Kamis, 30 Mei 2019

ROSARIO BERUKIR NAMA (Genoveva Dian)

Laki-laki itu masih duduk menunduk. Kedua tangannya masih asyik dan sibuk merangkai butir manik-manik. Segera kutahu bahwa rangkaian itu akan dijadikannya Rosario seperti yang sudah selesai dikerjakan dan diletakkannya di meja.
Aku tertarik pada salah satu Rosario bermanik hitam, namun di tengah-tengahnya ada beberapa manik dengan warna berbeda dan berukir huruf-huruf.
Laki-laki itu menatapku ketika aku mendekat. Tanganku yang tadinya memegang Rosario buatan laki-laki itu sontak berhenti. Sedikit takut. Kami berpandangan lama. Tapi kemudian dilanjutkannya merangkai manik-manik. Acuh tak acuh dan tanpa ekspresi.

Apa kabar laki-laki pembuat Rosario itu sekarang? Bergegas kuayun langkah menuju sudut kota.
“Ini Rosario buatmu. Ada namamu disitu.” Ujarnya begitu aku mendekat. GENOVEVA, kubaca ukiran pada manik beda warna di Rosario yang diulurkannya padaku. Darimana dia tahu namaku?
“Aku kakakmu. Yang tinggal bersama Ibu begitu berpisah dengan Ayah belasan tahun lalu. Tapi aku tidak akan melupakan garis wajah mendiang Ibu yang sangat mirip denganmu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...