Jumat, 31 Mei 2019

Blog sastra gen's

Buat Akun

Nama depan : Sastra
Nama belakang : Gen's
Nama pengguna : sastragens@gmail.com
Password : yogma2210#
No hp : 085867013679
Alamat email pemulihan : dianrindi2096@gmail.com

Blog
Judul : Sastra Gen's
Alamat : sastragens.blogspot.com
Masuk dengan : https://sastragens.blogspot.com

DEMI THINKERBELL (Genoveva Dian)

Peterpan memandang mantan ceweknya dengan sewot. Thinkerbell, si mantan itu tengah asyik berduaan dengan cowok barunya, sesekali bibir cewek itu manyun-manyun dengan genit. Wendy si cowok baru  juga dikenal baik oleh Peterpan. Telinga Peterpan yang caplang itu bergerak-gerak. Mulutnya komat-kamit. Bukan untuk membaca mantra, tapi sekedar mincar-mincur mengumpat kenyataan di hadapannya. Huh! Kamu sama aku kan gantengan aku, masa sih cewekku bisa jatuh cinta? Sampai kebirit-birit ninggalin aku demi kamu, geram kurcaci berbaju hijau yang kerap diejek teman-temannya Kolor Ijo itu.

Kolor Ijo eh salah, Peterpan, mulai menyusun siasat untuk mengerjai Wendy, cowok baru Thinkerbell. Digebernya sepeda motor GL-Max membuntuti dua sejoli yang sedang naik angkot itu. Ciiiiiiiit!!!! Hampiir saja kena semprit Pak Polisi kalau saja Peterpan tak melihat lampu merah di perempatan jalan itu. Gemeees rasanya melihat mantan pacarnya itu lolos melenggang dalam angkot yang ditumpanginya. Sebenarnya jauh-jauh hari, Peterpan sudah menyiapkan perangkap berupa lubang-lubang berair comberan pada aspal yang sengaja dia tutupi dedaunan kering. Mbok ya ooo kamu nanti kejungkel disini Wen, Wendy. Aku akan datang sebagai superhero menyelamatkan Dhik Thinkerbell. Dengan begitu pasti dia akan kembali menyerah dalam pelukanku. Peterpan terkikik membayangkan bakal mendapat rejeki itu.

“Kamu ngapain to?” tiba-tiba Peterpan dikejutkan oleh sesuatu benda berat yang nangkring di boncengan motornya.  Terasa roda depan motornya seperti agak njomplang ke atas.

“Lo sampeyan siapa Mbah? Kok ndak bilang-bilang kalau mau numpang gitu lo. Saya kan jadi kaget.”

“Hush! Sembrono kamu. Masih cakep gini dipanggil Mbah. Kenalken, aku Peri Marry. Aku akan membantumu untuk melakukan apa saja rencanamu. Jangan kesusu-susu sekarang. Ayo pulang dulu. Nanti tak messenger ya.Hape ku baru lo.Kita musyawarah. Besok baru kita jalankan rencana kita. “ Peterpan mengintip kaca spion. Mbah gendut ini gayanya aneh juga. Pakai gaun mekar mirip Cinderela, rambutnya disemir coklat terang, pake kacamata hitam pula.

Belum sempat Peterpan menanyakan darimana asal muasal wanita gendut itu. Bagaimana ceritanya kok bisa dia tiba-tiba bertengger di boncengan motornya, dan siapa tadi namanya? Marry atau Meri? Kepanjangan namanya Will You Marry Me atau Meri Krismas? Peterpan geleng-geleng kepala dengan bingung karena wanita gendut itu tiba-tiba sudah mak bleber mabur entah kemana.

Entah bagaimana kelanjutan musyawarah itu, yang jelas, Peterpan dengan pedenya kembali menggeber sepeda motor GL-Max nya demi dilihatnya Thinkerbell naik angkot lagi dengan Wendy.

Aku harus mendapatkanmu lagi Dhik Think, begitu tekadnya.

Tiba-tiba angkot berhenti. Sepertinya mogok. Kedua sejoli itu keluar sementara Pak Sopir mengeluarkan perkakas. Oooh ban meletus. Dan celakanya, Pak Sopir itu justru nggak bisa memperbaiki mobilnya sendiri. Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan melalui perundingan yang alot dengan tawar-menawar pula, Wendy yang ternyata lulusan STM Mesin itu turun tangan. Peterpan menyeringai. Asyiik! Sesuai rencanaku.

Peterpan mendekat, pura-pura menanyakan apa yang terjadi. Sementara Thinkerbell ketakutan melihat Peterpan datang dengan kostum hijau-hijau begitu. Padahal biasanya warna-warni, kadang pula warna soft kesukaan Thinkerbell.

“Mau kemana sih Dhik Think, kok setiap hari, Abang tau kamu naik angkot? Masa cewek sebahenol kamu naiknya angkot sih.”  Peterpan mulai merayu.

“Anu Bang, aku mau pergi kursus kecantikan.”

“Lho, masa pacarmu itu juga ikut kursus kecantikan?”
 
“Ya ndak to. Dia Cuma ngantar aja. Dia itu perhatian lo sama aku.” Thinkerbell sedikit ngece.

Entah bagaimana rayuan gombal si Peterpan itu kok bisa-bisanya, Thinkerbel mau dianterin Peterpan menuju tempat kursus.

Jadilah mereka kejar-kejaran lagi. Si Wendy mengejar Peterpan yang boncengin ceweknya secara tidak hormat dan tanpa seijinnya selaku pemilik terkini. Secepat kilat Peri Meri Krismas atau Marry apalah itu mengayunkan tongkat sihirnya. Cling! Tiba-tiba ada kubangan air di depan angkot yang ditumpangi Wendy menyebabkan roda depan terperosok. Bocor lagi...

Wendy didera mangkel bertegangan tinggi. Dia turun dari mobil lalu nyaut sepeda onthel milik orang yang lagi parkir buat beli koran. Walau diteriak-teriakin tapi Wendy nggak peduli. Demikian pula dengan Peterpan. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, menjadikan Thinkerbell mengeratkan pegangan ke perut Peterpan.

Aah lampu merah di depan itu! Siaaal. Peterpan melirik spion, kelihatan Wendy mengejar dengan ngos-ngosan naik sepeda onthel. Peterpan panik, hampir terkejar nih. Sementara  Thinkerbell sudah sedari tadi tertidur karena semriwing angin yang menerpa wajahnya waktu GL-Max berlari dalam kecepatan tinggi tadi.
Peri Meri Krismas yang berdiri diatas lampu lalu lintas kelihatn gemes banget dengan aksi kejar-kejaran itu. Dihentak-hentakkkannya kakinya yang gendut itu. Tiba-tiba krak! Batang lampu lalu lintas itu retak dan seperti mau pecah. Peri gendut itu tetap masih loncat-loncat dengan gemas.

Akhirnya lampu lalu lintas berwarna merah mati. Menyebabkan korslet disekitarnya sehingga lampu kuningpun ikutan mati, tinggal lampu hijau menyala padahal belum waktunya. Peterpan melet-melet dengan senang karena dengan begitu dia bisa membawa  mantan ceweknya itu tanpa hambatan.

Sementara sopir angkot dan Wendy teriak-teriak memanggil Peterpan. Ternyata, dongkrak angkotnya kebawa Peterpan dengan tanpa dosa.

KEKASiH HATI (Genoveva Dian)

Titip cinta buat mu
Kekasih hati yang jauh entah dimana
Yang rindunya menggelora tanpa kenal henti
I love you

Kamis, 30 Mei 2019

ROSARIO BERUKIR NAMA (Genoveva Dian)

Laki-laki itu masih duduk menunduk. Kedua tangannya masih asyik dan sibuk merangkai butir manik-manik. Segera kutahu bahwa rangkaian itu akan dijadikannya Rosario seperti yang sudah selesai dikerjakan dan diletakkannya di meja.
Aku tertarik pada salah satu Rosario bermanik hitam, namun di tengah-tengahnya ada beberapa manik dengan warna berbeda dan berukir huruf-huruf.
Laki-laki itu menatapku ketika aku mendekat. Tanganku yang tadinya memegang Rosario buatan laki-laki itu sontak berhenti. Sedikit takut. Kami berpandangan lama. Tapi kemudian dilanjutkannya merangkai manik-manik. Acuh tak acuh dan tanpa ekspresi.

Apa kabar laki-laki pembuat Rosario itu sekarang? Bergegas kuayun langkah menuju sudut kota.
“Ini Rosario buatmu. Ada namamu disitu.” Ujarnya begitu aku mendekat. GENOVEVA, kubaca ukiran pada manik beda warna di Rosario yang diulurkannya padaku. Darimana dia tahu namaku?
“Aku kakakmu. Yang tinggal bersama Ibu begitu berpisah dengan Ayah belasan tahun lalu. Tapi aku tidak akan melupakan garis wajah mendiang Ibu yang sangat mirip denganmu.”

FLO (Kolaborasi 2)

Pertemuanku dengannya adalah ketika aku telah memakai pakaian panjang putih khas seorang Seminaris. Pertemuan yang mengawali ketidak sempurnaan cintaku. Dia gadis sederhana dengan usia dua tahun lebih muda dariku.

"Namaku Flo." Demikian ia menyebutkan namanya.

"Aku Ito."

Kami sering bersama. Entah dia yang datang ke Seminari untuk suatu hal, atau aku yang bertandang ke rumahnya karena memang kami satu Paroki dan tugas kami salah satunya adalah mengunjungi umat sebagai karya penggembalaan. Kami selalu berbagi tawa dan canda. Berempati dalam duka dan sedih. Sampai kemudian dia pergi. Pergi ke tempat yang aku sendiri tak mampu untuk mengejarnya. Benar aku jatuh cinta kepadanya, namun aku masih merasa sayang untuk menanggalkan jubahku.

Sesekali surat Flo datang, menyentuh dinding kerinduanku. Sejak saat itu aku mengidolakan tukang pos. Menanti-nanti dia datang membawa sekeping cinta dari Flo untukku. Aku benar-benar mencandu pada sapamu, Flo...

Suatu siang yang terik, surat Flo datang lagi. Kali ini aku tak sanggup menerimanya dengan penuh kerinduan. Namun kepedihan.

"Seseorang menerorku, Frater Ito. Aku disebut sebagai wanita murahan yang tak tahu diri. Yang mengganggu perjalananmu sebagai calon imam. Maafkan aku, Frater, jika mulai detik kau membaca suratku ini, aku sudah membiasakan hatiku untuk tak menyebut namamu lagi."

Aku tercenung, seperti kehilangan sebagian besar hidupku. Siapa orang yang telah lancang dan tega berbuat itu pada Flo-ku?

Berulang kali aku mengirimkan surat balasan pada Flo. Kucoba meyakinkannya akan ketulusan cintaku. Kuminta ia tegar tanpa mempedulikan hasutan orang lain. Namun tiada berbalas. Benarkah Flo telah menghapus ingatannya tentangku?

Dua hari menjelang pentahbisanku, surat bersampul putih bersih kuterima. Kubaca tulisan singkat di ujung kiri. Dari Flo, desisku dalam hati. Segera kubuka isinya. Tak sabar untuk membacanya.

"Tolong lupakan aku, Frater Ito. Dan berjalanlah engkau menurut kehendakNya."

PERTARUHAN (Kolaborasi 1)

Sinta dan Sekar selalu bersaing. Semua orang tahu hal itu. Keduanya sudah bersama sejak masih kecil. Apapun yang dimiliki Sekar, Sinta selalu menginginkannya. Apapun yang dipunyai Sinta, Sekar pun berusaha mempunyai hal yang sama. Sekalipun begitu,mereka tumbuh bersama tanpa perselisihan dan pertengkaran. Mengenai sifat, mereka berdua jelas berbeda. Sinta lebih keibuan dan kemayu, sedangkan Sekar tomboy dan tegas. Postur tubuh Sinta seksi dan semampai. Ditambah kegemarannya berdandan membuatnya semakin tampak sempurna. Sedangkan Sekar bertubuh sedikit pendek dan gemuk. Wajahnya jarang sekali terpulas makeup namun tetap tampak sedap dipandang. Dan yang lebih menandai mereka lagi adalah, mereka berdua sama-sama bekerja sebagai Sekretaris di sebuah perusahaan ternama.

Suatu hari Sinta dan Sekar datang di kantor hampir bersamaan.  Sama-sama terlambat. Sinta segera turun dari sepeda motor maticnya kemudian menepuk-nepukkan tisu di wajah penuh riasannya demi menghilangkan keringat yang menitik di atas bibir dan dahinya sementara Sekar yang datang dengan sepeda gunungnya, melangkah dengan penuh percaya diri. Sesekali nafasnya yang ngos-ngosan membuatnya berhenti beberapa saat sambil mengelap peluh di wajahnya dengan sapu tangan handuk yang selalu ditentengnya kemanapun dia pergi. Tiba-tiba  Wahyu, pemilik senyum terdingin di perusahaan itu melintas. Berjalan melewati Sinta dan Sekar yang sedang terburu-buru. Mereka sejenak berpandangan. Lalu berjalan bertiga menuju lift.

Berdiri bersebelahan dalam ruangan sempit  lift bersama Wahyu menciptakan kebisuan yang paling senyap. Aku akan mendapatkan pria ini, begitu kata hati Sinta. Tidak, bukan kamu. Melainkan aku. Sahut Sekar masih dari dalam bilik hatinya. Aku lebih cantik dari kamu, desis Sinta. Tapi aku lebih pintar dan cekatan, tukas Sekar. Kedua gadis itu masih saja bersitegang dalam hati saja karena kenyataannya mereka tetap berdiri diam mematung disamping Wahyu, sang Manajer Keuangan perusahaan tempat mereka bekerja.

Begitu keluar lift, Sinta dan Sekar berlarian segera menuju ruang kerja mereka masing-masing dan sesaat kemudian mereka keluar lagi menuju pantry.

“Aku saja yang membuatkan teh hangat untuk Pak Wahyu,”tukas Sinta.

“Tidak usah, Pak Wahyu lebih suka kopi panas di pagi hari. Aku paling ahli menyeduh kopi,”balas Sekar enggan mengalah. Mereka berpandangan sengit. Alis mereka sama-sama berkerut. Dan lebih sengit lagi ketika didapatinya Wahyu memanggil office girl Bu Etik yang seorang janda. Bu Etik paham bahwa kedua gadis itu memang bersaing demi Wahyu, si Gunung Es, maka dengan gayanya yang sengaja dibuat-buat untuk memanas-manasi mereka, Bu Etik melenggang sambil tangannya membawa nampan berisi secangkir kopi susu hangat pesanan sang manajer. Mulut Bu Etik menjulur-julurkan lidah pada kedua gadis yang terpana melihatnya.

“Sin...Sinta...lihatlah, aku ditunjuk Bapak Komisaris untuk menghadiri rapat mengenai keuangan minggu depan. Kamu tahu siapa yang aku dampingi?” dengan nakal Sekar memutar-mutar bola matanya hingga membuat Sinta kebingungan.

“Siapa?” tanya Sinta. Mulut Sekar hanya mencibir-cibir seperti menunjuk sesuatu. Sinta meihat Pak Wahyu di seberang meja sedang duduk menulis. Wajahnya tanpa ekspresi. Bagaimanapun dia tetap manis. Semua wanita di sini mengidolakannya. Sinta mendengus pelan.

“Huh, awas kamu. Kita taruhan sekarang, siapa yang lebih dulu mendapatkan Pak Wahyu, dialah yang menang. Dan yang kalah harus mentraktir makan.”

“Oke, siapa takut?”

Sebenarnya rapat kali ini begitu menjemukan bagi Sekar. Dia sebagai sekretaris hanya diperbolehkan duduk dan mencatat. Mencatat apa, Sekar sepertinya tidak paham. Matanya melirik-lirik pada Wahyu yang duduk disebelahnya. Sama sekali tak ada ekspresi. Yang dilirik sepertinya mengerti, lalu menatap Sekar lekat-lekat. Sekar seketika menunduk. Hatinya berbedar sangat kencang. Berulang kali harus dilapnya keringat dingin di kedua telapak tangannya demi menghindari gugup.

Rapat akhirnya berakhir. Sang Komisaris menutup rapat dengan gurauan renyah khas para pejabat. Sekar diam saja karena tak mengerti. Namun, pria disampingnya ini justru seakan menikmati gurauan itu. Dia tertawa! Suatu hal yang asing sekali dilihatnya dari wajah Wahyu.
Kemudian Wahyu mendatangi tempat duduk Sekar. Berdiri di belakang kursi sambil  melihat hasil catatan Sekar.
"Sudah kamu catat semua hasil rapat ini ?"
Betapa terkejutnya Wahyu melihat tulisan Sekar yang tak ada maknanya, tak jelas, acak-acakan dan malah menggambar karikatur sang dewan komisaris.
Sejenak Wahyu melotot membuat nyali gadis itu menciut
"Maaf Pak..." Sekar sudah hampir menangis ketika kemudian Wahyu mulai tersenyum melihat karikatur sang dewan komisaris dengan kepala gundul berhias beberapa helai rambut saja di atas telinganya.
"Kamu bisa saja mengambar karikatur Pak Anton, dewan komisaris itu?" Lalu mereka tertawa bersama. Wahyu memegang punggung kursi yang ditempati Sekar lalu mengoyang-goyangkannya ke belakang. Sekar terkejut.
“Aah...” Sekar terpekik ketika kursi yang ditempatinya nyaris saja jatuh terpental ke belakang. Segera Wahyu menangkap kursi Sekar dan refleks merengkuh pundak Sekar. Mereka berdua benar-benar terjatuh sekarang dengan posisi Sekar terduduk di lantai sambil kedua tangannya menarik  lengan Wahyu sampai pria itupun kehilangan keseimbangan dan...tanpa sengaja bibirnya menempel pada bibir Sekar. Mereka terdiam dan saling berpandangan.

“Ini hukuman untuk sekretaris konyol seperti kamu !" bisik Wahyu pada Sekar yang meronta. Betapa dalam hati Sekar ingin sekali berlari keluar dan menemui Sinta sambil meneriakkan, Pak Wahyu milikku sekarang. Aku telah berhasil menaklukkannya.

KEPADA MALAIKATKU (Genoveva Dian)

Kepada malaikatku
Kubisikkan seuntai kalimat sederhana
Yang menghiasi relung dada
Kurangkaikan sajak tak seberapa rumit
Namun kuyakin cukup indah untuk kau dengar
Di celoteh pagi sang mentari menyapa
Seperti menggambarkan senyum kan rupa cinta
Meramaikan hati nan gersang karena rindu

Kepada malaikatku
Seiring perjalanan dunia yang semu
Kuingin menaburkan sedikit kembang beraroma sendu
Semoga
Nanti kan terukir
Diantara rekah merah kelopaknya
Namaku dan namamu

BAIKLAH (Genoveva Dian)

Baiklah, aku akan bertahan
Dari mimpi tuk melihatmu di celah langit
Aku akan diam menepi ditengah sunyi yang mengikis perlahan asaku
Baiklah, akan kutentang rindu yang mencoba bersemayam
Aku akan berlagak seperti orang bernafas dalam ruang tanpa udara
Maafkan, sayang
Jika jalan yang kulalui 'kan tersembunyi dari pandangan matamu
Jika nada yang kulagukan hanya dapat kau dengar melalui bisikan bayu
Suatu ketika mungkin sang dewa cinta dapat mendengarnya juga
Lalu menghantarkan tanganmu untuk kugapai
Baiklah, akan kukenang hadirmu lewat sepotong sajak
Aku akan tertunduk, sambil menabur pilu pada jejak langkahku
Dan menata puing-puing doa diatas segala luka

#kepadamalaikatku

TENTANG SEBUAH RASA (Genoveva Dian)

Aku tak perlu tau siapa kau sebelumnya
Tak perlu menanyakan di mana letakmu dalam hatiku
Mungkin tak sempat memahami
Untuk apa kau kini berada di sampingku
Jika mulai detik yang membawaku pada perasaan kecewa
Kecewa akan diam
Yang kita sepakati
Aku tak pernah tau mengapa hati pilu saat kau tak ada
Inginku, tetap tinggal kau di sini
Setia dalam cerita, bercanda, bermesra
Aku tak akan bertanya kepada siapa cinta kau peruntukkan
Tak akan memaksa hadirmu dalam sepanjang waktuku
Jika mulai saat dimana aku menjadi sepi dirundung nestapa
Mungkin juga mulai takut aku kehilanganmu

#janganpergijauhjauh
#malaikatku

SEDARI DULU (Tompi)

Hatiku berharap mungkin engkau kan berubah
Bisa mencintai aku seperti hatiku padamu

Hujan badai kan ku tempuh
Bintang di langit kan kuraih
Bila harus ku kan merayu
Untuk cintamu bagiku

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuat ku membisu
Cintamu oh seindah lagu
Membuatku tak bisa berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Ku tahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu sayangku
Hanya kamu

Cintaku tlah berlabuh
Berhenti selamanya di hatimu
Takkan ku kayuh menjauh
Biar ku rapatkan cintaku padamu

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuatku membisu
Cintamu oh seindah lagu
Hanya dirimu satu oh cintaku

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu
Hanya kamu

Menemukanmu

Waktu yang terus bergulir mempertemukan kita kembali
Dulu kita pernah bersama, hanya miskin sapa
Aku tak tahu mengapa jumpa ini bisa terjadi
Mungkin sang dewa waktu ganti memberikan waktu padaku tuk mengenalmu
Bila sekarang aku diberi kesempatan mengenalmu lebih dekat
Itu adalah anugerah
Mencoba meletakkan apapun dirimu di hatiku
Juga hatimu yang meneduhkan itu
Aku tak akan pernah merubah apapun yang tlah kau punya
Karena itu kekayaan hatimu
Boleh mencintaimu
Itu sudah cukup bagiku
Terimakasih untuk embun segar pagi hari yang kau letakkan di dasar hatiku
Terimakasih untuk damainya hati karena rasa sayangmu
Janganlah jauh-jauh dariku malaikatku
Jadilah kau teman langkahku

#untukmalaikatdihatiku

Rabu, 29 Mei 2019

Kumpulan refleksi dan sikap

Kumpulkan refleksi dan sikap sebagai bahan tulisan :
1. Cinta itu memberikan yang terbaik buat orang yang dicintainya. Meski ia akhirnya menderita. Itu adalah pengorbanan cinta
2. Menghayati hidup ini

Kumpulan kata kata penyemangat diri

1. Dalam keterbatasanmu, tetap gapai mimpi-mimpimu

Selasa, 28 Mei 2019

AKU YANG SEDERHANA (Genoveva Dian)

Yang memiliki hati penuh dendam
Dendam 'kan rindu penuh gairah
Yang mencinta tanpa harapan tuk menggapai
Aku yang tak ingin kau tempatkan di sudut paling nyaman hatimu
Meski ku menyukainya
Yang melepaskan busur panah penuh bara namun tak terlihat oleh matamu yang berkabut
Aku, sederhana saja mencintaimu
Cukup kudaraskan kalimat doa di penghujung malam-malamku yang kelabu
Demikian telah kuucapkan janjiku
Tanpa memohon kau 'tuk tinggal tetap di sini
Bersamaku selamanya

Senin, 27 Mei 2019

Yoyun Ketiban Rejeki (Warsito & Genoveva Dian)

Sejak hatinya kepincut Asih, janda kembang yang tinggal di kampung sebelah, Yoyun, seorang staff di kantor perusahaan tekstil terkemuka di kotanya, berubah menjadi sosok yang ceria dan riang. Hari-harinya penuh warna-warni cinta. Gayanya yang dulu sederhana dan apa adanya sekarang menjadi semakin gaul saja. Kemana-mana menenteng handphone dengan headset warna putih yang senantiasa menghiasi telinganya.

Siang itu, Asih, sang gebetan mengajak Yoyun berinteraksi melalui video call. Wajah Yoyun yang melankolis spontan sumringah. Tak sabar ditunggunya jam bergerak ke angka duabelas, karena itu waktu istirahat kantor. Dicarinya tempat yang strategis untuk mencumbu rayu pujaan hatinya itu meski hanya lewat telepon. Setelah dirasa aman, direbahkannya tubuhnya senyaman mungkin, kemudian mulai beraksi.

Sedang enak-enaknya menggombal di udara, tertawa-tawa dan mengobral puisi, tiba-tiba seorang pembeli barang-barang bekas kantor yang biasa ia hubungi untuk mengambil barang-barang bekas menghampirinya. Tanpa berkata sepatah katapun, orang itu menyelipkan sesuatu ke dalam kantong celananya lalu segera pergi. Yoyun yang heran dan penasaran segera merogoh kantong celananya. Ternyata ada terselip di situ selembar uang dua puluh ribu rupiah sebagai tanda ucapan terimakasih. Yoyun tersenyum di wajahnya yang melas. Tak apalah dikira orang gila juga, tertawa-tawa sendiri, yang penting dapat rejeki.

Minggu, 26 Mei 2019

Surat Kaleng

Surat Kaleng

Pertemuanku dengannya adalah ketika aku berada di Seminari. Ia datang bersama ayahnya dalam suatu acara karena kedua adik kembarnya juga masuk di Seminari sebagai adik kelasku, dua tingkat di bawahku.
Ia menemuiku hanya karena ingin melihat aku, Aku yang sering berkontak dengannya lewat surat namun belum pernah bertatap muka.
Hari pertama tak kutemui dia karena ketidaksiapanku, sampai timbul rasa bersalahku karena aku menelantarkannya.
Baru pada hari kedua aku temui.
"Tresia Endang Florida," demikian ia menyebutkan namanya.

Sejak saat itu dia lebih sering berkirim surat kepadaku. Dia memanggilku Ito dan aku memanggilnya Ida
Sampai suatu ketika ada seorang berkirim surat kepadanya tanpa nama, surat kaleng.
"Tresia Endang Florida, "
kau perempuan murahan, kau perempuan yang tak tahu diri, Tolong jangan ganggu dia.  Bukankah kau ketahui bahwa Warsito adalah seorang calon imam ?"
Hatinya tercabik-cabik membaca surat itu, dia menangis tersedu-sedu dan ia mengirimkan surat itu kepadaku. Aku tak tahu darimana datangnya surat itu, siapakah yang menulis.

Lalu ia menulis puisi yang huruf awalnya berasal dari namaku:
Warna langit begitu cerah
Angin begitu segar
Rasanya seperti berada dalam belaian
Sayang, semuanya hanya mimpi
Indah nian bila itu terjadi nanti
Tapi bayanganmu tak dapat kugapai
Oh, betapa kejam hidup ini 

Berkali kali aku membalas suratnya untuk meyakinkannya bahwa dia bukan orang yang seperti itu. Namun ia tak pernah membalasku. 
Hingga akhirnya aku menyerah dan menulis : "bagaimana caranya aku meyakinkanmu bahwa kau bukan orang seperti itu ?"
Dia membalas, satu-satunya cara untuk meyakinkanku adalah "tolong lupakan aku !"


Jumat, 24 Mei 2019

KUMPULAN PUISI MALAIKATKU (Genoveva Dian)

About you are the one
The angel in my heart
You make my live so beautiful
For i walk in


Untuk...malaikatku
Aku menitipkan sepotong hati yang penuh rindu
Mungkin kan tiba tepat pada waktunya
Dimana waktu memberi jeda untuk menerimanya


Kepada nama yang senantiasa mengeja namaku
Kepada jiwa yang selalu mendekap jiwaku dalam mimpi
Kepada hati yang menjadi penghuni di hatiku
Dan kepada suara yang memiliki nada untukku bersuara
Kukatakan aku mencintaimu dan selalu memikirkanmu
Malaikatku


Pada sebagian musim rindu
Tercampakkanlah belahan hati dari relung sunyi
Seperti ada tetesan darah namun kering menghitam
Dalam kabut sang cinta menjabah
Selaksa malaikat dari kolong mimpi
Menaburkan perih yang nikmat
Membawa benih luka kepada asa
Terimakasih malaikatku


SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...