Kamis, 30 Mei 2019

PERTARUHAN (Kolaborasi 1)

Sinta dan Sekar selalu bersaing. Semua orang tahu hal itu. Keduanya sudah bersama sejak masih kecil. Apapun yang dimiliki Sekar, Sinta selalu menginginkannya. Apapun yang dipunyai Sinta, Sekar pun berusaha mempunyai hal yang sama. Sekalipun begitu,mereka tumbuh bersama tanpa perselisihan dan pertengkaran. Mengenai sifat, mereka berdua jelas berbeda. Sinta lebih keibuan dan kemayu, sedangkan Sekar tomboy dan tegas. Postur tubuh Sinta seksi dan semampai. Ditambah kegemarannya berdandan membuatnya semakin tampak sempurna. Sedangkan Sekar bertubuh sedikit pendek dan gemuk. Wajahnya jarang sekali terpulas makeup namun tetap tampak sedap dipandang. Dan yang lebih menandai mereka lagi adalah, mereka berdua sama-sama bekerja sebagai Sekretaris di sebuah perusahaan ternama.

Suatu hari Sinta dan Sekar datang di kantor hampir bersamaan.  Sama-sama terlambat. Sinta segera turun dari sepeda motor maticnya kemudian menepuk-nepukkan tisu di wajah penuh riasannya demi menghilangkan keringat yang menitik di atas bibir dan dahinya sementara Sekar yang datang dengan sepeda gunungnya, melangkah dengan penuh percaya diri. Sesekali nafasnya yang ngos-ngosan membuatnya berhenti beberapa saat sambil mengelap peluh di wajahnya dengan sapu tangan handuk yang selalu ditentengnya kemanapun dia pergi. Tiba-tiba  Wahyu, pemilik senyum terdingin di perusahaan itu melintas. Berjalan melewati Sinta dan Sekar yang sedang terburu-buru. Mereka sejenak berpandangan. Lalu berjalan bertiga menuju lift.

Berdiri bersebelahan dalam ruangan sempit  lift bersama Wahyu menciptakan kebisuan yang paling senyap. Aku akan mendapatkan pria ini, begitu kata hati Sinta. Tidak, bukan kamu. Melainkan aku. Sahut Sekar masih dari dalam bilik hatinya. Aku lebih cantik dari kamu, desis Sinta. Tapi aku lebih pintar dan cekatan, tukas Sekar. Kedua gadis itu masih saja bersitegang dalam hati saja karena kenyataannya mereka tetap berdiri diam mematung disamping Wahyu, sang Manajer Keuangan perusahaan tempat mereka bekerja.

Begitu keluar lift, Sinta dan Sekar berlarian segera menuju ruang kerja mereka masing-masing dan sesaat kemudian mereka keluar lagi menuju pantry.

“Aku saja yang membuatkan teh hangat untuk Pak Wahyu,”tukas Sinta.

“Tidak usah, Pak Wahyu lebih suka kopi panas di pagi hari. Aku paling ahli menyeduh kopi,”balas Sekar enggan mengalah. Mereka berpandangan sengit. Alis mereka sama-sama berkerut. Dan lebih sengit lagi ketika didapatinya Wahyu memanggil office girl Bu Etik yang seorang janda. Bu Etik paham bahwa kedua gadis itu memang bersaing demi Wahyu, si Gunung Es, maka dengan gayanya yang sengaja dibuat-buat untuk memanas-manasi mereka, Bu Etik melenggang sambil tangannya membawa nampan berisi secangkir kopi susu hangat pesanan sang manajer. Mulut Bu Etik menjulur-julurkan lidah pada kedua gadis yang terpana melihatnya.

“Sin...Sinta...lihatlah, aku ditunjuk Bapak Komisaris untuk menghadiri rapat mengenai keuangan minggu depan. Kamu tahu siapa yang aku dampingi?” dengan nakal Sekar memutar-mutar bola matanya hingga membuat Sinta kebingungan.

“Siapa?” tanya Sinta. Mulut Sekar hanya mencibir-cibir seperti menunjuk sesuatu. Sinta meihat Pak Wahyu di seberang meja sedang duduk menulis. Wajahnya tanpa ekspresi. Bagaimanapun dia tetap manis. Semua wanita di sini mengidolakannya. Sinta mendengus pelan.

“Huh, awas kamu. Kita taruhan sekarang, siapa yang lebih dulu mendapatkan Pak Wahyu, dialah yang menang. Dan yang kalah harus mentraktir makan.”

“Oke, siapa takut?”

Sebenarnya rapat kali ini begitu menjemukan bagi Sekar. Dia sebagai sekretaris hanya diperbolehkan duduk dan mencatat. Mencatat apa, Sekar sepertinya tidak paham. Matanya melirik-lirik pada Wahyu yang duduk disebelahnya. Sama sekali tak ada ekspresi. Yang dilirik sepertinya mengerti, lalu menatap Sekar lekat-lekat. Sekar seketika menunduk. Hatinya berbedar sangat kencang. Berulang kali harus dilapnya keringat dingin di kedua telapak tangannya demi menghindari gugup.

Rapat akhirnya berakhir. Sang Komisaris menutup rapat dengan gurauan renyah khas para pejabat. Sekar diam saja karena tak mengerti. Namun, pria disampingnya ini justru seakan menikmati gurauan itu. Dia tertawa! Suatu hal yang asing sekali dilihatnya dari wajah Wahyu.
Kemudian Wahyu mendatangi tempat duduk Sekar. Berdiri di belakang kursi sambil  melihat hasil catatan Sekar.
"Sudah kamu catat semua hasil rapat ini ?"
Betapa terkejutnya Wahyu melihat tulisan Sekar yang tak ada maknanya, tak jelas, acak-acakan dan malah menggambar karikatur sang dewan komisaris.
Sejenak Wahyu melotot membuat nyali gadis itu menciut
"Maaf Pak..." Sekar sudah hampir menangis ketika kemudian Wahyu mulai tersenyum melihat karikatur sang dewan komisaris dengan kepala gundul berhias beberapa helai rambut saja di atas telinganya.
"Kamu bisa saja mengambar karikatur Pak Anton, dewan komisaris itu?" Lalu mereka tertawa bersama. Wahyu memegang punggung kursi yang ditempati Sekar lalu mengoyang-goyangkannya ke belakang. Sekar terkejut.
“Aah...” Sekar terpekik ketika kursi yang ditempatinya nyaris saja jatuh terpental ke belakang. Segera Wahyu menangkap kursi Sekar dan refleks merengkuh pundak Sekar. Mereka berdua benar-benar terjatuh sekarang dengan posisi Sekar terduduk di lantai sambil kedua tangannya menarik  lengan Wahyu sampai pria itupun kehilangan keseimbangan dan...tanpa sengaja bibirnya menempel pada bibir Sekar. Mereka terdiam dan saling berpandangan.

“Ini hukuman untuk sekretaris konyol seperti kamu !" bisik Wahyu pada Sekar yang meronta. Betapa dalam hati Sekar ingin sekali berlari keluar dan menemui Sinta sambil meneriakkan, Pak Wahyu milikku sekarang. Aku telah berhasil menaklukkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...