Di pucuk nyiur itu, Nda. Pernah kau titipkan seribu doa. Usai kata amin kau lanjutkan kalimat-kalimat baru. Isinya masih sama, tentang asa berikut kalbumu yang merana. Tak lupa kau siram dan kau pupuk akar-akar nyiur itu supaya ia bertumbuh mencapai ketinggian langit.
Ketika angin laut mengembus tak seberapa kencang, kau mulai melenakan diri. Memangku kedua tangan sembari menghayalkan sebuah masa, mungkin percintaan. Kau tak ubahnya seperti pungguk di masa malam, Nda. Yang menengadah mencari terang pada purnama bulan yang tak terjangkau. Demikianlah doamu yang tinggi di pucuk nyiur lambat laun tak mampu kau periksa. Apakah ia telah sampai pada pangkuan-Nya ataukah masih bergeming di depan pintu hati kekasihmu?
Di pucuk nyiur yang tak tenang itu, Nda. kau masih mengupayakan mimpi. Siapa tahu kelak berujung pada senja yang bersebelahan dengan malam nan tenteram. Melenakan kamu pada bilik sepi yang agung. Barangkali pula menipis embun-embun yang mengaliri dua bingkai matamu.
Sleman, 14 Mei 2022
#untukNda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar