Jumat, 24 Maret 2023

Senja Itu

 

 

Senja Itu

Karya : Warsito

 

Duduk di bangku teras rumah

Berteman secangkir kopi hangat

Kupandangi jauh di sana

Langit senja

Yang masih menampilkan keindahan

 

Kekasih, lihat

Rembang petang itu berhenti sejenak

Sebelum hari beranjak malam

Itu diriku yang menunggumu

Di hari senjaku

 

Bila kau tahu

Telah habis air mata ini

Kering jiwa ini

Atas dambaku pada hatimu

Yang tak pernah terwujud

 

Kini, tak lagi kupinta setetes embun penyegar

Atau sentuhan hangat tangan di badan

Biarlah bunga mekar pada masanya

Hari berjalan seturut musimnya

 

Pijar cahaya senja adalah sebuah harap

Bila kau masih mau menautkan tangan

Tuk melangkah bersama

Senja itu bisa menjadi rumah kita


 

 

Perjumpaan

 


Hari panas terik, Awan bergerak begitu cepat disapu angin seakan mengikuti padatnya kegiatan suatu asrama mahasiswa di kota Malang.

"Bram, aku mau ke rumah Nia dulu, kalau ada teman atau siapapun mencari aku, tolong beritahu mereka soal kepergianku."

"Oke, Yan," kataku pada Iyan, sahabatku.

 

Iyan, berasal dari kota lain, aku pun juga, berkumpul di sini, di sebuah asrama. Aku dan Iyan juga belasan teman yang lain dipersatukan di sini. Kami adalah mahasiswa yang tinggal di asrama dan kuliah di kampus yang sama. Dengan Iyan lah aku sering bermain gitar, menyanyikan lagu apa saja yang melintas di hati, tak terkecuali lagu-lagu untuk orang yang dimabuk asmara. Kadang tawa mengiringi di saat-saat main musik. Musik bagi akui dan Iyan adalah sarana untuk mengekspresikan diri juga ungkapan hati. Dan dengan Iyan aku menemukan teman berbagi cerita.

 

Waktu terus berlalu sampai kemudian Iyan mengenal Nia, seorang gadis yang banyak diperbincangkan di antara kami. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Kata Iyan, ibu Nia mempunyai usaha jahitan yang cukup laris. Karena jahitannya rapi dan pesanan selalu bisa diselesaikan tepat waktu. Iyan dan beberapa teman juga menjahitkan baju di situ. Selain juga seorang ibu yang ramah dan baik hati. Kudengarkan saja mereka memperbincangkan tentang ibu dan anak itu dengan pikiran masa bodoh.

 

Pagi yang cerah. Angin semilir  membelai kulit, terasa sejuk segar. Kota Malang ini memang termasuk kota yang sejuk. Jujur aku kerasan tinggal di sini, kota yang kujadikan rumah keduaku. Yang pertama tentu saja kampung halamanku, Kediri. Bahkan aku pernah berharap bisa menghabiskan masa tuaku di sini. Selain sejuk, penduduknya juga ramah-ramah.

 "Ayo Bram, kita ke rumah Nia, " ajak Iyan mengagetkanku yang sedari tadi ssyik membaca novel.

"Ngapain?"

"Kamu akan kukenalkan dengan Nia, gadis pujaanku."

Walau malas, demi melihat raut mukanya yang menghendaki aku ikut, kuturuti juga permintaan itu.

 

"Aku Bram," kucoba memperkenalkan diri.

"Nia", sapa gadis lembut itu.

"Saya Bram, Bu," kataku kepada ibu Nia.

"Duduk, Nak."

"Baik, Bu, terimakasih."

Kulihat ibu Nia membuatkan teh. Satu diberikan pada Iyan. Dan satu untukku.

Aku duduk di kursi dekat dinding. Kurasakan penerimaan yang hangat dari keluarga ini. Nia seorang yang ramah juga periang. Aku melihatnya dari kejauhan, dari tempat dudukku. Ia sedang berbincang akrab dengan Iyan.

 

Hari terus beranjak seiring dengan aneka macam kegiatan kampus dan kisah-kisah percintaan  teman-temanku di asrama. Empat tahun sudah kami tinggal bersama di asrama. Banyak kenangan tercipta, meninggalkan kenangan kebersamaan yang indah. Setelah wisuda sarjana  kami satu angkatan keluar dari asrama menggapai hidup dan masa depan masing-masing. Aku dan Iyan pun berpisah. Entah di mana dia sekarang aku tak tahu. Kuhubungi ponselnya sudah tidak aktif lagi. Sementara aku aku masih tinggal Malang, mengontrak rumah sederhana. Aku masih ingin banyak menghirup udara segar di kota ini. Namun tak lagi aku bertemu dengan Nia, kekasihnya itu. Bahkan dua tahun terakhir sebelum kelulusan, Iyan tak pernah lagi bercerita soal Nia, aku pun tak menanyakan. Semua seperti telah lemyap di telan oleh waktu.

 

Pagi yang cerah. Pimpinanku mengadakan rapat kerja tentang pengembangan usaha. Kami berdiskusi banyak hal, hingga di tengah-tengah rapat.

"Pak Bram, Pak Bram saya pindah ke Makassar untuk memajukan cabang kita di sana.”

Aku sedikit terkejut mendengarnya namun kemudian aku berpikir tidak ada seorangpun yang memberatkanku untuk tetap tinggal di sini. Aku juga ingin menikmati suasana baru. Mungkin Makassar akan memberiku warna baru bagi hidupku. Maka kutrima tugas itu.

“Baik, Pak, saya siap."

"Bagus," pimpinanku memuji.

"Pak Bram berangkat minggu depan. Ada waktu satu minggu bagi Pak Bram untuk bisa menyiapkam diri.”

“Baik, Pak.”

 

Senja yang ramai, aku berjalan-jalan menikmati suasana kota. Tak lama lagi aku akan meninggalkan kota Malang ini. Kucoba menikmati lampu-lampu kota yang berpijar cerah, orang-orang yang lalu lalang, bangunan-bangunan yang menjulang dan megah. Di ujung jalan, kulihat satu keluarga duduk bersama menikmati makanan sambil bercengkerama. Indah kota ini.

 

Aku terus berjalan melihat apa saja yang terjadi di sekitarku, dan tanpa sengaja pundakku bersentuhan. Kulihat seorang gadis. Aku sejenak mengingat gadis ini, sepertinya kenal.

"Nia?"

"Mas Bram?"

"Hai, bagaimana khabarmu kini, lama ya kita tidak bertemu."

"Iya, Mas, sejak Mas Bram ke rumahku bersama Mas Iyan belasan tahun lalu, kita nggak pernah ketemu lagi"

Mendengar nama Iyan disebut, aku jadi penasaran.

"Oya, bagaimana kabar Iyan, aku lama nggak kontak?"

"Panjang Mas."

"Gini-gini, ayo kita ngobrol di cafe itu."

Kulihat ada cafe di pinggir jalan. Nia kuajak ke situ. Setelah memesan minuman dan makanan ringan, kutatap mata Nia, kubiarkan dia melanjutkan ceritanya.

 

Ia bercerita bahwa ia sempat meninggalkan Iyan tanpa pesan dua tahun sebelum kelulusannya, karena ajakan orangtua pindah ke kota lain. Di kota lain ini, ada seorang laki-laki yang mendekatinya. Berat rasanya menerima kehadiran lelaki ini karena bayangan tentang Iyan masih terus muncul dibenaknya. Hatinya masih merindukan kehadiran Iyan dalam hidupnya. Tapi apa daya, jarak yang jauh membuat ia tak tahu khabar Iyan. Akhirnya ia menerima hati lelaki ini yang akhirnya menikahinya dan  memberinya tiga orang anak. Jaman semakin berkembang, lewat media sosial ia bisa bertemu dengan  Iyan lagi, dengan status Iyan pun sudah punya istri dengan seorang anak. Cinta yang tumbuh di masa remaja yang sempat terputus itu terjalin lagi. Beberapa kali Iyan mengunjunginya. Ia bahagia, walaupun sekarang punya kehidupan sendiri sendiri, ia bisa masih bisa manjalin hubungan dengan Iyan, sekedar mengetahui khabarnya, sekedar memberi perhatian kecil padanya, itu sudah cukup.

 

"Mas Bram, aku sekarang kembali lagi ke Malang bersama suami dan anak anakku. Mama menyuruhku ke Malang untuk meneruskan usaha jahitan mama. Lagi pula rumah mama di Malang ini belum di jual. Maka aku pindah di sini, sudah satu tahun ini, dan tanpa sengaja bisa bertemu Mas Bram di sini."

 

Kudengarkan cerita Nia penuh perhatian. Aku jadi mengerti mengapa dua tahun sebelum kelulusan Iyan tak pernah membicarakan mengenai Nia lagi. Rupanya Nia pindah keluar kota tanpa pemberitahuan. Pantas wajah Iyan terlihat sedikit murung waktu itu. Namun tak sedikitpun Iyan mau bercerita padaku. Sepertinya ia ingin menyimpan hal ini sendiri. Tak apalah, kurasa Iyan sekarang sudah senang lagi bisa bertemu Nia kembali.

 

"Minumlah dulu juice alpokatmu, dari tadi tak tersentuh, " kataku.

Lalu kita tertawa bersama-sama. Ada senyum indah di wajahnya. Pantas Iyan dulu begitu menyukai Nia , gadis ini mempunyai sisi kecantikan yang berbeda dibandingkan gadis lainnya.

"Nia," kataku kemudian.

"Senang aku bisa bertemu kamu kembali. Senang juga aku dahulu di ajak Iyan berkunjung ke rumahmu. Seperti mendapat anugerah aku bisa bertemu kamu lagi. Tak kusangka kita bisa bertemu kembali di sini. "

"Ah, Mas Bram terlalu memuji."

"Bukan memuji, tapi benar, senang bisa bertemu kamu kembali.

Aku harus berterima kasih kepada Tuhan atas semuanya ini."

"Sudah, cukup Mas, nanti aku ge-erlho?"

Aku tertawa.

"Heh, itu kenyataan hatiku. Tapi Nia, aku bisa bersamamu di sini hanya sebentar saja."

"Maksud Mas Bram?"

"Kurang enam hari lagi aku akan pindah kerja di Makassar. Aku dipindah ke kantor cabang sana, entah sampai kapan aku belum tahu."

Terlihat mulut gadis itu membulat.

"Boleh aku minta nomor teleponmu, agar kita bisa saling kontak?"

Nia mengangguk lalu memberikan nomor telepon selulernya, begitupun aku .

"Dan, mau nggak...." aku menatapnya.

"Kamu menemaniku menikmati kota Malang ini sebelum aku pindah ke Makassar?"

"Oh...dengan senang hati Mas"

"Malam hari sebelum aku  berangkat ke Makassar, temani aku ya?"

"Ketemu dimana, Mas?"

"Taman kota."

"Baiklah."

"Makasih, Nia."

Nia tersenyum lagi, dengan sangat manis, senyumnya seperti merontokkan hatiku. Ada debar muncul, rasa kedekatan juga, sepertinya aku tak ingin kehilangan dia.

 

Hari-hari sebelum pertemuan aku menjalin kontak dengan Nia melalui pesan WhatsApp. Dia bercerita banyak tentang Iyan, tentang kerinduan-kerinduannya, tentang pertemuan-pertemuannya,  tentang perjuangannya dalam memperoleh rejeki karena dia seperti menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya bekerja tapi hasil jauh dari cukup. Setiap pagi dia lembur menjahit. Kadang dia menangis. Selama ini hanya Iyan yang mampu mengerti dirinya.

Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Menghibur dan memposisikan diriku sebagai seorang kakak.

Dan rasanya aku semakin larut dalam kedekatan padanya. Aku merasa hariku ada yang mengisi. Di pagi hari kadang aku berdoa untuk mengucap terimakasih kepada Tuhan karena kehadirannya.

Nia, terimakasih ya atas kehadiranmu di hatiku.

 

Pukul tujuh malam, aku dan Nia bertemu di taman kota. Ia terlihat sangat cantik. Di taman itu terdapat bangku-bangku untuk duduk. Kuberanikan diri untuk mengandeng tangannya menuju tempat duduk itu. Ada semacam desiran mengalir dari tangannya menuju hatiku.

 

Aku dan Nia duduk. Aku belum bisa berkata apa-apa karena masih mengenali dan meredam gemuruh di dalam hatiku.

"Nia?"

"Ya, Mas"

"Bolehkah aku berterus terang?"

Nia mengangguk.

"Mengapa aku merasa begitu dekat dengan dirimu ya ?"

Nia terkekeh. Bola matanya menyipit.

"Iya benar, padahal kita baru saja bertemu tapi rasanya aku sudah begitu dekat dengan dirimu."

"Hehehe, sama mas, aku pun juga merasakan seperti itu."

"Benarkah?"

Nia tersenyum manis. Aku merasa bahagia mendengar itu.

Aku merangkul pundaknya. Ia tak menolak. Rasanya ada kehangatan mengalir dari jiwaku untuknya. Aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.

 

Aku mengajaknya bangkit. Di taman itu di sediakan kereta yang berputar mengelilingi taman kota. Aku ajak Nia naik kereta itu. Indah rasanya duduk berdua dengannya dengan tangan yang saling menggengam.

Lalu kita turun, mengabadikan foto berdua.

 

Kita duduk lagi dan berbincang banyak hal. Malam semakin larut. Sebelum berpisah aku memandang wajahnya lalu menggengam erat satu tangannya.

"Nia, bolehkah aku mencintaimu?"

Nia  memandangku, tersenyum manis, lalu meletakkan tangan kanannya di atas kedua tanganku yang memegang erat tangan kirinya.

Aku mencium kedua pipi dan keningnya. Tak ada jawaban dari mulut manisnya tapi entah, bahagia itu menyeruak memenuhi ruang batinku.

 

Pagi itu aku sudah berada di dalam pesawat. Ada kesunyian menyelimutiku. Kebersamaan dengan Nia semalam terus melintas dalam pikiranku.

 

Tuhan, terimakasih untuk waktu yang tlah kau sediakan bagiku untuk bertemu Nia dan menikmati kebersamaan dengannya.

Nia, maafkan aku yang lancang mencintaimu. Aku tahu engkau mencintai Iyan. Dan Iyan pun mencintaimu. Walau perih, aku rela cukup kau jadikan aku teman pengiring langkahmu bersama dia.

 

Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika pesawat mendarat di Bandara Hasanudin, Makassar. Aku melangkahkan kaki keluar, menuruni tangga pesawat.  Hawa segar menerpa wajahku.

Semua nampak baru.

 

Makassar, semoga engkau memberi semangat baru, harapan baru bagi pencapaian mimpi-mimpiku. Suatu saat ijinkan aku untuk pulang kembali ke Malang. Di sana mungkin Nia menungguku.

 

 


AYAHKU

 


Selain ibu, aku mengenal sosok yang paling dekat dengan diriku, ialah ayah. Ada banyak yang bisa aku katakan tentang ayahku.

Ayahku adalah seorang yang sederhana. Sebagai seorang yang tinggal di desa, kegiatan sehari-hari ayahku adalah pergi ke ladang, menanami ladang dengan aneka tanaman yang suatu saat diharapkan bisa dipanen dan hasilnya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehari-hari ayah berpakaian sederhana dan bercengkerama dengan tetangga atau siapapun yang datang atau ditemui. Namun dalam kesederhanaannya, aku melihat ayah sebagai sosok yang aku kagumi,

Awal-awal ayahku bekerja sebagai buruh tani pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Namun lambat laun dari hasil tabungan, ayahku mulai bisa membeli ladang. Kini ayahku mempunyai dua ladang yang ditanami bermacam-macam tanaman secara bergantian, mulai lombok, jagung, tebu, nanas, kacang tanah, ketela rambat dan lain sebagainya. Aku melihat ayah sebagai seorang yang bekerja keras. Ketika hari telah siang di saat petani yang lain sudah pulang, ayah sering masih bekerja. Pulang ketika matahari sudah berada di ubun-ubun kepala, lalu makan dan istirahat. Sore hari kembali lagi ke ladang sampai hari hampir petang. Ibu sering bilang sebenarnya pekerjaan di ladang sudah selesai, tetapi ayah selalu saja mencari-cari pekerjaan, entah membersihkan rumput yang mengganggu tanaman, entah menambahi tanah pada pangkal tanaman yang tanahnya berkurang karena terbawa air hujan, atau menanam tanaman-tanaman sampingan yang menghasilkan panenan. Itulah ayah, seorang yang rajin bekerja.

Di sela kesibukannya berladang, ayah memelihara hewan ternak berupa kambing atau kadang sapi. Ia seorang yang telaten dalam memelihara hewan ternak. Biasanya ayahku mencari rumput untuk makanan kambing atau sapi sepulang dari pekerjaannya di ladang. Jadi ketika pekerjaan di ladang sudah selesai, ayahku tidak langsung pulang tetapi langsung mencari rumput atau dedaunan untuk makanan kambing atau sapi baru kemudian pulang ke rumah. Untuk sapi, ayah bukan hanya memelihara, membuatkan kandang bagi hewan ternak itu tetapi setiap pagi ayah menyapu kandang, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran hewan itudan rumput-rumput sisa makanan yang tercecer sehingga kadang selalu terlihat bersih. Selain menyediakan makanan, ayah juga memberi minuman berupa air yang biasanya dicampur dengan garam, diletakkan dalam sebuah timba.Saat musim kawin, sapi betina dikawinkan dengan sapi jantan. Dari sanalah lahir anak sapi yang juga menjadi keuntungan kita. Tak lupa bila badan sapi terlihat kotor oleh kotorannya sendiri, ayah  memandikannya. Demikian pula dengan hewan kambing, selalu ayah menyediakan makanan yang cukup. Anak-anaknya yang lahir bila susah menyusui, dibantu dengan memegang induknya agar tak lari ketika anak-anaknya menyusu pada induknya sehingga anak kambing bisa menyusu dengan tenang dan kenyang. Pernah suatu ketika ada kambing yang sakit pada telinganya, semacam tumbuh kudis, ayah dengan telaten mengolesi telinganya dengan obat yang diracik sendiri sampai akhirnya menjadi sembuh. Di tangan ayah, kambing yang dibeli dalam keadaan badan kurus, berangsung-angsur menjadi gemuk dan berbadan bersih.Sapi dan beberapa kambing ini dijual bila sewaktu-waktu ada kebutuhan mendesak atau bila perlu tambahan uang untuk suatu kebutuhan.

Dalam membina hubungan pernikahan dengan ibu, tentu saja ada kalanya ada ketidakcocokan sehingga menimbulkan pertengkaran. Tetapi ayah dan ibu tidak terlalu lama saling berdiam. Ayah tetap melakukan tugasnya menghidupi keluarga. Pernah saat bertengkar dan belum ada hasil panen, ayah bersama temanmencari biji kopi yang yang jatuh sehabis tanaman kopi di panen pekerja. Sekitar enam kilo dari rumahku memang ada perkebunan kopi yang cukup besar dan sehabis biji kopi dipanen, masyarakat diperbolehkan kalau mau mengambili biji kopi yang jatuh tertinggal. Beberapa hari ayahku “leles kopi,” demikian istilahnya dalam bahasa Jawa. Kopi hasil “leles” ini kemudian dijual, uangnya digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lain. Demikian ayahku tetap bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Suatu kali musim kemarau tiba dan air yang mengalir ke bak penampungan air desa jarangmengalir. Di desaku memang dibangun bak penampungan air yang cukup besar untuk penduduk desa. Masyarakan desa mengambil air dari bak penampungan itu untuk kebutuhan sehari-hari, baik minum, mencuci dan lain sebagainya. Airnya berasal dari sumber air di lereng gunung Kelud yang dialirkan melalui pipa besar ke bak penampungan itu. Pada waktu itu PDAM belum masuk ke desaku. Masyarakat desa kemudian mengalami kesulitan mendapatkan air. Ayah dengan berjalan kaki sambil memikul dua tong wadah air berkeliling ke desa desa tetangga untuk mencari air. Air masih bisa diperoleh dari sumur warga di desa-desa sebelah. Orang-orang desa, rata-rata berhati baik, mereka mempersilahkan saja siapapun yang mau mengambil air dari sumurnya.

Ayahku juga seorang yang pandai memotong rambut. Kalau rambutnya panjang, ayah tak pernah pergi ke tukang potong rambut. Dengan bekal dua cermin di depan dan belakang, ayah memotong rambutnya sendiri. Oleh karena itu di masa kecilku, bila rambutku sudah panjang, ayah sendiri yang mencukur rambutku.

Ayahku juga bisa marah bila aku nakal, pernah ayah mengguyur badanku dengan air karena kenakalanku. Tapi ia tak pernah memukulku. Ia termasuk seorang yang sabar.

Dulu, di masa kecilku, jarang sekali anak-anak bermain dengan permainan yang dibeli dari toko. Kita biasa menciptakan permainan sendiri dari hal-hal yang ada di sekitar. Kita membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, membuat sepotong bunga tebu bisa melayang dan berdengung dengan memutarnya menggunakan benang, membuat mainan senapan dari batang daun pisang dan lain sebagainya. Suatu ketika aku baru saja sembuh dari sakit, sakit pada selangkanganku, susah untuk dibuat jalantetapi aku melihat temanku bermain. Dia membuat mainan dari kayu yang dirangkai membentuk mobil mobilan. Dia masuk pada rangkaian itu seperti sedang mengendarai mobil. Aku ingin dibuatkan mainan seperti itu. Ibu melarangkukarena aku masih sakit tetapi aku merengek, lalu ibu meminta ayah membuatkan. Akhirnya ayah membuatkan aku  mainan seperti yang dibuat temanku, aku senang.

Masih kuingat juga saat kecil, aku diajak ayahku ke rumah saudaranya di desa Ngancar, Kediri karena saudaranya menikahkan anaknya. Ayahku sebenarnya penduduk asli Ngancar, hanya pada waktu itu ayahku keluar dari desa Ngancar untuk mencari kehidupan yang lebih baik akhirnya menetap di Dusun Sumbersuko, Desa Asmorabangun, Kecamatan Puncu, Kediri, dimana ayah bertemu ibu, menikah lalu mempunyai anak aku dan dua adikku. Di tempat saudara ayahku di desa Ngancar aku dulu sering memandangi jalan desa di depan rumah. Sekarang ketika aku sudah besar dan bermain ke rumah saudaraku di Ngancar saat lebaran Idul Fitri, aku sering teringat ini jalan yang dahulu di masa kecilku sering aku pandangi.

Satu hal yang kuingat juga dari kehidupan orang-orang desa di masa kecilku. Ayah, ibu dan tetangga-tetangga di depan rumah, kanan maupun kiri di malam hari sering duduk-duduk di depan pelataran rumah untuk mengobrol apapun itu. Sementara aku yang masih kecil bersama teman-teman bermain di bawah terang sinar rembulan, sambil menyanyi lagu Jawa “Padang Bulan.” Sungguh suatu kenangan indah pada masa kecil. Aku hanya merasakan suatu keakraban dan persaudaraan yang hangat dengan tetangga-tetangga. Berbeda jauh dengan sekarang, Sekarang ini orang cenderung tinggal di rumah bermain handphone atau sibuk dengan urusannya sendiri. 

Ayahku juga seorang yang ramah, yang menyambut siapapun yang datang entah tetangga, saudara atau siapapun dengan tangan terbuka. Ia selalu bisa mengimbangi “obrolan.” Suasana menjadi cair dan penuh persaudaraan. Saudara-saudaraku senang datang ke rumahku karena keramahan ayah juga ibuku. Karena itulah sampai sekarang bila ada saudara-saudaraku dari jauh datang berkunjung ke kerabatku, keluargaku sering menjadi tempat pertama yang dituju, sebelum ke rumah-rumah saudaraku  yang lain.

Sekarang ayahku sudah tua, rambutnya sudah memutih, sehari-hari hanya banyak bisa berbaring di tempat tidur karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Untuk makan sedikit saja nafas terasa sesak, jadi makan sedikit berhenti lalu makan lagi, berhenti dulu lalu makan lagi, seperti itu. Tubuh dipakai untuk berjalan ke kamar mandi saja nafasnya tersengal-sengal, kadang harus berhenti dahulu baru berjalan lagi. Badannya agak bengkok karena sejak muda hidupnya susah, mencangkul ladang, bekerja keras untuk memcukupi kebutuhankeluarga. Bahkan sebelum menikah dengan ibu, ayah sudah bekerja keras menghidupi adik-adiknya. Itulah mengapa sekarang badannya menjadi rapuh karena kerja kerasnya sejak masih muda. Ayah sering bilang ingin masih bisa bekerja di ladang namun raganya sudah tak mampu lagi.

Sekarang aku tinggal di kota Gresik bersama istri dan dua anakku. Pulang ke rumah orangtua di kampung halaman rata-rata sebulan sekali. Di kampung halaman ada adikku perempuan bersama suami daan kedua anaknnya, yang sebelumnya tinggal di Malang rela pindah ke rumah agar bisa menjaga ayah dan ibu. Satu hal yang ingin aku katakan pada ayah adalah  aku bangga punya ayah seperti dia. Kerja keras dan perjuangannya, tanggung jawabnya, keramahtamahannya pada semua orang yang membuat siapapun yang bertamu menjadi nyaman menjadi sosok teladan bagiku untuk bisa menjadi seperti ayah. Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga ayah, aku bangga sebagai anaknya dan aku mencintai ayah.

 

 

 

 

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...