Esensi Pentigraf
Kekuatan pentigraf sebenarnya bukan semata-mata pada alur, tetapi pada kepadatan dan kejutan. Pentigraf bukanlah ringkasan cerpen tetapi sungguh-sungguh prosa yang pendek.
Dalam format 3 paragraf itu penulis diharapkan sungguh-sungguh efektif menggunakan sarana bahasa dan unsur-unsur narasi. Hanya dalam format 3 paragraf penulis hendaknya berhasil membangun konflik yang luar biasa dari sang tokoh dan mau menciptakan ketakterdugaan akhir pada paragraf ketiga. Buatlah pembaca terpaku dan terdiam di situ.
Bagaimana dengan pentigraf bersambung? Pentigraf bersambung rata-rata kehilangan esensi kepadatan dan kejutan. Sesungguhnya, pentigraf selesai dalam 3 paragraf itu. Bisa jadi kita bisa bikin novel dengan menjahit banyak pentigraf. Dengan catatan pentigraf-pentigraf itu tetap mandiri sebagai sebuah pentigraf. Dia bisa dibaca sendiri dan sudah sungguh-sungguh selesai.
Karena sifatnya yang padat tersebut, pentigraf memang susah dimasukkan ke dalam genre popular. Karya ini tergolong karya eksperimental yang memerlukan tafsir saat membacanya. Jadi, kekuatan pentigraf bukan hanya pada alur, bukan hanya pada cerita...
Selamat menulis sambil menanti proyek berikutnya.
Tengsoe Tjahjono
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA
Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...
-
ACIES 2025 baru saja usai. Namun kemeriahan acara ACIES masih saja membekas. Menyanyi, berjoget bersama, makan bersama, bercengkerama...
-
Aku mempunyai banyak angan-angan dan kerinduan 1. Aku ingin mempunyai gallery seni yang di dalamnya ada cafe dan bookstore Gal...
-
Sekarang ini aku benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Gaji dari kantor tidak cukup, pinjaman banyak, aku harus berpiki...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar