Peterpan memandang mantan ceweknya dengan sewot. Thinkerbell, si mantan itu tengah asyik berduaan dengan cowok barunya, sesekali bibir cewek itu manyun-manyun dengan genit. Wendy si cowok baru juga dikenal baik oleh Peterpan. Telinga Peterpan yang caplang itu bergerak-gerak. Mulutnya komat-kamit. Bukan untuk membaca mantra, tapi sekedar mincar-mincur mengumpat kenyataan di hadapannya. Huh! Kamu sama aku kan gantengan aku, masa sih cewekku bisa jatuh cinta? Sampai kebirit-birit ninggalin aku demi kamu, geram kurcaci berbaju hijau yang kerap diejek teman-temannya Kolor Ijo itu.
Kolor Ijo eh salah, Peterpan, mulai menyusun siasat untuk mengerjai Wendy, cowok baru Thinkerbell. Digebernya sepeda motor GL-Max membuntuti dua sejoli yang sedang naik angkot itu. Ciiiiiiiit!!!! Hampiir saja kena semprit Pak Polisi kalau saja Peterpan tak melihat lampu merah di perempatan jalan itu. Gemeees rasanya melihat mantan pacarnya itu lolos melenggang dalam angkot yang ditumpanginya. Sebenarnya jauh-jauh hari, Peterpan sudah menyiapkan perangkap berupa lubang-lubang berair comberan pada aspal yang sengaja dia tutupi dedaunan kering. Mbok ya ooo kamu nanti kejungkel disini Wen, Wendy. Aku akan datang sebagai superhero menyelamatkan Dhik Thinkerbell. Dengan begitu pasti dia akan kembali menyerah dalam pelukanku. Peterpan terkikik membayangkan bakal mendapat rejeki itu.
“Kamu ngapain to?” tiba-tiba Peterpan dikejutkan oleh sesuatu benda berat yang nangkring di boncengan motornya. Terasa roda depan motornya seperti agak njomplang ke atas.
“Lo sampeyan siapa Mbah? Kok ndak bilang-bilang kalau mau numpang gitu lo. Saya kan jadi kaget.”
“Hush! Sembrono kamu. Masih cakep gini dipanggil Mbah. Kenalken, aku Peri Marry. Aku akan membantumu untuk melakukan apa saja rencanamu. Jangan kesusu-susu sekarang. Ayo pulang dulu. Nanti tak messenger ya.Hape ku baru lo.Kita musyawarah. Besok baru kita jalankan rencana kita. “ Peterpan mengintip kaca spion. Mbah gendut ini gayanya aneh juga. Pakai gaun mekar mirip Cinderela, rambutnya disemir coklat terang, pake kacamata hitam pula.
Belum sempat Peterpan menanyakan darimana asal muasal wanita gendut itu. Bagaimana ceritanya kok bisa dia tiba-tiba bertengger di boncengan motornya, dan siapa tadi namanya? Marry atau Meri? Kepanjangan namanya Will You Marry Me atau Meri Krismas? Peterpan geleng-geleng kepala dengan bingung karena wanita gendut itu tiba-tiba sudah mak bleber mabur entah kemana.
Entah bagaimana kelanjutan musyawarah itu, yang jelas, Peterpan dengan pedenya kembali menggeber sepeda motor GL-Max nya demi dilihatnya Thinkerbell naik angkot lagi dengan Wendy.
Aku harus mendapatkanmu lagi Dhik Think, begitu tekadnya.
Tiba-tiba angkot berhenti. Sepertinya mogok. Kedua sejoli itu keluar sementara Pak Sopir mengeluarkan perkakas. Oooh ban meletus. Dan celakanya, Pak Sopir itu justru nggak bisa memperbaiki mobilnya sendiri. Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan melalui perundingan yang alot dengan tawar-menawar pula, Wendy yang ternyata lulusan STM Mesin itu turun tangan. Peterpan menyeringai. Asyiik! Sesuai rencanaku.
Peterpan mendekat, pura-pura menanyakan apa yang terjadi. Sementara Thinkerbell ketakutan melihat Peterpan datang dengan kostum hijau-hijau begitu. Padahal biasanya warna-warni, kadang pula warna soft kesukaan Thinkerbell.
“Mau kemana sih Dhik Think, kok setiap hari, Abang tau kamu naik angkot? Masa cewek sebahenol kamu naiknya angkot sih.” Peterpan mulai merayu.
“Anu Bang, aku mau pergi kursus kecantikan.”
“Lho, masa pacarmu itu juga ikut kursus kecantikan?”
“Ya ndak to. Dia Cuma ngantar aja. Dia itu perhatian lo sama aku.” Thinkerbell sedikit ngece.
Entah bagaimana rayuan gombal si Peterpan itu kok bisa-bisanya, Thinkerbel mau dianterin Peterpan menuju tempat kursus.
Jadilah mereka kejar-kejaran lagi. Si Wendy mengejar Peterpan yang boncengin ceweknya secara tidak hormat dan tanpa seijinnya selaku pemilik terkini. Secepat kilat Peri Meri Krismas atau Marry apalah itu mengayunkan tongkat sihirnya. Cling! Tiba-tiba ada kubangan air di depan angkot yang ditumpangi Wendy menyebabkan roda depan terperosok. Bocor lagi...
Wendy didera mangkel bertegangan tinggi. Dia turun dari mobil lalu nyaut sepeda onthel milik orang yang lagi parkir buat beli koran. Walau diteriak-teriakin tapi Wendy nggak peduli. Demikian pula dengan Peterpan. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, menjadikan Thinkerbell mengeratkan pegangan ke perut Peterpan.
Aah lampu merah di depan itu! Siaaal. Peterpan melirik spion, kelihatan Wendy mengejar dengan ngos-ngosan naik sepeda onthel. Peterpan panik, hampir terkejar nih. Sementara Thinkerbell sudah sedari tadi tertidur karena semriwing angin yang menerpa wajahnya waktu GL-Max berlari dalam kecepatan tinggi tadi.
Peri Meri Krismas yang berdiri diatas lampu lalu lintas kelihatn gemes banget dengan aksi kejar-kejaran itu. Dihentak-hentakkkannya kakinya yang gendut itu. Tiba-tiba krak! Batang lampu lalu lintas itu retak dan seperti mau pecah. Peri gendut itu tetap masih loncat-loncat dengan gemas.
Akhirnya lampu lalu lintas berwarna merah mati. Menyebabkan korslet disekitarnya sehingga lampu kuningpun ikutan mati, tinggal lampu hijau menyala padahal belum waktunya. Peterpan melet-melet dengan senang karena dengan begitu dia bisa membawa mantan ceweknya itu tanpa hambatan.
Sementara sopir angkot dan Wendy teriak-teriak memanggil Peterpan. Ternyata, dongkrak angkotnya kebawa Peterpan dengan tanpa dosa.