Pertemuanku dengannya adalah ketika aku telah memakai pakaian panjang putih khas seorang Seminaris. Pertemuan yang mengawali ketidak sempurnaan cintaku. Dia gadis sederhana dengan usia dua tahun lebih muda dariku.
"Namaku Flo." Demikian ia menyebutkan namanya.
"Aku Ito."
Kami sering bersama. Entah dia yang datang ke Seminari untuk suatu hal, atau aku yang bertandang ke rumahnya karena memang kami satu Paroki dan tugas kami salah satunya adalah mengunjungi umat sebagai karya penggembalaan. Kami selalu berbagi tawa dan canda. Berempati dalam duka dan sedih. Sampai kemudian dia pergi. Pergi ke tempat yang aku sendiri tak mampu untuk mengejarnya. Benar aku jatuh cinta kepadanya, namun aku masih merasa sayang untuk menanggalkan jubahku.
Sesekali surat Flo datang, menyentuh dinding kerinduanku. Sejak saat itu aku mengidolakan tukang pos. Menanti-nanti dia datang membawa sekeping cinta dari Flo untukku. Aku benar-benar mencandu pada sapamu, Flo...
Suatu siang yang terik, surat Flo datang lagi. Kali ini aku tak sanggup menerimanya dengan penuh kerinduan. Namun kepedihan.
"Seseorang menerorku, Frater Ito. Aku disebut sebagai wanita murahan yang tak tahu diri. Yang mengganggu perjalananmu sebagai calon imam. Maafkan aku, Frater, jika mulai detik kau membaca suratku ini, aku sudah membiasakan hatiku untuk tak menyebut namamu lagi."
Aku tercenung, seperti kehilangan sebagian besar hidupku. Siapa orang yang telah lancang dan tega berbuat itu pada Flo-ku?
Berulang kali aku mengirimkan surat balasan pada Flo. Kucoba meyakinkannya akan ketulusan cintaku. Kuminta ia tegar tanpa mempedulikan hasutan orang lain. Namun tiada berbalas. Benarkah Flo telah menghapus ingatannya tentangku?
Dua hari menjelang pentahbisanku, surat bersampul putih bersih kuterima. Kubaca tulisan singkat di ujung kiri. Dari Flo, desisku dalam hati. Segera kubuka isinya. Tak sabar untuk membacanya.
"Tolong lupakan aku, Frater Ito. Dan berjalanlah engkau menurut kehendakNya."
Kamis, 30 Mei 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA
Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...
-
ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama...
-
Aku mempunyai banyak angan-angan dan kerinduan 1. Aku ingin mempunyai gallery seni yang di dalamnya ada cafe dan bookstore Gal...
-
Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpiki...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar