Hari panas
terik, Awan bergerak begitu cepat disapu angin seakan mengikuti padatnya
kegiatan suatu asrama mahasiswa di kota Malang.
"Bram, aku
mau ke rumah Nia dulu, kalau ada teman atau siapapun mencari aku, tolong
beritahu mereka soal kepergianku."
"Oke,
Yan," kataku pada Iyan, sahabatku.
Iyan, berasal
dari kota lain, aku pun juga, berkumpul di sini, di sebuah asrama. Aku dan Iyan
juga belasan teman yang lain dipersatukan di sini. Kami adalah mahasiswa yang
tinggal di asrama dan kuliah di kampus yang sama. Dengan Iyan lah aku sering
bermain gitar, menyanyikan lagu apa saja yang melintas di hati, tak terkecuali
lagu-lagu untuk orang yang dimabuk asmara. Kadang tawa mengiringi di saat-saat
main musik. Musik bagi akui dan Iyan adalah sarana untuk mengekspresikan diri
juga ungkapan hati. Dan dengan Iyan aku menemukan teman berbagi cerita.
Waktu terus
berlalu sampai kemudian Iyan mengenal Nia, seorang gadis yang banyak
diperbincangkan di antara kami. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Kata Iyan,
ibu Nia mempunyai usaha jahitan yang cukup laris. Karena jahitannya rapi dan
pesanan selalu bisa diselesaikan tepat waktu. Iyan dan beberapa teman juga
menjahitkan baju di situ. Selain juga seorang ibu yang ramah dan baik hati.
Kudengarkan saja mereka memperbincangkan tentang ibu dan anak itu dengan
pikiran masa bodoh.
Pagi yang cerah.
Angin semilir membelai kulit, terasa
sejuk segar. Kota Malang ini memang termasuk kota yang sejuk. Jujur aku kerasan
tinggal di sini, kota yang kujadikan rumah keduaku. Yang pertama tentu saja
kampung halamanku, Kediri. Bahkan aku pernah berharap bisa menghabiskan masa
tuaku di sini. Selain sejuk, penduduknya juga ramah-ramah.
"Ayo Bram, kita ke rumah Nia, " ajak
Iyan mengagetkanku yang sedari tadi ssyik membaca novel.
"Ngapain?"
"Kamu akan
kukenalkan dengan Nia, gadis pujaanku."
Walau malas,
demi melihat raut mukanya yang menghendaki aku ikut, kuturuti juga permintaan
itu.
"Aku
Bram," kucoba memperkenalkan diri.
"Nia",
sapa gadis lembut itu.
"Saya Bram,
Bu," kataku kepada ibu Nia.
"Duduk,
Nak."
"Baik, Bu,
terimakasih."
Kulihat ibu Nia
membuatkan teh. Satu diberikan pada Iyan. Dan satu untukku.
Aku duduk di
kursi dekat dinding. Kurasakan penerimaan yang hangat dari keluarga ini. Nia
seorang yang ramah juga periang. Aku melihatnya dari kejauhan, dari tempat
dudukku. Ia sedang berbincang akrab dengan Iyan.
Hari terus
beranjak seiring dengan aneka macam kegiatan kampus dan kisah-kisah
percintaan teman-temanku di asrama.
Empat tahun sudah kami tinggal bersama di asrama. Banyak kenangan tercipta,
meninggalkan kenangan kebersamaan yang indah. Setelah wisuda sarjana kami satu angkatan keluar dari asrama
menggapai hidup dan masa depan masing-masing. Aku dan Iyan pun berpisah. Entah
di mana dia sekarang aku tak tahu. Kuhubungi ponselnya sudah tidak aktif lagi.
Sementara aku aku masih tinggal Malang, mengontrak rumah sederhana. Aku masih
ingin banyak menghirup udara segar di kota ini. Namun tak lagi aku bertemu
dengan Nia, kekasihnya itu. Bahkan dua tahun terakhir sebelum kelulusan, Iyan
tak pernah lagi bercerita soal Nia, aku pun tak menanyakan. Semua seperti telah
lemyap di telan oleh waktu.
Pagi yang cerah.
Pimpinanku mengadakan rapat kerja tentang pengembangan usaha. Kami berdiskusi
banyak hal, hingga di tengah-tengah rapat.
"Pak Bram,
Pak Bram saya pindah ke Makassar untuk memajukan cabang kita di sana.”
Aku sedikit
terkejut mendengarnya namun kemudian aku berpikir tidak ada seorangpun yang
memberatkanku untuk tetap tinggal di sini. Aku juga ingin menikmati suasana
baru. Mungkin Makassar akan memberiku warna baru bagi hidupku. Maka kutrima
tugas itu.
“Baik, Pak, saya
siap."
"Bagus,"
pimpinanku memuji.
"Pak Bram
berangkat minggu depan. Ada waktu satu minggu bagi Pak Bram untuk bisa
menyiapkam diri.”
“Baik, Pak.”
Senja yang ramai,
aku berjalan-jalan menikmati suasana kota. Tak lama lagi aku akan meninggalkan
kota Malang ini. Kucoba menikmati lampu-lampu kota yang berpijar cerah,
orang-orang yang lalu lalang, bangunan-bangunan yang menjulang dan megah. Di
ujung jalan, kulihat satu keluarga duduk bersama menikmati makanan sambil
bercengkerama. Indah kota ini.
Aku terus
berjalan melihat apa saja yang terjadi di sekitarku, dan tanpa sengaja pundakku
bersentuhan. Kulihat seorang gadis. Aku sejenak mengingat gadis ini, sepertinya
kenal.
"Nia?"
"Mas
Bram?"
"Hai,
bagaimana khabarmu kini, lama ya kita tidak bertemu."
"Iya, Mas,
sejak Mas Bram ke rumahku bersama Mas Iyan belasan tahun lalu, kita nggak
pernah ketemu lagi"
Mendengar nama
Iyan disebut, aku jadi penasaran.
"Oya,
bagaimana kabar Iyan, aku lama nggak kontak?"
"Panjang
Mas."
"Gini-gini,
ayo kita ngobrol di cafe itu."
Kulihat ada cafe
di pinggir jalan. Nia kuajak ke situ. Setelah memesan minuman dan makanan
ringan, kutatap mata Nia, kubiarkan dia melanjutkan ceritanya.
Ia bercerita
bahwa ia sempat meninggalkan Iyan tanpa pesan dua tahun sebelum kelulusannya,
karena ajakan orangtua pindah ke kota lain. Di kota lain ini, ada seorang
laki-laki yang mendekatinya. Berat rasanya menerima kehadiran lelaki ini karena
bayangan tentang Iyan masih terus muncul dibenaknya. Hatinya masih merindukan
kehadiran Iyan dalam hidupnya. Tapi apa daya, jarak yang jauh membuat ia tak
tahu khabar Iyan. Akhirnya ia menerima hati lelaki ini yang akhirnya
menikahinya dan memberinya tiga orang
anak. Jaman semakin berkembang, lewat media sosial ia bisa bertemu dengan Iyan lagi, dengan status Iyan pun sudah punya
istri dengan seorang anak. Cinta yang tumbuh di masa remaja yang sempat
terputus itu terjalin lagi. Beberapa kali Iyan mengunjunginya. Ia bahagia, walaupun
sekarang punya kehidupan sendiri sendiri, ia bisa masih bisa manjalin hubungan
dengan Iyan, sekedar mengetahui khabarnya, sekedar memberi perhatian kecil
padanya, itu sudah cukup.
"Mas Bram,
aku sekarang kembali lagi ke Malang bersama suami dan anak anakku. Mama
menyuruhku ke Malang untuk meneruskan usaha jahitan mama. Lagi pula rumah mama
di Malang ini belum di jual. Maka aku pindah di sini, sudah satu tahun ini, dan
tanpa sengaja bisa bertemu Mas Bram di sini."
Kudengarkan
cerita Nia penuh perhatian. Aku jadi mengerti mengapa dua tahun sebelum
kelulusan Iyan tak pernah membicarakan mengenai Nia lagi. Rupanya Nia pindah
keluar kota tanpa pemberitahuan. Pantas wajah Iyan terlihat sedikit murung
waktu itu. Namun tak sedikitpun Iyan mau bercerita padaku. Sepertinya ia ingin
menyimpan hal ini sendiri. Tak apalah, kurasa Iyan sekarang sudah senang lagi
bisa bertemu Nia kembali.
"Minumlah
dulu juice alpokatmu, dari tadi tak tersentuh, " kataku.
Lalu kita
tertawa bersama-sama. Ada senyum indah di wajahnya. Pantas Iyan dulu begitu
menyukai Nia , gadis ini mempunyai sisi kecantikan yang berbeda dibandingkan
gadis lainnya.
"Nia,"
kataku kemudian.
"Senang aku
bisa bertemu kamu kembali. Senang juga aku dahulu di ajak Iyan berkunjung ke
rumahmu. Seperti mendapat anugerah aku bisa bertemu kamu lagi. Tak kusangka
kita bisa bertemu kembali di sini. "
"Ah, Mas
Bram terlalu memuji."
"Bukan
memuji, tapi benar, senang bisa bertemu kamu kembali.
Aku harus
berterima kasih kepada Tuhan atas semuanya ini."
"Sudah,
cukup Mas, nanti aku ge-erlho?"
Aku tertawa.
"Heh, itu
kenyataan hatiku. Tapi Nia, aku bisa bersamamu di sini hanya sebentar
saja."
"Maksud Mas
Bram?"
"Kurang
enam hari lagi aku akan pindah kerja di Makassar. Aku dipindah ke kantor cabang
sana, entah sampai kapan aku belum tahu."
Terlihat mulut
gadis itu membulat.
"Boleh aku
minta nomor teleponmu, agar kita bisa saling kontak?"
Nia mengangguk
lalu memberikan nomor telepon selulernya, begitupun aku .
"Dan, mau
nggak...." aku menatapnya.
"Kamu
menemaniku menikmati kota Malang ini sebelum aku pindah ke Makassar?"
"Oh...dengan
senang hati Mas"
"Malam hari
sebelum aku berangkat ke Makassar,
temani aku ya?"
"Ketemu
dimana, Mas?"
"Taman
kota."
"Baiklah."
"Makasih,
Nia."
Nia tersenyum
lagi, dengan sangat manis, senyumnya seperti merontokkan hatiku. Ada debar
muncul, rasa kedekatan juga, sepertinya aku tak ingin kehilangan dia.
Hari-hari
sebelum pertemuan aku menjalin kontak dengan Nia melalui pesan WhatsApp. Dia
bercerita banyak tentang Iyan, tentang kerinduan-kerinduannya, tentang
pertemuan-pertemuannya, tentang
perjuangannya dalam memperoleh rejeki karena dia seperti menjadi tulang
punggung keluarga. Suaminya bekerja tapi hasil jauh dari cukup. Setiap pagi dia
lembur menjahit. Kadang dia menangis. Selama ini hanya Iyan yang mampu mengerti
dirinya.
Aku
mendengarkannya dengan penuh perhatian. Menghibur dan memposisikan diriku
sebagai seorang kakak.
Dan rasanya aku
semakin larut dalam kedekatan padanya. Aku merasa hariku ada yang mengisi. Di
pagi hari kadang aku berdoa untuk mengucap terimakasih kepada Tuhan karena
kehadirannya.
Nia, terimakasih
ya atas kehadiranmu di hatiku.
Pukul tujuh
malam, aku dan Nia bertemu di taman kota. Ia terlihat sangat cantik. Di taman
itu terdapat bangku-bangku untuk duduk. Kuberanikan diri untuk mengandeng
tangannya menuju tempat duduk itu. Ada semacam desiran mengalir dari tangannya
menuju hatiku.
Aku dan Nia
duduk. Aku belum bisa berkata apa-apa karena masih mengenali dan meredam
gemuruh di dalam hatiku.
"Nia?"
"Ya,
Mas"
"Bolehkah
aku berterus terang?"
Nia mengangguk.
"Mengapa
aku merasa begitu dekat dengan dirimu ya ?"
Nia terkekeh.
Bola matanya menyipit.
"Iya benar,
padahal kita baru saja bertemu tapi rasanya aku sudah begitu dekat dengan
dirimu."
"Hehehe,
sama mas, aku pun juga merasakan seperti itu."
"Benarkah?"
Nia tersenyum
manis. Aku merasa bahagia mendengar itu.
Aku merangkul
pundaknya. Ia tak menolak. Rasanya ada kehangatan mengalir dari jiwaku
untuknya. Aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Aku mengajaknya
bangkit. Di taman itu di sediakan kereta yang berputar mengelilingi taman kota.
Aku ajak Nia naik kereta itu. Indah rasanya duduk berdua dengannya dengan
tangan yang saling menggengam.
Lalu kita turun,
mengabadikan foto berdua.
Kita duduk lagi
dan berbincang banyak hal. Malam semakin larut. Sebelum berpisah aku memandang
wajahnya lalu menggengam erat satu tangannya.
"Nia,
bolehkah aku mencintaimu?"
Nia memandangku, tersenyum manis, lalu meletakkan
tangan kanannya di atas kedua tanganku yang memegang erat tangan kirinya.
Aku mencium
kedua pipi dan keningnya. Tak ada jawaban dari mulut manisnya tapi entah,
bahagia itu menyeruak memenuhi ruang batinku.
Pagi itu aku
sudah berada di dalam pesawat. Ada kesunyian menyelimutiku. Kebersamaan dengan
Nia semalam terus melintas dalam pikiranku.
Tuhan,
terimakasih untuk waktu yang tlah kau sediakan bagiku untuk bertemu Nia dan
menikmati kebersamaan dengannya.
Nia, maafkan aku
yang lancang mencintaimu. Aku tahu engkau mencintai Iyan. Dan Iyan pun
mencintaimu. Walau perih, aku rela cukup kau jadikan aku teman pengiring
langkahmu bersama dia.
Jarum jam
menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika pesawat mendarat di Bandara Hasanudin,
Makassar. Aku melangkahkan kaki keluar, menuruni tangga pesawat. Hawa segar menerpa wajahku.
Semua nampak
baru.
Makassar, semoga
engkau memberi semangat baru, harapan baru bagi pencapaian mimpi-mimpiku. Suatu
saat ijinkan aku untuk pulang kembali ke Malang. Di sana mungkin Nia
menungguku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar