Jumat, 24 Maret 2023

AYAHKU

 


Selain ibu, aku mengenal sosok yang paling dekat dengan diriku, ialah ayah. Ada banyak yang bisa aku katakan tentang ayahku.

Ayahku adalah seorang yang sederhana. Sebagai seorang yang tinggal di desa, kegiatan sehari-hari ayahku adalah pergi ke ladang, menanami ladang dengan aneka tanaman yang suatu saat diharapkan bisa dipanen dan hasilnya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehari-hari ayah berpakaian sederhana dan bercengkerama dengan tetangga atau siapapun yang datang atau ditemui. Namun dalam kesederhanaannya, aku melihat ayah sebagai sosok yang aku kagumi,

Awal-awal ayahku bekerja sebagai buruh tani pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Namun lambat laun dari hasil tabungan, ayahku mulai bisa membeli ladang. Kini ayahku mempunyai dua ladang yang ditanami bermacam-macam tanaman secara bergantian, mulai lombok, jagung, tebu, nanas, kacang tanah, ketela rambat dan lain sebagainya. Aku melihat ayah sebagai seorang yang bekerja keras. Ketika hari telah siang di saat petani yang lain sudah pulang, ayah sering masih bekerja. Pulang ketika matahari sudah berada di ubun-ubun kepala, lalu makan dan istirahat. Sore hari kembali lagi ke ladang sampai hari hampir petang. Ibu sering bilang sebenarnya pekerjaan di ladang sudah selesai, tetapi ayah selalu saja mencari-cari pekerjaan, entah membersihkan rumput yang mengganggu tanaman, entah menambahi tanah pada pangkal tanaman yang tanahnya berkurang karena terbawa air hujan, atau menanam tanaman-tanaman sampingan yang menghasilkan panenan. Itulah ayah, seorang yang rajin bekerja.

Di sela kesibukannya berladang, ayah memelihara hewan ternak berupa kambing atau kadang sapi. Ia seorang yang telaten dalam memelihara hewan ternak. Biasanya ayahku mencari rumput untuk makanan kambing atau sapi sepulang dari pekerjaannya di ladang. Jadi ketika pekerjaan di ladang sudah selesai, ayahku tidak langsung pulang tetapi langsung mencari rumput atau dedaunan untuk makanan kambing atau sapi baru kemudian pulang ke rumah. Untuk sapi, ayah bukan hanya memelihara, membuatkan kandang bagi hewan ternak itu tetapi setiap pagi ayah menyapu kandang, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran hewan itudan rumput-rumput sisa makanan yang tercecer sehingga kadang selalu terlihat bersih. Selain menyediakan makanan, ayah juga memberi minuman berupa air yang biasanya dicampur dengan garam, diletakkan dalam sebuah timba.Saat musim kawin, sapi betina dikawinkan dengan sapi jantan. Dari sanalah lahir anak sapi yang juga menjadi keuntungan kita. Tak lupa bila badan sapi terlihat kotor oleh kotorannya sendiri, ayah  memandikannya. Demikian pula dengan hewan kambing, selalu ayah menyediakan makanan yang cukup. Anak-anaknya yang lahir bila susah menyusui, dibantu dengan memegang induknya agar tak lari ketika anak-anaknya menyusu pada induknya sehingga anak kambing bisa menyusu dengan tenang dan kenyang. Pernah suatu ketika ada kambing yang sakit pada telinganya, semacam tumbuh kudis, ayah dengan telaten mengolesi telinganya dengan obat yang diracik sendiri sampai akhirnya menjadi sembuh. Di tangan ayah, kambing yang dibeli dalam keadaan badan kurus, berangsung-angsur menjadi gemuk dan berbadan bersih.Sapi dan beberapa kambing ini dijual bila sewaktu-waktu ada kebutuhan mendesak atau bila perlu tambahan uang untuk suatu kebutuhan.

Dalam membina hubungan pernikahan dengan ibu, tentu saja ada kalanya ada ketidakcocokan sehingga menimbulkan pertengkaran. Tetapi ayah dan ibu tidak terlalu lama saling berdiam. Ayah tetap melakukan tugasnya menghidupi keluarga. Pernah saat bertengkar dan belum ada hasil panen, ayah bersama temanmencari biji kopi yang yang jatuh sehabis tanaman kopi di panen pekerja. Sekitar enam kilo dari rumahku memang ada perkebunan kopi yang cukup besar dan sehabis biji kopi dipanen, masyarakat diperbolehkan kalau mau mengambili biji kopi yang jatuh tertinggal. Beberapa hari ayahku “leles kopi,” demikian istilahnya dalam bahasa Jawa. Kopi hasil “leles” ini kemudian dijual, uangnya digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lain. Demikian ayahku tetap bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Suatu kali musim kemarau tiba dan air yang mengalir ke bak penampungan air desa jarangmengalir. Di desaku memang dibangun bak penampungan air yang cukup besar untuk penduduk desa. Masyarakan desa mengambil air dari bak penampungan itu untuk kebutuhan sehari-hari, baik minum, mencuci dan lain sebagainya. Airnya berasal dari sumber air di lereng gunung Kelud yang dialirkan melalui pipa besar ke bak penampungan itu. Pada waktu itu PDAM belum masuk ke desaku. Masyarakat desa kemudian mengalami kesulitan mendapatkan air. Ayah dengan berjalan kaki sambil memikul dua tong wadah air berkeliling ke desa desa tetangga untuk mencari air. Air masih bisa diperoleh dari sumur warga di desa-desa sebelah. Orang-orang desa, rata-rata berhati baik, mereka mempersilahkan saja siapapun yang mau mengambil air dari sumurnya.

Ayahku juga seorang yang pandai memotong rambut. Kalau rambutnya panjang, ayah tak pernah pergi ke tukang potong rambut. Dengan bekal dua cermin di depan dan belakang, ayah memotong rambutnya sendiri. Oleh karena itu di masa kecilku, bila rambutku sudah panjang, ayah sendiri yang mencukur rambutku.

Ayahku juga bisa marah bila aku nakal, pernah ayah mengguyur badanku dengan air karena kenakalanku. Tapi ia tak pernah memukulku. Ia termasuk seorang yang sabar.

Dulu, di masa kecilku, jarang sekali anak-anak bermain dengan permainan yang dibeli dari toko. Kita biasa menciptakan permainan sendiri dari hal-hal yang ada di sekitar. Kita membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, membuat sepotong bunga tebu bisa melayang dan berdengung dengan memutarnya menggunakan benang, membuat mainan senapan dari batang daun pisang dan lain sebagainya. Suatu ketika aku baru saja sembuh dari sakit, sakit pada selangkanganku, susah untuk dibuat jalantetapi aku melihat temanku bermain. Dia membuat mainan dari kayu yang dirangkai membentuk mobil mobilan. Dia masuk pada rangkaian itu seperti sedang mengendarai mobil. Aku ingin dibuatkan mainan seperti itu. Ibu melarangkukarena aku masih sakit tetapi aku merengek, lalu ibu meminta ayah membuatkan. Akhirnya ayah membuatkan aku  mainan seperti yang dibuat temanku, aku senang.

Masih kuingat juga saat kecil, aku diajak ayahku ke rumah saudaranya di desa Ngancar, Kediri karena saudaranya menikahkan anaknya. Ayahku sebenarnya penduduk asli Ngancar, hanya pada waktu itu ayahku keluar dari desa Ngancar untuk mencari kehidupan yang lebih baik akhirnya menetap di Dusun Sumbersuko, Desa Asmorabangun, Kecamatan Puncu, Kediri, dimana ayah bertemu ibu, menikah lalu mempunyai anak aku dan dua adikku. Di tempat saudara ayahku di desa Ngancar aku dulu sering memandangi jalan desa di depan rumah. Sekarang ketika aku sudah besar dan bermain ke rumah saudaraku di Ngancar saat lebaran Idul Fitri, aku sering teringat ini jalan yang dahulu di masa kecilku sering aku pandangi.

Satu hal yang kuingat juga dari kehidupan orang-orang desa di masa kecilku. Ayah, ibu dan tetangga-tetangga di depan rumah, kanan maupun kiri di malam hari sering duduk-duduk di depan pelataran rumah untuk mengobrol apapun itu. Sementara aku yang masih kecil bersama teman-teman bermain di bawah terang sinar rembulan, sambil menyanyi lagu Jawa “Padang Bulan.” Sungguh suatu kenangan indah pada masa kecil. Aku hanya merasakan suatu keakraban dan persaudaraan yang hangat dengan tetangga-tetangga. Berbeda jauh dengan sekarang, Sekarang ini orang cenderung tinggal di rumah bermain handphone atau sibuk dengan urusannya sendiri. 

Ayahku juga seorang yang ramah, yang menyambut siapapun yang datang entah tetangga, saudara atau siapapun dengan tangan terbuka. Ia selalu bisa mengimbangi “obrolan.” Suasana menjadi cair dan penuh persaudaraan. Saudara-saudaraku senang datang ke rumahku karena keramahan ayah juga ibuku. Karena itulah sampai sekarang bila ada saudara-saudaraku dari jauh datang berkunjung ke kerabatku, keluargaku sering menjadi tempat pertama yang dituju, sebelum ke rumah-rumah saudaraku  yang lain.

Sekarang ayahku sudah tua, rambutnya sudah memutih, sehari-hari hanya banyak bisa berbaring di tempat tidur karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Untuk makan sedikit saja nafas terasa sesak, jadi makan sedikit berhenti lalu makan lagi, berhenti dulu lalu makan lagi, seperti itu. Tubuh dipakai untuk berjalan ke kamar mandi saja nafasnya tersengal-sengal, kadang harus berhenti dahulu baru berjalan lagi. Badannya agak bengkok karena sejak muda hidupnya susah, mencangkul ladang, bekerja keras untuk memcukupi kebutuhankeluarga. Bahkan sebelum menikah dengan ibu, ayah sudah bekerja keras menghidupi adik-adiknya. Itulah mengapa sekarang badannya menjadi rapuh karena kerja kerasnya sejak masih muda. Ayah sering bilang ingin masih bisa bekerja di ladang namun raganya sudah tak mampu lagi.

Sekarang aku tinggal di kota Gresik bersama istri dan dua anakku. Pulang ke rumah orangtua di kampung halaman rata-rata sebulan sekali. Di kampung halaman ada adikku perempuan bersama suami daan kedua anaknnya, yang sebelumnya tinggal di Malang rela pindah ke rumah agar bisa menjaga ayah dan ibu. Satu hal yang ingin aku katakan pada ayah adalah  aku bangga punya ayah seperti dia. Kerja keras dan perjuangannya, tanggung jawabnya, keramahtamahannya pada semua orang yang membuat siapapun yang bertamu menjadi nyaman menjadi sosok teladan bagiku untuk bisa menjadi seperti ayah. Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga ayah, aku bangga sebagai anaknya dan aku mencintai ayah.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...