Senin, 31 Juli 2017

Artikel : Rumah Air Surabaya : Cagar Budaya dan Tempat Edukasi Pengelolaan Air Kota Surabaya



Rumah Air Sebagai Salah Satu Cagar Budaya Kota Surabaya

       Kalau kita jalan-jalan di Jl. Basuki Rahmat Surabaya, kita akan jumpai di sana, di antara deretan gedung gedung bertingkat dan perkantoran, cagar budaya kota Surabaya yang baru saja diresmikan pada bulan Januari 2017 : Rumah Air Surabaya, terletak di Jl. Basuki Rahmat No. 119-121 Surabaya.
       Bersama teman teman penulis yang tergabung dalam kelompok Pecinta Dunia Menulis Buku & Blog#TravelWriting saya berkunjung ke Rumah Air Surabaya ini pada hari Minggu, 3 Juli 2017. Di sana kami diterima oleh Bapak Hendro selaku Humas PDAM Surya Sembada Kota Surabaya yang sekaligus menjadi guide dan narasumber kami untuk mengenal lebih jauh Rumah Air Surabaya ini. Dari penjelasan Bapak Hendro kami memperoleh banyak penjelasan mengenai sejarah PDAM Surya Sembada Kota Surabaya, pengelolaan air dan impian PDAM Surya Sembada Kota Surabaya ke depan.


       Rumah Air Surabaya ini merupakan kantor lama PDAM Surya Sembada Kota Surabaya sebelum pindah ke tempat sekarang di Jalan Prof. DR Moestopo Surabaya. Ada dua gedung berdiri di atas lahan itu, gedung sisi selatan merupakan bangunan kuno peninggalan zaman Belanda,
Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1950-an ini pada waktu itu adalah kantor Markas Badan Keselamatan Rakyat (BKR) di bawah pimpinan Sungkono. Markas pindah, bangunan ini akhirnya dipakai sebagai kantor PDAM Kota Surabaya.
       Di dalam Rumah Air Surabaya kita bisa melihat beberapa peralatan kuno yang dipakai PDAM Kota Surabaya seperti pompa air jaman Belanda, penutup kelder yang dipakai di tahun 1902, berbagai jenis pipa air yang digunakan, logger pencatat meter, meter air kuno, kran kuno, peta kota Surabaya yang dibuat pada zaman Belanda, sejarah PDAM Kota Surabaya dari tahun ke tahun, dan lain-lain.
       Oleh karena gedung ini memiliki nilai sejarah maka Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini melalui Surat Keputusan (SK) nomor 188.45/232/436.1.2/2015 tertanggal 23 September 2015 menyatakan gedung di Jalan Basuki Rahmat No. 119-121 Surabaya ini merupakan Bangunan Cagar Budaya. Dengan demikian Rumah Air Surabaya menambah jumlah bangunan cagar budaya kota Surabaya dan bisa menjadi pilihan masyarakat luas yang ingin melakukan wisata sejarah. Dan Rumah Air Surabaya ini sebagai yang pertama di Indonesia.

Rumah Air Surabaya Sebagai Tempat Edukasi Pengelolaan Air

       Kota Surabaya yang berada di pinggir laut dengan kondisi air tanahnya yang payau dan asin serta potensi air baku PDAM Kota Surabaya yang diambil dari Sungai Brantas selain mata air di daerah Pandaan dan Umbulan relatif tidak bisa digunakan untuk kebutuhan pemenuhan air minum. Belum lagi adanya sampah, limbah produksi yang dibuang secara sembarangan oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab akan turut mencemari kualitas air. Bahkan menurut penuturan Bapak Hendro pernah ditemukan 1 ton pampers bekas di buang di aliran sungai Brantas. Untuk itu PDAM Surya Sembada Surabaya berusaha keras bisa mengolah air tersebut menjadi air yang layak untuk dikonsumsi.
       PDAM Surya Sembada melakukan tahap tahap dalam mengelola air ini, meliputi tahap aerasi, kemudian tahap prasedimentasi, tahap koagulasi flokulasi, tahap sedimentasi, tahap filtrasi, tahap desinfeksi, dan tahap reservoir.


       Dicampurkan pula beberapa bahan kimia dalam proses pengolahannya, seperti kaolin, pasir silika, kaporit, karbon aktif, alum sulphate cair, pasir antrasit, poly acrilamin dan cupersulphat. Semua bertujuan agar air PDAM Surya Sembada Kota Surabaya menjadi air yang bersih.


       Perlu diketahui juga bahwa air produksi PDAM Surya Sembada Kota Surabaya sebelum di distribusikan ke pelanggan telah dilakukan uji analisa kualitas air pada Instalasi Pengelolaan Air Minum sesuai dengan standar PERMENKES RI No. 492/MENKES/IV/2010 yang dilakukan di laboratorium PDAM Surya Sembada Kota Surabaya serta Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Dan secara berkala, air baku dan air bersih diuji secara fisika, kimia dan mikrobiologi. Di samping melakukan uji analisa kualitas di Instalasi Pengelolaan dan Sumber Air, laboratorium PDAM Surya Sembada Kota Surabaya juga melalukan kontrol kualitas air/sampling ke pelanggan setiap bulan yang dilakukan secara acak. Dengan demikian, maka air PDAM Surya Sembada Kota Surabaya aman untuk dikonsumsi, namun PDAM Surya Sembada Surabaya menganjurkan mengingat luasnya jaringan pipa distribusi dan dikhawatirkan terdapat kebocoran maupun pengaratan pada pipa, maka bila akan dikonsumsi sebaiknya air PDAM dimasak terlebih dahulu baru kemudian bisa di minum.

Impian PDAM Surya Sembada Kota Surabaya Tentang Air PDAM Di Masa Depan

       Didorong oleh kemajuan teknologi, PDAM Surya Sembada Kota Surabaya berupaya untuk bisa meningkatkan kualitas air yang diolahnya. Dengan alat penjernih air,  PDAM Surya Sembada Surabaya punya impian ke depan akan menyediakan air siap minum yang langsung diminum dari kran bagi seluruh masyarakat Surabaya.


       Impian ini sudah dimulai dengan menempatkan kran air siap minum di kampus Unair dan ITS Surabaya sebagai uji coba.
       Untuk itu bagi siapa saja khususnya masyarakat Surabaya sendiri yang ingin melakukan wisata sejarah, kunjungilah Rumah Air Surabaya. Bukan hanya agar kita tahu sejarah perkembangan pembangunan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya, tetapi di Rumah Air Surabaya kita akan mendapatkan ilmu dan informasi tentang air, pengelolaannya serta sejarah perkembangan pengelolaan air bersih di Surabaya yang diprakarsai oleh PDAM Surya Sembada Kota Surabaya.

Minggu, 30 Juli 2017

Tergapainya Keinginanmu


Kapankah keinginanmu akan tergapai ? Kurasa demikian :
1. Bila engkau tekun mewujudkan keinginanmu di tengah segala hambatan dan rintangan
2. Bila engkau menggunakan seluruh pikiran, tenaga dan waktumu untuk membangun keinginanmu itu
3. Bila engkau totalitas mewujudkan keinginanmu
4. Bila engkau memohon pertolongan dan jalanNya
5. Bila Tuhan merasa engkau telah siap mengemban amanah dari keberhasilan keinginanmu itu.

Rohani : Berhenti Sejenak


Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dalam perjalanan hidup ini. Menyendiri, berkomunikasi dengan Tuhan dalam batin. Untuk menata hidup yang mungkin porak poranda. Untuk menata langkah yang mungkin keluar dari jalur yang semestinya. Untuk menemukan kepercayaan diri bahwa kita masih mampu mewujudkan mimpi. Dan untuk menggali semangat baru yang bersumber pada diri sendiri yang dituntun dan diberkati oleh Tuhan.

Sabtu, 29 Juli 2017

Cerpen : Menunggu Jawaban


Tidak tahu mengapa aku begitu mencintainya. Mungkin karena kecantikan dan kelembutannya. Santi, kau telah merenggut hatiku. Kukirimi dia kalung bermahkota hati, lambang cintaku, tapi dia tetap diam saja. Berhari hari, berminggu minggu aku menunggu responnya, tetapi tak ada jawaban, sepi.
Hari Minggu, hari istirahat dari pekerjaanku, aku pergi ke Malang dan kutuju Toko Buku Gramedia. Di sana aku menghabiskan waktu untuk membaca-baca buku, itu memang kesukaanku. Kemudian kudengar sepenggal alunan lagu dari Dewa, dari musik yang diputar oleh Toko Buku Gramedia : "baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan.." Mungkinkah itu jawabannya ?

Kamis, 27 Juli 2017

Puisi : Tanah Sawiran



Musim penghujan itu kini datang lagi
Kembali aku teringat akan dirimu
Yang masih kurindu
Di tanah terpencil, tanah Sawiran

Masih kuingat hujan di pagi itu
Aku berkirim surat padamu
Hanya tuk legakan hatiku
Yang merindumu slalu

Pujaan hati
Bagaimana khabarmu kini
Lama sudah kita tak jumpa lagi
Smoga bahagia selalu menyertai

Biarlah tanah Sawiran
Menjadi kenangan diriku
Yang merasuk dalam kalbuku
Tentang dirimu

Hai pujaan
Tenanglah di tempatmu sekarang
Biarlah tanah Sawiran
Akan slalu kukenang
Sampai ajalku menjelang



Sabtu, 22 Juli 2017

Artikel : Nilai



Malam ini aku berjualan, tapi barang yang aku jual belum laku sama sekali he....Sementara pedagang di sampingku barangnya sudah terjual beberapa buah. Ada yang berjualan "celengan", dari kaleng yang dimodifikasi menjadi tempat menabung uang dengan cover tokoh Masha and The Bear, Frozen, Cinderella, dan lain-lain. Pedangan lainnya berjualan senter dan lampu dengan aneka bentuk.
Mengapa dagangan mereka lebih laris dariku ? Kalau aku mencermati karena faktor nilai. Barang yang mereka jual lebih mempunyai nilai daripada barangku
"Celengan" di beli oleh orangtua untuk anaknya tentu karena orangtua ingin mendidik anaknya belajar menabung. Suatu sifat yang akan berguna bagi anaknya kelak dalam mengatur keuangan.
Senter dan lampu diperlukan saat listrik padam atau saat berada di tempat gelap. Jadi orang pasti perlu.
Demikian pelajaran yang bisa kita petik kalau mau berjualan, yaitu perlunya nilai dari barang yang kita jual.

Jumat, 21 Juli 2017

Waktu


Waktu. Ia tak pernah kembali. Ia melangkah dan terus melangkah tanpa pernah mau menunggu. Hidup kita pun berpacu dengan waktu. Satu hari terkadang terasa cepat dan berganti hari lain. Usia kita pun terus menanjak dan kita akan menjadi semakin tua.
Apa yang harus kita lakukan ? selagi kita masih diberi waktu ayo kita berbuat sesuatu yang berarti, yang akan menjadi kenangan kita, yang akan menjadi bekal kita juga manakala kita harus menghadap Sang Pencinta
Menulislah selagi kita bisa menulis, menulis yang membuat orang yang membacanya memperoleh semangat dan penghiburan.
Mengajarilah, selagi kita masih bisa mengajar, mengajar yang membuat orang-orang yang kamu ajari menjadi pandai sepertimu
Mencintailah selagi kita masih bisa mencintai, cinta yang membuat orang yang kamu cintai merasa tenang dan nyaman
Berbuat baiklah selagi masih bisa berbuat baik, suatu tindakan yang membuat orang merasa di hargai, diperhatikan dan dibantu
Dengan demikian hidup kita berarti bagi orang lain. Waktu yang terus berlalu itu telah kita isi dengan pengembangan diri dan kebaikan. Kelak semua itu akan menjadi amalan kita kala kita menghadap Sang Pencipta.

Anak desa


Anak-anak desa. Makan seadanya, duduk seenaknya tanpa takut kotor. Pribadi yang bebas. Tumbuhlah besar nak, menjadi pribadi yang kuat.

Kamis, 20 Juli 2017

Rabu, 19 Juli 2017

Menggapai mimpi


Aku memulai tulisan di blogku ini dengan mimpiku untuk menjadi seorang penulis & fotografer kehidupan, pemilik art gallery, cafe & bookstore. Semoga.
Amin.


SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...