Sabtu, 08 Juli 2023
Desa Garum
Jumat, 24 Maret 2023
Senja Itu
Senja Itu
Karya : Warsito
Duduk di bangku teras rumah
Berteman secangkir kopi hangat
Kupandangi jauh di sana
Langit senja
Yang masih menampilkan keindahan
Kekasih, lihat
Rembang petang itu berhenti sejenak
Sebelum hari beranjak malam
Itu diriku yang menunggumu
Di hari senjaku
Bila kau tahu
Telah habis air mata ini
Kering jiwa ini
Atas dambaku pada hatimu
Yang tak pernah terwujud
Kini, tak lagi kupinta setetes embun penyegar
Atau sentuhan hangat tangan di badan
Biarlah bunga mekar pada masanya
Hari berjalan seturut musimnya
Pijar cahaya senja adalah sebuah harap
Bila kau masih mau menautkan tangan
Tuk melangkah bersama
Senja itu bisa menjadi rumah kita
Perjumpaan
Hari panas
terik, Awan bergerak begitu cepat disapu angin seakan mengikuti padatnya
kegiatan suatu asrama mahasiswa di kota Malang.
"Bram, aku
mau ke rumah Nia dulu, kalau ada teman atau siapapun mencari aku, tolong
beritahu mereka soal kepergianku."
"Oke,
Yan," kataku pada Iyan, sahabatku.
Iyan, berasal
dari kota lain, aku pun juga, berkumpul di sini, di sebuah asrama. Aku dan Iyan
juga belasan teman yang lain dipersatukan di sini. Kami adalah mahasiswa yang
tinggal di asrama dan kuliah di kampus yang sama. Dengan Iyan lah aku sering
bermain gitar, menyanyikan lagu apa saja yang melintas di hati, tak terkecuali
lagu-lagu untuk orang yang dimabuk asmara. Kadang tawa mengiringi di saat-saat
main musik. Musik bagi akui dan Iyan adalah sarana untuk mengekspresikan diri
juga ungkapan hati. Dan dengan Iyan aku menemukan teman berbagi cerita.
Waktu terus
berlalu sampai kemudian Iyan mengenal Nia, seorang gadis yang banyak
diperbincangkan di antara kami. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Kata Iyan,
ibu Nia mempunyai usaha jahitan yang cukup laris. Karena jahitannya rapi dan
pesanan selalu bisa diselesaikan tepat waktu. Iyan dan beberapa teman juga
menjahitkan baju di situ. Selain juga seorang ibu yang ramah dan baik hati.
Kudengarkan saja mereka memperbincangkan tentang ibu dan anak itu dengan
pikiran masa bodoh.
Pagi yang cerah.
Angin semilir membelai kulit, terasa
sejuk segar. Kota Malang ini memang termasuk kota yang sejuk. Jujur aku kerasan
tinggal di sini, kota yang kujadikan rumah keduaku. Yang pertama tentu saja
kampung halamanku, Kediri. Bahkan aku pernah berharap bisa menghabiskan masa
tuaku di sini. Selain sejuk, penduduknya juga ramah-ramah.
"Ayo Bram, kita ke rumah Nia, " ajak
Iyan mengagetkanku yang sedari tadi ssyik membaca novel.
"Ngapain?"
"Kamu akan
kukenalkan dengan Nia, gadis pujaanku."
Walau malas,
demi melihat raut mukanya yang menghendaki aku ikut, kuturuti juga permintaan
itu.
"Aku
Bram," kucoba memperkenalkan diri.
"Nia",
sapa gadis lembut itu.
"Saya Bram,
Bu," kataku kepada ibu Nia.
"Duduk,
Nak."
"Baik, Bu,
terimakasih."
Kulihat ibu Nia
membuatkan teh. Satu diberikan pada Iyan. Dan satu untukku.
Aku duduk di
kursi dekat dinding. Kurasakan penerimaan yang hangat dari keluarga ini. Nia
seorang yang ramah juga periang. Aku melihatnya dari kejauhan, dari tempat
dudukku. Ia sedang berbincang akrab dengan Iyan.
Hari terus
beranjak seiring dengan aneka macam kegiatan kampus dan kisah-kisah
percintaan teman-temanku di asrama.
Empat tahun sudah kami tinggal bersama di asrama. Banyak kenangan tercipta,
meninggalkan kenangan kebersamaan yang indah. Setelah wisuda sarjana kami satu angkatan keluar dari asrama
menggapai hidup dan masa depan masing-masing. Aku dan Iyan pun berpisah. Entah
di mana dia sekarang aku tak tahu. Kuhubungi ponselnya sudah tidak aktif lagi.
Sementara aku aku masih tinggal Malang, mengontrak rumah sederhana. Aku masih
ingin banyak menghirup udara segar di kota ini. Namun tak lagi aku bertemu
dengan Nia, kekasihnya itu. Bahkan dua tahun terakhir sebelum kelulusan, Iyan
tak pernah lagi bercerita soal Nia, aku pun tak menanyakan. Semua seperti telah
lemyap di telan oleh waktu.
Pagi yang cerah.
Pimpinanku mengadakan rapat kerja tentang pengembangan usaha. Kami berdiskusi
banyak hal, hingga di tengah-tengah rapat.
"Pak Bram,
Pak Bram saya pindah ke Makassar untuk memajukan cabang kita di sana.”
Aku sedikit
terkejut mendengarnya namun kemudian aku berpikir tidak ada seorangpun yang
memberatkanku untuk tetap tinggal di sini. Aku juga ingin menikmati suasana
baru. Mungkin Makassar akan memberiku warna baru bagi hidupku. Maka kutrima
tugas itu.
“Baik, Pak, saya
siap."
"Bagus,"
pimpinanku memuji.
"Pak Bram
berangkat minggu depan. Ada waktu satu minggu bagi Pak Bram untuk bisa
menyiapkam diri.”
“Baik, Pak.”
Senja yang ramai,
aku berjalan-jalan menikmati suasana kota. Tak lama lagi aku akan meninggalkan
kota Malang ini. Kucoba menikmati lampu-lampu kota yang berpijar cerah,
orang-orang yang lalu lalang, bangunan-bangunan yang menjulang dan megah. Di
ujung jalan, kulihat satu keluarga duduk bersama menikmati makanan sambil
bercengkerama. Indah kota ini.
Aku terus
berjalan melihat apa saja yang terjadi di sekitarku, dan tanpa sengaja pundakku
bersentuhan. Kulihat seorang gadis. Aku sejenak mengingat gadis ini, sepertinya
kenal.
"Nia?"
"Mas
Bram?"
"Hai,
bagaimana khabarmu kini, lama ya kita tidak bertemu."
"Iya, Mas,
sejak Mas Bram ke rumahku bersama Mas Iyan belasan tahun lalu, kita nggak
pernah ketemu lagi"
Mendengar nama
Iyan disebut, aku jadi penasaran.
"Oya,
bagaimana kabar Iyan, aku lama nggak kontak?"
"Panjang
Mas."
"Gini-gini,
ayo kita ngobrol di cafe itu."
Kulihat ada cafe
di pinggir jalan. Nia kuajak ke situ. Setelah memesan minuman dan makanan
ringan, kutatap mata Nia, kubiarkan dia melanjutkan ceritanya.
Ia bercerita
bahwa ia sempat meninggalkan Iyan tanpa pesan dua tahun sebelum kelulusannya,
karena ajakan orangtua pindah ke kota lain. Di kota lain ini, ada seorang
laki-laki yang mendekatinya. Berat rasanya menerima kehadiran lelaki ini karena
bayangan tentang Iyan masih terus muncul dibenaknya. Hatinya masih merindukan
kehadiran Iyan dalam hidupnya. Tapi apa daya, jarak yang jauh membuat ia tak
tahu khabar Iyan. Akhirnya ia menerima hati lelaki ini yang akhirnya
menikahinya dan memberinya tiga orang
anak. Jaman semakin berkembang, lewat media sosial ia bisa bertemu dengan Iyan lagi, dengan status Iyan pun sudah punya
istri dengan seorang anak. Cinta yang tumbuh di masa remaja yang sempat
terputus itu terjalin lagi. Beberapa kali Iyan mengunjunginya. Ia bahagia, walaupun
sekarang punya kehidupan sendiri sendiri, ia bisa masih bisa manjalin hubungan
dengan Iyan, sekedar mengetahui khabarnya, sekedar memberi perhatian kecil
padanya, itu sudah cukup.
"Mas Bram,
aku sekarang kembali lagi ke Malang bersama suami dan anak anakku. Mama
menyuruhku ke Malang untuk meneruskan usaha jahitan mama. Lagi pula rumah mama
di Malang ini belum di jual. Maka aku pindah di sini, sudah satu tahun ini, dan
tanpa sengaja bisa bertemu Mas Bram di sini."
Kudengarkan
cerita Nia penuh perhatian. Aku jadi mengerti mengapa dua tahun sebelum
kelulusan Iyan tak pernah membicarakan mengenai Nia lagi. Rupanya Nia pindah
keluar kota tanpa pemberitahuan. Pantas wajah Iyan terlihat sedikit murung
waktu itu. Namun tak sedikitpun Iyan mau bercerita padaku. Sepertinya ia ingin
menyimpan hal ini sendiri. Tak apalah, kurasa Iyan sekarang sudah senang lagi
bisa bertemu Nia kembali.
"Minumlah
dulu juice alpokatmu, dari tadi tak tersentuh, " kataku.
Lalu kita
tertawa bersama-sama. Ada senyum indah di wajahnya. Pantas Iyan dulu begitu
menyukai Nia , gadis ini mempunyai sisi kecantikan yang berbeda dibandingkan
gadis lainnya.
"Nia,"
kataku kemudian.
"Senang aku
bisa bertemu kamu kembali. Senang juga aku dahulu di ajak Iyan berkunjung ke
rumahmu. Seperti mendapat anugerah aku bisa bertemu kamu lagi. Tak kusangka
kita bisa bertemu kembali di sini. "
"Ah, Mas
Bram terlalu memuji."
"Bukan
memuji, tapi benar, senang bisa bertemu kamu kembali.
Aku harus
berterima kasih kepada Tuhan atas semuanya ini."
"Sudah,
cukup Mas, nanti aku ge-erlho?"
Aku tertawa.
"Heh, itu
kenyataan hatiku. Tapi Nia, aku bisa bersamamu di sini hanya sebentar
saja."
"Maksud Mas
Bram?"
"Kurang
enam hari lagi aku akan pindah kerja di Makassar. Aku dipindah ke kantor cabang
sana, entah sampai kapan aku belum tahu."
Terlihat mulut
gadis itu membulat.
"Boleh aku
minta nomor teleponmu, agar kita bisa saling kontak?"
Nia mengangguk
lalu memberikan nomor telepon selulernya, begitupun aku .
"Dan, mau
nggak...." aku menatapnya.
"Kamu
menemaniku menikmati kota Malang ini sebelum aku pindah ke Makassar?"
"Oh...dengan
senang hati Mas"
"Malam hari
sebelum aku berangkat ke Makassar,
temani aku ya?"
"Ketemu
dimana, Mas?"
"Taman
kota."
"Baiklah."
"Makasih,
Nia."
Nia tersenyum
lagi, dengan sangat manis, senyumnya seperti merontokkan hatiku. Ada debar
muncul, rasa kedekatan juga, sepertinya aku tak ingin kehilangan dia.
Hari-hari
sebelum pertemuan aku menjalin kontak dengan Nia melalui pesan WhatsApp. Dia
bercerita banyak tentang Iyan, tentang kerinduan-kerinduannya, tentang
pertemuan-pertemuannya, tentang
perjuangannya dalam memperoleh rejeki karena dia seperti menjadi tulang
punggung keluarga. Suaminya bekerja tapi hasil jauh dari cukup. Setiap pagi dia
lembur menjahit. Kadang dia menangis. Selama ini hanya Iyan yang mampu mengerti
dirinya.
Aku
mendengarkannya dengan penuh perhatian. Menghibur dan memposisikan diriku
sebagai seorang kakak.
Dan rasanya aku
semakin larut dalam kedekatan padanya. Aku merasa hariku ada yang mengisi. Di
pagi hari kadang aku berdoa untuk mengucap terimakasih kepada Tuhan karena
kehadirannya.
Nia, terimakasih
ya atas kehadiranmu di hatiku.
Pukul tujuh
malam, aku dan Nia bertemu di taman kota. Ia terlihat sangat cantik. Di taman
itu terdapat bangku-bangku untuk duduk. Kuberanikan diri untuk mengandeng
tangannya menuju tempat duduk itu. Ada semacam desiran mengalir dari tangannya
menuju hatiku.
Aku dan Nia
duduk. Aku belum bisa berkata apa-apa karena masih mengenali dan meredam
gemuruh di dalam hatiku.
"Nia?"
"Ya,
Mas"
"Bolehkah
aku berterus terang?"
Nia mengangguk.
"Mengapa
aku merasa begitu dekat dengan dirimu ya ?"
Nia terkekeh.
Bola matanya menyipit.
"Iya benar,
padahal kita baru saja bertemu tapi rasanya aku sudah begitu dekat dengan
dirimu."
"Hehehe,
sama mas, aku pun juga merasakan seperti itu."
"Benarkah?"
Nia tersenyum
manis. Aku merasa bahagia mendengar itu.
Aku merangkul
pundaknya. Ia tak menolak. Rasanya ada kehangatan mengalir dari jiwaku
untuknya. Aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Aku mengajaknya
bangkit. Di taman itu di sediakan kereta yang berputar mengelilingi taman kota.
Aku ajak Nia naik kereta itu. Indah rasanya duduk berdua dengannya dengan
tangan yang saling menggengam.
Lalu kita turun,
mengabadikan foto berdua.
Kita duduk lagi
dan berbincang banyak hal. Malam semakin larut. Sebelum berpisah aku memandang
wajahnya lalu menggengam erat satu tangannya.
"Nia,
bolehkah aku mencintaimu?"
Nia memandangku, tersenyum manis, lalu meletakkan
tangan kanannya di atas kedua tanganku yang memegang erat tangan kirinya.
Aku mencium
kedua pipi dan keningnya. Tak ada jawaban dari mulut manisnya tapi entah,
bahagia itu menyeruak memenuhi ruang batinku.
Pagi itu aku
sudah berada di dalam pesawat. Ada kesunyian menyelimutiku. Kebersamaan dengan
Nia semalam terus melintas dalam pikiranku.
Tuhan,
terimakasih untuk waktu yang tlah kau sediakan bagiku untuk bertemu Nia dan
menikmati kebersamaan dengannya.
Nia, maafkan aku
yang lancang mencintaimu. Aku tahu engkau mencintai Iyan. Dan Iyan pun
mencintaimu. Walau perih, aku rela cukup kau jadikan aku teman pengiring
langkahmu bersama dia.
Jarum jam
menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika pesawat mendarat di Bandara Hasanudin,
Makassar. Aku melangkahkan kaki keluar, menuruni tangga pesawat. Hawa segar menerpa wajahku.
Semua nampak
baru.
Makassar, semoga
engkau memberi semangat baru, harapan baru bagi pencapaian mimpi-mimpiku. Suatu
saat ijinkan aku untuk pulang kembali ke Malang. Di sana mungkin Nia
menungguku.
AYAHKU
Selain ibu, aku mengenal sosok yang
paling dekat dengan diriku, ialah ayah. Ada banyak yang bisa aku katakan
tentang ayahku.
Ayahku adalah seorang yang sederhana.
Sebagai seorang yang tinggal di desa, kegiatan sehari-hari ayahku adalah pergi
ke ladang, menanami ladang dengan aneka tanaman yang suatu saat diharapkan bisa
dipanen dan hasilnya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehari-hari ayah
berpakaian sederhana dan bercengkerama dengan tetangga atau siapapun yang datang
atau ditemui. Namun dalam kesederhanaannya, aku melihat ayah sebagai sosok yang
aku kagumi,
Awal-awal ayahku bekerja sebagai buruh
tani pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Namun lambat laun dari hasil
tabungan, ayahku mulai bisa membeli ladang. Kini ayahku mempunyai dua ladang yang
ditanami bermacam-macam tanaman secara bergantian, mulai lombok, jagung, tebu,
nanas, kacang tanah, ketela rambat dan lain sebagainya. Aku melihat ayah
sebagai seorang yang bekerja keras. Ketika hari telah siang di saat petani yang
lain sudah pulang, ayah sering masih bekerja. Pulang ketika matahari sudah
berada di ubun-ubun kepala, lalu makan dan istirahat. Sore hari kembali lagi ke
ladang sampai hari hampir petang. Ibu sering bilang sebenarnya pekerjaan di
ladang sudah selesai, tetapi ayah selalu saja mencari-cari pekerjaan, entah membersihkan
rumput yang mengganggu tanaman, entah menambahi tanah pada pangkal tanaman yang
tanahnya berkurang karena terbawa air hujan, atau menanam tanaman-tanaman
sampingan yang menghasilkan panenan. Itulah ayah, seorang yang rajin bekerja.
Di sela kesibukannya berladang, ayah memelihara
hewan ternak berupa kambing atau kadang sapi. Ia seorang yang telaten dalam
memelihara hewan ternak. Biasanya ayahku mencari rumput untuk makanan kambing
atau sapi sepulang dari pekerjaannya di ladang. Jadi ketika pekerjaan di ladang
sudah selesai, ayahku tidak langsung pulang tetapi langsung mencari rumput atau
dedaunan untuk makanan kambing atau sapi baru kemudian pulang ke rumah. Untuk
sapi, ayah bukan hanya memelihara, membuatkan kandang bagi hewan ternak itu tetapi
setiap pagi ayah menyapu kandang, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran hewan
itudan rumput-rumput sisa makanan yang tercecer sehingga kadang selalu terlihat
bersih. Selain menyediakan makanan, ayah juga memberi minuman berupa air yang
biasanya dicampur dengan garam, diletakkan dalam sebuah timba.Saat musim kawin,
sapi betina dikawinkan dengan sapi jantan. Dari sanalah lahir anak sapi yang
juga menjadi keuntungan kita. Tak lupa bila badan sapi terlihat kotor oleh
kotorannya sendiri, ayah memandikannya.
Demikian pula dengan hewan kambing, selalu ayah menyediakan makanan yang cukup.
Anak-anaknya yang lahir bila susah menyusui, dibantu dengan memegang induknya agar
tak lari ketika anak-anaknya menyusu pada induknya sehingga anak kambing bisa
menyusu dengan tenang dan kenyang. Pernah suatu ketika ada kambing yang sakit
pada telinganya, semacam tumbuh kudis, ayah dengan telaten mengolesi telinganya
dengan obat yang diracik sendiri sampai akhirnya menjadi sembuh. Di tangan
ayah, kambing yang dibeli dalam keadaan badan kurus, berangsung-angsur menjadi
gemuk dan berbadan bersih.Sapi dan beberapa kambing ini dijual bila
sewaktu-waktu ada kebutuhan mendesak atau bila perlu tambahan uang untuk suatu kebutuhan.
Dalam membina hubungan pernikahan dengan
ibu, tentu saja ada kalanya ada ketidakcocokan sehingga menimbulkan
pertengkaran. Tetapi ayah dan ibu tidak terlalu lama saling berdiam. Ayah tetap
melakukan tugasnya menghidupi keluarga. Pernah saat bertengkar dan belum ada
hasil panen, ayah bersama temanmencari biji kopi yang yang jatuh sehabis
tanaman kopi di panen pekerja. Sekitar enam kilo dari rumahku memang ada
perkebunan kopi yang cukup besar dan sehabis biji kopi dipanen, masyarakat diperbolehkan
kalau mau mengambili biji kopi yang jatuh tertinggal. Beberapa hari ayahku “leles
kopi,” demikian istilahnya dalam bahasa Jawa. Kopi hasil “leles” ini kemudian
dijual, uangnya digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lain. Demikian
ayahku tetap bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Suatu kali musim kemarau tiba dan air
yang mengalir ke bak penampungan air desa jarangmengalir. Di desaku memang dibangun
bak penampungan air yang cukup besar untuk penduduk desa. Masyarakan desa
mengambil air dari bak penampungan itu untuk kebutuhan sehari-hari, baik minum,
mencuci dan lain sebagainya. Airnya berasal dari sumber air di lereng gunung
Kelud yang dialirkan melalui pipa besar ke bak penampungan itu. Pada waktu itu PDAM
belum masuk ke desaku. Masyarakat desa kemudian mengalami kesulitan mendapatkan
air. Ayah dengan berjalan kaki sambil memikul dua tong wadah air berkeliling ke
desa desa tetangga untuk mencari air. Air masih bisa diperoleh dari sumur warga
di desa-desa sebelah. Orang-orang desa, rata-rata berhati baik, mereka
mempersilahkan saja siapapun yang mau mengambil air dari sumurnya.
Ayahku juga seorang yang pandai memotong
rambut. Kalau rambutnya panjang, ayah tak pernah pergi ke tukang potong rambut.
Dengan bekal dua cermin di depan dan belakang, ayah memotong rambutnya sendiri.
Oleh karena itu di masa kecilku, bila rambutku sudah panjang, ayah sendiri yang
mencukur rambutku.
Ayahku juga bisa marah bila aku nakal,
pernah ayah mengguyur badanku dengan air karena kenakalanku. Tapi ia tak pernah
memukulku. Ia termasuk seorang yang sabar.
Dulu, di masa kecilku, jarang sekali
anak-anak bermain dengan permainan yang dibeli dari toko. Kita biasa
menciptakan permainan sendiri dari hal-hal yang ada di sekitar. Kita membuat
mobil-mobilan dari kulit jeruk, membuat sepotong bunga tebu bisa melayang dan
berdengung dengan memutarnya menggunakan benang, membuat mainan senapan dari
batang daun pisang dan lain sebagainya. Suatu ketika aku baru saja sembuh dari
sakit, sakit pada selangkanganku, susah untuk dibuat jalantetapi aku melihat
temanku bermain. Dia membuat mainan dari kayu yang dirangkai membentuk mobil
mobilan. Dia masuk pada rangkaian itu seperti sedang mengendarai mobil. Aku
ingin dibuatkan mainan seperti itu. Ibu melarangkukarena aku masih sakit tetapi
aku merengek, lalu ibu meminta ayah membuatkan. Akhirnya ayah membuatkan aku mainan seperti yang dibuat temanku, aku
senang.
Masih kuingat juga saat kecil, aku diajak
ayahku ke rumah saudaranya di desa Ngancar, Kediri karena saudaranya menikahkan
anaknya. Ayahku sebenarnya penduduk asli Ngancar, hanya pada waktu itu ayahku
keluar dari desa Ngancar untuk mencari kehidupan yang lebih baik akhirnya
menetap di Dusun Sumbersuko, Desa Asmorabangun, Kecamatan Puncu, Kediri, dimana
ayah bertemu ibu, menikah lalu mempunyai anak aku dan dua adikku. Di tempat
saudara ayahku di desa Ngancar aku dulu sering memandangi jalan desa di depan
rumah. Sekarang ketika aku sudah besar dan bermain ke rumah saudaraku di
Ngancar saat lebaran Idul Fitri, aku sering teringat ini jalan yang dahulu di
masa kecilku sering aku pandangi.
Satu hal yang kuingat juga dari
kehidupan orang-orang desa di masa kecilku. Ayah, ibu dan tetangga-tetangga di
depan rumah, kanan maupun kiri di malam hari sering duduk-duduk di depan
pelataran rumah untuk mengobrol apapun itu. Sementara aku yang masih kecil
bersama teman-teman bermain di bawah terang sinar rembulan, sambil menyanyi
lagu Jawa “Padang Bulan.” Sungguh suatu kenangan indah pada masa kecil. Aku hanya
merasakan suatu keakraban dan persaudaraan yang hangat dengan
tetangga-tetangga. Berbeda jauh dengan sekarang, Sekarang ini orang cenderung
tinggal di rumah bermain handphone atau sibuk dengan urusannya sendiri.
Ayahku juga seorang yang ramah, yang
menyambut siapapun yang datang entah tetangga, saudara atau siapapun dengan
tangan terbuka. Ia selalu bisa mengimbangi “obrolan.” Suasana menjadi cair dan
penuh persaudaraan. Saudara-saudaraku senang datang ke rumahku karena keramahan
ayah juga ibuku. Karena itulah sampai sekarang bila ada saudara-saudaraku dari
jauh datang berkunjung ke kerabatku, keluargaku sering menjadi tempat pertama
yang dituju, sebelum ke rumah-rumah saudaraku yang lain.
Sekarang ayahku sudah tua, rambutnya
sudah memutih, sehari-hari hanya banyak bisa berbaring di tempat tidur karena
penyakit paru-paru yang dideritanya. Untuk makan sedikit saja nafas terasa
sesak, jadi makan sedikit berhenti lalu makan lagi, berhenti dulu lalu makan
lagi, seperti itu. Tubuh dipakai untuk berjalan ke kamar mandi saja nafasnya
tersengal-sengal, kadang harus berhenti dahulu baru berjalan lagi. Badannya
agak bengkok karena sejak muda hidupnya susah, mencangkul ladang, bekerja keras
untuk memcukupi kebutuhankeluarga. Bahkan sebelum menikah dengan ibu, ayah
sudah bekerja keras menghidupi adik-adiknya. Itulah mengapa sekarang badannya
menjadi rapuh karena kerja kerasnya sejak masih muda. Ayah sering bilang ingin masih
bisa bekerja di ladang namun raganya sudah tak mampu lagi.
Sekarang aku tinggal di kota Gresik
bersama istri dan dua anakku. Pulang ke rumah orangtua di kampung halaman
rata-rata sebulan sekali. Di kampung halaman ada adikku perempuan bersama suami
daan kedua anaknnya, yang sebelumnya tinggal di Malang rela pindah ke rumah
agar bisa menjaga ayah dan ibu. Satu hal yang ingin aku katakan pada ayah
adalah aku bangga punya ayah seperti
dia. Kerja keras dan perjuangannya, tanggung jawabnya, keramahtamahannya pada
semua orang yang membuat siapapun yang bertamu menjadi nyaman menjadi sosok teladan
bagiku untuk bisa menjadi seperti ayah. Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga
ayah, aku bangga sebagai anaknya dan aku mencintai ayah.
Senin, 13 Februari 2023
APA YANG POKOK DALAM HIDUP INI
Apa yang pokok dalam hidup ini ?
Pekerjaan ? tidak.
Karena pekerjaan bisa saja kita tinggalkan sewaktu-waktu.
Kurasa yang pokok adalah berdiri tegak dengan kedua kaki sendiri menggapai mimpi diri dimana saja untuk kepenuhan diri sendiri.
Minggu, 12 Februari 2023
Rabu, 08 Februari 2023
SEORANG PERSONALIA
1. Seorang Personalia harus mempunyai kewibawaan diri agar bisa meminpin dan mengkoordinir karyawan
2. Seorang Personalia harus seorang yang kuat dalam jiwa
Kamis, 19 Januari 2023
Pengaduhan
Deandra bersimpuh. Kepalanya menunduk
"Tuhanku, Engkau adalah tempat aku bertanya untuk menemukan sebuah jawaban. Jawaban bagaimana aku harus bersikap terhadap sebuah keadaan karena aku percaya hidup ini Engkau yang mengatur, dan bilamana aku berjalan pada jalan yang Kau kehendaki, semuanya akan baik.
Tuhan, bagaimana aku harus bersikap terhadap Dani di tengah banyak orang yang mengharapkannya.
Peganganku
Keadaan di luar kadang atau bisa saja mengombang-ambingkanku. Tapi aku akan berusaha teguh untuk menjadi diriku sendiri yang wellcome, pengayom dan kakak dalam perjalanan hidup ini
Rabu, 18 Januari 2023
Keinginan
Langit sore mempertontonkan keindahannya.
Sutrisna duduk di bangku teras rumah memandang alam yang terbentang di hadapannya.
Pikirannya menerawang.
Apa yang kurang dariku?
Tak ada
Karena aku sudah mendapatkan semua yang kuinginkan.
Aku pun juga teguh menjadi diriku sendiri
Jadi tak ada lagi yang kupinta.
Kini aku hanya ingin mencintai.Dewanti.
.
Rabu, 04 Januari 2023
Buket Mawar Putih
Hari panas terik ketika Wardhana mengendarai sepeda motor tuanya. Sudah tiga
jam ia berada di atas sepada motornya dari kotanya menuju kota yang diberi
julukan orang sebagai Kota Beriman. Ia
menghentikan laju sepeda motornya ketika
dia mendapati tempat yang sejuk dan di sepanjang jalan berderet rombong-rombong
penjual.
Takat memarkir sepada motornya dan mendatangi
salah satu rombong itu..
“Pak, beli es ya? rasa durian, leci, degan, bisa
dijadikan satu, Pak?”
“Bisa, Nak,” kata lelaki penjual es itu.
“Duduk, Nak!” katanya menambahkan
Cahaya matahari begitu menyengat kulit.
Beberapa daun kering berjatuhan, sama seperti impiannya tentang sebuah keluarga
yang jatuh berguguran.
Sudah empat bulan ini ia tinggal di kost
setelah diusir keluar rumah oleh Frada, istrinya, hanya gara-gara hal yang
sepele dan selama tinggal di kost, ia banyak dibantu dan diteguhkan oleh Ani
Setyawati, temannya. Dan ini kedua kalinya Takat ingin menjumpai temannya itu.
“Ini, Nak?” penjual itu memberikan segelas es
yang ia pesan.
“Terimakasih, Pak.”
Segera Takat meminumnya. Rasa haus terobati. Angin
sepoi-sepoi menerpa kulitnya. Terasa segar.
“Sudah sampai mana Mas?”
“Sudah sampai Jombang kota.”
“Kita ketemu di Taman Kota saja ya Mas?”
“Baik.”
***
Malam itu cahaya lampu-lampu kota berpendar
indah.
Takat Dewandara dan Ani duduk berdekatan menikmati
malam di taman kota.
“Dahulu
suamiku memberikan aku sebuket bunga, isinya bunga mawar berwarna putih semua.
Aku senang sekali,” Ani membuka pembicaraan
“Sebentar lagi kamu ulang tahun, kam ingin
hadiah apa ?”
“Bawakan aku sebuket bunga mawar putih, aku
ingin engkau menjadi orang terakhir yang memberikan bunga mawar putih kepadaku.”
“Cintai
aku seperti kamu mencintai ibumu.” Ani menggenggam kedua tangan Takat sambil
memohon. Takat memandang Ani sejenak, kemudian mencium kening kekasih hatinya
itu.
“Pasti An.”
aku ingin engkau mengikatku, karena banyak
lelaki yang mendekatiku.
“Jo. selamat ulang tahun ya. Kuberikan padamu
kalung, cincin dan gelang ini kuberikan padamu sebegai tabnda ikatan kita bahwa
aku mencintaimu
Jo, menggenggam kedua tangan Joani,
memandangnya dengan penuh kesunggugan:
“Jo, kamu telah banyak menemaniku, membantuku
di saat aku mengalami kesulitan ekonomi, setia padaku walau banyak lelaki
mendekatimu. “sampai kapanpun aku akan sayang kamu.”
Mereka kemudian menikah walau dalam
kesederhaan. Dengan kerja keras Takat berhasil membeli tanah, kemudian
membangun rumah walau sederhana. Di samping rumah masih ada tanah kosong. Joani
menanaminya dengan aneka buah-buahan, dan bunga. Takat menanam bunga mawar
putih di depan rumah.
“Jo, bunga mawar putih ini adalah lambang
cinta kita.
Berkat cinta mereka dikaruniai 2 anak kembar. Yang laki diberi nama Putra Kusuma
Wardhana dan yang perempuan diberi nama Putri Kusuma Wardhani. Anak-anak itu
tumbuh dalam kegembiraan
SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA
Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...
-
ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama...
-
Aku mempunyai banyak angan-angan dan kerinduan 1. Aku ingin mempunyai gallery seni yang di dalamnya ada cafe dan bookstore Gal...
-
Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpiki...

