Jumat, 02 Agustus 2019

TERLENA

Harap-harap cemas.  Sudah dua jam Anton berada di ruang tunggu kereta api dj stasiun kecil kotanya.  Mondar-mandir seperti setrika.

Sesekali melongokkan kepala siapa tau kereta yang datang membawa seseorang yang sudah lama dinantinya.

Kereta yang dinanti Anton sudah berhenti.  Berjubel orang berebut untuk keluar.  Hati Anton menghangat,  debarnya tak menentu.  Teringat pesan singkat pada WhatsApp semalam.

"Aku akan tiba di sini tujuh jam dari sekarang," kata pesan singkat itu.

"Hai Ton! " seseorang menepuk pundaknya.  Anton terkejut.  Lebih terkejut lagi setelah dia menoleh ke belakang.

"Dewinda!  Ini kamu? "

Keduanya terkekeh.  Canggung sejenak,  lalu saling menjabat tangan.

Anton tak kuasa menahan gembiranya.  Ini Dewinda,  gadis kecil temannya sekolah dulu.  Yang sudah disukainya meski masih sama-sama ingusan.  Yang pergi meninggalkannya empat tahun kemudian untuk meneruskan SMP di luar kota.   Dan yang  baru kembali dua puluh tahun kemudian.

Dewinda sudah berubah banyak.  Rambut kepang duanya sudah tergunting pendek.  Kulit kecoklatannya sudah menjelma cerah.  Tubuh kerempengnya pun sudah penuh berisi.  Kian cantik saja kamu,  Nda,  desis Anton pada dirinya sendiri.

Meski begitu,  ada yang tak berubah pada diri Dewinda.  Matanya masih sendu Dan hangat,  senyummya masih sanggup membuat Anton tegak mematung saja tanpa kata-kata.

"Hai hai!  Aku di sini, helloooo... " seru Dewinda.  Anton tergeragap.

Dipandangnya bibir mungil Dewinda yang merona merah muda tanpa polesan.  Dadanya berdesir.  Dirangkulnya bahu gadis itu tanpa ragu.  Dewinda terperangah namun tak menolak.

"Kita ke rumahku dulu yuk.  Mama pasti senang melihatmu kembali. " Dewinda mengangguk.

Entah sudah berapa kali Anton memandangi bibir merona Dewinda, nyatanya berulang kali para pengguna jalan lainnya membunyikan klakson. Rupanya Anton tak lagi mampu berkonsentrasi mengemudikan mobilnya karena matanya selalu tertuju pada Dewinda.

"Mama sedang pergi rupanya, Nda, " kata Anton begitu mereka sampai.

Dewinda merebahkan diri di sofa,  diikuti Anton.  Sesaat mereka saling berpandangan.

Perlahan diraihnya kepala Dewinda,  menuju dadanya.  Dewinda mengejang sesaat karena terkejut.  Namun tak urung dia menyerah.

"Kau masih ingat janji kita dulu,  Nda?"

"Ingat.  Bahwa aku dan  kamu akan tetap bersama seperti masa kecil kita kan? "

Anton meraih bibir merah jambu Dewinda dengan pagutnya.  Lama sekali mereka saling memagut.  Melepaskan rindu dan nafsu yang mulai menanjak.

Jari telunjuk dan jempol Anton mengitari belahan dada Dewinda.  Perlahan lalu melepasi kancing baju perempuan itu dari pengaitnya.  Terlihat bukit kembar di balik kutang hitam perempuan itu menawarkan sesuatu.

Dewinda menahan lengan Anton.  Perasaannya masih labil.

"Nggak boleh ya? "

Pertanyaan Anton itu meniup leher belakang Dewinda dengan halus membuat bulu-bulu halus di tengkuknya meremang membuatnya lemah.  Tak hendak menahan lengan kukuh itu lagi.

Anton sudah menelanjanginya kini.  Cumbuan-cumbuan lembut mengusap kulitnya senti demi senti.  Dewinda mengejang.  Nafasnya mulai tersengal.

Puluhan bahkan ratusan atau ribuan pendakian mereka arungi selama dua jam.  Dewinda merasa,  tak ada lagi yang perlu dihentikan lagi.

Geliat asmara karena rindu dan cintanya pada Anton sudah meluluhlantakkan benteng pertahanannya.

Anton mengerang kuat,  mengiringi rintih manja Dewinda,  kekasih hatinya sesaat sebelum mereka terkulai bersama dalam dekapan erat tanpa pakaian.

Anton terbangun ketika diingatnya wajah Mama yang pasti akan murka bila mengetahui perbuatannya ini.

Dipandangnya wajah Dewinda yang terlelap cantik.

"Menikahlah denganku, Nda, " bisik Anton seraya mengecup puncak kepala Dewinda. Gadis itu membuka mata lalu tersenyum.

"Kata-kata itulah yang aku tunggu,  Ton.  Dari sejak aku pergi meninggalkan kampung ini. "

"Eh , jadi kamu pura-pura tidur?"  seru Anton hendak bangkit.  Namun tangan Dewinda menahan lengannya.

Dewinda kini yang bangkit dan duduk,  membuat selimut yang  menutupi tubuhnya melorot.  Dada telanjangnya masih terpampang jelas di hadapan Anton.

Untuk apa berlama membiarkan waktu berlalu,  sebaiknya kembali merajut asmara,  begitulah geliat hati keduanya. Kembali berdekapan,  bercumbu tanpa banyak kata.  Sesekali terdengar lenguhan-lenguhan manja mewarnai sunyi siang itu sebelum Mama datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...