Namanya Dewinda, nama yang indah, seindah orangnya. Kutelusuri arti namanya adalah bidadari yang cantik. Tepat seperti orangnya. Tak terlalu tinggi postur tubuhnya dan aku suka karena dengan mudah aku bisa merangkulnya berulangkali sesuka hatiku, wajahnya cantik menawan, sejuk untuk dipandang, dan aku tak pernah bosan-bosannya menatapnya, senyumnya indah bisa meluluhlantakkan hati ini, rambutnya harum karena aku pernah mencium kepalanya, telapak tangannya hangat karena aku pernah menggengamnya begitu erat.
Dewinda, aku mengenalnya puluhan tahun silam saat aku bertandang ke rumahnya bersama teman-temanku. Hanya sekilas mengenalnya pada waktu itu dan hilang ditelan oleh waktu.
Musim silih berganti, berulang-ulang sesuai dengan masanya. Dan hari baik membawaku bertemu dengannya kembali. Sungguh tak pernah kuduga ini akan terjadi. Sapaannya langsung membuat hatiku begitu dekat.
Waktu berputar. Dewinda bisa menjelma menjadi apa saja.
Menjadi rembulan yang menerangi langkahku saat jalan di depanku terasa gelap.
Menjadi mentari pagi yang memberi aku kehangatan saat hatiku butuh pelukan, belaian dan kasih sayang.
Menjadi bunga yang membuat aku selalu berseri menapaki hari-hariku.
Menjadi dewi di langit tempat aku bisa berbagi cerita tentang apa saja.
Menjadi embun yang memberi aku semangat untuk terus bekerja dan bertumbuh menggapai mimpi-mimpiku.
Menjadi angin yang selalu menyapa lembut kulitku setiap saat sampai ke dinding-dinding hatiku.
Menjadi bintang yang menyakinkanku ada keindahan dan cinta yang bisa kuraih dan kupeluk dalam hidupku
Dewinda, sungguh aku sayang padamu, entah sampai kapan akan kupelihara rasa sayangku ini. Engkau yang telah dimiliki juga oleh orang lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar