Selasa, 30 Juli 2019
MANUSIA BERSAYAP
Manusia bersayap itu tertikam lagi
Begitulah ia barangkali akan menjalani hari-harinya
Tapi itu sudah resiko yang harus ia terima
Karena ia mencintai orang yang telah dimiliki dan memiliki
Manusia bersayap, kuatkah hatimu ?
"Akan kubuat ia selalu bahagia, walau hatiku akan pedih teriris, karena demikianlah telah kutetapkan hal itu dalam hatiku," demikian ia menjawabnya
Begitulah ia barangkali akan menjalani hari-harinya
Tapi itu sudah resiko yang harus ia terima
Karena ia mencintai orang yang telah dimiliki dan memiliki
Manusia bersayap, kuatkah hatimu ?
"Akan kubuat ia selalu bahagia, walau hatiku akan pedih teriris, karena demikianlah telah kutetapkan hal itu dalam hatiku," demikian ia menjawabnya
Senin, 29 Juli 2019
SAJAK KEPADA SEORANG BAPAK (Genoveva Dian)
Di baris kata, kumasih mampu mengintip cerita
Tentangmu Bapak, yang sepanjang temu merenda kasih untukku
Kucoba memaknai sorot matamu yang dalam walau tanpa pernah bicara
Ketika kau pagutkan syahdu pada dagu perempuan desa
Seperti itulah tulusmu melebihi rizki yang kau tuangkan untuk emak
Di kerling senja, kumasih sanggup mencerna bait senyummu
Tentang hatimu Bapak, yang sendiri saja tanpa cinta
Ihklas saja kau bertelut di bawah kaki emak yang menuntut rupa-rupa
Dan ketika kau beningkan kata mesra di telinga perempuan desa
Yang menerimamu lebih dari emak menyukai isi dompetmu saja
Bapak, bahwa hatimu telah memilihnya
Sudahlah, rengkuhlah asa meski tiada masa di depan
Tetaplah tegak kau berdiri meski tikaman belati ribuan kali menghujam tubuhmu
Aku pun tahu, Surga dalam hatimu yang teduh tak kan berpindah ke bawah kaki emak
Sleman 260719
#hanyacoretan
#kepadaperempuanperempuanpemujaharta
Tentangmu Bapak, yang sepanjang temu merenda kasih untukku
Kucoba memaknai sorot matamu yang dalam walau tanpa pernah bicara
Ketika kau pagutkan syahdu pada dagu perempuan desa
Seperti itulah tulusmu melebihi rizki yang kau tuangkan untuk emak
Di kerling senja, kumasih sanggup mencerna bait senyummu
Tentang hatimu Bapak, yang sendiri saja tanpa cinta
Ihklas saja kau bertelut di bawah kaki emak yang menuntut rupa-rupa
Dan ketika kau beningkan kata mesra di telinga perempuan desa
Yang menerimamu lebih dari emak menyukai isi dompetmu saja
Bapak, bahwa hatimu telah memilihnya
Sudahlah, rengkuhlah asa meski tiada masa di depan
Tetaplah tegak kau berdiri meski tikaman belati ribuan kali menghujam tubuhmu
Aku pun tahu, Surga dalam hatimu yang teduh tak kan berpindah ke bawah kaki emak
Sleman 260719
#hanyacoretan
#kepadaperempuanperempuanpemujaharta
DEWINDA
DEWINDA
Namanya Dewinda, nama yang indah, seindah orangnya. Kutelusuri arti namanya adalah bidadari yang cantik. Tepat seperti orangnya. Tak terlalu tinggi postur tubuhnya dan aku suka karena dengan mudah aku bisa merangkulnya berulangkali sesuka hatiku, wajahnya cantik menawan, sejuk untuk dipandang, dan aku tak pernah bosan-bosannya menatapnya, senyumnya indah bisa meluluhlantakkan hati ini, rambutnya harum karena aku pernah mencium kepalanya, telapak tangannya hangat karena aku pernah menggengamnya begitu erat.
Dewinda, aku mengenalnya puluhan tahun silam saat aku bertandang ke rumahnya bersama teman-temanku. Hanya sekilas mengenalnya pada waktu itu dan hilang ditelan oleh waktu.
Musim silih berganti, berulang-ulang sesuai dengan masanya. Dan hari baik membawaku bertemu dengannya kembali. Sungguh tak pernah kuduga ini akan terjadi. Sapaannya langsung membuat hatiku begitu dekat.
Waktu berputar. Dewinda bisa menjelma menjadi apa saja.
Menjadi rembulan yang menerangi langkahku saat jalan di depanku terasa gelap.
Menjadi mentari pagi yang memberi aku kehangatan saat hatiku butuh pelukan, belaian dan kasih sayang.
Menjadi bunga yang membuat aku selalu berseri menapaki hari-hariku.
Menjadi dewi di langit tempat aku bisa berbagi cerita tentang apa saja.
Menjadi embun yang memberi aku semangat untuk terus bekerja dan bertumbuh menggapai mimpi-mimpiku.
Menjadi angin yang selalu menyapa lembut kulitku setiap saat sampai ke dinding-dinding hatiku.
Menjadi bintang yang menyakinkanku ada keindahan dan cinta yang bisa kuraih dan kupeluk dalam hidupku
Dewinda, sungguh aku sayang padamu, entah sampai kapan akan kupelihara rasa sayangku ini. Engkau yang telah dimiliki juga oleh orang lain
Namanya Dewinda, nama yang indah, seindah orangnya. Kutelusuri arti namanya adalah bidadari yang cantik. Tepat seperti orangnya. Tak terlalu tinggi postur tubuhnya dan aku suka karena dengan mudah aku bisa merangkulnya berulangkali sesuka hatiku, wajahnya cantik menawan, sejuk untuk dipandang, dan aku tak pernah bosan-bosannya menatapnya, senyumnya indah bisa meluluhlantakkan hati ini, rambutnya harum karena aku pernah mencium kepalanya, telapak tangannya hangat karena aku pernah menggengamnya begitu erat.
Dewinda, aku mengenalnya puluhan tahun silam saat aku bertandang ke rumahnya bersama teman-temanku. Hanya sekilas mengenalnya pada waktu itu dan hilang ditelan oleh waktu.
Musim silih berganti, berulang-ulang sesuai dengan masanya. Dan hari baik membawaku bertemu dengannya kembali. Sungguh tak pernah kuduga ini akan terjadi. Sapaannya langsung membuat hatiku begitu dekat.
Waktu berputar. Dewinda bisa menjelma menjadi apa saja.
Menjadi rembulan yang menerangi langkahku saat jalan di depanku terasa gelap.
Menjadi mentari pagi yang memberi aku kehangatan saat hatiku butuh pelukan, belaian dan kasih sayang.
Menjadi bunga yang membuat aku selalu berseri menapaki hari-hariku.
Menjadi dewi di langit tempat aku bisa berbagi cerita tentang apa saja.
Menjadi embun yang memberi aku semangat untuk terus bekerja dan bertumbuh menggapai mimpi-mimpiku.
Menjadi angin yang selalu menyapa lembut kulitku setiap saat sampai ke dinding-dinding hatiku.
Menjadi bintang yang menyakinkanku ada keindahan dan cinta yang bisa kuraih dan kupeluk dalam hidupku
Dewinda, sungguh aku sayang padamu, entah sampai kapan akan kupelihara rasa sayangku ini. Engkau yang telah dimiliki juga oleh orang lain
SATU NAMA MENETAP (Genoveva Dian)
Demikianlah telah ditulisnya
Pada kisi sepinya yang menuai rindu
Tergariskan melalui jemari berbalur asa
Cinta untuk malaikat pencabut diksi
Di mana semua kelu selain rasa
Di mana segala redup selain wajahnya
Dan demikianlah telah ditetapkannya
Satu nama untuk menetap dengan sakral
29/07/2019
Pada kisi sepinya yang menuai rindu
Tergariskan melalui jemari berbalur asa
Cinta untuk malaikat pencabut diksi
Di mana semua kelu selain rasa
Di mana segala redup selain wajahnya
Dan demikianlah telah ditetapkannya
Satu nama untuk menetap dengan sakral
29/07/2019
Rabu, 17 Juli 2019
SIAPAKAH AKU TUHAN
Siapakah aku Tuhan di hadapanMu ?
Seperti seorang pengembara yang tak pernah pulang, demikianlah aku
Siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan?
Seperti bangunan yang porak poranda, demikianlah aku saat ini
Siapakah aku di hadapanMu Tuhan ? Aku yang kehilangan diriku sendiri dan tak tahu sekarang ada dimana ?
Siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan?
Aku yang tercabik cabik oleh aneka banyak hal
Dan tersungkur jatuh ke tanah
Tak tahu kapan akan bisa berdiri
Sby 17/7/2019
Seperti seorang pengembara yang tak pernah pulang, demikianlah aku
Siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan?
Seperti bangunan yang porak poranda, demikianlah aku saat ini
Siapakah aku di hadapanMu Tuhan ? Aku yang kehilangan diriku sendiri dan tak tahu sekarang ada dimana ?
Siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan?
Aku yang tercabik cabik oleh aneka banyak hal
Dan tersungkur jatuh ke tanah
Tak tahu kapan akan bisa berdiri
Sby 17/7/2019
MENCINTAIMU
Mencintaimu, yang mencintai aku dan orang lain juga
Bagaimana akan kujalani ?
Terkadang rasa perih menusuk jantung
Terkadang rasa pedih merasuk hati
Kala kekasih lain lebih dicintai
Bagaimana akan kujalani mencintamu yang juga mencintai aku dan orang lain ?
Biarlah akan kususuri hidupku
Gresik, 17/07/2019
Bagaimana akan kujalani ?
Terkadang rasa perih menusuk jantung
Terkadang rasa pedih merasuk hati
Kala kekasih lain lebih dicintai
Bagaimana akan kujalani mencintamu yang juga mencintai aku dan orang lain ?
Biarlah akan kususuri hidupku
Gresik, 17/07/2019
Kamis, 11 Juli 2019
SEPERTI DEDAUNAN YANG MENJUNTAI (GENOVEVA DIAN)
Merebahkan diri utuh pada seutas cinta
Mungkin mampu meneguhkan hatiku namun tak urung kurass begitu jauh kau kurengkuh
Menidurkan mimpi akan manisnya kasihmu
Adalah sepi yang kupaksa berubah menjadi riuh
Riuh yang semu
Sebagai kata candamu di bait yang berbeda
Sekalipun begitu kujeda waktu hanya 'tuk merinduimu
Meski raga dan jiwa perih terluka sembilu buta
Memasrahkan rasa hanya padamu
Seperti bergantung pada tuturmu yang tak pasti
Namun aku akan selalu mencinta
Seperti bisikmu pada dedaunan yang menjuntai di jendela kamarku
Kau tak kan meninggalkanku
Mungkin mampu meneguhkan hatiku namun tak urung kurass begitu jauh kau kurengkuh
Menidurkan mimpi akan manisnya kasihmu
Adalah sepi yang kupaksa berubah menjadi riuh
Riuh yang semu
Sebagai kata candamu di bait yang berbeda
Sekalipun begitu kujeda waktu hanya 'tuk merinduimu
Meski raga dan jiwa perih terluka sembilu buta
Memasrahkan rasa hanya padamu
Seperti bergantung pada tuturmu yang tak pasti
Namun aku akan selalu mencinta
Seperti bisikmu pada dedaunan yang menjuntai di jendela kamarku
Kau tak kan meninggalkanku
Kamis, 04 Juli 2019
PRIA BERKEMEJA PUTIH (Genoveva Dian)
Kuterima sapa di siang yang redup
Menghimbau rindu yang terpendam di bilik syairnya
Senyumnya mengembang mirip sekali dengan matahari yang mengintip dari serambi awan
Dan aku telah jatuh cinta padanya
Pada lirik lagunya yang ditembangkan melalui merdu cintanya
Hai kamu, priaku yang berkemeja putih
Bolehkah kutitipkan diksi untuk meraih terus hatimu?
Bolehkah kuceritakan mimpiku yang berisi kau sedang membelai kesepian?
Kuterima ciuman hujan di kering kerontang jiwaku yang tanpa cahaya
Memohon tanganku untuk bersedia digenggamnya
Hai kamu, priaku yang berkemeja putih
Aku telah jatuh cinta... Sungguh jatuh cinta padamu
Menghimbau rindu yang terpendam di bilik syairnya
Senyumnya mengembang mirip sekali dengan matahari yang mengintip dari serambi awan
Dan aku telah jatuh cinta padanya
Pada lirik lagunya yang ditembangkan melalui merdu cintanya
Hai kamu, priaku yang berkemeja putih
Bolehkah kutitipkan diksi untuk meraih terus hatimu?
Bolehkah kuceritakan mimpiku yang berisi kau sedang membelai kesepian?
Kuterima ciuman hujan di kering kerontang jiwaku yang tanpa cahaya
Memohon tanganku untuk bersedia digenggamnya
Hai kamu, priaku yang berkemeja putih
Aku telah jatuh cinta... Sungguh jatuh cinta padamu
WAJAHMU
Wajahmu
Cantik dan memikat
Elok nan rupawan
Apakah kamu tahu bahwa aku suka sekali memandang wajahmu ?
Belama-lama pun tak bosan
Bahkan waktu pun terasa kurang
Hai gadis pemilik wajah cantik
Ijinkan aku tuk terus memandang wajahmu
Selalu dan selalu
Kapan pun aku mau
Biar lega hatiku
Cantik dan memikat
Elok nan rupawan
Apakah kamu tahu bahwa aku suka sekali memandang wajahmu ?
Belama-lama pun tak bosan
Bahkan waktu pun terasa kurang
Hai gadis pemilik wajah cantik
Ijinkan aku tuk terus memandang wajahmu
Selalu dan selalu
Kapan pun aku mau
Biar lega hatiku
Selasa, 02 Juli 2019
KUMPULAN KUMPULAN REFLEKSI
1. Kebahagiaan itu seperti sekuntum bunga yang mulai mekar, jangan pernah kau menggangunya
Senin, 01 Juli 2019
TAK KAN KU RAGU LAGI
Buat kekasihku yang cintanya begitu dalam sedalam samudera
Yang sinarnya hangat menyinari bumi sepanjang hari
Maafkan aku bila aku terkadang belum bisa menata diri
Saat mentari abadi harus kau kagumi
Kekasihku, yang rela memberi tempat bagi mentari lain di sudut hatimu
Nyata cintamu lebih besar dari yang kutahu
Bila engkau telah berikan seluruh perasaan dan hatimu
Bila engkau telah berikan seluruh hidupmu padaku
Bagaimana lagi akan kuragukan cintamu
Yang sinarnya hangat menyinari bumi sepanjang hari
Maafkan aku bila aku terkadang belum bisa menata diri
Saat mentari abadi harus kau kagumi
Kekasihku, yang rela memberi tempat bagi mentari lain di sudut hatimu
Nyata cintamu lebih besar dari yang kutahu
Bila engkau telah berikan seluruh perasaan dan hatimu
Bila engkau telah berikan seluruh hidupmu padaku
Bagaimana lagi akan kuragukan cintamu
JANGAN LAGI RAGU (Genoveva Dian)
Aku tak akan lagi menulis tentang bagaimana hatiku
Aku tak akan lagi banyak berceloteh tentang rasaku
Karena segala hal yang kau tahu
Tentangku
Dan tentang dia
Masih saja kau tak mampu memahami
Tiada mentari lain yang sehangatnya tersenyum
Itu kau tahu
Tiada sinar terang seperti rona wajahnya bagiku
Itu kau mengerti
Namun 'tuk apa mesti kau ragu bahwa aku milikmu
Jika ternyata segala hal tlah kuserah tulus padamu
Aku tak akan lagi banyak berceloteh tentang rasaku
Karena segala hal yang kau tahu
Tentangku
Dan tentang dia
Masih saja kau tak mampu memahami
Tiada mentari lain yang sehangatnya tersenyum
Itu kau tahu
Tiada sinar terang seperti rona wajahnya bagiku
Itu kau mengerti
Namun 'tuk apa mesti kau ragu bahwa aku milikmu
Jika ternyata segala hal tlah kuserah tulus padamu
Langganan:
Komentar (Atom)
SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA
Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...
-
ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama...
-
Aku mempunyai banyak angan-angan dan kerinduan 1. Aku ingin mempunyai gallery seni yang di dalamnya ada cafe dan bookstore Gal...
-
Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpiki...