Sabtu, 10 Agustus 2019

MAAFKAN, BELUM SEMPAT KUPENUHI KERINDUANMU

Kubonceng engkau pada waktu itu dengan sepeda motor kesayanganku. Kau memeluk pinggangku begitu erat. Kau sandarkan kepalamu di  punggungku seakan ingin memperoleh kenyamanan. Udara dingin di akhir bulan Desember itu membuatmu sesekali mengeratkan peganganmu.

Lena, gadis manis dari kampung halamanku, yang secara tak sengaja bertemu di sini, di kota perantauan tempat kami berdua bekerja

"Mas, antarkan aku  melihat tempat yang kata banyak orang merupakan  Singapura-nya kota ini. Aku ingin ke sana."

Aku tahu tempat itu, masuk dalam salah satu kawasan perumahan elite kota ini.  Area yang berada di atas lahan seluas 2000 ha itu dibangun air mancur yang menyemburkan air dari mulut patung singa simbol kota Singapura, Merlion

"Baiklah, tapi bukan hari ini ya, mas masih sibuk," kataku sesaat kemudian memberi penjelasan dan Lena sepertinya bisa mamahami.

Pagi hari itu gawaiku bergetar. Kulihat ada panggilan masuk dari Dea, teman sekerja Lena, juga menjadi sahabat yang tinggal satu kontrakan dengan Lena.
"Hallo..."
"Mas, cepat kesini, sesuatu terjadi pada Lena."
Segera aku meluncur ke tempat kerja Lena. Teman-teman Lena menangis sedih. Kudapati seorang dokter juga ada di situ.
Dea menghampiriku.
"Jangan sedih ya mas, Lena sudah tiada,"
Aku kaget, tertunduk lesu, dalam hati aku berkata "maaf Lena, aku belum bisa memenuhi kerinduanmu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...