Kamis, 29 Agustus 2019

TERASA BERAT

TERASA BERAT

Hari mulai gelap, hanya suara jengkerik dan binatang-binatang malam yang mulai bersaut-sautan namun aku tidak peduli, masih ada satu guludan tanah yang harus aku cangkul agar guludan ini gembur untuk tempat tumbuhnya tanaman jagung yang besok akan aku tanam.

Setelah selesai aku pun bergegas mengambil sepeda onthelku yang aku sandarkan di batang pohon jambu.

Segera kukayuh sepedaku meninggalkan ladang tempat aku berpeluh keringat sepanjang hari tadi

Sudah tak ada orang sama sekali, aku harus menuruni jurang bekas aliran lahar Gunung Kelud yang meletus belasan tahun lalu.

Aku merasakan kayuhan sepedaku semakin berat dan berhenti tepat di dasar jurang. Kulihat apakah ada benda yang menyangkut di jeruji ban sepedaku ? Tidak ada. Tapi menurutku ada yang tak beres.

Aku ingat dengan rapalan magic yang diajarkan kakekku beberapa tahun lalu bila aku menemui sesuatu di luar kewajaran.

Akupun segera komat-kamit membaca mantra. Seketika itu juga kulihat ada dua anak kecil dengan mata merah cekikian sedang bermain memegangi ban sepeda pancalku.

"Pulangkah, Nak, jangan bermain di sini."

Dua anak itu segera pergi dan sepeda pancalku akhirnya bisa kukayuh kembali

SERUPA DIRIMU

Serupa dirimu ku lihat di sana
Membawa seonggok pakaian dan aku menawar-nawarkan
Ah, sempat terpesona aku dengan dia, cerminanmu

Selasa, 27 Agustus 2019

KAMU KINI

Pernah kutatap wajah cantikmu dan ku tak pernah bosan memandang
Pernah kupeluk hangat tubuhmu dan kumerasakan kedekatan
Pernah pula kugengam erat jemari tanganmu dan kumerasakan ada debaran
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta, kekasihku
Engkau yang dahulu kulihat sepintas lalu
Kini menetap dalam hati

Diriku Sesungguhnya

Foto ini
Adalah foto ketika aku kost di Jl Arif Rahman Hakim Malang
Tempat dimana ibu kost mempunyai dua gadis cantik, Wulan dan Nia
Dan Nia menyukaimu
Foto ini
Adalah foto dimana aku berfoto di dalam kamar
Masih nampak dasi yang dahulu kupakai saat aku bekerja sebagai marketing
Masih nampak gelas yang kupakai sebagai tempat minum













Perih melihat dia berbicara mesra tentang Nas, kuatasi dengan mengetrapkan diri aku hanyalah kakak untuknya

Cemburu melihat dia mengomentari postingan / komentar penulis laki, kuatasi dengan aku harus semakin banyak mengupload tulisan / mengupload  bakat-bakatku yang lain di media sosial : potret, mencipta lagu, dll

Terlalu mencintainya ? kurasa jangan, nanti kamu bisa sakit hati, mencintailah sewajarnya saja. kenapa ? karena kalau kamu sangat mencintainya, bahkan kalau sampai berani rela bercerai dari istrimu demi dia, apakah kamu gak akan sakit hati bila melihat dia memuja Nas, atau dia bersenggama dengan suaminya ?
















Minggu, 11 Agustus 2019

TEKADKU MENGANGKASA

Tuhan, kucoba menggapai angan dalam segala keterbatasan
Mengarungi langit biru dengan kepakku
Meraih bintang yang paling terang
Dan kuingin bersanding dengan dewa dewi
Karena aku yakin bisa

Mulai sekarang akan kubuat tulisan-tulisanku terpampang di media-media
Hasil potretku muncul komunitas komunitas dan majalah-majalah fotografi
Dan akan aku cipta lagu-lagu sebagai pengiring hidupku
Ini tekadku

Sabtu, 10 Agustus 2019

INNEKE (Puisi)

Inneke, gadis cantik anak sekolah
Masih belia usiamu, namun pesonamu sungguh memikat
Kau mendekat utarakan kegundahanmu
Menerima bekerja yang sudah tersedia atau melanjutkan kuliah
Inneke, kuliahlah, ke depan akan lebih baik tapi juga sampaikan pada kedua oragtuamu, begitu jawabku pada waktu itu

Inneke, dimanakah kamu kini ?
Pasti kau sudah menikah
Pun juga bila kita bertemu, kau pasti lupa aku, aku juga lupa kamu
Karena kita bertemu hanya sekejab
Namun ketahuikah Inneke, walau hadirmu singkat, sampai kapanpun kau selalu kuingat




MAAFKAN, BELUM SEMPAT KUPENUHI KERINDUANMU

Kubonceng engkau pada waktu itu dengan sepeda motor kesayanganku. Kau memeluk pinggangku begitu erat. Kau sandarkan kepalamu di  punggungku seakan ingin memperoleh kenyamanan. Udara dingin di akhir bulan Desember itu membuatmu sesekali mengeratkan peganganmu.

Lena, gadis manis dari kampung halamanku, yang secara tak sengaja bertemu di sini, di kota perantauan tempat kami berdua bekerja

"Mas, antarkan aku  melihat tempat yang kata banyak orang merupakan  Singapura-nya kota ini. Aku ingin ke sana."

Aku tahu tempat itu, masuk dalam salah satu kawasan perumahan elite kota ini.  Area yang berada di atas lahan seluas 2000 ha itu dibangun air mancur yang menyemburkan air dari mulut patung singa simbol kota Singapura, Merlion

"Baiklah, tapi bukan hari ini ya, mas masih sibuk," kataku sesaat kemudian memberi penjelasan dan Lena sepertinya bisa mamahami.

Pagi hari itu gawaiku bergetar. Kulihat ada panggilan masuk dari Dea, teman sekerja Lena, juga menjadi sahabat yang tinggal satu kontrakan dengan Lena.
"Hallo..."
"Mas, cepat kesini, sesuatu terjadi pada Lena."
Segera aku meluncur ke tempat kerja Lena. Teman-teman Lena menangis sedih. Kudapati seorang dokter juga ada di situ.
Dea menghampiriku.
"Jangan sedih ya mas, Lena sudah tiada,"
Aku kaget, tertunduk lesu, dalam hati aku berkata "maaf Lena, aku belum bisa memenuhi kerinduanmu."

Senin, 05 Agustus 2019

TIPS MEMBUAT NOVEL

1. Bahasanya penuh diksi/kiasan

2. Ceritanya penuh perubahan yang tak terduga

3. Pada awal cerita saja, buatlah sudah menghentak hati pembaca

4. Di  awal cerita bungkuslah dengan misteri yang membuat pembaca akan bertanya-tanya kejelasannya sehingga betah membaca cerita

5. Mempunyai refleksi yang mendalam

6. Cerita itu bagus bila terdapat sisi keindahan di dalam cerita itu

7. Menyelami kehidupan seseorang

8. Membaca karya-karya orang lain bagaimana mengeksekusi cerita

9..Seorang penulis haruslah menjadi seorang yang merdeka, tak terbelenggu ikatan

10. Mengingat-ingat cerita yang diujung ceritanya mendebarkan, tragis, menjadi musibah, dan sejenisnya

11. Menulis dari hati

12. Menjadi seorang penulis itu seorang yang selalu mengambil sikap dalam hidup

13. Contoh judul tulisan untuk inspirasi: hati yang kembali

14. Mencemati budaya dan mengemasnya dengan apik dalam suatu cerita


Jumat, 02 Agustus 2019

TERLENA

Harap-harap cemas.  Sudah dua jam Anton berada di ruang tunggu kereta api dj stasiun kecil kotanya.  Mondar-mandir seperti setrika.

Sesekali melongokkan kepala siapa tau kereta yang datang membawa seseorang yang sudah lama dinantinya.

Kereta yang dinanti Anton sudah berhenti.  Berjubel orang berebut untuk keluar.  Hati Anton menghangat,  debarnya tak menentu.  Teringat pesan singkat pada WhatsApp semalam.

"Aku akan tiba di sini tujuh jam dari sekarang," kata pesan singkat itu.

"Hai Ton! " seseorang menepuk pundaknya.  Anton terkejut.  Lebih terkejut lagi setelah dia menoleh ke belakang.

"Dewinda!  Ini kamu? "

Keduanya terkekeh.  Canggung sejenak,  lalu saling menjabat tangan.

Anton tak kuasa menahan gembiranya.  Ini Dewinda,  gadis kecil temannya sekolah dulu.  Yang sudah disukainya meski masih sama-sama ingusan.  Yang pergi meninggalkannya empat tahun kemudian untuk meneruskan SMP di luar kota.   Dan yang  baru kembali dua puluh tahun kemudian.

Dewinda sudah berubah banyak.  Rambut kepang duanya sudah tergunting pendek.  Kulit kecoklatannya sudah menjelma cerah.  Tubuh kerempengnya pun sudah penuh berisi.  Kian cantik saja kamu,  Nda,  desis Anton pada dirinya sendiri.

Meski begitu,  ada yang tak berubah pada diri Dewinda.  Matanya masih sendu Dan hangat,  senyummya masih sanggup membuat Anton tegak mematung saja tanpa kata-kata.

"Hai hai!  Aku di sini, helloooo... " seru Dewinda.  Anton tergeragap.

Dipandangnya bibir mungil Dewinda yang merona merah muda tanpa polesan.  Dadanya berdesir.  Dirangkulnya bahu gadis itu tanpa ragu.  Dewinda terperangah namun tak menolak.

"Kita ke rumahku dulu yuk.  Mama pasti senang melihatmu kembali. " Dewinda mengangguk.

Entah sudah berapa kali Anton memandangi bibir merona Dewinda, nyatanya berulang kali para pengguna jalan lainnya membunyikan klakson. Rupanya Anton tak lagi mampu berkonsentrasi mengemudikan mobilnya karena matanya selalu tertuju pada Dewinda.

"Mama sedang pergi rupanya, Nda, " kata Anton begitu mereka sampai.

Dewinda merebahkan diri di sofa,  diikuti Anton.  Sesaat mereka saling berpandangan.

Perlahan diraihnya kepala Dewinda,  menuju dadanya.  Dewinda mengejang sesaat karena terkejut.  Namun tak urung dia menyerah.

"Kau masih ingat janji kita dulu,  Nda?"

"Ingat.  Bahwa aku dan  kamu akan tetap bersama seperti masa kecil kita kan? "

Anton meraih bibir merah jambu Dewinda dengan pagutnya.  Lama sekali mereka saling memagut.  Melepaskan rindu dan nafsu yang mulai menanjak.

Jari telunjuk dan jempol Anton mengitari belahan dada Dewinda.  Perlahan lalu melepasi kancing baju perempuan itu dari pengaitnya.  Terlihat bukit kembar di balik kutang hitam perempuan itu menawarkan sesuatu.

Dewinda menahan lengan Anton.  Perasaannya masih labil.

"Nggak boleh ya? "

Pertanyaan Anton itu meniup leher belakang Dewinda dengan halus membuat bulu-bulu halus di tengkuknya meremang membuatnya lemah.  Tak hendak menahan lengan kukuh itu lagi.

Anton sudah menelanjanginya kini.  Cumbuan-cumbuan lembut mengusap kulitnya senti demi senti.  Dewinda mengejang.  Nafasnya mulai tersengal.

Puluhan bahkan ratusan atau ribuan pendakian mereka arungi selama dua jam.  Dewinda merasa,  tak ada lagi yang perlu dihentikan lagi.

Geliat asmara karena rindu dan cintanya pada Anton sudah meluluhlantakkan benteng pertahanannya.

Anton mengerang kuat,  mengiringi rintih manja Dewinda,  kekasih hatinya sesaat sebelum mereka terkulai bersama dalam dekapan erat tanpa pakaian.

Anton terbangun ketika diingatnya wajah Mama yang pasti akan murka bila mengetahui perbuatannya ini.

Dipandangnya wajah Dewinda yang terlelap cantik.

"Menikahlah denganku, Nda, " bisik Anton seraya mengecup puncak kepala Dewinda. Gadis itu membuka mata lalu tersenyum.

"Kata-kata itulah yang aku tunggu,  Ton.  Dari sejak aku pergi meninggalkan kampung ini. "

"Eh , jadi kamu pura-pura tidur?"  seru Anton hendak bangkit.  Namun tangan Dewinda menahan lengannya.

Dewinda kini yang bangkit dan duduk,  membuat selimut yang  menutupi tubuhnya melorot.  Dada telanjangnya masih terpampang jelas di hadapan Anton.

Untuk apa berlama membiarkan waktu berlalu,  sebaiknya kembali merajut asmara,  begitulah geliat hati keduanya. Kembali berdekapan,  bercumbu tanpa banyak kata.  Sesekali terdengar lenguhan-lenguhan manja mewarnai sunyi siang itu sebelum Mama datang.

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...