akan sayang kamu.”
Mereka kemudian menikah walau dalam
kesederhaan. Dengan kerja keras Takat berhasil membeli tanah, kemudian
membangun rumah walau sederhana. Di samping rumah masih ada tanah kosong. Joani
menanaminya dengan aneka buah-buahan, dan bunga. Takat menanam bunga mawar
putih di depan rumah.
“Jo, bunga mawar putih ini adalah lambang
cinta kita.
Berkat cinta mereka dikaruniai 2 anak kembar. Yang laki diberi nama Putra Kusuma
Wardhana dan yang perempuan diberi nama Putri Kusuma Wardhani. Anak-anak itu
tumbuh dalam kegembiraan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar