Kamis, 26 Mei 2022

Sepucuk Surat Untuk Anakku


Bulan Keempat

Anakku, ini adalah bulan keempat ayahmu berada di luar rumah karena diusir oleb ibumu hanya karena suatu hal yang sepele, oleh karena ayahmu mengatakan kepada ibumu tidak perlu diingatkan soal mengisi galon air yang kosong karena tanpa diingatkanpun ayahmu akan mengisi galon air yang kosong ketika sudah sempat. Hanya karena hal itu nada bicara diantara ibu dan ayah mulai mulai meninggi dan berujung pada pengusiran ayah pada jam sembilan malam. 

Sebagai seorang yang punya harga diri dan merasa tak memiliki rumah yang selama ini kita tempati bersama, karena ibumu sudah mengambil kredit rumah ini atas namanya sendiri ketika ayah dan ibumu masih bertunangan walaupun ketika ayah dan ibumu sudah menikah ayahmu memberi uang untuk keluarga yang bisa saja itu dipergunakan sebagai angsuran kredit rumah, tetapi toh rumah itu tetap rumah atas nama ibumu, ayahmu keluar diari rumah ini dengan membawa pakaian seadanya. 

Masih ayahmu ingat ketika ibumu mengusir ayahmu dan ayahmu sudah berada di luar pintu rumah rumah, ibumu segera menutup pintu keras-keras dan menguncinya dari dalam. Ayahmu masih belum pergi ketika pintu rumah ditutup. Ayah masih mengambili pakaian-pakaian ayah yang sudah kering yang ayah jemur di teras rumah. Setelah cukup, dengan membawa satu tas besar ayah keluar meninggalkan rumah.

Ingatkah kau anakku, itu yang berapa? Itu tanggal 14 Februari 2022, hari yang indah, hari kasih sayang, hari Valentine dan tahukan kau anakku tepat di tanggal itu pada dua belas tahun yang silam, 14 Februari 2010 ayahmu bertunangan dengan ibumu. Ayahmu tak menduga tepat di tanggal yang sama hanya berbeda tahun ayahmu mengalami dua hal yang bertolak belakang: mendekati dan diusir. 

Masih ayahmu ingat sore hari beberapa saat sebelum ayahmu diusir, ketika ibumu datang ke rumah sepulang kerja, ibumu membawa coklat dan membagikan kepada kamu berdua, tapi ibumu tak menawari ayah. Ayahmu memang tidak meminta, kalau soal membeli coklat ayah tentu bisa, tetapi ayahmu memang diam hanya untuk melihat apakah ada hati dari ibumu untuk memberi coklat juga kepada ayah, ternyata tak ada. 

Ayah hari ini datang ke rumah untuk mengambil barang-barang ayah. Ayah sempat tiduran di kamar tempat kamu dan ibumu tidur. Anakku,  sebenarnya ayahmu ingin kita bisa tidur berempat, kita bisa banyak bercerita sebelum kamu tidur. Ayah ingin punya kenangan manis saat engkau masih kanak-kanak menjelang tidur bersama ayah. Tapi ibumu selalu bilang kamar ini tidak cukup untuk berempat, ayah terpaksa tidur di ruang tamu. Apalagi sekarang kamu sudah sama ibumu, syah sudah tidak punya kesempatan lagi menciptakan kenangan indah kamu dengan ayah di masa kecilmu.

Corinne,  menjadi keinginan ayah sebenarnya ingin mengajarimu naik sepeda kembali. Kemarin ayah masih sempat mengajarimu naik sepeda namun karena kesibukan ayah lalu belajar naik sepeda terhenti. Sekarang ayah tak punya kesempatan lagi mengajarimu naik sepeda. Mintalah kakakmu ya untuk mengajari. Selalu rukunlah dengan kakakmu, dia adalah kakak juga temanmu dalam perjajanan hidupmu

Chaterine, jagalah adikmu. Kamu yang paling besar, sudah tahu jalan yang baik, dampingilah adikmu, ya?



Bulan Kesebelas

Anakku Chatrine dan Corinne, akhir-akhir ini engkau tak pernah menanyakan khabar ayah. Apakah engkau telah lupa pada ayahmu ini? Ayahmu yang pernah menemanimu di masa kecilmu? Maafkan ayah anakku Corinne, ayah tak sempat banyak  mengajarimu naik sepeda pada waktu itu. Sebenarnya ayah ingin sekali menemanimu tumbuh dewasa, ayah ingin kita bisa banyak bercengkerama. Masih banyak yang ingin ayah lakukan di masa kecilmu. Kita bisa bermain bersama, kita bisa saling cerita ataupun hal lain yang engkau akan suka,  tapi bagaimana lagi, ayah tak bisa. Ibumu telah mengusir ayah keluar dari rumah bahkan duplikat kunci rumah yang ayah pegang pun ibumu minta.  Itu artinya ayah sudah tak boleh lagi memasuki rumah kita.

Nak, pesan ayah, jagalah selalu dirimu. Semakin engkau dewasa, semakin banyak aneka kehidupan yang akan kau masuki. Hadapilah segalanya itu Nak dengan penuh kedewasaan. 

Untuk segala kesalahan ayah, ayah minta maaf dan sampai kapanpun ayah akan selalu cinta kalian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...