Sabtu, 26 Agustus 2017

Cerpen : Di Bawah Jembatan Penyeberangan Itu

   
       Sudah lama aku menunggu jawaban atas surat cintaku tapi tak ada balasan. Maka kuberanikan diri untuk mengunjunginya di tempatnya bekerja.
Perjalanan Jakarta ke Cilegon dengan naik bus butuh waktu sekitar 4 jam kata temanku. Hari pagi ketika kuputuskan untuk berangkat. Di sepanjang jalan kulihat banyak pabrik-pabrik berdiri. Aku hanya memperhatikannya sekilas karena hati dan pikiranku tertuju pada gadis yang ingin aku temui. Kirana, ya Kirana nama gadis itu. Gadis yang membuat aku jatuh hati karena kelembutan dan keanggunannya. Namun aku tidak tahu apakah ia menerima cintaku. Sudah aku utarakan perasaanku kepadanya melalui sepucuk surat. Namun aku masih menunggu balasannya. Empat bulan berlalu belum juga ada balasan, hari ini kuputuskan menemuinya langsung untuk mendengarkan jawabannya.
       Hari siang ketika aku sampai di terminal Cilegon. Aku bertanya kepada orang-orang yang kutemui arah ke rumah sakit itu sebab aku belum pergi ke rumah sakit ini. Dengan naik angkot akhirnya sampai juga aku di rumah sakit itu. Aku mendatangi reseptionis dan bertanya apakah aku bisa bertemu dengan Kirana. Reseptionis itu kemudian mengangkat telpon dan berbicara dengan Kirana. Setelah itu ia berkata:
"Tunggu mas ya!" katanya.
"Iya, makasih," jawabku.
Kuperhatikan rumah sakit ini bersih dan megah. Para perawat rumah sakit pada hilir mudik, sebagian sedang memindahkan pasien.
"Mas," suara lembut itu menyentuh telingaku. Teduh rasanya.
Aku menoleh ke arah suara itu.
"Hey Kirana," kataku
Kirana menjabat tanganku. Tangannya lembut selembut kepribadian orangnya.
"Sini mas kita bicara di ruang tamu, gak enak di sini, banyak orang," pintanya.
Aku menuruti permintaannya.
"Mas," katanya setelah aku dan dia duduk di ruang tamu.
"Aku itu hanya menganggap mas sebagai teman, tak lebih. Aku menghormati mas, tapi aku tidak bisa menerima cinta mas,"
Aku masih merenungkan kata-katanya.
"Aku sangat menyayangimu Kirana," kataku.
"Iya mas, makasih, tetapi aku tidak bisa menerima cinta mas,"
Aku menenangkan hatiku.
"Jadi aku sudah tidak punya harapan ya ?"
"Maaf mas"
"Baiklah kirana kalau begitu, terimakasih, aku mohon pamit, sampai kapanpun kamu akan slalu ada di dalam hatiku, Kirana."
Aku mohon pamit pada Kirana. Kucium tangannya saat bersalaman, sebagai pelampiasan rasa sayangku dan perpisahanku, ciuman pertama dan terakhir.
"Aku pulang ya," kataku saat sesampai di pintu luar rumah sakit
"Hati-hati mas," katanya
Kirana masuk rumah sakit.
Aku berjalan menuju ke depan, berhenti dibawah jembatan penyeberangan di dekat rumah sakit itu. Aku tak kuasa menahan rasa kehilangan. Di bawah jembatan penyebarangan itu aku menangis tersedu-sedu. 




Cerpen : Dhyana Pura





       Dhyana Pura, sebuah kampus di desa Dalung, Badung, Bali. Mahasiswinya cantik-cantik. Aku melihatnya saat jalan-jalan di depan kampusnya. Kulihat ada warung sederhana di dekat kampus. Aku melangkahkan kakiku ke sana.
"Bu, kopi hitam, " pintaku.
"Ya nak," kata ibu pemilik warung itu. Di meja juga ada aneka gorengan. Aku mengambil ketela goreng kesukaanku.
Hmm enak, batinku.
Angin berhembus segar menerpa kulitku. Dalung, desa yang indah. Aku menikmatinya. Ini hari kedua aku berada di desa Dalung dalam rangka tugas kerja. Hari kedua setelah makan siang aku gunakan untuk keluar jalan-jalan di sekitar tempat kerjaku.
Kuseruput kopi di cangkir yang sudah mulai dingin.
Pikiranku menerawang jauh di sana. Pada gadis cantik di Salatiga, Santi.
Santi, mengapa kamu belum juga membalas cintaku ? Ada rasa gundah di dalam dada. Hatinya masih bertanya.
Kampus Dhyana Pura nampak anggun, seanggun para mahasiswinya. Keanggunan itu sedikit menghapus kegundahan di dalam hatiku. 
"Berapa bu ?" kataku kepada ibu itu
"lima ribu nak, " katanya
Aku mengeluarkan uang lima ribu rupiah dari dalam dompetku dan memberikannya kepada ibu itu.
Aku kembali ke tempat penginapanku. Kulewati kampus Dhyana Pura dengan ketenangan hati.

Jumat, 25 Agustus 2017

Rohani : Bunda Maria


       Dahulu ketika aku masih berada di Kediri aku sering pergi ke Puhsarang manakala hatiku gundah gulana. Walaupun hari sudah sore aku tetap pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor GL Maxku. Di sana aku memandang Bunda Maria dan membayangkan diri bersimpuh di pangkuannya. Bunda Maria membelai rambutku selaku seorang anak dan ia mengerti kegundahan hatiku. Aku merasakan akan ketenteraman hati di situ. Bunda Maria kupandang sebagai ibuku
      Kini aku sudah jarang ke Puhsarang. Tetapi aku merasa Bunda Maria tetap sama seperti dahulu. Dan tetap kurasakan pertolongannya sampai sekarang atas doa doaku dari tempatku sekarang.

Rohani : Godaan



       Pernahkah kamu jatuh dalam dosa yang sama ? Aku pernah. Saat jatuh dalam dosa aku menyesal, bertobat tetapi kemudian aku jatuh dalam dosa yang sama lagi.
       Ketika Yesus berdoa di taman Getsemani memberitahu kepada para muridNya yang diminta menemaniNya tetapi mendapati mereka sedang tertidur agar berjaga-jaga dan berdoa karena roh memang penurut,  tetapi daging lemah (Matius 26:41)
Seorang yang dekat dengan Tuhan mengatakan bahwa setan itu sama seperti seekor anjing galak yang dirantai. Selama kamu tidak mendekat, kamu tidak akan digigit. Memang benar terkadang kita merasa sudah kuat menahan segala macam godaan tetapi ketika datang situasi dan kesempatan yang begitu menggoda bisa saja pertahanan iman kita runtuh lalu kita mengulangi dosa yang sama. Orang juga mensehati jangan bermain api nanti bisa terbakar. Jadi bila iman belum sungguh teguh jangan bermain-main dengan godaan, sebab setan akan terus mempermainkan batin kita.
Santo Petrus, saksi penderitaan Kristus dalam suratnya mengatakan : Sadarlah dan berjaga-jagalah ! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat di telannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh."
Hanya iman teguh yang bersumber pada kekuatan Tuhan yang akan mampu mengalahkannya.

Rabu, 23 Agustus 2017

Rohani : Mazmur 120 (121)


Aku melayangkan pandangan ke Gunung :
dari manakah kudapatkan pertolongan ?
Pertolonganku dari Tuhan,
yang menjadikan langit dan bumi

Ia takkan membiarkan kakimu tersandung,
yang menjagamu takkan mengantuk.
Sungguh, takkan mengantuk dan tertidur
yang menjaga Israel.

Tuhan menjaga dan menaungi kamu,
Yang mahatinggi adalah kekuatanmu
Matahari takkan menyakiti kamu di waktu siang,
maupun bulan di waktu malam.

Tuhan menjaga kamu terhadap segala kemalangan,
Ia menjaga nyawamu.
Tuhan menjaga tingkah lakumu
sekarang dan selama-lamanya.

Selasa, 22 Agustus 2017

Kesetiaan


Pak Martoyo terlihat sedang serius melakukan pembudidayaan bunga krisan di laboratorium.  Ia bekerja di bantu seorang staff dan beberapa pekerjanya. Dari tangannya sudah ribuan bunga krisan dikirim keluar kota dan luar pulau.  Ia mengambil kacamatanya,  mengusap peluh yang membasahi mukanya lalu memakainya lagi. Pak Martoyo adalah seorang pekerja keras. Itu penilaianku.

Hari sudah siang,  matahari sudah berada di ubun-ubun kepala.  Aku menyapa Pak Martoyo:
"Pak Martoyo, istirahat dahulu,  waktunya makan siang,"  kataku.
"Iya Mas, " balasnya.
Aku berjalan duluan menuju ruang makan.  Pak Martoyo terlihat masih konsentrasi bekerja.

Pak Martoyo,  dia dahulu seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Entah mengapa dia meninggalkan pekerjaan dosennya dan memilih bekerja di sini,  di tempat sepi,  di rumah retret yang letaknya berada di pegunungan jauh dari keramaian.  Sesuai pengetahuannya,  ia bekerja di bagian laboratorium untuk melakukan budi daya bunga krisan. Hasil penjualan bunga krisan ini masuk sebagai penyumbang dana terbesar kedua bagi rumah retret ini.

Pak Martoyo masuk ke rumah retret ini saat usianya sudah senja dan sampai sekarang belum menikah.  Katanya suatu waktu kepadaku:
"Saya dahulu menjalin asmara dengan seorang wanita,  Mas!  Namanya Winarti. Kami saling menyayangi.  Rasanya kami tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena itu kami berjanji akan selalu menjaga cinta kami ini dan tidak memberikannya kepada orang lain.  Hingga suatu saat Winarti jatuh sakit. Setelah satu tahun berjuang,  dia meninggal.  Saya sangat kehilangan dia, sampai sekarang pun saya masih merasakan hal itu.  Karena saya sangat menyayanginya dan kami sudah berkomitmen untuk saling setia satu sama lain,  maka saya memutuskan untuk tidak menikah.   Saya ingin menunjukkan kepada Winarti bahwa saya tetap setia padanya, hanya dia yang saya sayangi dalam hidup ini.  Sebenarnya banyak mahasiswi dan wanita lain yang menyukai dan mengharapkan cinta saya,  tetapi saya menolaknya dengan halus.  Saya tidak bisa menerima cinta mereka,  cinta saya hanya untuk Winarti.  Itu janji saya padanya. "

Mendengar penuturan Pak Martoyo,  aku hanya bisa kagum, salut, hebat dan entah pujian apa lagi yang bisa aku katakan tentang kesetiaan Pak Martoyo kepada kekasihnya.  Semoga nanti di alam keabadian Tuhan persatukan Pak Martoyo dengan Winarti lagi.

Kulihat Pak Martoyo tengah berjalan ke ruang makan.
"Mari Pak, " kataku saat Pak Martoyo sampai di depan pintu ruang makan,  sambil aku mengatur kursi makan untuk tempat duduknya.
Pak Martoyo duduk,  aku mendekatkan nasi, sayur dan lauk di depannya.
"Makan yang banyak Pak, " kataku.
"Iya Mas, " sahutnya.
Kulihat Pak Martoyo makan dengan lahapnya.












































Lagu : Biara Suci



       Dahulu ketika aku masih di Seminari Menengah Garum Blitar, sore sekitar jam 17.00 kita akan ke kapel Seminari untuk mendaraskan ibadat sore dari buku brevir. Setelah doa selesai akan dilanjutkan dengan renungan yang dipandu oleh teman-teman yang bertugas dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi yang intinya adalah untuk merenungkan diri sendiri. Saat merenung kadang diputar sebuah lagu. Aku selalu senang dan bersyukur manakala diputarkan lagu dengan judul biara suci. Terkadang aku merindukan lagu itu diputar. Pada waktu itu hp rasanya belum ada karena tak pernah kujumpai orang mempunyai hp. Kalau aku punya hp pasti lagu itu aku rekam. Mungkin lagu itu diputar dari kaset karena cd juga belum marak pada waktu itu. Aku hanya merindukan lagu itu diputar dan bila lagu itu diputar aku senang sekali.
       Aku tidak tahu siapa pencipta lagu itu, tapi yang jelas lagu itu mengisahkan seorang yang pernah tinggal di biara. Aku tinggal di Seminari Menengah aku anggap juga tinggal di biara. Jadi lagu itu rasanya cocok untuk direnungkan. Sampai sekarang aku tidak tahu dimana lagu itu bisa di download. Tapi di blog ini aku akan menulis lagu itu sejauh aku inggat syairnya. Semoga benar tidak salah. Bila ada di antara pembaca tahu dimana lagu ini bisa didapatkan saya akan bersyukur sekali. Aku tulis lagu ini, lagu yang membuat aku juga bersyukur bahwa aku pernah tinggal di biara.

Dalam lamunan hidupku ini
Aku ingat biara suci
Dan takkan mungkin kembali lagi
Aku hidup membiara

Di sebuah biara suci istana yang syahdu
Yang pernah aku diami kala cintaku memadu

Kini aku sadari cintaku pada mamaku
Kini aku tinggalkan engkau yang kusayang

Di sebuah biara suci istana yang syahdu
Yang pernah aku diami kala cintaku memadu sayang.


Senin, 21 Agustus 2017

Di Persimpangan Jalan




Hari panas terik ketika aku kembali ke kota Malang. Angkot yang aku naiki dari dusunku lambat sekali berjalan, karena sering berhenti mencari penumpang lain. Setelah satu setengah jam perjalanan sampailah aku di terminal kotaku Pare. Dari terminal aku akan naik bus Puspa Indah menuju kota Malang. Kota Malang, kota yang dingin dan ramah, itu yang kurasakan yang membuat aku kerasan tinggal di kota ini. Kuanggap Malang seperti rumah keduaku. Bahkan aku ingin bisa hidup tua di kota ini

Aku berdiri persis di dekat bus menurunkan penumpang. Bersandar pada tiang bangunan terminal sambil menunggu bus datang dari Kediri. Kukeluarkan rokok Djarum Black dari dalam saku bajuku, kuambil sebatang lalu kusulut dengan korek api dan kuhisap. Ah...ada kenikmatan terasa. 

Samar-samar terlihat jauh di depan, di ruang tunggu penumpang seorang gadis yang sepertinya aku kenal. Aku coba mengingatnya. Ya...dia adalah Sri Rahayu. Gadis beda desa yang dahulu sering mengujungiku ke rumah bersama adik dan temannya. Memberi aku boneka sepasang kucing yang lucu. Pernah juga mengunjungi ku saat aku tugas pastoral di Kediri. Aku sangat dekat dengannya karena kerahamannya. Lama tak bertemu membuat aku sedikit lupa dengannya.

Aku mendekatinya
"Hai Sri, bagaimana khabarmu ? " sapaku
Dia sedikit kaget juga melihat kedatanganku
"Baik mas," jawabnya.
"Kok kamu ada di sini, kamu mau ke mana ?" tanyaku karena penasaran
"Mau ke Bandung mas," jawabnya singkat
"O.. ke Bandung, tujuannya mau ke mana?" tanyaku lagi penuh penasaran
"Mau ke susteran mas, aku sekarang mau masuk suster"
"Oo.." aku tak menyangka dengan niat dan keputusannya
"Bagus Sri" jawabku lagi mengagumi.
"Mas mau kemana ? ganti Sri Rahayu bertanya
"Aku mau ke Malang. Aku tinggal di sana untuk bekerja. Kemarin aku pulang ke rumah hanya sekedar melihat bagaimana keadaan orangtua. Sekarang mau balik lagi.
"Bagaimana keadaan orangtua, mas," Sri balik bertanya
"Baik," kataku
"Salam untuk bapak ibu ya mas !"
"Terimakasih, nanti aku sampaikan"

Malang, kota yang aku cintai. Enam tahun aku berada di sana untuk menempuh pendidikan sebagai seorang calon imam. Namun langkahku terhenti karena faktor nilai yang kurang dan tak bisa kuulang. Kini sudah dua tahun aku bekerja di sebuah perusahaan distributor kertas rokok, juga di kota Malang. Dengan Sri, aku bertemu terakhir tiga tahun yang lalu ketika ia mengunjungiku saat aku sedang menjalankan tugas pastoral di sebuah paroki di Kediri

"Mas, aku berangkat dahulu ya, " katanya mengagetkan lamunanku.
"O..iya, hati-hati ya Sri, jaga diri baik-baik," kataku
"Terimakasih mas," jawabnya. 
Bus itupun membawa Sri Rahayu pergi.
Tak kusangka Tuhan memanggilnya untuk menjadi pelayanNya dah Sri menanggapi. Aku kagum, merasa salut padanya.

Bus Puspa Indah jurusan Malang datang. Aku segera bergegas masuk ke dalamnya. Selamat bekerja di ladang Tuhan suster, batinku. Tuhan, terimakasih tlah pertemukan aku dan dengannya di sini. Aku hanya merasa pertemuanku dengan Sri Rahayu bagai pertemuan di persimpangan jalan. Aku dari kaum biarawan menjadi kaum awam dan Sri dari kaum awam menjadi kaum biarawan.
Bus Puspa Indah terus melaju menuju Malang meninggalkan semakin jauh terminal Pare, kotaku.

Rohani : Doa Malam





Siang sudah lama pamit
Hilang bersama senja, digusur pergi.
Selimut malam membentang kelabu
Pertanda tubuh juga lesu
Dimangsa karya sepanjang hari.

Lewat sudah serangkaian perbuatan
Di atas pentas pergolakan hidup
Dalam persambungan kenyataan dan harapan.
Sebelum mata terpukau ke peraduan
Yang menggapai begitu mesra,
Sebelum keletihan membawa ke alam mimpi
Aku ingin menghadap Dikau
Bapa maharamin.

Ya Bapa,
Maafkanlah aku, bila siang tadi
aku melanggar janji melaksanakan kehendakMu
Aku semberono memanfaatkan anugerahMu
Aku alfa memperhatikan duka dan derita sesama
Dan hanya puas dengan kebijakan sendiri

Maafkanlah aku, bila seharian tadi
Tugasku tidak selesai karena lalai
Lalu ada penasaran tersisa
Kejengkelan masih merajut di hati.

Sejak pagi sampai kini
Bila tingkah dan angan sempat mengembara
Tersesat du jalur dosa yang begitu manis
Biar cuma sedetik
Sehingga kesucian menjadi ternoda:
Sudilah memaafkan aku ya Bapa

Malam ini,
Sebelum bumi sempat terlena
Di bawah selimut hitam
Yang melayang begitu tergesa
Aku ingin menitipkan dalam desir angin
Ganti dupa puja yang harus mewangi
Doa luapan hati yang pasrah:

Ya Bapa,
Sertailah aku dalam tidur dan mimpi
Izinkanlah aku besok pagi bangun lagi
Mengagumi matahariMu yang bersinar cerah.
Bisikkanlah di telingaku ucapanMu mesra :
"Tidurlah anakku:
Kasih karuniaku menyertaimu
Dan damai sejahteraku menyelimuti engkau
Mengarungi kepekatan malam ini."
Amin.

Madah Bagi Tuhan



MASA BIASA 
SORE HARI
Minggu
Pencipta cahaya mulya
Yang mengatur matahari
Pada awal masa purba
Kauciptakan langit bumi

Pagi petang Kauhubungkan
Kauberi julukan hari
Senja sudah Kau datangkan
Trimalah pujian kami

Kami sesal akan dosa
Ingin bersih dari noda
Agar dapat masuk surga
Mencapai pahala mulya

Kabulkanlah doa kami
Ya Bapa yang baik hati
Bersama Putra dan RohMu
Sekarang serta selalu. Amin


Senin
Allah pencipta semesta
Yang mengatur segalanya
Siang Kauhiasi terang
Malam Kaujadikan tenang

Semoga istirahat kami
Membuat kuat kembali
Jiwa raga yang tertekan
Oleh beban pekerjaan

Hari mengayunkan langkah
Malam mendekatlah sudah
Kami menyanyikan lagu
Untuk bersyukur padaMu

Kabulkanlah doa kami
Ya Bapa yang baik hati
Bersama Putra dan RohMu
Sekarang serta selalu. Amin


Selasa
Bapa yang mahakuasa
Senja hari sudah tiba
Dengarkanlah madah kami
Pengungkapan isi hati

Hati dan suara kami
Bersatu padu memuji
Cinta kami kepadaMu
Tetaplah teguh selalu

Bila malam jadi gelap
Jangan iman hilang lenyap
S'moga malam diterangi
Sinar iman yang sejati

Kabulkanlah doa kami
Ya Bapa yang baik hati
Bersama Putra dan RohMu
Sekarang serta selalu. Amin


Rabu
Pada waktu senja ini
Malam mulai mendekat
Kami menyerahkan diri
Penuh pasrah dan hormat
KepadaMu Bapa kami
Sumber segala rahmat

Kami bersyukur padaMu
Atas kurnia hari
Yang kini akan berlalu
Dan atas kasih suci
Yang Kaucurahkan selalu
Ke dalam hati kami

Semoga kami semua
Yang khidmat menghadapMu
Siap menanggapi cinta
Dengan tiada ragu
Membaktikan jiwa raga
Demi kerajaanMu

Terpujilah Allah Bapa
Tuhan mahakuasa
Terpujilah Yesus Kristus
Yang menjadi penebus
Terpujilah Roh Ilahi
Penghibur yang sejati. Amin


Kamis
Yesus Kristus Putra Bapa
Yang menjadi manusia
Kaulah cahaya dunia
Yang mencerahkan semua

Bila semuanya lenyap
Engkau akan tinggal tetap
Bila segalanya musna
Engkau tetap berkuasa

Bila fajar tampil lagi
Terbit hari yang abadi
Kau meraja selamanya
Berjaya bersama Bapa. Amin


Jumat
Yesus cahaya sejati
Yang bersinar dalam hati
Membawa keselamatan
Dan damai yang tahan zaman

Engkau laksana pelita
Di tengah gelap gulita
Yang menjamin perjalanan
Agar mencapai tujuan

Bila senja sudah tiba
Engkau tetap bercahaya
Menyinarkan kasih suci
Memancarkan cinta murni

Terpujilah Kristus Tuhan
Yang rela menjadi kurban
Namun kini sudah jaya
Mulya untuk selamanya. Amin

Sabtu
Hari kan berlalu namun cinta Allah
Pasti dekat slalu tidak kan berpisah
Cemas tidak perlu tak usah gelisah
Hati harus tetap tabah

Tinggallah ya Bapa dampingilah kami
Dalam suka duka yang kami hadapi
Agar senantiasa kami mengimani
KehadiranMu yang sakti

Trimalah luapan rasa syukur kami
Atas kelimpahan kebaikan hati
Yang Kau perlihatkan pada hari ini
Ya Tuhan dan Allah kami

Terpujilah Bapa pencipta semesta
Bersama Putera penebus dunia
Yang mengutus Rohnya di tengah Gereja
Untuk tinggal selamanya. Amin

MASA NATAL
IBADAH SORE
Sebelum hari raya penampakan Tuhan

Yesus Putra tunggal Bapa
Yang menebus manusia
Sudah lahir dari dulu
Sebelum adanya waktu

Engkaulah cahaya Bapa
Harapan kami semua
Dengarkanlah doa kami
Yang kami panjatkan ini

Untuk membebaskan kami
Engkau merendahkan diri
Lahir dari prawan murni
Tak berdaya bagai bayi

Mulyalah Engkau ya Tuhan
Yang lahir dari perawan
Serta Bapa dan Roh Suci
Mulyalah kekal abadi. Amin

IBADAT PAGI
Sebelum hari raya penampakan Tuhan

Marilah kita bernyanyi
Di segala ujung bumi
Bagi Kristus Tuhan kita
Yang lahir dari Maria

Ia pencipta mulia
Sudi jadi manusia
Yang membebaskan sesama
Janganlah sampai binasa

Jeramilah hamparanNya
Palungan di kandang sunyi
Susu seteguk minumNya
Kristus pelimpah rejeki

Mulyalah Engkau ya Tuhan
Yang lahir dari perawan
Serta Bapa dan Roh suci
Mulyalah kekal abadi. Amin





Minggu, 20 Agustus 2017

Rohani : Tuhan Sang Pemberi Rejeki

     

       Tanggal 17 Agustus 2017 kemarin merupakan tanggal ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Bagiku secara pribadi, tanggal 17 Agustus juga merupakan tanggal yang selalu kukenang. Tujuh belas tahun yang lalu, tanggal 17 Agustus 2000 aku mengundurkan diri dari Seminari Tinggi CM. Faktor nilai pastoral yang kurang yang membuat aku harus keluar. Sempat protes, tetapi dalam perjalanan waktu aku menerimanya. Yach, inilah jalan hidupku dan sekarang aku nyaman sebagai seorang awam.
       Mendekati tanggal 17 kemarin, uangku menipis. Uang kertas di dompet hanya ada sekitar Rp. 20.000 saja. Aku pasrah. Ketika anakku minta jajan aku belikan. Aku juga membeli coca cola yang ingin aku minum untuk teman merenungkan perjalanan hidup di tanggal 17 nanti. Aku membiarkan uangku habis walau aku tidak tahu bagaimana nanti aku bisa bertahan hidup selama 2 minggu ke depan sebelum aku menerima gajian dari kantor. Uang untuk kulakan es wawan yang selama ini membantu menambah penghasilan tidak punya. Aku pasrah saja. Nanti setelah tanggal 17 Agustus aku mau start lagi untuk berusaha mencari uang. 
        Tiba-tiba di tanggal 17 Agustus itu ada seseorang yang whatsApp aku menyatakan ingin membeli buku yang kujual secara online. Aku kaget saja karena biasanya aku harus upload buku terlebih dahulu di facebook baru ada respon dari pembaca. Ini tanpa aku upload ternyata ada orang yang berminat membeli. Ada beberapa buku yang mau dia beli, tapi ada buku-buku yang sudah terjual. Hanya ada 8 buku yang tersedia, itu yang dia beli, total untuk pembelian 8 buku dengan ongkos kirimnya ke Banten sebesar Rp. 200.000. Sore dia mentransfer uang itu dan malamnya aku langsung mengirimnya. Kini aku mempunyai uang untuk kulakan es wawan.
       Kalau aku merenungkan siapa yang memberi rejeki ini ? siapa lagi kalau bukan Tuhan. Tuhan  yang menggerakkan hati orang tersebut untuk membeli bukuku tanpa aku harus upload buku terlebih dahulu. Aku yang ingin mencari uang lagi selepas tanggal 17 Agustus seakan di beri modal uang oleh Tuhan untuk berusaha agar bisa bertahan hidup sampai 2 minggu ke depan. 

Selasa, 15 Agustus 2017

Lagu : Kami Memuji KebesaranMu


Oh Tuhanku, sungguh kuterpesona menyaksikan ciptaanMu semua.
Kusaksikan bintang sluruh angkasa tanda kebesaranMu di dunia.
Kami memuji kebesaranMu
Juru Slamat penebusku.
Kami memuji kebesaranMu
Juru Slamat Penebusku.

Inneke (Cerpen)

   

       Inneke, gadis yang cantik. Sedang bingung memutuskan apakah melanjutkan kuliah ataukah bekerja. Lulus kuliah belum tentu mendapat pekerjaan, sementara ia setelah lulus sekolah sudah di tawari pekerjaan. Ia bercerita padaku dan bertanya harus memilih yang mana. Kataku kuliahlah, ke depan akan lebih baik, namun bertanyalah pula kepada orangtuamu. Begitu aku menjawabnya.
       Besoknya dia kembali ke kotanya. Singkat pertemuan itu namun kenangan itu tetap kubawa

Sabtu, 12 Agustus 2017

Rohani : Diperas

     

       Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpikir keras mencari penghasilan tambahan sepulang kerja. Sudah aku lakukan dengan berjualan tas, es wawan, buku dan lain sebagainya. Tetapi kadang pemasukan tak cukup karena hasil penjualan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mungkin karena waktu yang kurang lama. Berjualan sepulang kerja dengan tempat kerja di luar kota,  praktis aku hanya punya waktu dua jam untuk berjualan, dari jam 19.00 - 21.00 Wib. Tentu hanya akan mendapatkan sedikit pengunjung. Maka kalau ada orang beli, tentu itu rejeki dari Tuhan.
       Dalam keadaan seperti ini aku terus berpikir bagaimana aku masih mendapat penghasilan. Di facebook kutemukan undangan untuk masuk dalam group penulis. Di tunjukkan nomor WhatsApp yang perlu dihubungi. Aku kontak WhatsApp itu akhirnya aku bergabung dengan kelompok penulis TravelWriting. Dan dengan bergabung aku akhirnya bisa membuat blog ini,  yang kupelajari secara otodidak. Pertemuan para anggota TravelWritings di Rumah Air Surabaya menghasilkan tulisanku mengenai Rumah Air Surabaya yang aku posting di blog ini. Kini kelompok memacu para anggotanya untuk terus belajar menulis. Bulan Agustus ini membuat tulisan antologi. Aku mau menulis tentang Taman Flora Surabaya dan Air Mancur Kenjeran Surabaya. Selain itu aku juga telah menulis cerpen yang aku kirim ke sebuah majalah. Informasi dari para anggota perihal adanya lomba-lomba menulis artikel, cerpen, puisi di berbagai tempat memacuku untuk ikut mengikutinya.
Selain menulis aku juga mengembangkan fotografi. Masih tahap belajar, tapi aku bersyukur walau masih dalam tahap belajar, aku diminta temanku sendiri untuk memotret pre-weddingnya.
       Apa yang bisa aku renungkan dari semua ini ? Tuhan memerasku, memeras potensiku. Dalam keadaan serba kekurangan, Tuhan meminta aku untuk menggali semua potensiku. Menulis dan memotret itu memang impianku. Tetapi ketika dahulu dalam keadaan aku berkecukupan, keinginan itu tidak cukup kuat. Sekedar ingin tapi minim karya. Kini dalam keadaan aku serba berkekurangan, aku memaksa diri untuk lebih produktif.
       Pikiranku melantur. Sekarang ini banyak orang berjualan es tebu di pinggir jalan. Aku membayangkan diriku seperti tebu juga. Tebu itu harus diperas untuk menghasilkan sarinya. Demikian juga aku. Sebuah balon tidak mengetahui kekuatan dirinya seberapa kalau ia tidak di tiup. Demikian juga aku seperti diperas. Dalam keadaan kekurangan, ternyata Tuhan hadir dan memintaku untuk memeras diri, dan dengan demikian keluar semua potensiku yang selama ini masih banyak tersembunyi.

Jumat, 11 Agustus 2017

Mazmur 8



Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi !
KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan
Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu, telah Kau letakkan dasar kekuatan karena lawanMu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya ?
Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau menbuat dia berkuasa atas buatan tanganMu: segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya:
Kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang, burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.
Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi !


Mazmur 98



Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang:
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku:
GadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku:
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak: pialaku penuh berlimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku:
Dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Selasa, 08 Agustus 2017

Rohani : Ketika Kapal Berangkat

     

       Sore itu langit mendung. Suara halilintar sesekali bergemuruh. Aku harus berangkat, batinku. Ada ketakutan menyelinap. Berangkat ke Makassar kali ini menakutkan. Aku membayangkan kapal akan di goyang-goyangkan oleh badai karena sekarang musim penghujan dan suara halilintar seperti membawa pertanda kapal akan diombang-ambingkan oleh ombak yang besar. Seperti peristiwa Nabi Nuh saat Tuhan mengirimkan air bah kepada bumi. Pikiranku sampai membayangkan ke situ.
       Aku menyiapkan perbekalan. Kumasukkan pakaian seperlunya ke dalam koper, polpen, buku dan arsip-arsip pekerjaan kantor yang harus aku urusi di Makassar.
Langit semakin gelap ketika Pak Karjo, orang yang ditugaskan kantorku untuk mengantarkan aku ke Pelabuhan Tanjung Perak datang.
"Sudah siap pak ?" katanya kepadaku.
"Sudah pak," balasku.
Lalu aku di bonceng Pak Karjo dengan sepeda motornya menuju ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai di Pelabuhan Tanjung Perak.
"Saya antar sampai sini pak ya?" katanya, saat sampai di pintu masuk pelabuhan.
"Baik pak, terimakasih," jawabku.
Pak Karjo pun pamit pulang, aku menuju pintu masuk pelabuhan. Ada penjagaan di sana oleh petugas jaga. Setelah memeriksa tiketku, petugas jaga mempersilahkan aku masuk. Aku menuju ruang tunggu. Ada banyak penumpang di sana. Berdesak desakan suasanya karena penuh sesak. Semua tempat duduk sudah terisi. Kuletakkan koperku. Aku duduk di lantai sama seperti kebanyakan orang yang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Lainnya berdiri, tapi suasana penuh sesak. 
Kulihat jam pada arlojiku. Jam 15.00 Wib. Kapalku brangkat jam 17 00. Berarti masih dua jam lagi aku menunggu.
      Kulihat ada kapal datang. Tapi bukan kapal yang kutumpangi. Setelah bersandar, puluhan penumpang turun melalui tangga. Setelahnya puluhan penumpang naik ke kapal tadi melalui tangga itu. Lalu kulihat ada petugas memukul beberapa kali satu penumpang yang sedang naik dan memaksa turun. Aku tidak tahu masalahnya apa. Aku hanya melihat dari kejauhan, dari ruang tunggu penumpang. Mengerikan naik kapal, dunianya kasar, pikirku. Memang baru pertama ini aku ke Makassar naik kapal. Ini adalah perjalanan ke Makassar kedua. Kalau yang pertama kemarin aku berangkat naik pesawat. Naik pesawat pertama kali, dan ke Makassar pertama kali. Belum pernah pergi ke Makassar tapi dengan keberanian dan modal bertanya kepada orang-orang di situ, aku sampai juga ke tempat yang kutuju.
Kini diperjalanan kedua, aku harus naik kapal. Perusahaan tidak mempunyai cukup uang, katanya. Akhirnya aku diberangkatkan naik kapal. Belum pernah aku ke Makassar naik kapal. Ini juga pertama kalinya aku ke Makassar naik kapal. Hanya modal keberanian dan percaya kepada perlindungan Tuhan saja aku berangkat.
       Kapal yang akan aku naiki tiba. Setelah menurunkan semua penumpang, aku dan penumpang yang lain naik kapal. Banyak orang berebut naik kapal melalui tangga. Aku santai saja. Mungkin mereka penumpang kelas 1 yang harus berebut tempat. Siapa cepat, dia akan dapat tempat untuk beristirahat. Aku naik kapal pada kelas 2, pasti dapat tempat istirahat. Sesampai di kapal, aku mencari tempat tidur sesuai nomorku. Akhirnya kutemukan dan kujumpai ada empat bed di kamarku. Setelah aku saling sapa dengan teman satu kamar, aku pergi ke luar. Aku ingin berjalan-jalan di dek. Kuperhatikan langit sudah gelap, tapi entah kenapa sekarang tidak terdengar lagi suara halilintar menggelegar yang menakutkan. Suasana laut tenang. Samudra seakan dijinakkan oleh Tuhan.
'Tenanglah', seperti dilakukan Yesus ketika masih bersama para rasul yang kewalahan menjinakkan ombak samudera, sementara Yesus tidur pada waktu itu. Para murid membangunkanNya lalu Yesus bangun dan berkata kepada laut : "hai laut, tenanglah." Seketika itu juga laut menjadi tenang. 
       Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu kepadaku dan ketenangan laut ini, begitu batinku bersyukur. Di atas dek 3, aku memandang Makassar masih jauh di depan.

Artikel : Asrinya Taman Flora Surabaya

     

        Kota Surabaya merupakan kota dengan cuaca cukup panas, apalagi pada siang hari. Barangkali karena kota Surabaya sudah dipenuhi dengan gedung gedung perkantoran, hotel, mall, perumahan dan gedung-gedung lainnya yang menyita banyak lahan hijau. Belum lagi padatnya kendaraan di jalan yang menambah suasana panas dan polusi. Maka tinggal di dalam rumah atau gedung di kota Surabaya tanpa ada AC atau kipas angin di dalamnya rasanya tidak kuat menahan udara panas. 
       Bermain di Taman Flora Surabaya rasanya tepat. ehingga kurang Untuk itu Walikota Surabaya sekarang ibu Tri Risma banyak menggalakankan penghijauan dan banyak membuat taman wisata  umtuk mengurangi cuaca yang panas.
      Salah satu taman ...an Flora merupakan salah satu tempat wisata kota Surabaya yang berada di tengah perkotaan. Terletak di jalan Manyar No. 80 Surabaya. Pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017 saya berkunjung ke sana untuk melihat apa saja yang ada di dalamnya.
       Memasuki Taman Flora kita akan melihat papan nama penunjuk arah yang sekaligus kita bisa melihat apa saja yang berada di dalam Taman Flora. Ada Tanaman Toga, Playground Area, Taman Fauna dan lain-lain.


1. Tanaman Toga
       Tempat wisata ini di sebut Taman Flora karena di dalam taman ini di tanam berbagai macam jenis tanaman atau tumbuhan. Oleh karena itu saat berada di Taman Flora kita akan merasa sejuk dan rindang. Taman Flora setiap harinya bukan hanya dikunjungi oleh masyarakat yang ingin sekedar berwisata di sini, tetapi juga sering dijadikan oleh sekolah-sekolah untuk mengenalkan para siswanya mengenal berbagai jenis tanaman. Sehingga ini menjadi bagian dari pelajaran di sekolah.
   


       Diantara berbagai macam tanaman itu di buat juga Taman Toga. Toga, singkatan dari Tanaman Obat Keluarga. Jadi pada taman ini di tanam berbagai jenis tanaman yang berfungsi sebagai obat, yang biasanya di tanam di pekarangan atau halaman rumah. Tanaman Toga ini biasanya dimanfaatkan oleh orang-orang sebagai obat tradisional. Taman Toga di Taman Flora ini diresmikan oleh Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini pada tanggal 28 Nopember 2012.


2. Playground Area
       Untuk membuat pengunjung betah berwisata di sini, selain tempat yang sejuk, di bangun juga arena bermain bagi anak-anak, mulai dari mainan ayun-ayunan, jungkit-jungkitan sampai arena outbond




Permainan outbond tentu menarik karena ini bisa melatih keberanian dan kepercayaan diri anak-anak.

3. Taman Fauna
      Dibangun juga di Taman Flora Taman Fauna yang berisi berbagai jenis binatang. Memang tidak banyak tetapi ini bisa menjadi seperti kebun binatang mini. Ada binatang rusa, burung merak, kura-kura, dan lain-lain.  Di pintu masuk Taman Flora juga ada pedagang yang menjual kacang panjang yang bisa dipakai sebagai makanan rusa.  Jadi bagi para pengunjung yang ingin mengajari anaknya berani memberi makan rusa, bisa membeli kacang panjang di depan pintu masuk.



4. Taman Bacaan
      Untuk menambah pengetahuan, di Taman Flora juga dibangun perpustakaan. Anak-anak bisa membaca buku si sini.


5. Tempat Pembelajaran Fasilitas Internet
       Dibangun juga tempat fasilitas belajar internet bagi anak-anak atau masyarakat


6. Sentra Kuliner
       Lelah dan lapar setelah jalan-jalan, bermain dan ingin beristirahat sambil menikmati makanan dan minuman ? Gampang. Di kanan dan kiri pintu masuk Taman Flora di bangun juga Sentra Kuliner. Terdapat beberapa tenant dengan aneka macam menu makanan dan minuman. Dijamin anda akan merasa nyaman di sini


       Jadi kalau mau berwisata di tempat yang asri, ingin melatih keberanian dengan bermain outbond, sekaligus melihat kebun binatang mini dan wisata edukatif denga mengenal macam macam tanaman boga ? Kunjungi Taman Flora Surabaga dan nikmati semua fasilitas yang ada di sana

Minggu, 06 Agustus 2017

Bookmarks




       Masih kuingat dahulu sepulang kuliah, aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko di jalan Bukit Barisan Malang membeli bookmarks sebagai penyemangat hidup.
       Aku juga ingin membuat bookmarks. Kata-kata ini mungkin bisa aku cetak dalam bookmarks :
1. Kesendirian kadang mengasyikkan untuk menemukan kepercayaan diri
2. Kecantikan itu memikat. Maka bersyukurlah yang menerimanya
3. Kegagalan adalah tidak kau selesaikan apa yang sudah kau mulai
4. Jangan pernah padam bara impian dalam dirimu
5. Jangan pernah mati sebelum kau mati
6. Hidup itu seperti naik sepeda. Kamu tidak akan jatuh kecuali kamu berhenti menggayuh
7. Hidup adalah pilihan
8. Meskipun berat beban hidup yang dijalani, hadapi segalanya dengan penuh keyakinan dan perjuangan
9. Orang yang tak berpaling dari prinsip hidup sedikitpun, juga hanya menjadi manusia kaku dalam pribadi
10. Yang membuat hubungan kita segar dan penuh gairah adalag keunikan kita
11. Saya tidak pernah menunggu sukses itu datang tapi saya akan pergi menyongsongnya segera
12. Kalau kita tumbuh, kita benar-benar hidup. Dan kalau kita benar-benar hidup, kita bisa menikmati hidup, menggapai kebahagiaan dan meraih keberhasilan
13. Mungkinkan suatu harapan tercapai jika aku berpangku tangan
14. Buat mimpimu jadi nyata
15. Kita banyak belajar dari kegagalan, bukan keberhasilan
16. Aku kagum dengan kepribadianmu yang mempesona dan seulas senyum itu membuat hati ini bergetar
17. Berdoalah sesering mungkin karena doa mengubah segala-galanya
18. Bukan seberapa besar apa yang sudah kau raih, tapi seberapa besar usahamu. Itu yang dinilai
19. Cintailah dirimu sendiri
20. Pengalaman adalah guru yang paling baik
21. Bayang-bayangmu terasa hadir menemani setiap langkah kehidupanku
22. Maafkan aku untuk kesalahanku di masa lalu
23. Engkau yang di sana semoga kau baik baik saja
24. Aku sudah cukup bersyukur bahwa kita telah pernah bersama
25. Teruslah berjuang
26. Segala sesuatu ada waktunya
27. Kenangan kita tlah menjadi semangatku
28. Kebaikan-kebaikan kecil di masa lalu adalah keberuntungan-keberuntungan di masa depan
29. Tak ada yang tak mungkin bila kita tidak menyerah pada masalah
30. Peganglah kendali kehidupan anda, bukan kehidupan yang memegang kendali atas anda
31. Manusia hidup yang penting bukan pada dimana ia berpijak, tapi pada orientasi yang dituju
32. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Diri kita adanya berasal dari pikiran kita. Dengan pikiran kita jadikan dunia kita (Gautama Buddha)
33. Kesalahan itu hanya bersifat sementara, kecuali anda mengijinkannya terulang kembali
34. Tugas hidup manusia di dunia adalah hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain
35. Tidak ada kata terlambat untuk memulai berapapun usia anda. Yang penting ada niat
36. Ingin memanen harus membajak dan menyiangi terlebih dahulu, keberhasilan harus mengandalkan berusaha keras
37. Kadang Tuhan mengijinkan kita mengalami hal-hal sulit untuk menunjukkan keterbatasan kita dan kebesaran kuasaNya
38. Anything is possible if you really want to
39. Be the best what you can be, do the best what you can do, and do everything that you feel
40. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan kegigihan dan semangat baru niscaya akan memperoleh hasil yang gemilang
41. Jangan terlena akan cinta bila kau ingin berhasil mengejar cita-cita
42. Ada getar cinta terpaku saat pandang mata kita bertemu kemarin. Mungkinkah ?
43. Belajarlah menerima pendapat dan keinginan orang lain terutama dari seorang yang paling dekat di hati kita.
44. Persiapkan segala-galanya di masa muda untuk menghadapi hari esok penuh cobaan
45. Jangan kau hadirkan bayang kelabu masa lalu bila kau ingin hidup dengan kebahagiaan
46. Kehadiranmu memberi seribu rasa bahagia dan hilangkan banyak kerinduan padamu selama ini
47. Siapkan dirimu untuk mengejar segala kekurangan dan kelebihanmu
48. Tiada kebahagiaan tanpa perjuangan dan tiada perjuangan tanpa pengorbanan
49. Apapun yang dapat kau kerjakan atau impikan sekalipun, mulailah lakukan. Di dalam ketangguhan terdapat kejeniusan, kekuatan dan keajaiban. Mulailah sekarang juga
50. Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan rendahkanlah hatimu sedalam mutiara di dasar laut
51. Tuhan, berilah aku kelapangan hati untuk menerima apa yang tidak dapat aku ubah. Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang dapat kuubah. Dan berilah aku kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya
52. Sebuah bangunan yang kokoh membutuhkan pilar dan dinding, sebuah keluarga yang kokoh membutuhkan cinta, kasih dan impian
53. Untuk bisa maju sepuluh langkah perlu maju selangkah demi selangkah
54. Bila kamu memperoleh kayu yang tak berguna, maka rubahlah menjadi  patung yang indah berseni
55. Dimana ada harapan, di situ ada kekuatan di masa kini
56. Keberhasilan seseorang bukan dari sekolah saja, tetapi juga dari pergaulan dengan masyarakat sekitarnya
57. Jangan kita silau oleh sesuatu yang berkilauan, karena yang berkilauan belum tentu emas. Pandai-pandailah menempatkan diri
58. Kebahagiaan itu seperti awan. Kalau kamu memandanginya terlalu lama, dia menghilang (Sarah Mc Lachlan-penyanyi Kanada)
59. Visi adalah seni memandang sesuatu yang tak mampu dipandang orang lain (Jonathan Swift :1667-1745-sastrawan Irlandia)
60. Keberanian adalah dengan tanpa ragu-ragu mengubah keadaan sulit yang bisa di ubah (Tekad Sayang)
61 Ketika kemajuan hidup terasa lambat, tetap bertekunlah pada impianmu
62. Kesuksesan tidak datang begitu saja seperti hujan yang turun dari langit, malainkan hasil dari kerja keras dengan perencanaan yang matang
63. Waktu yang sulit tidak pernah berkesudahan, tetapi orang yang tegar terus maju
64. Iman adalah mempercayai apa yang tidak anda lihat, upah untuk iman ini adalah melihat apa yang anda percayai (Saint Augustine)
65. Sukses adalah koalisi pikiran. Jika anda ingin sukses mulailah membayangkan diri anda sebagai orang yang sukses (Joyce Brothers)
66. Setiap orang memiliki talenta. Yang jarang adalah keberanian untuk mengikuti talenta tersebut ke tempat gelap kemana ia menuntun (Erica Jong)
67. Tak satu pun di bumi ini yang tidak dapat dimiliki, begitu secara mental anda terima fakta bahwa anda dapat memilikinya (Robert Collier)
68. Apa yang dapat dibayangkan serta diyakini manusia, dapat dicapainya (W. Clement Stone)
69. Jika anda dapat membayangkannya, anda dapat mencapainya. Jika anda dapat memimpikannya, anda dapat menjadi yang anda impikan itu (William Arthur Ward)
70. Kita memiliki kuas dan cat warna...lukislah sorga dan 9masuklah ke dalamnya (Nikos Karzantzakis)
71. Sukses atau gagal seringkali di tentukan di meja gambarnya (Robert J. McKain)
72. Berhati-hatilah dengan ekspektasi anda, karena akan menjadi realita anda (Elita Darby)
73. Kerajaan masa depan adalah kerajaan pikiran (Winston Churchill)
74. Ada kecenderungan mendalam dalam sifat manusia untuk menjadi persis seperti apa yang kita bayangkan tentang diri kita sendiri (Norman Vincent Peale)
75. Anda adalah siapa yang anda yakini (Claude M. Bristol)
76. Anda tidak dapat menuai sukses kecuali anda menabur benih sukses (Nelson Boswell)
77. Cara kita membayangkan diri sendiri mempengaruhi bagaimana dunia memandang kita (Alrene Raven)
78. Pikiran-pikiran yang kita pelihara akan membuahkan hasil sejenis (Florence Scovel Shinn)
79. Manusia hanya dapat menjadi apa yang diyakininya dan mencapai hanya apa yang diyakininya (Florence Scovel Shinn)
80. Untuk mencapai pelabuhan, kita harus berlayar, tidak menjatuhkan sauh, berlayar bukan terbawa arus (Franklin Delano Roosevelt)
81. Segala sesuatu harus kita hadapi.
82. Berpeganglah pada dirimu sendiri dan Tuhanmu
83. Jangan kau terlena oleh cinta
84. Teguhlah membangun impian di tengah segala kesulitan
85. Terkadang hal-hal mustahil bisa terjadi saat kita tak memiliki
86. Untuk bisa tumbuh,  segala sesuatu perlu dipelihara
87. Segala sesuatu yang rusak tetap bisa diperbaiki walau tidak bisa seperti semula
88. Di dalam diri setiap orang Tuhan memberi kharisma. Galilah kharismamu
89. To get your dreams, you must start somewhere
90. Berjalanlah dengan langkah yang mantap, maka kau akan sampai pada tujuanmu
91. Ketika engkau dalam kesulitan, janganlah imanmu hilang lenyap
92. Dalam keadaan apapun, tekunlah berusaha menggapai anganmu
93. Hidupilah mimpi mimpimu agar mimpimu menghasilkan buah
94. Kecantikan perlu dinikmati
95. Untuk maju satu langkah kamu harus melangkah
96. Dalam segala situasi tetap tenang merupakan bukti seseorang bisa menguasai diri
97. Hidup yang sukar sejujurnya adalah ujian keteguhan diri
98. Mujizat terjadi setiap waktu bila kita menyadarinya
99. Kendalikan kehidupanmu, bukan kehidupan yang mengendalikanmu
100. Untuk kamu yang kita tak mingkin lagi bertemu, aku rindu kamu
101. Bukalah hatimu untuk orang orang yang baik padamu
102. Nikmatikah setiap peristiwa indah dalam hidupmu
103. Ketidakluhuran hanya akan membuat langkah kembali mundur menuju start
















Kemakmuran

       Kemakmuran. Siapakah yang tidak ingin hidup makmur ? Semua orang pastinya menginginkannya. Dengan hidup makmur kita bisa memenuhi segala keinginan kita akan papan, sandang dan pangan. Dengan hidup makmur kita juga bisa memberi untuk orang lain. Anak-anak bisa tumbuh sehat karena tercukupi segala kebutuhan gizinya. Pendidikan akan terjamin karena ada dana untuk itu. Banyak hal yang bisa diperoleh dengan hidup makmur.
       Sementara kemiskinan memunculkan banyak problem. Keretakan dalam rumah tangga bisa saja terjadi karena faktor uang. Pendidikan anak-anak, kesehatan, psikologis akan ikut terganggu bila seseorang hidup berkekurangan.
       Kondisi saya sekarang ini masih termasuk dalam golongan orang yang berkekurangan, walaupun usia sudah masuk dalam kepala empat. Memprihatinkan bukan ? Untuk itu saya ingin belajar dari banyak hal bagaimana caranya bisa menggapai kemakmuran. Saya akan belajar dari nasehat orang-orang yang sudah berhasil, nasehat orang-orang bijak, pengalaman sendiri, pengalaman-pengalaman hidup orang lain yang berhasil maupun gagal dan dari Sabda Tuhan sendiri
       Berikut ini adalah ulasan-ulasan untuk diriku sendiri yang akan aku lakukan semoga bisa menggapai kemakmuran itu :
1. Hematlah uangmu
2. Tabunglah uangmu
3. Investasikan uangmu
4. Perbaiki sendiri barang yang rusak bila bisa diperbaiki sendiri
5. Mohonlah jalan pada Tuhan
6. Mohonlah berkat Tuhan atas segala usahamu
7. Belanjakan uangmu hanya untuk membeli barang pembangun masa depan
8. Lakukan apapun itu yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan uang
9. Kirimkan tulisan-tulisanmu ke berbagai majalah, buletin, surat kabar dan lain sebagainya
10. Buatlah buku
11. Ikutilah lomba-lomba kepenulisan cerpen, artikel, puisi, dan lain-lain
12. Jadilah reseller
13. Jadilah dropshipper




Mewujudkan Mimpi



       Mewujudkan mimpi. Susahkah ? Aku tidak tahu. Tetapi aku yakin selama aku berusaha berjalan ke arah sana aku akan memperoleh hasil. Entah mimpi itu tercapai sempurna ataukah hanya sebagian. 

Mimpiku : menjadi seorang penulis & fotografer kehidupan, pemilik art gallery, cafe & bookstore.

Ini adalah semangat untuk diriku sendiri :
1. Hidup hanya sekali. Jadikan mimpimu menjadi kenyataan agar di hari senjamu kamu merasa bahagia bahwa kamu sudah berhasil meraih mimpi-mimpimu
2. Mimpiku merupakan kepenuhan jiwaku
3. Mewujudkan mimpi berarti aku mampu berdiri di atas kedua kakiku sendiri
4. Mewujudkan mimpi berarti aku melakukan perintah Tuhan untuk mengembangkan mina yang Tuhan tanam ke dalam diriku.
5. Mimpiku merupakan gantungan di masa tuaku
6. Hasil mimpiku kelak
akan kujadikan warisan bagi anak-anakku








Menulis

     


     
     
      Aku sekarang mempunyai keinginan kuat untuk menulis. Tidak tahu mengapa. Tetapi aku ingin tulisan-tulisanku bisa meneguhkan seseorang, memberi inspirasi dan semangat baru. 
       Ulasan-ulasan di bawah ini adalah ulasan-ulasan yang aku tujukan untuk diriku sendiri sebagai penyemangat diriku dalam menulis :
1. Kamu tidak bisa menulis dari apa yang kamu tidak ketahui
2. Menangkap apa yang tersirat dari suatu hal
3. Mengambil sikap dalam hidup. Cerpen Putu Wiryajatha kalau diperhatikan berisi kumpulan sikap sikapnya
4. Pengetahuan yang luas merupakan bekal menulis secara obyektif. Maka bacalah banyak pengetahuan
5. Menulislah saat itu juga ketika ide itu diberikan dalam pikiranmu.
6. Menulislah dari pengalaman hidupmu
7. Selamilah kehidupan seseorang
8. Bacalah kisah kisah kehidupan seseorang dari buku-buku, majalah, buletin, koran dan apapun itu
9. Bacalah kisah kisah dalam rumah tangga
10. Bacalah kisah kisah para remaja ABG
11. Menulislah dari hatimu
12. Berpikirlah tajam untuk dapat melihat sesuatu
13. Galilah pengalaman pengalaman di masa lalumu
14. Renungkan Tuhan berbicara apa padamu ?
15. Cobalah meramu alur cerita
16. Setiap penulis memiliki kebiasaan kapan ide menulis bisa mengalir, entah menulis di sore hari, menulis dengan minum kopi, tidak mengetik di komputer tetapi menulis dengan tulisan tangan, dll. Temukan itu dan pertahankanlah kebiasaan itu.










Sabtu, 05 Agustus 2017

Penyemangat Diri



       Terkadang ada kalanya dalam hidup kita kehilangan gairah hidup. Keletihan karena banyaknya pekerjaan, persoalan yang mendera terkadang membuat kita seperti terduduk lemas kehilangan makna hidup. 
       Dalam keadaan sepert itu ada baiknya kita duduk sejenak, jiwa menghadap Tuhan dan bertanya apa makna hidupku. Selama ini kurasakan Tuhan akan memberi semangat baru. 
       Dan berbekal semangat dari Tuhan aku bisa menyemangati diriku sendiri :
1. Tugas manusia adalah hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain
2. Jangan pernah padam bara impian dalam dirimu
3. Jangan pernah mati sebelum kau mati
4. Jadilah dirimu sendiri dengan segala mimpi-mimpimu
5. Hidup itu seperti naik sepeda. Kamu tidak akan jatuh kecuali kamu berhenti menggayuh
6. Kegagalan itu sebenarnya hanya karena satu : tidak kau selesaikan apa yang sudah kau mulai
7. Ingatlah akan kerinduan-kerinduanmu
8. Bagaimanapun keadaanmu, Tuhan akan menjangkungmu.
9. Tuhan menempatkan rejeki di segala tempat, kita hanya diminta menemukannya






Rabu, 02 Agustus 2017

Kunang kunang


Hari sudah sore ketika aku sampai di dusun Bambang. Tujuanku adalah menuju ke stasi St Maria di dusun Brintik. Masih empat kilometer jauhnya. Rumah umat di stasi ini tersebar di tiga dusun : dusun Bambang, Badran dan kemudian terakhir di ujung, di dusun Brintik dimana stasi St. Maria didirikan.Sampai di dusun Bambang kuputuskan untuk berjalan kaki. Selain angkot ke arah stasi ini tidak ada, adanya ojek, aku memang berniat mau berkunjung ke rumah-rumah umat yang kebetulan rumah mereka berada di sepanjang jalan yang kulalui.Sesudah aku mengunjungi rumah umat di dusun Bambang, Badran, sekarang tinggal menuju ke stasi di dusun Brintik.Aku harus melewati jalan desa, jalan tanah yang belum di aspal sepanjang dua kilometer yang kanan dan kirinya terbentang area persawahan tanaman padi yang luas. Hari sudah mulai gelap, tidak ada lampu penerangan di sepanjang jalan itu, ketika sekonyong-konyong kulihat di depanku sebelah kanan di area persawahan itu setitik cahaya berdiam di situ. Kuperhatikan dengan seksama. Kutoleh sebelah kiriku juga ada cahaya-cahaya yang beterbangan. Baru aku menyadari ternyata itu adalah cahaya yang keluar dari tubuh kunang-kunang.
Aku sempat takut melihat kunang-kunang itu karena menurut cerita para orangtua di desaku ketika aku masih kecil, kunang-kunang itu adalah jelmaan dari kuku-kuku orang yang sudah meninggal. Namun aku terus berjalan dan semakin aku berjalan semakin banyak kujumpai kunang-kunang hinggap di hamparan tanaman padi yang luas itu. Ratusan jumlahnya. Yang lain beterbangan kesana kemari, di atasku, di sampingku, di depan dan belakangku.
Mungkin ini musim kunang-kunang, begitu pikirku. Sungguh, aku takjub, belum pernah aku melihat kunang-kunang sebanyak itu dalam hidupku. Aku menjadi tidak takut lagi. Jalanan yang tadinya gelap menjadi tidak lagi karena ada cahaya kunang-kunang yang menerangi jalanku.
Melihat ratusan kunang-kunang itu, aku jadi teringat akan perintah Tuhan yang tertuang dalam Kitab Suci : "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga."
Kunang-kunang itu telah memberi contoh kepadaku. Sekarang tinggal aku.



Cerpen : Ketika Menyusuri Jalan Berbatu


      "Theettt..."Bel istirahat berbunyi. Para mahasiswa-mahasiswi  itu keluar meninggalkan ruang makan. Aku pun juga. Aku duduk di kursi teras kamar.
"Ayo kak, kita jalan jalan" pinta Sianawati.
"Iya kak, ayo" pinta Astrid juga.
"Baiklah" kataku. "Gantilah pakaian dahulu dengan pakaian yang santai." pintaku
"Iya kak".
Mereka ke kamar untuk berganti pakaian.  Para mahasiswa-mahasiswi sebuah kampus di Probolinggo ini datang ke Rumah Retret Sawiran untuk melakukan outbond guna menumbuhkan, memupuk dan mengembangkan sikap kepercayaan diri, kemandirian, kebersamaan, dan kekompakan di antara mereka. Aku merupakan salah satu dari pembina Rumah Retret Sawiran yang membina mereka. Umumnya para pembina mereka panggil "kakak".
Aku tetap menunggu di teras. Kuperhatikan bunga-bunga di taman depan kamar bermekaran.
"Ayo kak" kuperhatikan mereka sudah ganti pakaian.
"Ayo siapa mau ikut ? " kataku menawarkan kepada yang lain
Ada Cici, Richard, Lisa ikut bergabung
"Ayo ," kataku
Lalu aku mengajak mereka jalan-jalan, kuajak mereka melihat tempat pembibitan bunga krisan. Nampak hamparan bunga krisan yang masih kecil,  belum berbunga, sebagian mulai berkuncup, sebagian lagi sudah berbunga dengan beraneka warna. "Bunga-bunga ini sebagian besar dikirim ke pemesan di Bali", kataku menjelasakan
Selepas dari melihat pembibitan bunga krisan, aku mengajak mereka ke perpustakaan untuk melihat buku-buku koleksi perpustakaan di Rumah Retret Sawiran. Lalu kuajak juga melihat toko yang menyediakan aneka souvenir. 
"Ayo kak kita jalan-jalan menyusuri sungai" pinta Sianawati
Rupanya Sianawati sudah tahu kalau di samping Rumah Retret ada sungai. 
"Ayo," kataku
Akhirnya kami pergi ke sungai.
Kulihat air sungai nampak bersih. Air di sini memang belum banyak tercemar. Mungkin karena Rumah Retret Sawiran berada di daerah pegunungan dengan jumlah penduduk yang masih sedikit. 
Aku menuruni sungai di susul yang lain. Terasa dingin air sungai mengenai kaki. Ada kesegaran mengalir melalui kakiku.
"Awas banyak batu", kataku.
"Lebih baik bergandengan" kataku.
Mereka pun bergandengan.
Aku dan mereka terus berjalan. Air mengalir agak deras. Batu-batu yang dipijak kadang licin. 
Sianawati mendekatiku. 
"Gandeng kak, " pintanya
"Ayo sini"
Sianawati mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Terasa hangat.
Aku dan Sianawati terus berjalan. Kulihat burung berkicau dan pohon-pohon di pinggir sungai tumbuh dengan rindang. Susahnya berjalan menyusuri sungai karena air yang mengalir cukup deras, banyaknya batu di sepanjang jalan membuat aku dan Sianawati semakin mempererat genggaman. Ada desiran di hati manakala gengamannya semakin kuat. Aku merasakan hatiku tertuju padanya. Aku menikmati saja rasa ini. Tak kusangka hatiku akan seperti ini.
"Kak kita hampir sampai," katanya
"Ayo kita keluar"
"Ayo teman-teman kita keluar," kataku meminta semuanya untuk keluar dari sungai
"Bagaimana rasanya menyusuri sungai? " kataku meminta kesan
"Menyenangkan kak " kata Cici.
"Oke, baiklah, sekarang semuanya karena sudah kedinginan pergi kamar mandi masing-masing untuk mandi dan berganti dengan pakaian yang hangat
"Oke kak" kata Astrid
"Makasih ya Kak", kata Sianawati kepadaku dengan senyum manisnya.
"Sama-sama Siana," kataku.
Kulihat mereka semuanya pergi untuk mandi, tetapi ada yang tertinggal di hatiku. Rasa yang tadi tumbuh di hati terhadap Sianawati.
,



Cendana Di Bulan Maret

"Thett....." bunyi bel tamu itu memekakkan telinga. Kulihat dari teras kamarku di lantai dua, Greg sedang menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Rupanya hari ini Greg bertugas untuk menerima tamu-tamu yang masuk.  Aku masuk kamar lalu kuambil pada rak almariku novel Lemah Tanjung, karya Ratna Indraswari Ibrahim, novelis yang lukagumi. Aku masih membaca sampai halaman dua, dimana Gita ingin mengantarkan Bonet, anaknya untuk melihat kunang-kunang di Lemah Tanjung.  Aku penasaran ingin mengetahui  bagaimana cerita selanjutnga. Baru lima menit membaca, kudengar suara Greg memanggilku dengan keras :
"Rendra..." dicari fansmu."
Aku setengah kaget ketika mendengar bahwa tamu yang tadi dibukakan pintu oleh Greg adalah tamuku.
"Oke. Suruh tunggu dulu," aku menjawab dengan lantang dengan pesan.

Kubuka pintu ruang tanu, dan kulihat tamuku adalah "gerombolan si berat, " begitu aku memanggilnya. Ada Siska, Joko, Sugik, Budi, Debbie, Maryati, Didin, Sandra, Nanin dan Miranti.
"Hey... " sapaku.
"Hey mas," jawab Miranti,
"Ayuk kita keluar ?"
"Keluar kemana ?" tanyaku
"ikut saja," Budi menimpali
"Oke deh,"kataku

Hari sudah mulai malam ketika angkot lyn MM yang aku naiki bersama "gerombolan si berat" ini menyusuri jalanan. Kuperhatikan lampu lampu jalan sebagai penerangan jalan indah sekali. Di depan berdiri Dieng Plaza yang megah. Lalu angkot belok kanan menuju jalan kawi lalu berhenti di Resto dan Cafe Cendana. Di depan Cafe Miranti berkata kepadaku : "Happy Birthday mas", di susul yang lain. Mereka semua menyalamiku. Hari ini di bulan Maret aku memang merayakan hari ulang tahunku, Tetapi aku tidak mengira mereka akan mengajakku ke sini.
"Terima kasih teman-teman" kataku
Miranti berkata : "kita semua mengajak mas ke sini untuk merayakan ulang tahun mas"
"Terima kasih banyak ya Miranti dan teman-teman semua atas perhatiannya kepadaku."
"Sama-sama" jawab mereka semua. Lalu aku dan yang lainnya masuk.
Ada banyak tempat di situ. Tempat duduk dengan diterangi lampu hias dan dipayungi canopy. Indah dan romantis kesannya tempat ini. Aku memilih tempat duduk agak di ujung, sendirian. Aku lihat Budi dan Didin mengambil tempat duduk di paling ujung. Duduk berhadap-hadapan. Lalu bercakap-cakap sambil memilih menu makanan yang diletakkan di setiap meja. Terlihat mereka begitu romantis.
Miranti datang ke mejaku sambil membawa es juice alpokatnya
"Mas, aku duduk sini ya ? "
"Oke" kataku
Miranti, terlihat paling perhatian di antara teman temanku ini.
Cantik wajahnya, lurus rambutnya. Keramahannya menambah pesona padanya.
"Sudah habis makanmu ? " tanyaku
"Sudah Mas," jawabnya.
"Tinggal es juice yang kubawa ini," lanjutnya sambil senyum manisnya mengembang. Teduh rasanya hati ini melihat senyumannya.
"Makanan Mas sudah habis ?" dia balik bertanya
"Sama, nih tinggal kopi coklat di depanku yang tinggal setengah," jawabku.
Lalu kita sama-sama tertawa.
Kurasakan hatiku menjadi dekat.
Lalu dia mulai bercerita banyak hal: soal kegiatannya di kampus, kebiasaannya di rumah dan kenakalan adiknya, dan apapun itu.
Melihat dia bisa leluasa bercerita, sikap dan tatapan matanya, aku merasakan dia ingin perhatianku dan ada rasa sayang mengalir dari hatinya untukku.
"Teman-teman sudah jam 21.00, ayo kita pulang," Joko memberitahu.
Tak terasa dua jam kita telah berada di cafe Cendana.
     Joko ke kasir di temani Miranti, aku pun juga turut ke kasir. Joko bilang : "sudah mas, Mas gak usah bayar, kita yang traktir."
"Aku ada uang kok" balasku
"Sudah mas, kita yang bayar, " kata Miranti.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya ?"
"Sama-sama mas, " Miranti berkata.
Setelah membayar aku dan yang lain meninggalkan cafe Cendana, menuju ke jalan raya lagi menunggu angkot lyn MM untuk pulang.
"Terimakasih teman teman untuk perhatian kalian di hari ulang tahunku" begitu batinku berucap, dan terutama padamu Miranti, ucapku dalam hatiku.
Cendana di bulan Maret menjadi kenanganku yang selalu kuingat terutama gadis cantik bernama Miranti.



     

Rohani : Mukjizat Seorang Penjual Koran

     

      "Koran, koran...," Wirya berteriak menawarkan koran  dagangannya kepada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan, yang lagi nongkrong-nongkrong di warung, sedang menunggu bus, dan siapa saja yang ia lewati. Ia berjalan kemana saja sesuai kehendak hatinya.
       "Koran Pak, koran bu, ada pembunuhan di perumahan Chandra Kirana. Pelakunya 6 orang. Mereka merampok, mengambil uang dan perhiasan di dalam rumah. Saat mau kabur, pemilik rumah terbangun lalu meriaki mereka maling. Karena takut kedengaran warga, kawanan perampok itu membunuh pemilik rumah. Sekarang perampok dalam pengejaran polisi setelah melihat wajah pelaku yang terekam dalam rekaman CCTV di dalam rumah itu. Ini beritanya pak, bu, ada di dalam koran ini." demikian Wirya menjelaskan isi berita utama koran itu kepada siapa saja yang ia temui. Mereka yang tertarik dengan berita itu, ingin membaca beritanya lebih lanjut akhirnya membeli koran itu.
"Berapa pak ?" tanya seorang ibu pemilik warung di pojok jalan.
"duaribu rupiah. bu," dia menjawab
Ibu itu berjalan menuju kotak uangnya.
Dalam hati sebenarnya dia protes dengan panggilan ibu itu, dia baru saja lulus kuliah, belum menikah, sudah dipanggil bapak. Mencari pekerjaan ternyata sulit juga. Dahulu dia berpikir setelah lulus kuliah dengan titel sarjana akan mudah mendapatkan pekerjaan, ternyata tidak. Sudah 4 bulan dia memasukkan surat lamaran ke perusahaan-perusahaan tetapi hasilnya nihil. Lamarannya bagai uap, seperti hilang karena tak pernah ada panggilan dari perusahaan yang dilamarnya. Kadang ada panggilan wawancara, namun berhenti cukup di situ. Personalia perusahaan yang mewawancarai bilang nanti akan dihubungi bila layak masuk seleksi, ternyata dia menunggu berminggu-minggu tak ada khabar juga. Beberapa teman seangkatan di kampusnya sudah mendapatkan pekerjaan di tempat yang bagus, namun rata-rata bisa masuk karena ada koneksi dengan orang dalam, entah saudaranya sudah bekerja di situ atau ada teman yang memasukkan. Dia tak punya koneksi susah untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Hidup itu sulit. Batinnya berkata demikian. Akhirnya dia berjualan koran untuk sementara sambil mencari pekerjaan yang lebih baik. Dari berjualan koran ini dia bisa membayar kosnya sendiri, yang sebelumnya di bantu orangtuanya dan bisa makan ala kadarnya. Ia bersyukur untuk itu.
"Pak, " suara ibu pemilik warung itu mengagetkan dia dan seketika itu juga lamunannya terhenti.
"Oh iya bu " jawabnya
"Ini uangnya" kata ibu itu sambil memberikan uang kertas duaribu rupiah kepadanya
"trimakasih bu," jawabnya
Wirya terus berjalan menawarkan korannya.
Terkadang capek menyerang kakinya, tetapi ia tetap berjalan.
Kali ini dia merasa sangat capek. Dia berhenti di dekat pagar lalu duduk. Dia melihat korannya, menghitungnya, sisa 18 koran. Tadi dia membawa 50 koran. Saat berangkat dia membawa setumpuk koran di tangan, kini hanya tinggal beberapa koran di tangannya. Dia berpikir dan merasakan ada mukjizat di situ. Dari ada menjadi tidak ada. Tiga puluh dua korannya tidak ada. Memang orang membelinya tapi bila Tuhan tidak menggerakkan hati orang untuk membeli korannya, walau orang itu punya uang, orang itu tidak akan membeli.
      Baginya lakunya koran-korannya adalah sebuah mukjizat. Mukjizat bagi dia bukan merupakan suatu peristiwa besar yang akan terjadi padanya, tapi cukup hal kecil. Hal kecil yang mana bila tanpa campur tangan Tuhan semua bisa saja tidak terjadi, itulah mukjizat, seperti lakunya koran-korannya

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...