Jam pada arlojiku sudah menunjukkan angka dua dini hari namun mata ini belum juga mau kupejamkan, tak tahu mengapa. Mungkin perasaan sedih, cemburu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, berkecamuk di dalam hatiku.
Walau hanya dalam kehadiran batin dan kata-kata, bisa menemanimu dari sore hari sampai dini hari ini rasanya sudah senang. Saat kita bisa berbicara dengan lancar rasanya kita seperti sedang duduk berdua di teras depan rumah berbicara apa saja sambil merasakan semilirnya angin dan menikmati indahnya langit sore
Sempat aku khawatir dan takut saat di sela-sela percakapan kita, kamu merasa down karena kejujuranku akan suatu hal.
"Seperti orang jatuh dari ketinggian," demikian kamu menggambarkan dirimu mendengar pernyataanku.
"Seperti ada orang yang berjalan kaki, tiba tiba di depannya ada sesuatu sehingga orang itu ciut nyalinya lalu hilang semangatnya untuk terus berjalan," demkian kamu menjelaskannya lagi.
Aku takut kalau-kalau rasa yang ada di dalam hatimu hilang lalu hubungan kita akan memburuk dan berakhir. Untunglah setelah aku memberi perbandingan padamu, kamu bisa memahami dan mengerti lalu hatimu pun pulih kembali.
Karena itu ingin kukatakan padamu hai wanita yang ada di dalam hatiku : "aku menyayangimu, tetap tinggallah di dalam hatiku, aku tidak ingin kehilanganmu."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA
Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...
-
ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama...
-
Aku mempunyai banyak angan-angan dan kerinduan 1. Aku ingin mempunyai gallery seni yang di dalamnya ada cafe dan bookstore Gal...
-
Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpiki...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar