Saya menerima kiriman WhatsApp dari group, saya yakin isi dari WhatsApp ini juga dikirim secara berantai. Membaca isi pesannya saya memang patut bersyukur bahwa saya pernah berada pada zaman ini.
Ini pesan dari WhatsApp ini :
(komentar pada tanda kurung italic adalah komentar saya sendiri)
GOLDEN MEMORIES/INDAHNYA WAKTU ITU
Yang lahir/Angkatan Tahun 1960-80an, yang usianya sekarang 30an-50an tahun
(sesuai akta kelahiran, saya lahir pada tanggal 2 Maret 1973, berarti sekarang saya berumur 44 tahun)
Sekedar anda tahu
Kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntung (wah, senangnya ...).
Karena kitalah generasi yang mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima.
Sebagian kita pernah menikmati lampu petromax dan lampu minyak, sekaligus menikmati lampu bohlam, TL, hingga LED
(aku masih ingat, dahulu setiap sore ayah selalu menyalakan lampu petromax sebagai penerang rumah karena pada waktu itu aliran listrik belum masuk ke desaku. Ayah memompa lampu petromax itu dan meniupi semacam kain yang menjadi bola pijarnya agar bisa bersinar terang sehingga bisa menerangi seisi rumah. Harus hati-hati dalam memompa petromax agar kain itu tidak jatuh, hi..
Lampu minyak ? lampu ini biasanya diletakkan oleh ayah atau ibuku sebagai penerangan di dapur. Bila minyak tanah habis, ayah dan ibu harus membelinya dalam jurigen)
Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati riuhnya suara mesin ketik. Sekaligus saat ini jari kita masih lincah menikmati keyboard dari laptop kita.
(mesin ketik aku kenal ketika kuliah, walaupun komputer sudah masuk dalam masyarakat, mengerjakan tugas kuliah memakai mesin ketik masih aku lakukan).
Kitalah generasi terakhir yang merekam lagu dari radio dengan tape recorder, kadang pitanya mbulet. Sekaligus kita juga menikmati mudahnya men download lagu dari gadget.
(betul sekali, dahulu menikmati lagu dari lagu yang muncul dari tape recoder, demikian juga men-downloadnya. Wah...alamat rusak bila akhirya pitanya mbulet, he....)
Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan, sumpit-sumpitan, galasin adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget.
(anak di zaman sama sehari-hari bermain tanpa alas kaki, berlari ke sana ke sini tanpa takut kotor, semuanya lepas bebas.
Bermain lompat tali bagi anak-anak putri sungguh ramai. Bermain petak umpet sangat mengasyikkan saat yang mencari tidak menemukan kita yang sedang bersembunyi. Bermain gobak sodor juga menyenangkan. Bermain kelereng menyenangkan bila kelereng yang kita lempar mengenai barisan depan kelereng yang kita susun, karena seluruh kelereng di urutan belakang dari kelereng yang terkena kelereng kita akan menjadi milik kita. Untuk bermain karetan kita harus mengumpukan karet kita dengan karet teman-teman kita yang ikut bermain, lalu karet yang terkumpul banyak itu kita lemparkan pada ris pondasi dinding rumah. Sangat senang bila karet yang kita lempar banyak terkumpul di ris pondasi itu dan tidak jatuh, karena karet yang terkumpul di ris akan menjadi milik kita. Galasin ? ah ini menyenangkan sekali saat galasih yang kita lempar bisa menusuk galasin teman kita. Masih banyak sich permainan dan kebiasaan yang menarik semasa kecil : bermain umbul-umbul kartu, dakon, membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, membuat batang terbang dari bunga tanaman tebu, membuat wayang kulit dari tulang daun ketela, mencari ampal, menangkap garengpong, menangkap ratusan kupu-kupu yang terbang di halaman, mencari undur-undur, menangkap laron, meminum sari bunga sepatu, mencari santiet, dan lain-lain. Semua menyenangkan dan benar kita ini lebih sehat dari pada anak-anak zaman sekarang yang sangat menjaga kebersihan).
Masa Remaja
Kitalah generasi terakhir yang pernah mempunyai kelompok/ geng yang tanpa janji, tanpa telpon/sms tetapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu sampai pagi. Karena kita adalah generasi yang berjanji cukup dengan hati. Kalau dulu kita harus bertemu untuk tertawa terbahak-bahak bersama. Kini kitapun tetap bisa ber "wkwkwkwk" 😀😀😀😝😝😜😀 di grop Facebook/whatsApp.
Kita generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana. Juga berseda onthel/motor menikmato segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala.
(wah kalau di desa saya sich jalan raya memang tidak macet sampai sekarang, tetapi memang sekarang arus kendaraan bermotor lebih banyak dibandingkan dahulu, mungkin perekonomian masyarakat yang sudah mulai meningkat sehingga banyak orang yang mampu membeli sepeda motor atau mobil. Kalau saya sendiri dahulu saat bersekolah di SD atau SMP pun kadang masih memakai sepeda onthel milik ayah saya yang notabeda sepeda ontelnya lebih besar dari tubuh saya yang masih kecil, he...)
Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yang membayangi kita.
(pada saat aku masih bersekolah SMP, aku sering berjalan kaki ramai-ramai dengan teman menuju tempat sekolah yang jaraknya dari rumah sekitar 6 kilometer. Lewat gang sempit malahan, tetap merasa senang jalan kaki ramai ramai ke sekolah. Atau dahulu sering ketika masih SMP pagi jam 04.00 bangun lalu lari-lari pagi di jalan raya bersama teman teman. Suasana masih gelap tetapi tidak pernah takut dengan yang namanya penculik. Tetapi takut dengan yang namanya hantu, sehingga ketika takut kita menambah kecepatan dalam berlari, he...terkadang di pagi hari itu aku masih bisa melihat bintang yang berjalan, yang sekarang hal ini tidak pernah saya jumpai lagi)
Kitalah generasi terakhir yang pernah merasakan nikmatnya nonton tv, yang ada cuman hitam putih layarnya, dengan senang hati tanpa di ganggu remote untuk pindah channel sana sini ramai ramai satu kampung dengan powersupply aki yang jika strumnya akan habis layarnya tv ciut tinggal separo
(ha ha...aku masih ingat di desaku dahulu, saat aku masih kecil, hanya satu orang yang mempunyai tv, dia seorang berada yang menjabat sebagai jogoboyo. Karena itu setiap sore hari dia meletakkan tv itu di halaman rumah, maka orang-orang kampung yang ingin melihat tv itu berbondong-bondong datang ke halaman itu untuk menonton tv)
Kita adalah generasi/yang selalu berdebar-debar menunggu hasil cuci cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita. Selalu menghargai dan berhati-hati dalam mengambil foto dan tidak menghambur-hamburkan jepretan dan mendelete-nya jika ada hasil muka yang jelek. Saat itu hasil dengan muka jelek kita menerimanya dengan rasa ikhlas. Ikhlas dan tetap ikhlas apapun tampang kita di dalam foto. Tanpa ada editan Camera 360, photoshop atau Beauty Face. Betul-betul generasi yang menerima apa adanya.
(pada zaman dahulu aku belum mempunyai camera. Tetapi dahulu sangat jarang orang yang memiliki kamera. Di desaku hanya ada satu orang yang mempunyai camera. Jadi dia berkeliling ke desa-desa untuk menawarkan jasa foto kalau ada keluarga yang ingin foto, dia diundang di rumah untuk memotret kita. Gaya foto kita jaman dahulu ya hanya berdiri tegak, tidak seperti sekarang dengan gaya tangan membentuk huruf V, kaki diangkat sebelah, dan lain-lain. Dahulu apa adanya.
Tukang foto sangat langka, pernah juga dahulu dimasa kecil aku diajak ibu ke rumah kerabat yang jauh di malam hari karena kerabat menikahkan anaknya. Namanya anak kecil perjalanan jauh naik angkot carteran di malam hari pastilah mengatuk dan tertidur. Sampai di rumah kerabatpun juga tidur. Sampai acara foto-foto bersama. Maka aku cepat-cepat dibangunkan oleh ibu untuk ikut foto karena karena jarang ada moment potret. Maka aku pun duduk di dibarisan depan dengan kondisi yang masih mengantuk. Ketika foto sudah jadi, terlihatlah aku di foto duduk dengan mata terpejam, he he..)
Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati.
(ha ha..aku mulai mengenal berkirim surat kala aku masih duduk di Seminari Menengah Garum Blitar, sebuah sekolah setingkat SMA yang diperuntukkan bagi pendidikan imam. Saat makan siang romo rektor Seminari pada waktu itu, Rm. Louis Pandu, CM selalu datang membawa setumpuk surat dan membacakan surat itu ditujukan untuk siapa. Maka anak-anak Seminaris pada waktu itu, termasuk aku selalu berdebar-debar bilamana Rm. Louis Pandu CM berdiri di depan refter dengan membawa setumpuk surat, berharap ada surat buatku. Dan alangkah senangnya bila aku menerima surat itu.
Sampai aku bekerja di Rumah Retret Sawiran, Nongkojajar Pasuruan, mengirim surat masih populer pada zaman itu. Termasuk aku pernah mengirim surat untuk mengungkapkan rasa cinta pada seseorang he...Maklum pada zaman ini belum ada handphone)
Kita mungkin bukan generasi terbaik. Tetapi kita adalah generasi yang LIMITED EDITION. Kita adalah generasi yang patuh dan takut kepada Ortu, meskipun sembunyi-sembunyi nakal dan melawan, tapi kita generasi yang mau mendengar dan komunikatif terhadap anak cucu.
Itulah kita ...selalu bersyukur atas nikmat yang telah kita terima.
Anda di generasi itu?
Bagikan ini sebagai pengingat masa dahulu dan menjalani masa sekarang...
Indahnya waktu itu...
(Ya...indahnya waktu itu, indahnya masa kecil dan bersyukurnya aku menjadi bagian dari sebuah sejarah perpindahan tekhnologi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar