Selain ibu, aku mengenal sosok yang
paling dekat dengan diriku, ialah ayah. Ada banyak yang bisa aku katakan
tentang ayahku.
Ayahku adalah seorang yang sederhana.
Sebagai seorang yang tinggal di desa, kegiatan sehari-hari ayahku adalah pergi
ke ladang, menanami ladang dengan aneka tanaman yang suatu saat diharapkan bisa
dipanen dan hasilnya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehari-hari ayah
berpakaian sederhana dan bercengkerama dengan tetangga atau siapapun yang datang
atau ditemui. Namun dalam kesederhanaannya, aku melihat ayah sebagai sosok yang
aku kagumi,
Awal-awal ayahku bekerja sebagai buruh
tani pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Namun lambat laun dari hasil
tabungan, ayahku mulai bisa membeli ladang. Kini ayahku mempunyai dua ladang yang
ditanami bermacam-macam tanaman secara bergantian, mulai lombok, jagung, tebu,
nanas, kacang tanah, ketela rambat dan lain sebagainya. Aku melihat ayah
sebagai seorang yang bekerja keras. Ketika hari telah siang di saat petani yang
lain sudah pulang, ayah sering masih bekerja. Pulang ketika matahari sudah
berada di ubun-ubun kepala, lalu makan dan istirahat. Sore hari kembali lagi ke
ladang sampai hari hampir petang. Ibu sering bilang sebenarnya pekerjaan di
ladang sudah selesai, tetapi ayah selalu saja mencari-cari pekerjaan, entah membersihkan
rumput yang mengganggu tanaman, entah menambahi tanah pada pangkal tanaman yang
tanahnya berkurang karena terbawa air hujan, atau menanam tanaman-tanaman
sampingan yang menghasilkan panenan. Itulah ayah, seorang yang rajin bekerja.
Di sela kesibukannya berladang, ayah memelihara
hewan ternak berupa kambing atau kadang sapi. Ia seorang yang telaten dalam
memelihara hewan ternak. Biasanya ayahku mencari rumput untuk makanan kambing
atau sapi sepulang dari pekerjaannya di ladang. Jadi ketika pekerjaan di ladang
sudah selesai, ayahku tidak langsung pulang tetapi langsung mencari rumput atau
dedaunan untuk makanan kambing atau sapi baru kemudian pulang ke rumah. Untuk
sapi, ayah bukan hanya memelihara, membuatkan kandang bagi hewan ternak itu tetapi
setiap pagi ayah menyapu kandang, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran hewan
itudan rumput-rumput sisa makanan yang tercecer sehingga kadang selalu terlihat
bersih. Selain menyediakan makanan, ayah juga memberi minuman berupa air yang
biasanya dicampur dengan garam, diletakkan dalam sebuah timba.Saat musim kawin,
sapi betina dikawinkan dengan sapi jantan. Dari sanalah lahir anak sapi yang
juga menjadi keuntungan kita. Tak lupa bila badan sapi terlihat kotor oleh
kotorannya sendiri, ayah memandikannya.
Demikian pula dengan hewan kambing, selalu ayah menyediakan makanan yang cukup.
Anak-anaknya yang lahir bila susah menyusui, dibantu dengan memegang induknya agar
tak lari ketika anak-anaknya menyusu pada induknya sehingga anak kambing bisa
menyusu dengan tenang dan kenyang. Pernah suatu ketika ada kambing yang sakit
pada telinganya, semacam tumbuh kudis, ayah dengan telaten mengolesi telinganya
dengan obat yang diracik sendiri sampai akhirnya menjadi sembuh. Di tangan
ayah, kambing yang dibeli dalam keadaan badan kurus, berangsung-angsur menjadi
gemuk dan berbadan bersih.Sapi dan beberapa kambing ini dijual bila
sewaktu-waktu ada kebutuhan mendesak atau bila perlu tambahan uang untuk suatu kebutuhan.
Dalam membina hubungan pernikahan dengan
ibu, tentu saja ada kalanya ada ketidakcocokan sehingga menimbulkan
pertengkaran. Tetapi ayah dan ibu tidak terlalu lama saling berdiam. Ayah tetap
melakukan tugasnya menghidupi keluarga. Pernah saat bertengkar dan belum ada
hasil panen, ayah bersama temanmencari biji kopi yang yang jatuh sehabis
tanaman kopi di panen pekerja. Sekitar enam kilo dari rumahku memang ada
perkebunan kopi yang cukup besar dan sehabis biji kopi dipanen, masyarakat diperbolehkan
kalau mau mengambili biji kopi yang jatuh tertinggal. Beberapa hari ayahku “leles
kopi,” demikian istilahnya dalam bahasa Jawa. Kopi hasil “leles” ini kemudian
dijual, uangnya digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lain. Demikian
ayahku tetap bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Suatu kali musim kemarau tiba dan air
yang mengalir ke bak penampungan air desa jarangmengalir. Di desaku memang dibangun
bak penampungan air yang cukup besar untuk penduduk desa. Masyarakan desa
mengambil air dari bak penampungan itu untuk kebutuhan sehari-hari, baik minum,
mencuci dan lain sebagainya. Airnya berasal dari sumber air di lereng gunung
Kelud yang dialirkan melalui pipa besar ke bak penampungan itu. Pada waktu itu PDAM
belum masuk ke desaku. Masyarakat desa kemudian mengalami kesulitan mendapatkan
air. Ayah dengan berjalan kaki sambil memikul dua tong wadah air berkeliling ke
desa desa tetangga untuk mencari air. Air masih bisa diperoleh dari sumur warga
di desa-desa sebelah. Orang-orang desa, rata-rata berhati baik, mereka
mempersilahkan saja siapapun yang mau mengambil air dari sumurnya.
Ayahku juga seorang yang pandai memotong
rambut. Kalau rambutnya panjang, ayah tak pernah pergi ke tukang potong rambut.
Dengan bekal dua cermin di depan dan belakang, ayah memotong rambutnya sendiri.
Oleh karena itu di masa kecilku, bila rambutku sudah panjang, ayah sendiri yang
mencukur rambutku.
Ayahku juga bisa marah bila aku nakal,
pernah ayah mengguyur badanku dengan air karena kenakalanku. Tapi ia tak pernah
memukulku. Ia termasuk seorang yang sabar.
Dulu, di masa kecilku, jarang sekali
anak-anak bermain dengan permainan yang dibeli dari toko. Kita biasa
menciptakan permainan sendiri dari hal-hal yang ada di sekitar. Kita membuat
mobil-mobilan dari kulit jeruk, membuat sepotong bunga tebu bisa melayang dan
berdengung dengan memutarnya menggunakan benang, membuat mainan senapan dari
batang daun pisang dan lain sebagainya. Suatu ketika aku baru saja sembuh dari
sakit, sakit pada selangkanganku, susah untuk dibuat jalantetapi aku melihat
temanku bermain. Dia membuat mainan dari kayu yang dirangkai membentuk mobil
mobilan. Dia masuk pada rangkaian itu seperti sedang mengendarai mobil. Aku
ingin dibuatkan mainan seperti itu. Ibu melarangkukarena aku masih sakit tetapi
aku merengek, lalu ibu meminta ayah membuatkan. Akhirnya ayah membuatkan aku mainan seperti yang dibuat temanku, aku
senang.
Masih kuingat juga saat kecil, aku diajak
ayahku ke rumah saudaranya di desa Ngancar, Kediri karena saudaranya menikahkan
anaknya. Ayahku sebenarnya penduduk asli Ngancar, hanya pada waktu itu ayahku
keluar dari desa Ngancar untuk mencari kehidupan yang lebih baik akhirnya
menetap di Dusun Sumbersuko, Desa Asmorabangun, Kecamatan Puncu, Kediri, dimana
ayah bertemu ibu, menikah lalu mempunyai anak aku dan dua adikku. Di tempat
saudara ayahku di desa Ngancar aku dulu sering memandangi jalan desa di depan
rumah. Sekarang ketika aku sudah besar dan bermain ke rumah saudaraku di
Ngancar saat lebaran Idul Fitri, aku sering teringat ini jalan yang dahulu di
masa kecilku sering aku pandangi.
Satu hal yang kuingat juga dari
kehidupan orang-orang desa di masa kecilku. Ayah, ibu dan tetangga-tetangga di
depan rumah, kanan maupun kiri di malam hari sering duduk-duduk di depan
pelataran rumah untuk mengobrol apapun itu. Sementara aku yang masih kecil
bersama teman-teman bermain di bawah terang sinar rembulan, sambil menyanyi
lagu Jawa “Padang Bulan.” Sungguh suatu kenangan indah pada masa kecil. Aku hanya
merasakan suatu keakraban dan persaudaraan yang hangat dengan
tetangga-tetangga. Berbeda jauh dengan sekarang, Sekarang ini orang cenderung
tinggal di rumah bermain handphone atau sibuk dengan urusannya sendiri.
Ayahku juga seorang yang ramah, yang
menyambut siapapun yang datang entah tetangga, saudara atau siapapun dengan
tangan terbuka. Ia selalu bisa mengimbangi “obrolan.” Suasana menjadi cair dan
penuh persaudaraan. Saudara-saudaraku senang datang ke rumahku karena keramahan
ayah juga ibuku. Karena itulah sampai sekarang bila ada saudara-saudaraku dari
jauh datang berkunjung ke kerabatku, keluargaku sering menjadi tempat pertama
yang dituju, sebelum ke rumah-rumah saudaraku yang lain.
Sekarang ayahku sudah tua, rambutnya
sudah memutih, sehari-hari hanya banyak bisa berbaring di tempat tidur karena
penyakit paru-paru yang dideritanya. Untuk makan sedikit saja nafas terasa
sesak, jadi makan sedikit berhenti lalu makan lagi, berhenti dulu lalu makan
lagi, seperti itu. Tubuh dipakai untuk berjalan ke kamar mandi saja nafasnya
tersengal-sengal, kadang harus berhenti dahulu baru berjalan lagi. Badannya
agak bengkok karena sejak muda hidupnya susah, mencangkul ladang, bekerja keras
untuk memcukupi kebutuhankeluarga. Bahkan sebelum menikah dengan ibu, ayah
sudah bekerja keras menghidupi adik-adiknya. Itulah mengapa sekarang badannya
menjadi rapuh karena kerja kerasnya sejak masih muda. Ayah sering bilang ingin masih
bisa bekerja di ladang namun raganya sudah tak mampu lagi.
Sekarang aku tinggal di kota Gresik
bersama istri dan dua anakku. Pulang ke rumah orangtua di kampung halaman
rata-rata sebulan sekali. Di kampung halaman ada adikku perempuan bersama suami
daan kedua anaknnya, yang sebelumnya tinggal di Malang rela pindah ke rumah
agar bisa menjaga ayah dan ibu. Satu hal yang ingin aku katakan pada ayah
adalah aku bangga punya ayah seperti
dia. Kerja keras dan perjuangannya, tanggung jawabnya, keramahtamahannya pada
semua orang yang membuat siapapun yang bertamu menjadi nyaman menjadi sosok teladan
bagiku untuk bisa menjadi seperti ayah. Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga
ayah, aku bangga sebagai anaknya dan aku mencintai ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar