Hari mulai gelap, hanya suara jengkerik dan binatang-binatang malam yang mulai bersaut-sautan namun aku tidak peduli, masih ada satu guludan tanah yang harus aku cangkul agar guludan ini gembur untuk tempat tumbuhnya tanaman jagung yang besok akan aku tanam.
Setelah selesai aku pun bergegas mengambil sepeda onthelku yang aku sandarkan di batang pohon jambu.
Segera kukayuh sepedaku meninggalkan ladang tempat aku berpeluh keringat sepanjang hari tadi
Sudah tak ada orang sama sekali, aku harus menuruni jurang bekas aliran lahar Gunung Kelud yang meletus belasan tahun lalu.
Aku merasakan kayuhan sepedaku semakin berat dan berhenti tepat di dasar jurang. Kulihat apakah ada benda yang menyangkut di jeruji ban sepedaku ? Tidak ada. Tapi menurutku ada yang tak beres.
Aku ingat dengan rapalan magic yang diajarkan kakekku beberapa tahun lalu bila aku menemui sesuatu di luar kewajaran.
Akupun segera komat-kamit membaca mantra. Seketika itu juga kulihat ada dua anak kecil dengan mata merah cekikian sedang bermain memegangi ban sepeda pancalku.
"Pulangkah, Nak, jangan bermain di sini."
Dua anak itu segera pergi dan sepeda pancalku akhirnya bisa kukayuh kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar