SEPOTONG HATI
"Kenya, makanlah!"
"Aku mau memotret dulu makanan ini!" ucapnya.
"Buat status ya!" kataku.
Dia hanya tersenyum.
"Kamu memotret makanan itu, aku memotret kamu ya?" pintaku sambil tertawa.
Haa, dia mengambil posisi? Seakan aku tak percaya dia mau kupotret.
Aku langsung memotretnya. Segera kulihat di layar ponselku terpampang wajah Kenya yang cantik. Rambutnya yang lurus, senyumnya yang mengembang, postur tubuhnya yang proporsional, fashionnya yang keren menambah kecantikannya.
Kenya, kamu bukan hanya tersimpan di galeri ponselku, tapi sudah terbingkai di dalam hatiku. Terimakasih aku boleh memiliki wajahmu bukan dari mencuri foto dirimu di story-story whatsappmu tapi dari tanganku sendiri.
Kutekan namanya dalam whatsapp lalu kukirim foto dirinya yang kupotret tadi, kemudian kuberi notifikasi di bawah fotonya "cantik."
Kenya membuka ponselnya setelah mendengar nada pesan masuk, sepertinya melihat foto dirinya yang kukirim tadi.
“Wow,”nampak dia senang.
"Mas, aku mencintai kekasihku."
"Bukankah harusnya demikian?" jawabku.
"Mas Ryan tidak apa-apa?"
"Kenya, entah mengapa aku jadi sayang sama kamu. Tapi cinta yang benar itu tidak boleh merusak khan? Aku teringat akan seseorang yang memberi gambaran tentang keindahan. Keindahan itu bagai kita melihat hamparan bunga yang indah di taman. Cukup nikmati saja keindahan bunga itu dan janganlah kaupetik karena ketika kaupetik bunga itu akan layu. Aku juga demikian khan, hanya boleh mengagumimu karena kamu sudah milik orang lain.”
Aku menatap mata Kenya yang indah. Indah sekali.
"Ayo segera dimakan!" pintaku
”Ïya Mas.”
Kenya makan. Aku memperhatikannya. Ada rasa syukur di dalam hatiku ia mau menerima makanan yang kubelikan.
Suara gemericik air dari sungai kecil di sampingku memberi ketenangan. Kupandang sungai yang panjang itu. Airnya jernih. Nampak bayangan pepohonan terpantul darinya. Air mengalir tenang, mendamaikan hati. Damai seperti yang kurasakan saat aku bisa berada di dekat Kenya.
***
Langit kota Denpasar mulai berubah warna. Senja mulai gagah memamerkan keindahannya. Ia menggoreskan warna orange keemasan pada dinding langit, bak sang pelukis, membuat aku takjub pada alam.
Aku duduk di kursi balkon lantai dua hotel tempat aku bermalam. Sudah lima hari aku berada di sini dalam rangka tugas kerja. Mengunjungi karyawan dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Aku mengeluarkan sebatang rokok Djarum Blackku dari sakuku lalu menyulutnya. Kuhisap sejenak. Asap putih membumbung. Aku menarik nafas dalam-dalam. Bayangan gadis cantik Kenya berjalan-jalan dalam pikiran. Ada rindu yang teramat dalam.
Burung-burung sudah mulai pulang ke sarangnya. Lampu-lampu jalanan sudah mulai berpijar. Kenya masih melekat dalam pikiranku.
Lamat-lamat kudengar suara dering masuk pada ponselku. Aku beranjak dari tempat duduk menuju meja kamar tempat ponselku kuletakkan. Kulihat telah ada empat kali panggilan masuk, dari Made Widiarsa.
Nada dering kembali berbunyi.
“Hallo.”
“Hallo Mas Ryan, wah dimana saja ini? Dari tadi saya telpon tidak diangkat-angkat. Sedang melamun Kenya ya!”
“Kok kamu tahu?”
“Menebak saja. Bukankah kemarin Mas Ryan bilang sedang rindu sama Kenya?”
Iya, kemarin aku memang sempat cerita sedikit padanya bahwa aku sedang rindu pada seseorang.
Made Widiarsa adalah supervisor karyawan bagian produksi di perusahaan tempat aku bekerja untuk cabang Bali. Sudah setahun ini ia banyak membantuku dalam urusan pekerjaan walau melalui email maupun telpon, apalagi ketika aku berada di Bali ini. Sering kontak membuat aku menjadi dekat dengannya, bukan hanya sebagai rekan kerja tapi sudah menjadi seperti teman. Ia asli orang Bali. Logatnya yang khas, khas orang Bali, tanggung jawabnya dan keramahtamahannya membuat aku cepat akrab dengannya.
“Mas Ryan, saya mau tanya. Mas Ryan memikirkan dia terus?”
“Iya.”
”Äpakah dia juga memikirkan Mas Ryan?”
”Mungkin tidak.”
“Kalau tidak, mengapa Mas Ryan memikirkannya?"
“Entahlah.”
“ Kenya itu sudah punya kekasih, Mas?”
“Iya aku tahu. Tapi kenapa ya bayangan Kenya sulit sekali untuk kuhilangkan dari pikiranku? Susah, jatuh cinta pada pandangan pertama ini.
“Ya sudah kelihatannya Mas Ryan sedang galau. Saya sudahi telpon ini. Saya tadi telpon hanya mau menyampaikan bahwa besok briefings karyawan dimulai pukul delapan pagi. Kalau begitu sampai ketemu besok pagi, Mas?”
“Iya”
“Jangan lupa satu hal,” katanya menambahkan.
“Apa itu?”
“Jangan lupa, bahagia.”
“Oke.”
Malam terus beranjak. Aku masih duduk di teras. Kuminum kopi yang sedari tadi aku hiraukan. Sudah tak hangat lagi. Aku berdiri maju mendekati pagar pembatas balkon. Aku ingin melihat langit lebih luas. Di sebelah barat, nampak rembulan mulai bergerak pelan ke atas. Masih separuh purnama. Namun cahayanya tetap terlihat terang, berjalan untuk menerangi malam yang gelap.
Kenya, meski aku tak sempurna, seperti bulan yang separuh purnama ini, mungkin bisa tak setampan yang kau kehendaki, tak semenarik yang kau inginkan, tapi aku punya hati yang sayang padamu
***
Pagi yang cerah.
Made Widiarsa mengumpulkan karyawan. Pagi ini aku memberikan briefing singkat kepada semua karyawan sekaligus berpamitan, besok aku akan kembali ke Surabaya.
“Pagi semuanya.
Kuharap semua tetap sehat dan semangat dalam bekerja. Selalu tumbuhkan motivasi dalam diri masing-masing untuk bekerja lebih giat. Miliki impian, cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera. Jadikan impian itu titik yang perlu dituju. Selagi masih ada waktu, selagi masih diberi kesempatan yuk kita saling bantu-membantu, saling bergandengan tangan untuk meraih mimpi, meraih keberhasilan agar dengan demikian kelak hidup kita lebih berarti karena kita dapat memberi dan membahagiakan orang-orang yang kita sayangi…”
Cukup duapuluh menit aku memberikan briefings singkat. Karyawan mulai bekerja. Made Widiarsa berjalan untuk mengamati. Aku menuju ruang kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasku.
Setelah makan siang aku menelpon Kenya.
“Kenya, besok aku pulang.”
“Oleh-olehnya ya?”
“Mau dibelikan apa ?”
“Terserah Mas Ryan saja.
Pukul dua siang aku berpamitan kepada kepala cabang dan karyawan untuk meninggalkan kantor. Mobil operasional kantor mengantarkanku sampai ke tempat peginapan. Setelah driver pergi, aku memutuskan keluar untuk membeli sesuatu bagi Kenya.
Aku berpikir.keras mau aku belikan apa. Kalau aku membelikan makanan, pasti akan cepat habis dan tak akan diingat lagi. Ah, kubelikan saja barang yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Tapi barang apa? Lukisan. Yach, aku membeli ini saja.
Kuputuskan untuk berjalan kaki saja agar bisa sambil menikmati suasana. Kulihat rumah-rumah khas Bali yang unik dan antik, kagum rasanya akan jiwa seni masyarakat Bali. Di seberang jalan beberapa bule kongkow-kongkow di café. Berpapasan pula aku dengan gadis-gadis Bali yang memakai kebaya dengan selendang yang terikat di pinggang, sepertinya baru pulang dari sembahyang di pura. Penampilannya cantik mempesona. Sungguh, suatu pemandangan yang jarang kulihat, menyenangkan. Rasanya kerasan bila aku terus tinggal di Bali.
Setelah hampir tigapuluh menit aku mencari, akhirnya aku menemukan galeri. Di dalamnya ada puluhan lukisan juga barang-barang seni lainnya. Setelah mengedarkan pandangan, mataku tertarik dengan lukisan penari Bali. Gambar penarinya cantik, rambutnya lurus panjang, tangannya yang sedang dalam posisi menari nampak indah, tubuhnya proporsinal, pernak-pernik yang dipakai dalam menari menambah keanggunannya. Seakan lukisan ini serupa Kenya.
Kudatangi penjualnya dan setelah aku membayarkannya, aku membawa lukisan itu pulang. Besok aku akan kembali ke Surabaya
***
Siang yang terik. Setelah menempuh perjalanan selama dua setengah jam, aku menemui Kenya di tempat kerjanya. Ia mempunyai usaha sendiri yang ia jaga sendiri, sebuah mini cafe. Aku memarkir sepeda motorku. Kenya sedang duduk ketika aku datang. Aku menghempaskan diriku pada kursi bambu seperti biasanya untuk mengurangi rasa lelah dalam perjalanan tadi.
“Bagaimana tugas kerjanya di Bali, menyenangkan?”
“Seperti dua mata uang.”
“Maksudnya?” Kenya minta penjelasan.
“Di satu sisi menyenangkan karena bisa menikmati suasana Bali namun di satu sisi aku tersiksa.”
“Kok bisa?”
“Tuch, kamu yang menyebabkan, aku tersiksa karena menahan rindu.”
“Oh, itu,” Kenya hanya tersenyum.
“Ini, kubuatkan juice alpokat kesukaanmu,” katanya sambil meletakkan segelas juice alpokat di hadapanku.
Kuperhatikan, kaos putih yang ia kenakan dengan setelan celana jeans yang dibuat syle robek-robek menambah pesonanya.
Kuambil lukisan yang tadi kubawa.
“Kenya, aku belikan kamu lukisan ya? Lukisan bergambar penari Bali. Lukisan ini bisa kamu pajang di dinding rumahmu sebagai hiasan. Tahu tidak? Lukisan ini bagiku adalah cerminan dirimu. Gambar wanita dalam lukisan ini yang rambutnya lurus panjang, cantik, indah, anggun, mempesona bagiku itu serupa dirimu.
“Iya Mas, cantik lukisannya.”
“Seperti yang berbicara.” Lagi-lagi Kenya hanya tersenyum.
“Gombal” timpalnya.
“Kamu tidak tahu bahwa setiap pujian yang kukatakan tentang dirimu itu sungguh dari hatiku?”
“Begitu ya?”
“Begitulah. Oya nich, kubawakan juga kamu coklat. Biasanya cewek suka coklat khan?
“Wah, makasih ya, Mas.”
“Kubawakan coklat itu sebagai lambang sayangku, hehehe.”
Kenya tertawa.
Ryan memperhatikan Kenya yang sedang mengamati lukisan itu, memperhatikan dengan hatinya. Kedua tangan Kenya memegangi lukisan sementara matanya menelusuri sisi-sisi lukisan.
Ah...tangan itu, seandainya bisa kugengam, betapa indahnya. Tapi itu tak mungkin. Aku tidak ada di dalam hatinya.
Daun-daun tertiup angin ketika dari seberang jalan, dari sebuah rumah karaoke, kudengar lantunan suara merdu Chrisye, penyanyi favoritku:
"Sejak jumpa kita pertama, kulangsung jatuh cinta
Walau kutahu kau ada pemiliknya
Tapi kutak dapat membohongi hati nurani
Kutak dapat menghindari gejolak cinta ini
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu..."
Kenya, kau tahu, ketika aku minum dan makan di mini cafemu untuk yang pertamakalinya, aku sudah terpesona pada dirimu. Karena itulah aku memberi uang lebih atas minuman dan makanan yang telah kumakan. Lalu empat minggu sesudahnya aku akan melewati tempatmu lagi. Tahukah kamu, aku berdoa kepada Tuhan ingin sekali aku boleh memperoleh nomor kontakmu. Rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku. Saat aku bertanya kepada dirimu bolehkah aku meminta nomor kontakmu, engkau memperbolehkan. Sungguh, suatu hal yang tak pernah kusangka apa yang kuinginankan terjadi. Aku sangat senang. Kenya, terus terang kalau menuruti keinginanku, aku ingin engkau ada sedikit hati buat aku. Tapi kurasa ini hal yang salah. Aku telah melampauhi batas bila seperti itu. Doaku adalah aku boleh mengenal kamu dan meminta kontakmu. Itu sudah Tuhan kabulkan. Kalau aku meminta hatimu, itu sudah melebihi permintaan. Bahwa aku sesekali bisa membelikan kamu makanan dan minuman dan kamu menerima, itu adalah hal yang patut kusyukuri.
Kenya, walau aku tidak ada di dalam hatimu, aku akan sayangi kamu, sampai kapanpun. Akan ada slalu hatiku buat kamu, kapan saja, dan aku akan selalu menjadi pengagum rahasiamu. Satu hal yang perlu kamu ketahui, bahwa kamu adalah pribadi yang berharga.
Biarlah ini menjadi kisah perjalanan hidupku. Kisah dari orang lain di luar hatimu. Kisah dari seorang dengan sepotong hati yang mencintaimu.