Surat Kaleng
Pertemuanku dengannya adalah ketika aku berada di Seminari. Ia datang bersama ayahnya dalam suatu acara karena kedua adik kembarnya juga masuk di Seminari sebagai adik kelasku, dua tingkat di bawahku.
Pertemuanku dengannya adalah ketika aku berada di Seminari. Ia datang bersama ayahnya dalam suatu acara karena kedua adik kembarnya juga masuk di Seminari sebagai adik kelasku, dua tingkat di bawahku.
Ia menemuiku hanya karena ingin melihat aku, Aku yang sering berkontak dengannya lewat surat namun belum pernah bertatap muka.
Hari pertama tak kutemui dia karena ketidaksiapanku, sampai timbul rasa bersalahku karena aku menelantarkannya.
Baru pada hari kedua aku temui.
"Tresia Endang Florida," demikian ia menyebutkan namanya.
Sejak saat itu dia lebih sering berkirim surat kepadaku. Dia memanggilku Ito dan aku memanggilnya Ida
Sampai suatu ketika ada seorang berkirim surat kepadanya tanpa nama, surat kaleng.
"Tresia Endang Florida, "
kau perempuan murahan, kau perempuan yang tak tahu diri, Tolong jangan ganggu dia. Bukankah kau ketahui bahwa Warsito adalah seorang calon imam ?"
Hatinya tercabik-cabik membaca surat itu, dia menangis tersedu-sedu dan ia mengirimkan surat itu kepadaku. Aku tak tahu darimana datangnya surat itu, siapakah yang menulis.
Lalu ia menulis puisi yang huruf awalnya berasal dari namaku:
Warna langit begitu cerah
Angin begitu segar
Rasanya seperti berada dalam belaian
Sayang, semuanya hanya mimpi
Indah nian bila itu terjadi nanti
Tapi bayanganmu tak dapat kugapai
Oh, betapa kejam hidup ini
Berkali kali aku membalas suratnya untuk meyakinkannya bahwa dia bukan orang yang seperti itu. Namun ia tak pernah membalasku.
Hingga akhirnya aku menyerah dan menulis : "bagaimana caranya aku meyakinkanmu bahwa kau bukan orang seperti itu ?"
Dia membalas, satu-satunya cara untuk meyakinkanku adalah "tolong lupakan aku !"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar