Jumat, 24 Maret 2023

Perjumpaan

 


Hari panas terik, Awan bergerak begitu cepat disapu angin seakan mengikuti padatnya kegiatan suatu asrama mahasiswa di kota Malang.

"Bram, aku mau ke rumah Nia dulu, kalau ada teman atau siapapun mencari aku, tolong beritahu mereka soal kepergianku."

"Oke, Yan," kataku pada Iyan, sahabatku.

 

Iyan, berasal dari kota lain, aku pun juga, berkumpul di sini, di sebuah asrama. Aku dan Iyan juga belasan teman yang lain dipersatukan di sini. Kami adalah mahasiswa yang tinggal di asrama dan kuliah di kampus yang sama. Dengan Iyan lah aku sering bermain gitar, menyanyikan lagu apa saja yang melintas di hati, tak terkecuali lagu-lagu untuk orang yang dimabuk asmara. Kadang tawa mengiringi di saat-saat main musik. Musik bagi akui dan Iyan adalah sarana untuk mengekspresikan diri juga ungkapan hati. Dan dengan Iyan aku menemukan teman berbagi cerita.

 

Waktu terus berlalu sampai kemudian Iyan mengenal Nia, seorang gadis yang banyak diperbincangkan di antara kami. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Kata Iyan, ibu Nia mempunyai usaha jahitan yang cukup laris. Karena jahitannya rapi dan pesanan selalu bisa diselesaikan tepat waktu. Iyan dan beberapa teman juga menjahitkan baju di situ. Selain juga seorang ibu yang ramah dan baik hati. Kudengarkan saja mereka memperbincangkan tentang ibu dan anak itu dengan pikiran masa bodoh.

 

Pagi yang cerah. Angin semilir  membelai kulit, terasa sejuk segar. Kota Malang ini memang termasuk kota yang sejuk. Jujur aku kerasan tinggal di sini, kota yang kujadikan rumah keduaku. Yang pertama tentu saja kampung halamanku, Kediri. Bahkan aku pernah berharap bisa menghabiskan masa tuaku di sini. Selain sejuk, penduduknya juga ramah-ramah.

 "Ayo Bram, kita ke rumah Nia, " ajak Iyan mengagetkanku yang sedari tadi ssyik membaca novel.

"Ngapain?"

"Kamu akan kukenalkan dengan Nia, gadis pujaanku."

Walau malas, demi melihat raut mukanya yang menghendaki aku ikut, kuturuti juga permintaan itu.

 

"Aku Bram," kucoba memperkenalkan diri.

"Nia", sapa gadis lembut itu.

"Saya Bram, Bu," kataku kepada ibu Nia.

"Duduk, Nak."

"Baik, Bu, terimakasih."

Kulihat ibu Nia membuatkan teh. Satu diberikan pada Iyan. Dan satu untukku.

Aku duduk di kursi dekat dinding. Kurasakan penerimaan yang hangat dari keluarga ini. Nia seorang yang ramah juga periang. Aku melihatnya dari kejauhan, dari tempat dudukku. Ia sedang berbincang akrab dengan Iyan.

 

Hari terus beranjak seiring dengan aneka macam kegiatan kampus dan kisah-kisah percintaan  teman-temanku di asrama. Empat tahun sudah kami tinggal bersama di asrama. Banyak kenangan tercipta, meninggalkan kenangan kebersamaan yang indah. Setelah wisuda sarjana  kami satu angkatan keluar dari asrama menggapai hidup dan masa depan masing-masing. Aku dan Iyan pun berpisah. Entah di mana dia sekarang aku tak tahu. Kuhubungi ponselnya sudah tidak aktif lagi. Sementara aku aku masih tinggal Malang, mengontrak rumah sederhana. Aku masih ingin banyak menghirup udara segar di kota ini. Namun tak lagi aku bertemu dengan Nia, kekasihnya itu. Bahkan dua tahun terakhir sebelum kelulusan, Iyan tak pernah lagi bercerita soal Nia, aku pun tak menanyakan. Semua seperti telah lemyap di telan oleh waktu.

 

Pagi yang cerah. Pimpinanku mengadakan rapat kerja tentang pengembangan usaha. Kami berdiskusi banyak hal, hingga di tengah-tengah rapat.

"Pak Bram, Pak Bram saya pindah ke Makassar untuk memajukan cabang kita di sana.”

Aku sedikit terkejut mendengarnya namun kemudian aku berpikir tidak ada seorangpun yang memberatkanku untuk tetap tinggal di sini. Aku juga ingin menikmati suasana baru. Mungkin Makassar akan memberiku warna baru bagi hidupku. Maka kutrima tugas itu.

“Baik, Pak, saya siap."

"Bagus," pimpinanku memuji.

"Pak Bram berangkat minggu depan. Ada waktu satu minggu bagi Pak Bram untuk bisa menyiapkam diri.”

“Baik, Pak.”

 

Senja yang ramai, aku berjalan-jalan menikmati suasana kota. Tak lama lagi aku akan meninggalkan kota Malang ini. Kucoba menikmati lampu-lampu kota yang berpijar cerah, orang-orang yang lalu lalang, bangunan-bangunan yang menjulang dan megah. Di ujung jalan, kulihat satu keluarga duduk bersama menikmati makanan sambil bercengkerama. Indah kota ini.

 

Aku terus berjalan melihat apa saja yang terjadi di sekitarku, dan tanpa sengaja pundakku bersentuhan. Kulihat seorang gadis. Aku sejenak mengingat gadis ini, sepertinya kenal.

"Nia?"

"Mas Bram?"

"Hai, bagaimana khabarmu kini, lama ya kita tidak bertemu."

"Iya, Mas, sejak Mas Bram ke rumahku bersama Mas Iyan belasan tahun lalu, kita nggak pernah ketemu lagi"

Mendengar nama Iyan disebut, aku jadi penasaran.

"Oya, bagaimana kabar Iyan, aku lama nggak kontak?"

"Panjang Mas."

"Gini-gini, ayo kita ngobrol di cafe itu."

Kulihat ada cafe di pinggir jalan. Nia kuajak ke situ. Setelah memesan minuman dan makanan ringan, kutatap mata Nia, kubiarkan dia melanjutkan ceritanya.

 

Ia bercerita bahwa ia sempat meninggalkan Iyan tanpa pesan dua tahun sebelum kelulusannya, karena ajakan orangtua pindah ke kota lain. Di kota lain ini, ada seorang laki-laki yang mendekatinya. Berat rasanya menerima kehadiran lelaki ini karena bayangan tentang Iyan masih terus muncul dibenaknya. Hatinya masih merindukan kehadiran Iyan dalam hidupnya. Tapi apa daya, jarak yang jauh membuat ia tak tahu khabar Iyan. Akhirnya ia menerima hati lelaki ini yang akhirnya menikahinya dan  memberinya tiga orang anak. Jaman semakin berkembang, lewat media sosial ia bisa bertemu dengan  Iyan lagi, dengan status Iyan pun sudah punya istri dengan seorang anak. Cinta yang tumbuh di masa remaja yang sempat terputus itu terjalin lagi. Beberapa kali Iyan mengunjunginya. Ia bahagia, walaupun sekarang punya kehidupan sendiri sendiri, ia bisa masih bisa manjalin hubungan dengan Iyan, sekedar mengetahui khabarnya, sekedar memberi perhatian kecil padanya, itu sudah cukup.

 

"Mas Bram, aku sekarang kembali lagi ke Malang bersama suami dan anak anakku. Mama menyuruhku ke Malang untuk meneruskan usaha jahitan mama. Lagi pula rumah mama di Malang ini belum di jual. Maka aku pindah di sini, sudah satu tahun ini, dan tanpa sengaja bisa bertemu Mas Bram di sini."

 

Kudengarkan cerita Nia penuh perhatian. Aku jadi mengerti mengapa dua tahun sebelum kelulusan Iyan tak pernah membicarakan mengenai Nia lagi. Rupanya Nia pindah keluar kota tanpa pemberitahuan. Pantas wajah Iyan terlihat sedikit murung waktu itu. Namun tak sedikitpun Iyan mau bercerita padaku. Sepertinya ia ingin menyimpan hal ini sendiri. Tak apalah, kurasa Iyan sekarang sudah senang lagi bisa bertemu Nia kembali.

 

"Minumlah dulu juice alpokatmu, dari tadi tak tersentuh, " kataku.

Lalu kita tertawa bersama-sama. Ada senyum indah di wajahnya. Pantas Iyan dulu begitu menyukai Nia , gadis ini mempunyai sisi kecantikan yang berbeda dibandingkan gadis lainnya.

"Nia," kataku kemudian.

"Senang aku bisa bertemu kamu kembali. Senang juga aku dahulu di ajak Iyan berkunjung ke rumahmu. Seperti mendapat anugerah aku bisa bertemu kamu lagi. Tak kusangka kita bisa bertemu kembali di sini. "

"Ah, Mas Bram terlalu memuji."

"Bukan memuji, tapi benar, senang bisa bertemu kamu kembali.

Aku harus berterima kasih kepada Tuhan atas semuanya ini."

"Sudah, cukup Mas, nanti aku ge-erlho?"

Aku tertawa.

"Heh, itu kenyataan hatiku. Tapi Nia, aku bisa bersamamu di sini hanya sebentar saja."

"Maksud Mas Bram?"

"Kurang enam hari lagi aku akan pindah kerja di Makassar. Aku dipindah ke kantor cabang sana, entah sampai kapan aku belum tahu."

Terlihat mulut gadis itu membulat.

"Boleh aku minta nomor teleponmu, agar kita bisa saling kontak?"

Nia mengangguk lalu memberikan nomor telepon selulernya, begitupun aku .

"Dan, mau nggak...." aku menatapnya.

"Kamu menemaniku menikmati kota Malang ini sebelum aku pindah ke Makassar?"

"Oh...dengan senang hati Mas"

"Malam hari sebelum aku  berangkat ke Makassar, temani aku ya?"

"Ketemu dimana, Mas?"

"Taman kota."

"Baiklah."

"Makasih, Nia."

Nia tersenyum lagi, dengan sangat manis, senyumnya seperti merontokkan hatiku. Ada debar muncul, rasa kedekatan juga, sepertinya aku tak ingin kehilangan dia.

 

Hari-hari sebelum pertemuan aku menjalin kontak dengan Nia melalui pesan WhatsApp. Dia bercerita banyak tentang Iyan, tentang kerinduan-kerinduannya, tentang pertemuan-pertemuannya,  tentang perjuangannya dalam memperoleh rejeki karena dia seperti menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya bekerja tapi hasil jauh dari cukup. Setiap pagi dia lembur menjahit. Kadang dia menangis. Selama ini hanya Iyan yang mampu mengerti dirinya.

Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Menghibur dan memposisikan diriku sebagai seorang kakak.

Dan rasanya aku semakin larut dalam kedekatan padanya. Aku merasa hariku ada yang mengisi. Di pagi hari kadang aku berdoa untuk mengucap terimakasih kepada Tuhan karena kehadirannya.

Nia, terimakasih ya atas kehadiranmu di hatiku.

 

Pukul tujuh malam, aku dan Nia bertemu di taman kota. Ia terlihat sangat cantik. Di taman itu terdapat bangku-bangku untuk duduk. Kuberanikan diri untuk mengandeng tangannya menuju tempat duduk itu. Ada semacam desiran mengalir dari tangannya menuju hatiku.

 

Aku dan Nia duduk. Aku belum bisa berkata apa-apa karena masih mengenali dan meredam gemuruh di dalam hatiku.

"Nia?"

"Ya, Mas"

"Bolehkah aku berterus terang?"

Nia mengangguk.

"Mengapa aku merasa begitu dekat dengan dirimu ya ?"

Nia terkekeh. Bola matanya menyipit.

"Iya benar, padahal kita baru saja bertemu tapi rasanya aku sudah begitu dekat dengan dirimu."

"Hehehe, sama mas, aku pun juga merasakan seperti itu."

"Benarkah?"

Nia tersenyum manis. Aku merasa bahagia mendengar itu.

Aku merangkul pundaknya. Ia tak menolak. Rasanya ada kehangatan mengalir dari jiwaku untuknya. Aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.

 

Aku mengajaknya bangkit. Di taman itu di sediakan kereta yang berputar mengelilingi taman kota. Aku ajak Nia naik kereta itu. Indah rasanya duduk berdua dengannya dengan tangan yang saling menggengam.

Lalu kita turun, mengabadikan foto berdua.

 

Kita duduk lagi dan berbincang banyak hal. Malam semakin larut. Sebelum berpisah aku memandang wajahnya lalu menggengam erat satu tangannya.

"Nia, bolehkah aku mencintaimu?"

Nia  memandangku, tersenyum manis, lalu meletakkan tangan kanannya di atas kedua tanganku yang memegang erat tangan kirinya.

Aku mencium kedua pipi dan keningnya. Tak ada jawaban dari mulut manisnya tapi entah, bahagia itu menyeruak memenuhi ruang batinku.

 

Pagi itu aku sudah berada di dalam pesawat. Ada kesunyian menyelimutiku. Kebersamaan dengan Nia semalam terus melintas dalam pikiranku.

 

Tuhan, terimakasih untuk waktu yang tlah kau sediakan bagiku untuk bertemu Nia dan menikmati kebersamaan dengannya.

Nia, maafkan aku yang lancang mencintaimu. Aku tahu engkau mencintai Iyan. Dan Iyan pun mencintaimu. Walau perih, aku rela cukup kau jadikan aku teman pengiring langkahmu bersama dia.

 

Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika pesawat mendarat di Bandara Hasanudin, Makassar. Aku melangkahkan kaki keluar, menuruni tangga pesawat.  Hawa segar menerpa wajahku.

Semua nampak baru.

 

Makassar, semoga engkau memberi semangat baru, harapan baru bagi pencapaian mimpi-mimpiku. Suatu saat ijinkan aku untuk pulang kembali ke Malang. Di sana mungkin Nia menungguku.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...