Jumat, 06 Desember 2019

KERING

Pagi ini Reno memang tidak banyak berbicara dengan Dea, bukan soal cemburu, bukan karena ada hal yang tak ia suka. Ia hanya merasa hatinya kering.

Sedari sore tadi Reno bergulat dengan hatinya. Cafe tempat pikirannya berkelana mulai sepi pengunjung.

Ia beranjak mau pulang ketika tiba-tiba hari menjadi mendung, dan tak lama di susul oleh rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Reno kembali duduk di bangku cafe, memandang rinai hujan yang terpampang di hadapannya.

Biarlah pikiran ini luruh bersama rintik hujan, terbawa hanyut dalam aliran-alirannya.

Sby, 7 Des 2019

Jumat, 08 November 2019

DI TERMINAL JOMBOR

    Di terminal Jombor, aku menatapnya setelah tak bertemu sekian lama.

    Rara, gadis cantik yang suka mengepang rambutnya menjadi dua. Aku mengenalnya dua puluh empat tahun yang lalu, saat sama-sama masih duduk di bangku SMA. Pada waktu itu ia bingung mencari ruang kelasnya dan aku membantunya. Dia masuk kelas 1 sedangkan aku sudah kelas 3. Sejak saat itu aku akrab dengannya. Cerianya yang membuat aku selalu rindu ingin dekat dengannya. Hanya setahun aku dan Rara bersama. Selepas SMA aku melanjutkan kuliah di Bandung. Kontak masih terus berjalan namun seiring waktu menjadi berkurang kemudian tidak sama sekali karena kesibukan. Media sosial membuat aku dan Rara bertemu kembali. Kini Rara tinggal di Jogya. Orangtuanya pindah di sini. Sementara aku sekarang tinggal di Malang. Di Terminal Jombor dia menanti kedatanganku.

"Rara"

Si pemilik nama tersenyum

Dengan setengah berlari aku mendatanginya lalu memeluknya. Kurasakan kehangatan mengalir ke seluruh sanubariku, persis sama seperti dahulu.

Selasa, 29 Oktober 2019

PERTEMUAN

    Dadaku terasa nyeri. Ah, perih dalam hati ini masih terasa sampai pagi. Merelakanmu mencintai orang lain terasa perih rasanya. Menasehatimu untuk menyanyangi dia kulakukan dalam kepedihanku. Kau tahu itu ?
Setyaningrum, mengapa aku tak bisa melupakanmu ? Hingga aku rela mencintaimu dalam deritaku.

    Pramudya menghiruf nafas dalam-dalam di pinggir pantai. Matanya terpejam. Ia mencoba menenangkan hatinya. Suara deburan ombak ia resapi. Ia membiarkan dirinya larut dalam alam untuk menggapai ketenangan.

    Sejenak ia membiarkan dirinya terlena dalam kedamaian alam, lalu tersadar terasa ada tangan menepuk punggungnya. Ia membuka mata dan menoleh.

" Kumalasari ?"

Pramudya terkejut. Perempuan cantik itu tersenyum manis padanya.

"Bagaimana kamu bisa ada disini?"

Pramudya masih nampak keheranan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Saya tahu, ini pasti Kakang Pramudya. Walau pun mata kakang terpejam, hatiku bisa mengenali kakang. Bukankah kakang dahulu pernah berjanji akan mengunjungi pantai Losari lagi ?"

    Iya, Pramudya memang pernah berjanji pada Kumalasari dua tahun silam bahwa ia akan mengunjungi lagi pantai Losari tempat dirinya dan Kumalasari bertemu.

"Apa yang kakang ucapkan waktu itu terus aku ingat. Aku memutuskan untuk pindah di dekat pantai ini dan menunggu kedatangan kakang. Aku tahu suasana hati kakang sekarang. Tenangkah kakang aku akan menjadi teman kakang."

    Pramudya menatap Kumalasari dalam-dalam. Kumalasari tersenyum kembali. Pramudya membalasnya. Dengan hati penuh bahagia Pramudya memeluk Kumalasari erat-erat.



Kamis, 03 Oktober 2019

LAGU BIAR KU MEMUJAMU

Kau pemilik mata indah
Wajahmu cantik menawan
Kau pemilik hati indah
Wajahmu slalu terbayang

Senyumanmu
Pesonamu
Hiasi hatiku spanjang waktu
Oh sayangku
Oh kasihku
Biarlah ku slalu memujamu

Rabu, 02 Oktober 2019

KETIKA TANGAN SALING MENGGENGGAM

Masih kuingat sengatan tangan saat tangan kita saling menggengam
Dalam dinginnya malam menusuk tulang
Tangan merekat tuk mencari kehangatan
Indah rasanya bila kukenang
Kini kau bukan milikku sekarang

Kamis, 29 Agustus 2019

TERASA BERAT

TERASA BERAT

Hari mulai gelap, hanya suara jengkerik dan binatang-binatang malam yang mulai bersaut-sautan namun aku tidak peduli, masih ada satu guludan tanah yang harus aku cangkul agar guludan ini gembur untuk tempat tumbuhnya tanaman jagung yang besok akan aku tanam.

Setelah selesai aku pun bergegas mengambil sepeda onthelku yang aku sandarkan di batang pohon jambu.

Segera kukayuh sepedaku meninggalkan ladang tempat aku berpeluh keringat sepanjang hari tadi

Sudah tak ada orang sama sekali, aku harus menuruni jurang bekas aliran lahar Gunung Kelud yang meletus belasan tahun lalu.

Aku merasakan kayuhan sepedaku semakin berat dan berhenti tepat di dasar jurang. Kulihat apakah ada benda yang menyangkut di jeruji ban sepedaku ? Tidak ada. Tapi menurutku ada yang tak beres.

Aku ingat dengan rapalan magic yang diajarkan kakekku beberapa tahun lalu bila aku menemui sesuatu di luar kewajaran.

Akupun segera komat-kamit membaca mantra. Seketika itu juga kulihat ada dua anak kecil dengan mata merah cekikian sedang bermain memegangi ban sepeda pancalku.

"Pulangkah, Nak, jangan bermain di sini."

Dua anak itu segera pergi dan sepeda pancalku akhirnya bisa kukayuh kembali

SERUPA DIRIMU

Serupa dirimu ku lihat di sana
Membawa seonggok pakaian dan aku menawar-nawarkan
Ah, sempat terpesona aku dengan dia, cerminanmu

Selasa, 27 Agustus 2019

KAMU KINI

Pernah kutatap wajah cantikmu dan ku tak pernah bosan memandang
Pernah kupeluk hangat tubuhmu dan kumerasakan kedekatan
Pernah pula kugengam erat jemari tanganmu dan kumerasakan ada debaran
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta, kekasihku
Engkau yang dahulu kulihat sepintas lalu
Kini menetap dalam hati

Diriku Sesungguhnya

Foto ini
Adalah foto ketika aku kost di Jl Arif Rahman Hakim Malang
Tempat dimana ibu kost mempunyai dua gadis cantik, Wulan dan Nia
Dan Nia menyukaimu
Foto ini
Adalah foto dimana aku berfoto di dalam kamar
Masih nampak dasi yang dahulu kupakai saat aku bekerja sebagai marketing
Masih nampak gelas yang kupakai sebagai tempat minum













Perih melihat dia berbicara mesra tentang Nas, kuatasi dengan mengetrapkan diri aku hanyalah kakak untuknya

Cemburu melihat dia mengomentari postingan / komentar penulis laki, kuatasi dengan aku harus semakin banyak mengupload tulisan / mengupload  bakat-bakatku yang lain di media sosial : potret, mencipta lagu, dll

Terlalu mencintainya ? kurasa jangan, nanti kamu bisa sakit hati, mencintailah sewajarnya saja. kenapa ? karena kalau kamu sangat mencintainya, bahkan kalau sampai berani rela bercerai dari istrimu demi dia, apakah kamu gak akan sakit hati bila melihat dia memuja Nas, atau dia bersenggama dengan suaminya ?
















Minggu, 11 Agustus 2019

TEKADKU MENGANGKASA

Tuhan, kucoba menggapai angan dalam segala keterbatasan
Mengarungi langit biru dengan kepakku
Meraih bintang yang paling terang
Dan kuingin bersanding dengan dewa dewi
Karena aku yakin bisa

Mulai sekarang akan kubuat tulisan-tulisanku terpampang di media-media
Hasil potretku muncul komunitas komunitas dan majalah-majalah fotografi
Dan akan aku cipta lagu-lagu sebagai pengiring hidupku
Ini tekadku

Sabtu, 10 Agustus 2019

INNEKE (Puisi)

Inneke, gadis cantik anak sekolah
Masih belia usiamu, namun pesonamu sungguh memikat
Kau mendekat utarakan kegundahanmu
Menerima bekerja yang sudah tersedia atau melanjutkan kuliah
Inneke, kuliahlah, ke depan akan lebih baik tapi juga sampaikan pada kedua oragtuamu, begitu jawabku pada waktu itu

Inneke, dimanakah kamu kini ?
Pasti kau sudah menikah
Pun juga bila kita bertemu, kau pasti lupa aku, aku juga lupa kamu
Karena kita bertemu hanya sekejab
Namun ketahuikah Inneke, walau hadirmu singkat, sampai kapanpun kau selalu kuingat




MAAFKAN, BELUM SEMPAT KUPENUHI KERINDUANMU

Kubonceng engkau pada waktu itu dengan sepeda motor kesayanganku. Kau memeluk pinggangku begitu erat. Kau sandarkan kepalamu di  punggungku seakan ingin memperoleh kenyamanan. Udara dingin di akhir bulan Desember itu membuatmu sesekali mengeratkan peganganmu.

Lena, gadis manis dari kampung halamanku, yang secara tak sengaja bertemu di sini, di kota perantauan tempat kami berdua bekerja

"Mas, antarkan aku  melihat tempat yang kata banyak orang merupakan  Singapura-nya kota ini. Aku ingin ke sana."

Aku tahu tempat itu, masuk dalam salah satu kawasan perumahan elite kota ini.  Area yang berada di atas lahan seluas 2000 ha itu dibangun air mancur yang menyemburkan air dari mulut patung singa simbol kota Singapura, Merlion

"Baiklah, tapi bukan hari ini ya, mas masih sibuk," kataku sesaat kemudian memberi penjelasan dan Lena sepertinya bisa mamahami.

Pagi hari itu gawaiku bergetar. Kulihat ada panggilan masuk dari Dea, teman sekerja Lena, juga menjadi sahabat yang tinggal satu kontrakan dengan Lena.
"Hallo..."
"Mas, cepat kesini, sesuatu terjadi pada Lena."
Segera aku meluncur ke tempat kerja Lena. Teman-teman Lena menangis sedih. Kudapati seorang dokter juga ada di situ.
Dea menghampiriku.
"Jangan sedih ya mas, Lena sudah tiada,"
Aku kaget, tertunduk lesu, dalam hati aku berkata "maaf Lena, aku belum bisa memenuhi kerinduanmu."

Senin, 05 Agustus 2019

TIPS MEMBUAT NOVEL

1. Bahasanya penuh diksi/kiasan

2. Ceritanya penuh perubahan yang tak terduga

3. Pada awal cerita saja, buatlah sudah menghentak hati pembaca

4. Di  awal cerita bungkuslah dengan misteri yang membuat pembaca akan bertanya-tanya kejelasannya sehingga betah membaca cerita

5. Mempunyai refleksi yang mendalam

6. Cerita itu bagus bila terdapat sisi keindahan di dalam cerita itu

7. Menyelami kehidupan seseorang

8. Membaca karya-karya orang lain bagaimana mengeksekusi cerita

9..Seorang penulis haruslah menjadi seorang yang merdeka, tak terbelenggu ikatan

10. Mengingat-ingat cerita yang diujung ceritanya mendebarkan, tragis, menjadi musibah, dan sejenisnya

11. Menulis dari hati

12. Menjadi seorang penulis itu seorang yang selalu mengambil sikap dalam hidup

13. Contoh judul tulisan untuk inspirasi: hati yang kembali

14. Mencemati budaya dan mengemasnya dengan apik dalam suatu cerita


Jumat, 02 Agustus 2019

TERLENA

Harap-harap cemas.  Sudah dua jam Anton berada di ruang tunggu kereta api dj stasiun kecil kotanya.  Mondar-mandir seperti setrika.

Sesekali melongokkan kepala siapa tau kereta yang datang membawa seseorang yang sudah lama dinantinya.

Kereta yang dinanti Anton sudah berhenti.  Berjubel orang berebut untuk keluar.  Hati Anton menghangat,  debarnya tak menentu.  Teringat pesan singkat pada WhatsApp semalam.

"Aku akan tiba di sini tujuh jam dari sekarang," kata pesan singkat itu.

"Hai Ton! " seseorang menepuk pundaknya.  Anton terkejut.  Lebih terkejut lagi setelah dia menoleh ke belakang.

"Dewinda!  Ini kamu? "

Keduanya terkekeh.  Canggung sejenak,  lalu saling menjabat tangan.

Anton tak kuasa menahan gembiranya.  Ini Dewinda,  gadis kecil temannya sekolah dulu.  Yang sudah disukainya meski masih sama-sama ingusan.  Yang pergi meninggalkannya empat tahun kemudian untuk meneruskan SMP di luar kota.   Dan yang  baru kembali dua puluh tahun kemudian.

Dewinda sudah berubah banyak.  Rambut kepang duanya sudah tergunting pendek.  Kulit kecoklatannya sudah menjelma cerah.  Tubuh kerempengnya pun sudah penuh berisi.  Kian cantik saja kamu,  Nda,  desis Anton pada dirinya sendiri.

Meski begitu,  ada yang tak berubah pada diri Dewinda.  Matanya masih sendu Dan hangat,  senyummya masih sanggup membuat Anton tegak mematung saja tanpa kata-kata.

"Hai hai!  Aku di sini, helloooo... " seru Dewinda.  Anton tergeragap.

Dipandangnya bibir mungil Dewinda yang merona merah muda tanpa polesan.  Dadanya berdesir.  Dirangkulnya bahu gadis itu tanpa ragu.  Dewinda terperangah namun tak menolak.

"Kita ke rumahku dulu yuk.  Mama pasti senang melihatmu kembali. " Dewinda mengangguk.

Entah sudah berapa kali Anton memandangi bibir merona Dewinda, nyatanya berulang kali para pengguna jalan lainnya membunyikan klakson. Rupanya Anton tak lagi mampu berkonsentrasi mengemudikan mobilnya karena matanya selalu tertuju pada Dewinda.

"Mama sedang pergi rupanya, Nda, " kata Anton begitu mereka sampai.

Dewinda merebahkan diri di sofa,  diikuti Anton.  Sesaat mereka saling berpandangan.

Perlahan diraihnya kepala Dewinda,  menuju dadanya.  Dewinda mengejang sesaat karena terkejut.  Namun tak urung dia menyerah.

"Kau masih ingat janji kita dulu,  Nda?"

"Ingat.  Bahwa aku dan  kamu akan tetap bersama seperti masa kecil kita kan? "

Anton meraih bibir merah jambu Dewinda dengan pagutnya.  Lama sekali mereka saling memagut.  Melepaskan rindu dan nafsu yang mulai menanjak.

Jari telunjuk dan jempol Anton mengitari belahan dada Dewinda.  Perlahan lalu melepasi kancing baju perempuan itu dari pengaitnya.  Terlihat bukit kembar di balik kutang hitam perempuan itu menawarkan sesuatu.

Dewinda menahan lengan Anton.  Perasaannya masih labil.

"Nggak boleh ya? "

Pertanyaan Anton itu meniup leher belakang Dewinda dengan halus membuat bulu-bulu halus di tengkuknya meremang membuatnya lemah.  Tak hendak menahan lengan kukuh itu lagi.

Anton sudah menelanjanginya kini.  Cumbuan-cumbuan lembut mengusap kulitnya senti demi senti.  Dewinda mengejang.  Nafasnya mulai tersengal.

Puluhan bahkan ratusan atau ribuan pendakian mereka arungi selama dua jam.  Dewinda merasa,  tak ada lagi yang perlu dihentikan lagi.

Geliat asmara karena rindu dan cintanya pada Anton sudah meluluhlantakkan benteng pertahanannya.

Anton mengerang kuat,  mengiringi rintih manja Dewinda,  kekasih hatinya sesaat sebelum mereka terkulai bersama dalam dekapan erat tanpa pakaian.

Anton terbangun ketika diingatnya wajah Mama yang pasti akan murka bila mengetahui perbuatannya ini.

Dipandangnya wajah Dewinda yang terlelap cantik.

"Menikahlah denganku, Nda, " bisik Anton seraya mengecup puncak kepala Dewinda. Gadis itu membuka mata lalu tersenyum.

"Kata-kata itulah yang aku tunggu,  Ton.  Dari sejak aku pergi meninggalkan kampung ini. "

"Eh , jadi kamu pura-pura tidur?"  seru Anton hendak bangkit.  Namun tangan Dewinda menahan lengannya.

Dewinda kini yang bangkit dan duduk,  membuat selimut yang  menutupi tubuhnya melorot.  Dada telanjangnya masih terpampang jelas di hadapan Anton.

Untuk apa berlama membiarkan waktu berlalu,  sebaiknya kembali merajut asmara,  begitulah geliat hati keduanya. Kembali berdekapan,  bercumbu tanpa banyak kata.  Sesekali terdengar lenguhan-lenguhan manja mewarnai sunyi siang itu sebelum Mama datang.

Selasa, 30 Juli 2019

SAKIT

Ketika raguku tak mampu lagi menahan lelahku, aku rebah

MANUSIA BERSAYAP

Manusia bersayap itu tertikam lagi
Begitulah ia barangkali akan menjalani hari-harinya
Tapi itu sudah resiko yang harus ia terima
Karena ia mencintai orang yang telah dimiliki dan memiliki

Manusia bersayap, kuatkah hatimu ?
"Akan kubuat ia selalu bahagia, walau hatiku akan pedih teriris, karena demikianlah telah kutetapkan hal itu dalam hatiku," demikian ia menjawabnya

Senin, 29 Juli 2019

SAJAK KEPADA SEORANG BAPAK (Genoveva Dian)

Di baris kata, kumasih mampu mengintip cerita
Tentangmu Bapak, yang sepanjang temu merenda kasih untukku
Kucoba memaknai sorot matamu yang dalam walau tanpa pernah bicara
Ketika kau pagutkan syahdu pada dagu perempuan desa
Seperti itulah tulusmu melebihi rizki yang kau tuangkan untuk emak
Di kerling senja, kumasih sanggup mencerna bait senyummu
Tentang hatimu Bapak, yang sendiri saja tanpa cinta
Ihklas saja kau bertelut di bawah kaki emak yang menuntut rupa-rupa
Dan ketika kau beningkan kata mesra di telinga perempuan desa
Yang menerimamu lebih dari emak menyukai isi dompetmu saja
Bapak, bahwa hatimu telah memilihnya
Sudahlah, rengkuhlah asa meski tiada masa di depan
Tetaplah tegak kau berdiri meski tikaman belati  ribuan kali menghujam tubuhmu
Aku pun tahu, Surga dalam hatimu yang teduh tak kan berpindah ke bawah kaki emak

Sleman 260719
#hanyacoretan
#kepadaperempuanperempuanpemujaharta

DEWINDA

DEWINDA

Namanya Dewinda, nama yang indah, seindah orangnya. Kutelusuri arti namanya adalah bidadari yang cantik. Tepat seperti orangnya. Tak terlalu tinggi postur tubuhnya dan aku suka karena dengan mudah aku bisa merangkulnya berulangkali sesuka hatiku, wajahnya cantik menawan, sejuk untuk dipandang, dan aku tak pernah bosan-bosannya menatapnya, senyumnya indah bisa meluluhlantakkan hati ini, rambutnya harum karena aku pernah mencium kepalanya, telapak tangannya hangat karena aku pernah menggengamnya begitu erat.

Dewinda, aku mengenalnya puluhan tahun silam saat aku bertandang ke rumahnya bersama teman-temanku. Hanya sekilas mengenalnya pada waktu itu dan hilang ditelan oleh waktu.

Musim silih berganti, berulang-ulang sesuai dengan masanya. Dan hari baik membawaku bertemu dengannya kembali. Sungguh tak pernah kuduga ini akan terjadi. Sapaannya langsung membuat hatiku begitu dekat.

Waktu berputar. Dewinda bisa menjelma menjadi apa saja.
Menjadi rembulan yang menerangi langkahku saat jalan di depanku terasa gelap.
Menjadi mentari pagi yang memberi aku kehangatan saat hatiku butuh pelukan, belaian dan kasih sayang.
Menjadi bunga yang membuat aku selalu berseri menapaki hari-hariku.
Menjadi dewi di langit tempat aku bisa berbagi cerita tentang apa saja.
Menjadi embun yang memberi aku semangat untuk terus bekerja dan bertumbuh menggapai mimpi-mimpiku.
Menjadi angin yang selalu menyapa lembut kulitku setiap saat sampai ke dinding-dinding hatiku.
Menjadi bintang yang menyakinkanku ada keindahan dan cinta yang bisa kuraih dan kupeluk dalam hidupku

Dewinda, sungguh aku sayang padamu, entah sampai kapan akan kupelihara rasa sayangku ini. Engkau yang telah dimiliki juga oleh orang lain

SATU NAMA MENETAP (Genoveva Dian)

Demikianlah telah ditulisnya
Pada kisi sepinya yang menuai rindu
Tergariskan melalui jemari berbalur asa
Cinta untuk malaikat pencabut diksi
Di mana semua kelu selain rasa
Di mana segala redup selain wajahnya
Dan demikianlah telah ditetapkannya
Satu nama untuk menetap dengan sakral

29/07/2019

Rabu, 17 Juli 2019

SIAPAKAH AKU TUHAN

Siapakah aku Tuhan di hadapanMu ?
Seperti seorang pengembara yang tak pernah pulang, demikianlah aku

Siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan?
Seperti bangunan yang porak poranda, demikianlah aku saat ini

Siapakah aku di hadapanMu Tuhan ? Aku yang kehilangan diriku sendiri dan tak tahu sekarang ada dimana ?

Siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan?
Aku yang tercabik cabik oleh aneka banyak hal
Dan tersungkur jatuh ke tanah
Tak tahu kapan akan bisa berdiri

Sby 17/7/2019

MENCINTAIMU

Mencintaimu, yang mencintai aku dan orang lain juga
Bagaimana akan kujalani ?
Terkadang rasa perih menusuk jantung
Terkadang rasa pedih merasuk hati
Kala kekasih lain lebih dicintai

Bagaimana akan kujalani mencintamu yang juga mencintai aku dan orang lain ?
Biarlah akan kususuri hidupku

Gresik, 17/07/2019

Kamis, 11 Juli 2019

SEPERTI DEDAUNAN YANG MENJUNTAI (GENOVEVA DIAN)

Merebahkan diri utuh pada seutas cinta
Mungkin mampu meneguhkan hatiku namun tak urung kurass begitu jauh kau kurengkuh
Menidurkan mimpi akan manisnya kasihmu
Adalah sepi yang kupaksa berubah menjadi riuh
Riuh yang semu
Sebagai kata candamu di bait yang berbeda
Sekalipun begitu kujeda waktu hanya 'tuk merinduimu
Meski raga dan jiwa perih terluka sembilu buta

Memasrahkan rasa hanya padamu
Seperti bergantung pada tuturmu yang tak pasti
Namun aku akan selalu mencinta
Seperti bisikmu pada dedaunan yang menjuntai di jendela kamarku
Kau tak kan meninggalkanku

Kamis, 04 Juli 2019

PRIA BERKEMEJA PUTIH (Genoveva Dian)

Kuterima sapa di siang yang redup
Menghimbau rindu yang terpendam di bilik syairnya
Senyumnya mengembang mirip sekali dengan matahari yang mengintip dari serambi awan
Dan aku telah jatuh cinta padanya
Pada lirik lagunya yang ditembangkan melalui merdu cintanya
Hai kamu, priaku yang berkemeja putih
Bolehkah kutitipkan diksi untuk meraih terus hatimu?
Bolehkah kuceritakan mimpiku yang berisi kau sedang membelai kesepian?

Kuterima ciuman hujan di kering kerontang jiwaku yang tanpa cahaya
Memohon tanganku untuk bersedia digenggamnya
Hai kamu, priaku yang berkemeja putih
Aku telah jatuh cinta... Sungguh jatuh cinta padamu

WAJAHMU

Wajahmu
Cantik dan memikat
Elok nan rupawan
Apakah kamu tahu bahwa aku suka sekali memandang wajahmu ?
Belama-lama pun tak bosan
Bahkan waktu pun terasa kurang
Hai gadis pemilik wajah cantik
Ijinkan aku tuk terus memandang wajahmu
Selalu dan selalu
Kapan pun aku mau
Biar lega hatiku

Selasa, 02 Juli 2019

Senin, 01 Juli 2019

TAK KAN KU RAGU LAGI

Buat kekasihku yang cintanya begitu dalam sedalam samudera
Yang sinarnya hangat menyinari bumi sepanjang hari
Maafkan aku bila aku terkadang belum bisa menata diri
Saat mentari abadi harus kau kagumi
Kekasihku, yang rela memberi tempat bagi mentari lain di sudut hatimu
Nyata cintamu lebih besar dari yang kutahu
Bila engkau telah berikan seluruh perasaan dan hatimu
Bila engkau telah berikan seluruh hidupmu padaku
Bagaimana lagi akan kuragukan cintamu

JANGAN LAGI RAGU (Genoveva Dian)

Aku tak akan lagi menulis tentang bagaimana hatiku
Aku tak akan lagi banyak berceloteh tentang rasaku
Karena segala hal yang kau tahu
Tentangku
Dan tentang dia
Masih saja kau tak mampu memahami
Tiada mentari lain yang sehangatnya tersenyum
Itu kau tahu
Tiada sinar terang seperti rona wajahnya bagiku
Itu kau mengerti
Namun 'tuk apa mesti kau ragu bahwa aku milikmu
Jika ternyata segala hal tlah kuserah tulus padamu

Sabtu, 29 Juni 2019

JiWA PENULIS

1. Menangkap sesuatu yang tersirat dengan mengeksekusinya dalam cerita yang mahal
2. Tidak pernah menolak diajak berbicara karena dari situ ia bisa memperoleh bahan tulisan
3. Kemana-mana membawa pena dan kertas/gadget untuk menulis ide yang tiba-tiba muncul
4. Menyelami karya tulisan orang lain untuk mempelajari bagaimana orang lain menggambarkan situasi dalam cerita
5. Menyelami puisi-puisi untuk memahami bagaimana sesuatu di kiaskan
6. Memiliki kematangan rohani agar bisa menyampaikan kisah secara mendalam
7. Melihat foto yang ada lalu berimaginasi




CINTAMU (Genoveva Dian)

Seperti riak air di sungai yang deras
Begitu kau menempatkan cintamu padaku
Beribu curiga dan cemburu kau labuhkan di sana
Hanya untuk menahan hatiku yang berlarian ke sana kemari
Segala mimpi dan asa kau sematkan di atas ranting pohon yang meliuk diterpa angin
Di atas arus deras yang kau percayakan itu
Kekasih, masih mungkinkah aku berlari lagi?
Jika sampanku t'lah tertambat di antara bebatuan
Yang kokohnya menandai gairahmu
Aku akan diam di sini
Menanti hanya uluran tanganmu
Sebab hanya kau yang mengerti
Cara menenangkan badainya

Kamis, 27 Juni 2019

TENANGLAH

Bila kau merasa berada di persimpangan jalan, sayang
Tak perlu kau resah
Karena ku tak memintamu tuk memilih
Jalani harimu bersamanya
Ku tetap berada di sini saat kau perlukan

Rabu, 26 Juni 2019

SURAT CINTA UNTUK ISTRIKU

Istriku
Lihatlah
Lumbung kita masih kosong
Masih banyak bekal yang harus kita siapkan
Bukankah kita ingin mendaki gunung
Untuk melihat luasnya dunia ?
Istriku
Ayo kita bekerja
Masih banyak mimpi yang belum kita raih
Masih banyak kerinduan yang belum menjadi kenyataan
Bukankah kita ingin menggapai itu semua
Agar kita bisa melihat warna dunia ?
Istriku
Yuk kita bersama
Membanting tulang dan bekerja
Kita singkirkan dahulu rasa kantuk
Kita usir dulu rasa lelah
Demi tercapainya mimpi kita berdua
Mimpimu mimpiku
Tanganmu tanganku
Hatimu hatiku
Kita ini tlah sehati dalam cita

SURAT CINTA UNTUK SUAMIKU (Genoveva Dian)

Setiap detik yang menjadi doa
Untukmu kutujukan, Suamiku
Agar tenang kau berjalan
Mencipta karya demi kita
Sepanjang waktu kuselip kalimat cinta
Untukmu, Suamiku
Agar ceria kau jalani
Hidup ini
Senyummu adalah bahagiaku
Dimana akan kulabuhkan segala pengharapanku
Suamiku, berhati-hatilah
Di depan sana sang angkara siap menerjang
Aku mau kau tetap tenang
Dan santun dalam melaluinya

Selasa, 25 Juni 2019

DIAMLAH (Genoveva Dian)

Diam...
Diamlah
Jangan kau bicara lagi, kekasihku
Biarkan kusentuh lembut rambutmu
Lalu kusematkan seuntai cinta pada helainya
Kumohon, diamlah saja begitu
Tak usah berkata-kata lagi
Biarkan aku yang meraba halus rindu yang kau susun di hatimu
Dan akan kuperdengarkan padamu
Permohonan rasaku
Diam...
Diamlah
Duhai kau, kekasih hatiku
Kar'na aku yang akan bicara
Tentang cintaku padamu

Sabtu, 22 Juni 2019

RINDU (Genoveva Dian)

Mengingat tatap teduhmu ketika kulepaskan kancing di kemeja birumu
Mungkin ini bernama rindu, yang entah kapan mulai menyiksa dengan pilu

Sleman, 220619
#pdb_gens

Kamis, 20 Juni 2019

MALAIKAT DI HATIKU (Genoveva Dian)

Ada seorang malaikat di hatiku.
Dia tetap berdiri meski jatuh berulang kali
Meski perih ribuan belati menghujam tubuhnya
Melukai sayapnya
Namun malaikatku tetap berusaha hidup dan melindungiku
Malaikat di hatiku berwajah sendu dan teduh
Yang tak pernah menuntut apapun
Malaikat di hatiku hanya bisa mencintai
Tanpa bisa membenci

Sleman, 190619
#inikaumalaikatdihatiku

LAGU SEDARI

Tompi

Hatiku berharap mungkin engkau kan berubah
Bisa mencintai aku seperti hatiku padamu

Hujan badai kan ku tempuh
Bintang di langit kan kuraih
Bila harus ku kan merayu
Untuk cintamu bagiku

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuat ku membisu
Cintamu oh seindah lagu
Membuatku tak bisa berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Ku tahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu sayangku
Hanya kamu

Cintaku tlah berlabuh
Berhenti selamanya di hatimu
Takkan ku kayuh menjauh
Biar ku rapatkan cintaku padamu

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuatku membisu
Cintamu oh seindah lagu
Hanya dirimu satu oh cintaku

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu
Hanya kamu

RINDU

Bram : "Hai, jangan bengong saja. Kamu kenapa ?"
Raka :  "Lagi mikir seseorang. Kok tidak kontak aku ya ?"
Bram : "Memangnya kenapa ?"
Raka : "Aku rindu. Rasanya pikiranku terus tertuju padanya. Dia rindu padaku gak ya ?"
Bram :  "Ya gak tahu lah. Memangnya kenapa ?"
Raka : "Karena ada orang lain juga di hatinya "
Bram : "Ooo.. "

DIRIMU KEKASIH

Kan kuabadikan sebuah pertemuan denganmu hai kekasih ketika doa yang kuhunjuk dikabulkan, ketika air mata harapan tlah didengarkan
Ah kekasih, kedatanganmu padaku bagai mentari di pagi itu
Yang membawa keceriaan dan syukur dalam hatiku
Pelukmu yang hangat dan rasa sayang yang kau nyatakan tlah buktikan kedalaman cintamu padaku
Tak pernah bosan-bosannya ku memandang wajahmu kala itu
Wajahmu yang cantik dan meneduhkan
Kurangkul pundakmu hai kekasih agar tetaplah kau di sini, bersamaku
Kugandeng tanganmu saat kita berjalan agar kita tak terpisah
Kugenggam telapak tanganmu tuk kubisikkan ke dalam telingamu aku di sini ada untukmu
Sejak saat itu kekasih, janganlah kau ragu akan cintaku
Sbab kau tlah abadi di sini, di dalam hatiku.
Kekasih hati, kuajak kau tuk bergandengan tangan arungi suka dukanya hidup ini
Menatap masa depan dengan penuh harapan dan keyakinan, bahwa kita bisa
Kekasih hati, cintailah aku
Kelak bila usia tlah merapuhkan tulang-tulangku aku akan bangga tlah boleh mencintaimu dan kau cintai
Dan bila aku harus pergi menghadap Sang Empunya Kehidupan, aku akan mendekap cintamu sebagai selimut kepergianku

Sby 15062019

LAGU ADE PROJECT POP

Lirik lagu Project Pop : Ade

Adekku sayang, ijinkanlah kupegang
Agar kujadi kuat, untuk mengatakan
Bahwa adekku sayang, jangan dulu dijawab
Karna tak mudah, tuk katakan ini

Reff:
Bahwa kaulah seorang
Malaikat di hatiku
Kau buat hidupku jadi indah
Untuk kujalani

Adekku sayang, jangan dulu di jawab
Biarkanlah dulu aku habiskan
Tentangmu yang manis, jangan dulu dijawab
Karna kuingin kau mengerti

Kembali ke Reff

Tingginya kuterbang
Ge-er dan kusenang
Kuingin lagi
Kau puji kasihku

Kembali ke Reff

Seorang malaikat di hatiku
Kau buat hidupku jadi indah
Untuk kujalani untuk kujalani
Untuk kujalani

MENCINTAI SECARA SEDERHANA

Aku ingin mencintaimu secara sederhana
Tidak pencemburu, juga tidak penuntut
Membiarkanmu tumbuh kemanapun arahnya
Menemanimu saat kau perlukan, memelukmu saat kau menangis
Aku ingin mencintaimu secara sederhana saja
Akan kuucap hanya hal-hal yang indah
Akan kurasakan sapaan sapaanmu yang indah
Akan kurasakan detak jatungmu yang kau tujukan buat aku
Aku ingin mencintaimu secara sederhana saja
Akan kusebut namamu dalam doa-doa malamku
Akan kuletakan cinta kita di hadapan Sang Empunya Cinta
Biar Ia yang meluruskan saat kita salah
Aku ingin mencintaimu secara sederhana
Karena aku hanya ingin menikmati saja indahnya cinta

TERIMA KASIH

Terima Kasih

Hari ini menjadi hari yang bersejarah bagiku. Hari dimana aku boleh memanggilmu dengan panggilan kedekatan. Panggilan yang sudah lama ingin kuucap tetapi ragu-ragu untuk kunyatakan. Panggilan yang selama ini aku bagai bermain layang-layang. Kadang menarik benang agar layang-layang itu bisa terbang membumbung tinggi. Kadang mengulurkan benang agar layang-layang itu bisa terbang semakin jauh. Itulah diriku. Kadang aku menarik keinginanku, tak jadi mengucapkan panggilan itu karena panggilan itu bukan milikku,  milik orang lain. Tetapi terkadang aku menyatakannya juga karena gelora rasa ini begitu besar dan ingin sekali aku mengucapkannya

Bila hari ini kamu mengijinkan aku untuk memakainya, aku berterima kasih padamu, sangat berterimakasih. Akan kuabadikan hari ini sebagai hari yang terindah dan bersejarah dalam hidupku.

"jadi aku boleh memanggilmu dengan sayang ya ?" kataku padamu pada pagi hari tadi.
"Boleeeeeeeeeeeh," jawabmu.
Ah...lega rasanya. Aku akan pakai itu, sayangku.

Sby 08062019

AKU TAK INGIN KEHILANGANMU

Jam pada arlojiku sudah menunjukkan angka dua dini hari namun mata ini belum juga mau kupejamkan, tak tahu mengapa. Mungkin perasaan sedih, cemburu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, berkecamuk di dalam hatiku.

Walau hanya dalam kehadiran batin dan kata-kata, bisa menemanimu dari sore hari sampai dini hari ini rasanya sudah senang. Saat kita bisa berbicara dengan lancar rasanya kita seperti sedang duduk berdua di teras depan rumah berbicara apa saja sambil merasakan semilirnya angin dan menikmati indahnya langit sore

Sempat aku khawatir dan takut saat di sela-sela percakapan kita, kamu merasa down karena kejujuranku akan suatu hal.
"Seperti orang jatuh dari ketinggian," demikian kamu menggambarkan dirimu mendengar pernyataanku.
"Seperti ada orang yang berjalan kaki, tiba tiba di depannya ada sesuatu sehingga orang itu ciut nyalinya lalu hilang semangatnya untuk terus berjalan," demkian kamu menjelaskannya lagi.
Aku takut kalau-kalau rasa yang ada di dalam hatimu hilang lalu hubungan kita akan memburuk dan  berakhir. Untunglah setelah aku memberi perbandingan padamu, kamu bisa memahami dan mengerti lalu hatimu pun pulih kembali.

Karena itu ingin kukatakan padamu hai wanita yang ada di dalam hatiku :  "aku menyayangimu, tetap tinggallah di dalam hatiku, aku tidak ingin kehilanganmu."

AKU YANG SEDERHANA (Genoveva Dian)

Yang memiliki hati penuh dendam
Dendam 'kan rindu penuh gairah
Yang mencinta tanpa harapan tuk menggapai
Aku yang tak ingin kau tempatkan di sudut paling nyaman hatimu
Meski ku menyukainya
Yang melepaskan busur panah penuh bara namun tak terlihat oleh matamu yang berkabut
Aku, sederhana saja mencintaimu
Cukup kudaraskan kalimat doa di penghujung malam-malamku yang kelabu
Demikian telah kuucapkan janjiku
Tanpa memohon kau 'tuk tinggal tetap di sini
Bersamaku selamanya

#kepadamalaikatdihatiku

Senin, 17 Juni 2019

BUAT ISTRIKU

Tak akan pernah lagi aku berbicara denganmu karena kejengkelan-kejengkelanku
Entah apapun yang kau katakan, aku tak akan pernah dengar lagi
Mulai sekarang aku akan memikirkan diriku sendiri
Mulai sekarang aku akan memikirkan mimpi-mimpiku sendiri
Tetapi maaf, bila aku mencapai mimpi-mimpiku itu
Itu bukan untuk dirimu
Namun untuk diriku sendiri dan orang-orang yang aku sayangi
Maaf
Maaf
Ini kulakukan karena engkau tak pernah bisa memahami aku
Aku yang harus kau cintai dengan segenap hatimu
Bukan kau salahkan setiap hari

17062019

KEPADA KEKASIHKU YANG TAK BERNAMA (Genoveva Dian)

Rinduku padamu, kekasihku yang tak bernama
Yang hanya kuingat lewat denyut jantungku
Kuingin ucapkan cintaku yang menghentak seumpama gempa bumi dari dasar samudera
Mungkin lambat laun dapat kaurasakan sebagai tarikan napas di dadamu yang beku

Rinduku padamu, kekasihku yang tak bernama
Yang hanya kukenang lewat sepenggal waktuku
Kuingin bisikkan gelisahku yang menyiksa
Saat kau tak lagi di sini
Sebagai ranting yang patah dari dahan kehidupan
Demikianlah kau akan merasakannya

Perhentianku yang terakhir, di pintu masuk hatimu, kekasihku yang tak bernama
Yang akan terus kutunggu kau membukanya
Kuingin katakan, bahwa segala pengharapan t'lah tertuju padamu
Yang walaupun tak sempurna namun tetap ingin kau terima
Nanti, kelak, bila tanganmu saja yang mampu menggandengku masuk
Akan kuceritakan padamu
Betapa cinta yang kumiliki
Selamanya sudah kau curi

Sleman, 17 Juni 2019

PEREMPUANKU

Mentari yang menyapa di pagi
yang dingin
Membelai dahagaku ketika melihatmu
Izinkan ku memelukmu, Perempuanku
Yang sedari tadi melintas penuh senyuman
Kan kucumbu dirimu dalam diam
Dalam hela napas yang kupersiapkan hanya untuk menghembus di telinga ranummu
Kucumbu kau sekali dan sekali lagi
Duhai perempuanku
Tak kan lepas dekapku membiarmu terlena
Rontamu yang penuh gairah
Seperti mengajakku menari di atas tubuhmu
Hadiahku termahal untuk kau kenangkan, Perempuanku
Ketika mentari masih menyapa di pagi yang dingin
Membalaskan dendam rinduku 'tuk menciummu lagi dan lagi
Dengar kau, wahai Perempuanku
Aku tak akan lelah merengkuhmu

Sleman, 170619

Minggu, 16 Juni 2019

UNTUKMU (Genoveva Dian)

Kupuisikan pertemuan kita
Dalam bingkai yang kukemas begitu indah berwarna keemasan
Kusisipkan begitu tersembunyi agar tak seorangpun tahu
Dan agar keraguan tak menjadi sajak dalam luka
Untuk itu kupesan satu tempat khusus di hati
Ketika nantinya tersimpan segambar rupa senyum kita
Maka tak kubiarkan ronanya memudar karena waktu
Suatu saat nanti, bila sang candu asmara telah membunuh kita
Izinkan aku memejamkan netra
Dan menikmati caramu mencintaiku

Sleman 160619

ADALAH KAMU (Genoveva Dian)

Ada cinta dimana musim gugur baru saja menyentuh bumi
Ketentraman yang tak biasa
Hadir dalam tenang
Perlahan menyentuh dalam hati yang masih penuh asa
Pada arah angin di lain tempat
Cinta yang tak sempurna
Seumpama kelopak kemuning layu di tanah merah
Seperti rindu yang ingin kutuang namun tak bercawan
Adalah kamu, dimana pesona mentari terbit di jiwa yang lain
Membelai sejuk dalam kerontang dan dahaga
Mungkinkah, kubiarkan nyawaku terus terlindas kecewa olehnya
Sementara kecupmu lembut di kering bibirku

Sleman 160619

DOSA (Genoveva Dian)

Di antara derit ranjang
Ada nafasmu mengharu biru
Membelai hangat
Di atas dadaku yang telanjang
Ketika sang waktu menjentikkan romansa
Dari bulir-bulir peluh yang menyatu padu

Di atas cinta yang meniup aroma
Gelora dosa
Kau dan aku
Tanggal di sini
Satu persatu
Menjadi irama nafsu yang menggeliat lepas

Di sentuhmu yang menghujam nikmat
Kubisikkan kalimat syahdu
Ini diriku
Milikilah utuh
Dan waktu menjadi riuh 'kan seduhan nafasmu

150619

KUMPULAN PUISI DUA BARIS

BUATMU

Ketika dua hati berpadu dalam dekap
Sejak itu rindu dan sayang abadi terpatri, buatmu
150619/1


SAPAMU PAGI INI

Rinduku semalam hanya bisa kutahan dalam diam
Sapamu pagi ini pelepas dahagaku

210619/2

TAK BERLALU

Kurasakan waktu yang terus berlalu
Tapi mengapa memikirkanmu tak pernah berlalu ?

220619/3

DALAM DIAMKU

Sejujurnya saat suara kutahan dengan kuat dan suasana tampak sunyi senyap
Pikiran ini tak terbendung menujumu

22062019/4

KEHADIRANMU

Kehadiranmu membangunkan tidur panjangku
Untuk melihat dan merasakan kembali cinta dan cemburu, bahagia dan sakit

280619/5

RINDU

Rinduku menggelora
Saat kita harus jeda

290619/6

Sabtu, 15 Juni 2019

KUMPULAN PUISI DUA BARIS (Genoveva Dian)


SUARAMU

Suaramu itu, bagai buluh perindu yang membelai selalu daun telingaku
Lagu yang kau nyanyikan, adalah cinta untuk menghimpun hatiku yang porak poranda

Sleman 050719
#untukmuyangbersuaramerdu
#pdb_gens


UNTUK KEKASIHKU

Akan kuletakkan di sini, sejumput cinta
Ketika mula pertama kau rekatkan tangan, menggenggamku

Sleman, 150619
#Pdb_gens

KIDUNG SEDERHANA SEORANG ISTRI

Duduklah di sini, kekasihku, di bangku yang telah kusiapkan cinta
Makan dan minumlah, lalu aku 'kan diam sampingmu, sesekali mengebaskan debu di leher kemejamu

Sleman, 260619
#pdb_gens

KEMANA?

Kemanakah aku akan pergi, kepadamu atau kepadanya?
Jika segala rasa tertumpah tanpa perbedaan

Sleman 260619
#pdb_gens


TAHUKAH?

Tahukah kau, bila terdiam menatapku sedang marah
Tampak bagiku ketampananmu tiada tara

Sleman,270619
#pdb_gens

BANDEL

Pergilah tidur, suamiku yang bandel
Berhentilah menciumku, seperti tiada esok hari

Sleman 270619
#pdb_gens


NANTI SAJA

Pergilah bekerja, suamiku yang bandel
Jangan henti untuk menciumiku, tapi nanti, bila tiba jeda waktu untuk kita menyetubuhkan cinta

Sleman 280619
#pdb_gens

RINDU

Rindu dengusan napasmu yang merabai telingaku
Seperti hendak melumatnya dengan perlahan

Sleman,280619
#pdb_gens


AKU

Aku yang tak pernah menjadi bayangan pada langkahmu
Mulai sekarang akan mati, tolong jangan mencari lagi

Sleman 290619
#pdb_gens
Di #prankbymywife

Jumat, 07 Juni 2019

PENTIGRAF (TENGSOE TJAHJONO)

Esensi Pentigraf
Kekuatan pentigraf sebenarnya bukan semata-mata pada alur, tetapi pada kepadatan dan kejutan. Pentigraf bukanlah ringkasan cerpen tetapi sungguh-sungguh prosa yang pendek.

Dalam format 3 paragraf itu penulis diharapkan sungguh-sungguh efektif menggunakan sarana bahasa dan unsur-unsur narasi. Hanya dalam format 3 paragraf penulis hendaknya berhasil membangun konflik yang luar biasa dari sang tokoh dan mau menciptakan ketakterdugaan akhir pada paragraf ketiga. Buatlah pembaca terpaku dan terdiam di situ.

Bagaimana dengan pentigraf bersambung? Pentigraf bersambung rata-rata kehilangan esensi kepadatan dan kejutan. Sesungguhnya, pentigraf selesai dalam 3 paragraf itu. Bisa jadi kita bisa bikin novel dengan menjahit banyak pentigraf. Dengan catatan pentigraf-pentigraf itu tetap mandiri sebagai sebuah pentigraf. Dia bisa dibaca sendiri dan sudah sungguh-sungguh selesai.

Karena sifatnya yang padat tersebut, pentigraf memang susah dimasukkan ke dalam genre popular. Karya ini tergolong karya eksperimental yang memerlukan tafsir saat membacanya. Jadi, kekuatan pentigraf bukan hanya pada alur, bukan hanya pada cerita...

Selamat menulis sambil menanti proyek berikutnya.

Tengsoe Tjahjono

KEJUTAN


Hari ini hati Yoyun gembira. Dia menyiapkan segala perbekalan untuk acara rekreasinya bersama beberapa teman kantor. Rencananya berangkat nanti sore sepulang kerja. Pulau Dewata Bali adalah destinasi wisata mereka. Hati Yoyun tambah gembira karena Ratih, teman sekantornya, gadis cantik yang susah ditaklukannya itu ikut serta. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan sampailah mereka di pulau Bali. Perjalanan selanjutnya menuju dahulu ke tempat penginapan yang telah mereka pesan sebelumnya.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Pantai Kuta. Yoyun berjalan-jalan di pinggir pantai menikmati pemandangan. Banyak wisatawan mancanegara memanjakan diri untuk berjemur. Yoyun pun tak mau kalah. Direbahkannya tubuhnya dengan nyaman, merasakan semilirnya angin sambil menikmati indahnya deburan ombak pantai. Tak lama kemudian teman-temannya mengajaknya untuk bermain bola pantai dan foto-foto bersama. Ia bergembira. Tetapi ada yang membuat hatinya gundah gulana. Teman-temannya lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun kelahirannya

Malam hari Yoyun berdiri di balkon lantai tiga penginapan itu. Tangannya memegang pagar balkon dan pikirannya menerawang jauh ke depan. Sejenak ia menyadari bahwa ulang tahun adalah saat yang tepat baginya untuk menyendiri. Merenungkan dirinya sendiri, melihat masa lalu dan mengambil semangat untuk masa depan. Tiba-tiba suara merdu memotong permenungannya. Yoyun menoleh, dilihatnya Ratih, gadis yang dia sukai, membawa kue ulang tahun bertuliskan namanya berikut lilin yang menyala. Dan dibelakang gadis itu, muncul semua teman kantornya. "Selamat ulang tahun,Yoyun! Make a wish dan tiup lilinnya ya..." Seru mereka kompak. Yoyun terdiam sejenak, matanya yang basah oleh air mata mengerjap lalu memejam untuk berdoa. Ada haru menyeruak, kemudian ditiupnya lilin ulang tahunnya. Tepuk tangan membahana di sekeliling ruangan, dan tanpa ia sangka-sangka, Ratih mendaratkan ciuman hangat di pipi kanan Yoyun. Wajahnya merona segar.



CINTAKU (Genoveva Dian)

Cintaku...
Entah seberapa bening rindu mengalir dalam dadaku
Semenjak kau ada
Mulai menyeruak desirnya bagai mata air di telaga sunyi
Mulailah sejak itu, tercipta bait-bait sajak
Yang tak mampu aku sendiri menterjemahkannya
Butuh kau juga untuk mengejanya
Menjadi kalimat bahagia
Cintaku...
Entah seberapa banyak sudah kutuang desah nada kasihku
Pada cawan ini
Berharap kau duduk
Menyesapnya sembari menggenggam tanganku
Dan dari matamu saja kuterima rasa itu
Rasa yang sama
Cintaku

Selasa, 04 Juni 2019

KOPI DAN DIRIMU


Secangkir kopi kupesan
Setelah sedikit lelah dalam perjalanan
Masih mengepul asap karena panasnya
Kucium segar aroma rasanya
Kopi, pelepas nikmatku sepanjang perjalanan

Begitupun setelah menemukanmu
Saat sendiri menyusuri lorong-lorong kehidupan
Hangat hatimu memberi sentuhan
Seperti butiran kopi yang kini kusesap
Dirimu, penyemangat perjalanan
Jadikan lunglai rinduku berhaus 'kan membelaimu

DI UJUNG RINDU



Yoyun duduk di kursi pesawat dengan gelisah. Wajahnya masih sama seperti dulu, lugu dan polos. Ada rindu pada kampung halamannya di Tegal, pada orangtuanya dan pada Maria Sharapova, kekasihnya yang seksi. Sudah empat tahun dia bekerja sebagai TKI di negeri tetangga. Hari ini dia pulang untuk yang pertama kalinya.

Memeluk bapak-simbok, menyerahkan oleh-oleh dan bercengkrama dengan para keponakan, dilakukannya begitu dia sampai di rumahnya. Badan Yoyun terasa lebih segar setelah dia mandi dan makan. Rasa bahagia menyelimuti dadanya. Namun belumlah lengkap. Besok siang dia akan menemui Maria Sharapova di rumah gadis itu.

Gadis yang masih cantik seperti dulu. Masih seksi dan bahenol. Yoyun tersenyum penuh rindu setekah melihat Maria Sharapova menyambutnya di depan pintu. Tapi, siapa gadis kecil itu? Mengapa begitu lengket sekali dengan Maria?
"Maafkan aku, Yoyun. Empat tahun kepergianmu membuat aku tak tahan. Paidi temanmu itu yang selalu menghibur aku kala aku kesepian. Dan ini, adalah Stela, anakku dengan Paidi." Yoyun seperti tersambar petir. Diremasnya ujung kemeja yang dipakainya. Pikirannya melayang jauh, saat Paidi, sahabatnya, dengan getol mendorongnya untuk pergi menjadi TKI supaya Yoyun mendapatkan cukup uang untuk melamar Maria Sharapova.

Senin, 03 Juni 2019

Blog wars potrets

Nama Pengguna : sswarsito7@gmail.com
Masuk dengan : https://warspotrets@blogspot.com

UNTUKMU (Genoveva Dian)

Ada seribu bintang yang akan kupetik
Namun menjadi tak indah bila sinarnya redup
Kupilih satu saja
Untukmu
Selamat malam, malaikatku
Jangan rapuh untuk berdiri menggendongku
Meski menyakitkan
Jangan menyerah untuk melafalkan huruf demi huruf namaku
Meski aku berlari jauh tanpa arah

MAAFKAN AKU

Hai gadis di ujung sana
Yang duduk di teras menikmati senja
Yang matanya memandang jauh ke langit
Lalu hadir sang dewa tersenyum menyapa

Maafkan aku bila aku sempat cemburu
Pada hal yang tidak perlu
Yang menjadi harta dirimu

Tunggulah di teras itu, malam akan segera tiba
Seribu bintang akan bertaburan di angkasa
Mereka semua bersaudara
Memadangmu penuh cinta

YOYUN PENUKAR UANG (GENOVEVA)



Menjelang hari raya Idul Fitri, banyak orang mencoba peruntungan dengan menjual uang baru di tepi-tepi jalan. Biasanya untuk mengisi amplop angpao. Yoyun pun ingin mencoba. Dengan modal satu juta rupiah, ditukarkannya uangnya itu di Bank menjadi pecahan dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan serta dua puluh ribuan.

Seharian Yoyun berdiri sambil melambai- lambaikan uang kertas yang dimasukkannya ke dalam plastik dengan jumlah berbeda-beda itu. Namun belum satupun orang datang mendekat. Padahal para penjaja uang baru yang juga berdiri tak jauh darinya sudah berhasil mendapatkan pembeli.
Tiba-tiba Yoyun didatangi beberapa orang yang hendak menukarkan uangnya. Entah mereka satu golongan atau datang sendiri-sendiri, Yoyun tak peduli. Dengan cepat dagangannya ludes. Yoyun pun pulang dengan pongah, mencibir pada teman-temannya yang masih berdiri kepanasan sambil menjajakan uang baru, lalu mengendarai sepeda motornya untuk pulang.

Sesampai di rumah, Yoyun mengeluarkan uang hasil tukarannya itu. Setelah diperhatikan dengan teliti dan diraba ada yang aneh. Yoyun membandingkannya dengan uangnya sendiri dari dalam dompetnya.
"Apa ini? Ya Tuhaaaan....!!!!"  Dihamburkannya uang-uang hasilnya berjualan tadi. Semuanya palsu.

Sabtu, 01 Juni 2019

GARA-GARA KAMU

Gara-gara kamu, aku merasakan kembali yang namanya rindu, sesuatu yang lama tak hinggap padaku
Gara-gara kamu, separuh pikiranku selalu tertuju padamu
Gara-gara kamu, hidupku jadi penuh warna
Gara-gara kamu, aku bisa mengungkapkan segala sesuatu dalam kata kata
Kamu harus bertanggungjawab !😆

JEDA (Genoveva Dian)

Ada jeda diantara mendung dan hujan
Itu adalah kita, yang berteduh dalam payungan cinta

Jumat, 31 Mei 2019

Blog sastra gen's

Buat Akun

Nama depan : Sastra
Nama belakang : Gen's
Nama pengguna : sastragens@gmail.com
Password : yogma2210#
No hp : 085867013679
Alamat email pemulihan : dianrindi2096@gmail.com

Blog
Judul : Sastra Gen's
Alamat : sastragens.blogspot.com
Masuk dengan : https://sastragens.blogspot.com

DEMI THINKERBELL (Genoveva Dian)

Peterpan memandang mantan ceweknya dengan sewot. Thinkerbell, si mantan itu tengah asyik berduaan dengan cowok barunya, sesekali bibir cewek itu manyun-manyun dengan genit. Wendy si cowok baru  juga dikenal baik oleh Peterpan. Telinga Peterpan yang caplang itu bergerak-gerak. Mulutnya komat-kamit. Bukan untuk membaca mantra, tapi sekedar mincar-mincur mengumpat kenyataan di hadapannya. Huh! Kamu sama aku kan gantengan aku, masa sih cewekku bisa jatuh cinta? Sampai kebirit-birit ninggalin aku demi kamu, geram kurcaci berbaju hijau yang kerap diejek teman-temannya Kolor Ijo itu.

Kolor Ijo eh salah, Peterpan, mulai menyusun siasat untuk mengerjai Wendy, cowok baru Thinkerbell. Digebernya sepeda motor GL-Max membuntuti dua sejoli yang sedang naik angkot itu. Ciiiiiiiit!!!! Hampiir saja kena semprit Pak Polisi kalau saja Peterpan tak melihat lampu merah di perempatan jalan itu. Gemeees rasanya melihat mantan pacarnya itu lolos melenggang dalam angkot yang ditumpanginya. Sebenarnya jauh-jauh hari, Peterpan sudah menyiapkan perangkap berupa lubang-lubang berair comberan pada aspal yang sengaja dia tutupi dedaunan kering. Mbok ya ooo kamu nanti kejungkel disini Wen, Wendy. Aku akan datang sebagai superhero menyelamatkan Dhik Thinkerbell. Dengan begitu pasti dia akan kembali menyerah dalam pelukanku. Peterpan terkikik membayangkan bakal mendapat rejeki itu.

“Kamu ngapain to?” tiba-tiba Peterpan dikejutkan oleh sesuatu benda berat yang nangkring di boncengan motornya.  Terasa roda depan motornya seperti agak njomplang ke atas.

“Lo sampeyan siapa Mbah? Kok ndak bilang-bilang kalau mau numpang gitu lo. Saya kan jadi kaget.”

“Hush! Sembrono kamu. Masih cakep gini dipanggil Mbah. Kenalken, aku Peri Marry. Aku akan membantumu untuk melakukan apa saja rencanamu. Jangan kesusu-susu sekarang. Ayo pulang dulu. Nanti tak messenger ya.Hape ku baru lo.Kita musyawarah. Besok baru kita jalankan rencana kita. “ Peterpan mengintip kaca spion. Mbah gendut ini gayanya aneh juga. Pakai gaun mekar mirip Cinderela, rambutnya disemir coklat terang, pake kacamata hitam pula.

Belum sempat Peterpan menanyakan darimana asal muasal wanita gendut itu. Bagaimana ceritanya kok bisa dia tiba-tiba bertengger di boncengan motornya, dan siapa tadi namanya? Marry atau Meri? Kepanjangan namanya Will You Marry Me atau Meri Krismas? Peterpan geleng-geleng kepala dengan bingung karena wanita gendut itu tiba-tiba sudah mak bleber mabur entah kemana.

Entah bagaimana kelanjutan musyawarah itu, yang jelas, Peterpan dengan pedenya kembali menggeber sepeda motor GL-Max nya demi dilihatnya Thinkerbell naik angkot lagi dengan Wendy.

Aku harus mendapatkanmu lagi Dhik Think, begitu tekadnya.

Tiba-tiba angkot berhenti. Sepertinya mogok. Kedua sejoli itu keluar sementara Pak Sopir mengeluarkan perkakas. Oooh ban meletus. Dan celakanya, Pak Sopir itu justru nggak bisa memperbaiki mobilnya sendiri. Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan melalui perundingan yang alot dengan tawar-menawar pula, Wendy yang ternyata lulusan STM Mesin itu turun tangan. Peterpan menyeringai. Asyiik! Sesuai rencanaku.

Peterpan mendekat, pura-pura menanyakan apa yang terjadi. Sementara Thinkerbell ketakutan melihat Peterpan datang dengan kostum hijau-hijau begitu. Padahal biasanya warna-warni, kadang pula warna soft kesukaan Thinkerbell.

“Mau kemana sih Dhik Think, kok setiap hari, Abang tau kamu naik angkot? Masa cewek sebahenol kamu naiknya angkot sih.”  Peterpan mulai merayu.

“Anu Bang, aku mau pergi kursus kecantikan.”

“Lho, masa pacarmu itu juga ikut kursus kecantikan?”
 
“Ya ndak to. Dia Cuma ngantar aja. Dia itu perhatian lo sama aku.” Thinkerbell sedikit ngece.

Entah bagaimana rayuan gombal si Peterpan itu kok bisa-bisanya, Thinkerbel mau dianterin Peterpan menuju tempat kursus.

Jadilah mereka kejar-kejaran lagi. Si Wendy mengejar Peterpan yang boncengin ceweknya secara tidak hormat dan tanpa seijinnya selaku pemilik terkini. Secepat kilat Peri Meri Krismas atau Marry apalah itu mengayunkan tongkat sihirnya. Cling! Tiba-tiba ada kubangan air di depan angkot yang ditumpangi Wendy menyebabkan roda depan terperosok. Bocor lagi...

Wendy didera mangkel bertegangan tinggi. Dia turun dari mobil lalu nyaut sepeda onthel milik orang yang lagi parkir buat beli koran. Walau diteriak-teriakin tapi Wendy nggak peduli. Demikian pula dengan Peterpan. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, menjadikan Thinkerbell mengeratkan pegangan ke perut Peterpan.

Aah lampu merah di depan itu! Siaaal. Peterpan melirik spion, kelihatan Wendy mengejar dengan ngos-ngosan naik sepeda onthel. Peterpan panik, hampir terkejar nih. Sementara  Thinkerbell sudah sedari tadi tertidur karena semriwing angin yang menerpa wajahnya waktu GL-Max berlari dalam kecepatan tinggi tadi.
Peri Meri Krismas yang berdiri diatas lampu lalu lintas kelihatn gemes banget dengan aksi kejar-kejaran itu. Dihentak-hentakkkannya kakinya yang gendut itu. Tiba-tiba krak! Batang lampu lalu lintas itu retak dan seperti mau pecah. Peri gendut itu tetap masih loncat-loncat dengan gemas.

Akhirnya lampu lalu lintas berwarna merah mati. Menyebabkan korslet disekitarnya sehingga lampu kuningpun ikutan mati, tinggal lampu hijau menyala padahal belum waktunya. Peterpan melet-melet dengan senang karena dengan begitu dia bisa membawa  mantan ceweknya itu tanpa hambatan.

Sementara sopir angkot dan Wendy teriak-teriak memanggil Peterpan. Ternyata, dongkrak angkotnya kebawa Peterpan dengan tanpa dosa.

KEKASiH HATI (Genoveva Dian)

Titip cinta buat mu
Kekasih hati yang jauh entah dimana
Yang rindunya menggelora tanpa kenal henti
I love you

Kamis, 30 Mei 2019

ROSARIO BERUKIR NAMA (Genoveva Dian)

Laki-laki itu masih duduk menunduk. Kedua tangannya masih asyik dan sibuk merangkai butir manik-manik. Segera kutahu bahwa rangkaian itu akan dijadikannya Rosario seperti yang sudah selesai dikerjakan dan diletakkannya di meja.
Aku tertarik pada salah satu Rosario bermanik hitam, namun di tengah-tengahnya ada beberapa manik dengan warna berbeda dan berukir huruf-huruf.
Laki-laki itu menatapku ketika aku mendekat. Tanganku yang tadinya memegang Rosario buatan laki-laki itu sontak berhenti. Sedikit takut. Kami berpandangan lama. Tapi kemudian dilanjutkannya merangkai manik-manik. Acuh tak acuh dan tanpa ekspresi.

Apa kabar laki-laki pembuat Rosario itu sekarang? Bergegas kuayun langkah menuju sudut kota.
“Ini Rosario buatmu. Ada namamu disitu.” Ujarnya begitu aku mendekat. GENOVEVA, kubaca ukiran pada manik beda warna di Rosario yang diulurkannya padaku. Darimana dia tahu namaku?
“Aku kakakmu. Yang tinggal bersama Ibu begitu berpisah dengan Ayah belasan tahun lalu. Tapi aku tidak akan melupakan garis wajah mendiang Ibu yang sangat mirip denganmu.”

FLO (Kolaborasi 2)

Pertemuanku dengannya adalah ketika aku telah memakai pakaian panjang putih khas seorang Seminaris. Pertemuan yang mengawali ketidak sempurnaan cintaku. Dia gadis sederhana dengan usia dua tahun lebih muda dariku.

"Namaku Flo." Demikian ia menyebutkan namanya.

"Aku Ito."

Kami sering bersama. Entah dia yang datang ke Seminari untuk suatu hal, atau aku yang bertandang ke rumahnya karena memang kami satu Paroki dan tugas kami salah satunya adalah mengunjungi umat sebagai karya penggembalaan. Kami selalu berbagi tawa dan canda. Berempati dalam duka dan sedih. Sampai kemudian dia pergi. Pergi ke tempat yang aku sendiri tak mampu untuk mengejarnya. Benar aku jatuh cinta kepadanya, namun aku masih merasa sayang untuk menanggalkan jubahku.

Sesekali surat Flo datang, menyentuh dinding kerinduanku. Sejak saat itu aku mengidolakan tukang pos. Menanti-nanti dia datang membawa sekeping cinta dari Flo untukku. Aku benar-benar mencandu pada sapamu, Flo...

Suatu siang yang terik, surat Flo datang lagi. Kali ini aku tak sanggup menerimanya dengan penuh kerinduan. Namun kepedihan.

"Seseorang menerorku, Frater Ito. Aku disebut sebagai wanita murahan yang tak tahu diri. Yang mengganggu perjalananmu sebagai calon imam. Maafkan aku, Frater, jika mulai detik kau membaca suratku ini, aku sudah membiasakan hatiku untuk tak menyebut namamu lagi."

Aku tercenung, seperti kehilangan sebagian besar hidupku. Siapa orang yang telah lancang dan tega berbuat itu pada Flo-ku?

Berulang kali aku mengirimkan surat balasan pada Flo. Kucoba meyakinkannya akan ketulusan cintaku. Kuminta ia tegar tanpa mempedulikan hasutan orang lain. Namun tiada berbalas. Benarkah Flo telah menghapus ingatannya tentangku?

Dua hari menjelang pentahbisanku, surat bersampul putih bersih kuterima. Kubaca tulisan singkat di ujung kiri. Dari Flo, desisku dalam hati. Segera kubuka isinya. Tak sabar untuk membacanya.

"Tolong lupakan aku, Frater Ito. Dan berjalanlah engkau menurut kehendakNya."

PERTARUHAN (Kolaborasi 1)

Sinta dan Sekar selalu bersaing. Semua orang tahu hal itu. Keduanya sudah bersama sejak masih kecil. Apapun yang dimiliki Sekar, Sinta selalu menginginkannya. Apapun yang dipunyai Sinta, Sekar pun berusaha mempunyai hal yang sama. Sekalipun begitu,mereka tumbuh bersama tanpa perselisihan dan pertengkaran. Mengenai sifat, mereka berdua jelas berbeda. Sinta lebih keibuan dan kemayu, sedangkan Sekar tomboy dan tegas. Postur tubuh Sinta seksi dan semampai. Ditambah kegemarannya berdandan membuatnya semakin tampak sempurna. Sedangkan Sekar bertubuh sedikit pendek dan gemuk. Wajahnya jarang sekali terpulas makeup namun tetap tampak sedap dipandang. Dan yang lebih menandai mereka lagi adalah, mereka berdua sama-sama bekerja sebagai Sekretaris di sebuah perusahaan ternama.

Suatu hari Sinta dan Sekar datang di kantor hampir bersamaan.  Sama-sama terlambat. Sinta segera turun dari sepeda motor maticnya kemudian menepuk-nepukkan tisu di wajah penuh riasannya demi menghilangkan keringat yang menitik di atas bibir dan dahinya sementara Sekar yang datang dengan sepeda gunungnya, melangkah dengan penuh percaya diri. Sesekali nafasnya yang ngos-ngosan membuatnya berhenti beberapa saat sambil mengelap peluh di wajahnya dengan sapu tangan handuk yang selalu ditentengnya kemanapun dia pergi. Tiba-tiba  Wahyu, pemilik senyum terdingin di perusahaan itu melintas. Berjalan melewati Sinta dan Sekar yang sedang terburu-buru. Mereka sejenak berpandangan. Lalu berjalan bertiga menuju lift.

Berdiri bersebelahan dalam ruangan sempit  lift bersama Wahyu menciptakan kebisuan yang paling senyap. Aku akan mendapatkan pria ini, begitu kata hati Sinta. Tidak, bukan kamu. Melainkan aku. Sahut Sekar masih dari dalam bilik hatinya. Aku lebih cantik dari kamu, desis Sinta. Tapi aku lebih pintar dan cekatan, tukas Sekar. Kedua gadis itu masih saja bersitegang dalam hati saja karena kenyataannya mereka tetap berdiri diam mematung disamping Wahyu, sang Manajer Keuangan perusahaan tempat mereka bekerja.

Begitu keluar lift, Sinta dan Sekar berlarian segera menuju ruang kerja mereka masing-masing dan sesaat kemudian mereka keluar lagi menuju pantry.

“Aku saja yang membuatkan teh hangat untuk Pak Wahyu,”tukas Sinta.

“Tidak usah, Pak Wahyu lebih suka kopi panas di pagi hari. Aku paling ahli menyeduh kopi,”balas Sekar enggan mengalah. Mereka berpandangan sengit. Alis mereka sama-sama berkerut. Dan lebih sengit lagi ketika didapatinya Wahyu memanggil office girl Bu Etik yang seorang janda. Bu Etik paham bahwa kedua gadis itu memang bersaing demi Wahyu, si Gunung Es, maka dengan gayanya yang sengaja dibuat-buat untuk memanas-manasi mereka, Bu Etik melenggang sambil tangannya membawa nampan berisi secangkir kopi susu hangat pesanan sang manajer. Mulut Bu Etik menjulur-julurkan lidah pada kedua gadis yang terpana melihatnya.

“Sin...Sinta...lihatlah, aku ditunjuk Bapak Komisaris untuk menghadiri rapat mengenai keuangan minggu depan. Kamu tahu siapa yang aku dampingi?” dengan nakal Sekar memutar-mutar bola matanya hingga membuat Sinta kebingungan.

“Siapa?” tanya Sinta. Mulut Sekar hanya mencibir-cibir seperti menunjuk sesuatu. Sinta meihat Pak Wahyu di seberang meja sedang duduk menulis. Wajahnya tanpa ekspresi. Bagaimanapun dia tetap manis. Semua wanita di sini mengidolakannya. Sinta mendengus pelan.

“Huh, awas kamu. Kita taruhan sekarang, siapa yang lebih dulu mendapatkan Pak Wahyu, dialah yang menang. Dan yang kalah harus mentraktir makan.”

“Oke, siapa takut?”

Sebenarnya rapat kali ini begitu menjemukan bagi Sekar. Dia sebagai sekretaris hanya diperbolehkan duduk dan mencatat. Mencatat apa, Sekar sepertinya tidak paham. Matanya melirik-lirik pada Wahyu yang duduk disebelahnya. Sama sekali tak ada ekspresi. Yang dilirik sepertinya mengerti, lalu menatap Sekar lekat-lekat. Sekar seketika menunduk. Hatinya berbedar sangat kencang. Berulang kali harus dilapnya keringat dingin di kedua telapak tangannya demi menghindari gugup.

Rapat akhirnya berakhir. Sang Komisaris menutup rapat dengan gurauan renyah khas para pejabat. Sekar diam saja karena tak mengerti. Namun, pria disampingnya ini justru seakan menikmati gurauan itu. Dia tertawa! Suatu hal yang asing sekali dilihatnya dari wajah Wahyu.
Kemudian Wahyu mendatangi tempat duduk Sekar. Berdiri di belakang kursi sambil  melihat hasil catatan Sekar.
"Sudah kamu catat semua hasil rapat ini ?"
Betapa terkejutnya Wahyu melihat tulisan Sekar yang tak ada maknanya, tak jelas, acak-acakan dan malah menggambar karikatur sang dewan komisaris.
Sejenak Wahyu melotot membuat nyali gadis itu menciut
"Maaf Pak..." Sekar sudah hampir menangis ketika kemudian Wahyu mulai tersenyum melihat karikatur sang dewan komisaris dengan kepala gundul berhias beberapa helai rambut saja di atas telinganya.
"Kamu bisa saja mengambar karikatur Pak Anton, dewan komisaris itu?" Lalu mereka tertawa bersama. Wahyu memegang punggung kursi yang ditempati Sekar lalu mengoyang-goyangkannya ke belakang. Sekar terkejut.
“Aah...” Sekar terpekik ketika kursi yang ditempatinya nyaris saja jatuh terpental ke belakang. Segera Wahyu menangkap kursi Sekar dan refleks merengkuh pundak Sekar. Mereka berdua benar-benar terjatuh sekarang dengan posisi Sekar terduduk di lantai sambil kedua tangannya menarik  lengan Wahyu sampai pria itupun kehilangan keseimbangan dan...tanpa sengaja bibirnya menempel pada bibir Sekar. Mereka terdiam dan saling berpandangan.

“Ini hukuman untuk sekretaris konyol seperti kamu !" bisik Wahyu pada Sekar yang meronta. Betapa dalam hati Sekar ingin sekali berlari keluar dan menemui Sinta sambil meneriakkan, Pak Wahyu milikku sekarang. Aku telah berhasil menaklukkannya.

KEPADA MALAIKATKU (Genoveva Dian)

Kepada malaikatku
Kubisikkan seuntai kalimat sederhana
Yang menghiasi relung dada
Kurangkaikan sajak tak seberapa rumit
Namun kuyakin cukup indah untuk kau dengar
Di celoteh pagi sang mentari menyapa
Seperti menggambarkan senyum kan rupa cinta
Meramaikan hati nan gersang karena rindu

Kepada malaikatku
Seiring perjalanan dunia yang semu
Kuingin menaburkan sedikit kembang beraroma sendu
Semoga
Nanti kan terukir
Diantara rekah merah kelopaknya
Namaku dan namamu

BAIKLAH (Genoveva Dian)

Baiklah, aku akan bertahan
Dari mimpi tuk melihatmu di celah langit
Aku akan diam menepi ditengah sunyi yang mengikis perlahan asaku
Baiklah, akan kutentang rindu yang mencoba bersemayam
Aku akan berlagak seperti orang bernafas dalam ruang tanpa udara
Maafkan, sayang
Jika jalan yang kulalui 'kan tersembunyi dari pandangan matamu
Jika nada yang kulagukan hanya dapat kau dengar melalui bisikan bayu
Suatu ketika mungkin sang dewa cinta dapat mendengarnya juga
Lalu menghantarkan tanganmu untuk kugapai
Baiklah, akan kukenang hadirmu lewat sepotong sajak
Aku akan tertunduk, sambil menabur pilu pada jejak langkahku
Dan menata puing-puing doa diatas segala luka

#kepadamalaikatku

TENTANG SEBUAH RASA (Genoveva Dian)

Aku tak perlu tau siapa kau sebelumnya
Tak perlu menanyakan di mana letakmu dalam hatiku
Mungkin tak sempat memahami
Untuk apa kau kini berada di sampingku
Jika mulai detik yang membawaku pada perasaan kecewa
Kecewa akan diam
Yang kita sepakati
Aku tak pernah tau mengapa hati pilu saat kau tak ada
Inginku, tetap tinggal kau di sini
Setia dalam cerita, bercanda, bermesra
Aku tak akan bertanya kepada siapa cinta kau peruntukkan
Tak akan memaksa hadirmu dalam sepanjang waktuku
Jika mulai saat dimana aku menjadi sepi dirundung nestapa
Mungkin juga mulai takut aku kehilanganmu

#janganpergijauhjauh
#malaikatku

SEDARI DULU (Tompi)

Hatiku berharap mungkin engkau kan berubah
Bisa mencintai aku seperti hatiku padamu

Hujan badai kan ku tempuh
Bintang di langit kan kuraih
Bila harus ku kan merayu
Untuk cintamu bagiku

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuat ku membisu
Cintamu oh seindah lagu
Membuatku tak bisa berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Ku tahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu sayangku
Hanya kamu

Cintaku tlah berlabuh
Berhenti selamanya di hatimu
Takkan ku kayuh menjauh
Biar ku rapatkan cintaku padamu

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuatku membisu
Cintamu oh seindah lagu
Hanya dirimu satu oh cintaku

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku

Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu
Hanya kamu

Menemukanmu

Waktu yang terus bergulir mempertemukan kita kembali
Dulu kita pernah bersama, hanya miskin sapa
Aku tak tahu mengapa jumpa ini bisa terjadi
Mungkin sang dewa waktu ganti memberikan waktu padaku tuk mengenalmu
Bila sekarang aku diberi kesempatan mengenalmu lebih dekat
Itu adalah anugerah
Mencoba meletakkan apapun dirimu di hatiku
Juga hatimu yang meneduhkan itu
Aku tak akan pernah merubah apapun yang tlah kau punya
Karena itu kekayaan hatimu
Boleh mencintaimu
Itu sudah cukup bagiku
Terimakasih untuk embun segar pagi hari yang kau letakkan di dasar hatiku
Terimakasih untuk damainya hati karena rasa sayangmu
Janganlah jauh-jauh dariku malaikatku
Jadilah kau teman langkahku

#untukmalaikatdihatiku

Rabu, 29 Mei 2019

Kumpulan refleksi dan sikap

Kumpulkan refleksi dan sikap sebagai bahan tulisan :
1. Cinta itu memberikan yang terbaik buat orang yang dicintainya. Meski ia akhirnya menderita. Itu adalah pengorbanan cinta
2. Menghayati hidup ini

Kumpulan kata kata penyemangat diri

1. Dalam keterbatasanmu, tetap gapai mimpi-mimpimu

Selasa, 28 Mei 2019

AKU YANG SEDERHANA (Genoveva Dian)

Yang memiliki hati penuh dendam
Dendam 'kan rindu penuh gairah
Yang mencinta tanpa harapan tuk menggapai
Aku yang tak ingin kau tempatkan di sudut paling nyaman hatimu
Meski ku menyukainya
Yang melepaskan busur panah penuh bara namun tak terlihat oleh matamu yang berkabut
Aku, sederhana saja mencintaimu
Cukup kudaraskan kalimat doa di penghujung malam-malamku yang kelabu
Demikian telah kuucapkan janjiku
Tanpa memohon kau 'tuk tinggal tetap di sini
Bersamaku selamanya

Senin, 27 Mei 2019

Yoyun Ketiban Rejeki (Warsito & Genoveva Dian)

Sejak hatinya kepincut Asih, janda kembang yang tinggal di kampung sebelah, Yoyun, seorang staff di kantor perusahaan tekstil terkemuka di kotanya, berubah menjadi sosok yang ceria dan riang. Hari-harinya penuh warna-warni cinta. Gayanya yang dulu sederhana dan apa adanya sekarang menjadi semakin gaul saja. Kemana-mana menenteng handphone dengan headset warna putih yang senantiasa menghiasi telinganya.

Siang itu, Asih, sang gebetan mengajak Yoyun berinteraksi melalui video call. Wajah Yoyun yang melankolis spontan sumringah. Tak sabar ditunggunya jam bergerak ke angka duabelas, karena itu waktu istirahat kantor. Dicarinya tempat yang strategis untuk mencumbu rayu pujaan hatinya itu meski hanya lewat telepon. Setelah dirasa aman, direbahkannya tubuhnya senyaman mungkin, kemudian mulai beraksi.

Sedang enak-enaknya menggombal di udara, tertawa-tawa dan mengobral puisi, tiba-tiba seorang pembeli barang-barang bekas kantor yang biasa ia hubungi untuk mengambil barang-barang bekas menghampirinya. Tanpa berkata sepatah katapun, orang itu menyelipkan sesuatu ke dalam kantong celananya lalu segera pergi. Yoyun yang heran dan penasaran segera merogoh kantong celananya. Ternyata ada terselip di situ selembar uang dua puluh ribu rupiah sebagai tanda ucapan terimakasih. Yoyun tersenyum di wajahnya yang melas. Tak apalah dikira orang gila juga, tertawa-tawa sendiri, yang penting dapat rejeki.

Minggu, 26 Mei 2019

Surat Kaleng

Surat Kaleng

Pertemuanku dengannya adalah ketika aku berada di Seminari. Ia datang bersama ayahnya dalam suatu acara karena kedua adik kembarnya juga masuk di Seminari sebagai adik kelasku, dua tingkat di bawahku.
Ia menemuiku hanya karena ingin melihat aku, Aku yang sering berkontak dengannya lewat surat namun belum pernah bertatap muka.
Hari pertama tak kutemui dia karena ketidaksiapanku, sampai timbul rasa bersalahku karena aku menelantarkannya.
Baru pada hari kedua aku temui.
"Tresia Endang Florida," demikian ia menyebutkan namanya.

Sejak saat itu dia lebih sering berkirim surat kepadaku. Dia memanggilku Ito dan aku memanggilnya Ida
Sampai suatu ketika ada seorang berkirim surat kepadanya tanpa nama, surat kaleng.
"Tresia Endang Florida, "
kau perempuan murahan, kau perempuan yang tak tahu diri, Tolong jangan ganggu dia.  Bukankah kau ketahui bahwa Warsito adalah seorang calon imam ?"
Hatinya tercabik-cabik membaca surat itu, dia menangis tersedu-sedu dan ia mengirimkan surat itu kepadaku. Aku tak tahu darimana datangnya surat itu, siapakah yang menulis.

Lalu ia menulis puisi yang huruf awalnya berasal dari namaku:
Warna langit begitu cerah
Angin begitu segar
Rasanya seperti berada dalam belaian
Sayang, semuanya hanya mimpi
Indah nian bila itu terjadi nanti
Tapi bayanganmu tak dapat kugapai
Oh, betapa kejam hidup ini 

Berkali kali aku membalas suratnya untuk meyakinkannya bahwa dia bukan orang yang seperti itu. Namun ia tak pernah membalasku. 
Hingga akhirnya aku menyerah dan menulis : "bagaimana caranya aku meyakinkanmu bahwa kau bukan orang seperti itu ?"
Dia membalas, satu-satunya cara untuk meyakinkanku adalah "tolong lupakan aku !"


Jumat, 24 Mei 2019

KUMPULAN PUISI MALAIKATKU (Genoveva Dian)

About you are the one
The angel in my heart
You make my live so beautiful
For i walk in


Untuk...malaikatku
Aku menitipkan sepotong hati yang penuh rindu
Mungkin kan tiba tepat pada waktunya
Dimana waktu memberi jeda untuk menerimanya


Kepada nama yang senantiasa mengeja namaku
Kepada jiwa yang selalu mendekap jiwaku dalam mimpi
Kepada hati yang menjadi penghuni di hatiku
Dan kepada suara yang memiliki nada untukku bersuara
Kukatakan aku mencintaimu dan selalu memikirkanmu
Malaikatku


Pada sebagian musim rindu
Tercampakkanlah belahan hati dari relung sunyi
Seperti ada tetesan darah namun kering menghitam
Dalam kabut sang cinta menjabah
Selaksa malaikat dari kolong mimpi
Menaburkan perih yang nikmat
Membawa benih luka kepada asa
Terimakasih malaikatku


Senin, 29 April 2019

Ketika Kereta Itu Berangkat

                                                                                                                                   
                                           
Kereta sore yang kunaiki mulai berjalan meninggalkanmu. Aku melihat dari jendela kaca kereta, engkau berdiri mematung menatapku dengan tetesan air yang keluar dari kedua matamu. Suara gemuruh kereta  berjalan dari kereta yang kunaiki tidak membisingkan telingaku. Ada kesunyian terasa di hatiku saat aku melihatmu berdiri seakan tak rela melepasku menuju Jakarta. 
Sayang, tunggulah aku, aku pergi hanya sebentar. Semua demi kita. Hanya karena aku ingin memperoleh pekerjaan yang lebih baik, aku meninggalkanmu. Kelak, jikalau kehidupan ekonomiku sudah membaik, aku akan kembali ke kotamu Malang untuk menemuimu dan mengajakmu.
Demikian hari Arya bergulat, berbicara kepada Kusumawardhani, gadis cantik yang dicintainya.

Langit semakin gelap..
Untuk engkau yang tak dapat kugaoai lagi

SELEMBAR MALAM DI KOTA SURABAYA

Hujan di sore hari itu masih menguyur meski kecil. Langit sore kota Surabaya masih ingin menumpahkan airnya. Johannes de Britto, Nia, Warsit...