Laki-laki itu masih duduk menunduk. Kedua tangannya masih asyik dan sibuk merangkai butir manik-manik. Segera kutahu bahwa rangkaian itu akan dijadikannya Rosario seperti yang sudah selesai dikerjakan dan diletakkannya di meja.
Aku tertarik pada salah satu Rosario bermanik hitam, namun di tengah-tengahnya ada beberapa manik dengan warna berbeda dan berukir huruf-huruf.
Laki-laki itu menatapku ketika aku mendekat. Tanganku yang tadinya memegang Rosario buatan laki-laki itu sontak berhenti. Sedikit takut. Kami berpandangan lama. Tapi kemudian dilanjutkannya merangkai manik-manik. Acuh tak acuh dan tanpa ekspresi.
Apa kabar laki-laki pembuat Rosario itu sekarang? Bergegas kuayun langkah menuju sudut kota.
“Ini Rosario buatmu. Ada namamu disitu.” Ujarnya begitu aku mendekat. GENOVEVA, kubaca ukiran pada manik beda warna di Rosario yang diulurkannya padaku. Darimana dia tahu namaku?
“Aku kakakmu. Yang tinggal bersama Ibu begitu berpisah dengan Ayah belasan tahun lalu. Tapi aku tidak akan melupakan garis wajah mendiang Ibu yang sangat mirip denganmu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA
Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...
-
ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama...
-
Aku mempunyai banyak angan-angan dan kerinduan 1. Aku ingin mempunyai gallery seni yang di dalamnya ada cafe dan bookstore Gal...
-
Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpiki...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar